Minggu, 19 Juni 2011

Rindukan Dirimu (repost)

Rindukan Dirimu
***************Disini, aku kan selalu rindukan dirimu, wahai sahabatku*********************

Lukisan bunga-bunga sakura yang tergambar di atas gorden berwarna putih itu tampak meliuk-liuk karena hembusan angin semilir dari luar jendela.
Angin yang membawa hawa sejuk menerobos masuk ke dalam ruangan bernuansa kuning gading yang sepi tanpa penghuni. Hembusannya yang lembut mampu menyingkapkan lembaran sebuah buku yang tergeletak bebas di atas meja tak jauh dari jendela.
Lembar demi lembar yang penuh dengan tulisan satu persatu tersingkap mempertontonkan goresan halus yang terpampang di atasnya. Barisan huruf-huruf yang tersusun rapi membentuk sebuah cerita di setiap alurnya.
Sejenak angin berhenti bertiup dan membiarkan lembaran buku itu terhenti di sebuah halaman yang juga penuh dengan tulisan………….


21 Agustus 2000

“Aaaaa!!!!!”
Ify berlari sekencang-kencangnya tanpa menengok ke belakang sedikitpun. Sebisa mungkin ia memacu langkahnya menghindari tangan yang mencoba menggapai bahunya. Ia berusaha sekuat tenaga agar tangan itu tak mampu menjangkaunya. Dikerahkannya segenap tenaga untuk memacu langkahnya lebih cepat. Namun, ia merasa semakin sulit bertahan karena perutnya yang terasa kram karena terus berlari sambil tertawa.

“Huaaaa!!!!!”
Ify makin kencang berlari sambil berteriak histeris karena kejaran Alvin dan Rio di belakangnya.

“Tangkep Vin!!!!!!”
Rio yang tertinggal di belakang Alvin berteriak menyemangati Alvin yang dengan susah payah mencoba meraih Ify sambil terus berlari.

“Gaaaa kenaaaaaa!!!!! Huaaaa!!!!”
Adrenalin Ify benar-benar terpacu. Ia merasa seperti benar-benar dikejar pembunuh bayaran. Ia terus berlari di bibir pantai berpasir lembut itu. Tak mempedulikan kakinya yang tanpa alas meninggalkan jejak dalam di sepanjang pantai yang dilaluinya.

Tiba-tiba Ify merasakan ada sesuatu menggapai punggungnya.

“Kenaaaaa!!!!”
Alvin menarik bahu Ify dan itu hampir membuat Ify terjatuh ke belakang.

“Huaaaa!!!”
Ify yang kaget pun berteriak geli saat Alvin menangkap pinggangnya.

“Yeayyyy kena!!!!”
Rio berhasil menyusul mereka dan sekarang ikut-ikutan memegangi tangan Ify yang meronta minta dilepaskan. Alvin mulai menggelitiki Ify dan membuatnya tertawa menahan rasa geli di pinggangnya.

“Aaaaaa!!!! Alvin!!! Aduh!!!! Aduh…lepasin!!! Alvin!!!!”

“Hahahaha….”
Rio yang turut andil memegangi tangan Ify semakin tertawa terbahak melihat badan Ify yang kejang-kejang minta dilepaskan.

“Ampun…. ampun!!! Alvin udah!!! Aaaa….Rio ampun!!!! Hahaha…..”

“Hahahaha….ngga bisa wekkkk…hahaha….”

“Huaaaa……. Alvinn geliiiii!!!!”
Ify makin menjerit campur ketawa karena Alvin yang semakin ganas menggelitikinya. Setetes air mata menyembul dari sudut mata Ify saking gelinya.

“Aaaa!!! Udah dong!!! Ampun!!! Aku nangis nih!!!”

Rio yang melihat Ify kegelian sampai menangis akhirnya melepaskan pegangan tangannya.
“Udah Vin udah……mewek tuh dia…”

Alvin pun akhirnya menghentikan aksinya. Dia masih tertawa terbahak-bahak melihat Ify yang masih guling-guling di pasir sambil terus memegangi perut saking gelinya. Ify juga masih tertawa-tawa sambil menghapus air matanya sendiri.

Rio mengulurkan tangannya dan membantu Ify bangun. Ify meraih tangan Rio dan bangkit berdiri lalu menepuk-nepuk bajunya yang kotor terkena pasir sambil masih terus menahan sisa-sisa rasa geli.

“aduh….Alvin reseee!!!!”
Ify memukul-mukul bahu Alvin tapi masih sambil meringis-meringis karena rasa geli yang masih belum hilang. Perutnya terasa kram gara-gara ulah dua sahabatnya itu.

“Hahahaha…”
Alvin berlari-lari kecil meninggalkan Ify dan Rio. Ify dan Rio pun menyusul langkah Alvin yang mulai memelan. Merekapun berjalan beriringan sambil menikmati deru ombak yang saling bersahutan di tengah lengangnya suasana pantai yang hanya ada mereka bertiga disana.

“Mau gendong ngga Fy?”
Rio menawarkan punggungnya pada Ify.

“mauuuu!!!!”
Tanpa basa basi lagi Ify pun langsung pasang badan di punggung Rio. Perlahan Rio mencoba berlari sambil menggendong Ify, meninggalkan Alvin yang masih berjalan santai di belakang.

“kejar aku Vin!!!!! Wekkkk….”
Ify memeletkan lidahnya kearah Alvin yang hanya tersenyum menatap mereka.

“Hih….ngledek ya? Okeeee!!!!”
Alvin berlari pelan menyusul mereka.

“Huaaaaa!!!! Lari Yo!!!”
Rio pun spontan mempercepat larinya karena komando Ify. Alvin sengaja melambatkan larinya karena Rio pun tak bisa berlari terlalu cepat dengan Ify di punggungnya.

“Ayo Vin!!!!!”
Ify mengulurkan tangannya pada Alvin. Alvin pun menggapai tangan kiri Ify yang masih bebas sedangkan tangan kanan Ify berpegangan di pundak Rio.

“Woy kasian Rio berat…turun.”
Alvin mulai menoel-noel pinggang Ify yang otomatis menggeliat kegelian.

“Aaaa!!!!Alvin!!!”

“Aduh Ify jangan gerak-gerak…”
Rio mulai protes karena Ify yang meronta-ronta di punggungnya.

“Alvin nih….”
Ify mencoba membela diri sambil manyun kearah Alvin.

Rio pun tak lagi berlari. Ia hanya berjalan dengan Ify yang bergelayut di punggungnya sambil menggandeng tangan Alvin.

“Hahahahaha…..”
tawa mereka membahana berpadu dengan sorot kemerahan mentari senja yang mulai tenggelam di tengah lautan.

“Jika saat ku pejamkan mata
Yang tertinggal hanya kegelapan dan kesunyian
Tiada tampak rupa dan wajahmu
Maka….
Inginku terjaga selamanya

Tangguh,
Menantang silau terik mentari
Terjaga di keheningan malam
Hanya untuk melihat
Lukisan dunia di setiap detik hidupku
Terwarnai satu persatu
Oleh gelak tawamu“

***************Semoga dirimu disana kan baik-baik saja untuk selamanya******************


Sejenak kemudian semilir angin kembali mengiringi tarian bunga-bunga sakura yang meliuk-liuk di antara lekukan tirai jendela yang tersibak menyambut kedatangan sang pembawa udara.
Lembaran-lembaran itu kembali tersingkap melewati beberapa halaman, hingga terhenti kembali saat sang dewi angin menghentikan desah semilir merdunya.
Sebuah halaman yang masih penuh dengan rangkaian huruf membentuk untaian kenangan sang penulis……………


3 Maret 2003

Ify berlari menerobos keramaian anak-anak yang masih saling berbisik di sepanjang lorong-lorong sekolah. Anak-anak itu masih penasaran akan apa yang sedang terjadi hingga ketenangan waktu istirahat mereka tiba-tiba terpecahkan dengan suara teriakan dan derap langkah orang-orang yang berlarian.

Sekuat apapun ia berusaha, langkah Ify tetap tak mampu menyusul langkah satpam sekolah yang sudah jauh menghilang di depannya. Sedangkan Rio entah sekarang berlari dari arah mana. Ify hanya berharap semuanya akan baik-baik saja. Yang paling ia inginkan sekarang adalah tak ada sesuatupun hal buruk yang akan terjadi hari ini.

Rio terus berlari melompati tanaman-tanaman kecil. Sekuat tenaga dicobanya melampaui berbagai halangan yang menghalangi jalannya. Ia memilih memotong jalan dari lorong di belakang laboratorium bahasa dengan harapan ia dapat mendahului satpam sekolah. Ia memilih lorong yang sepi dengan harapan langkahnya tidak perlu terhalang oleh anak-anak yang sedang ramai beristirahat.

Nafasnya yang memburu semakin membuat langkahnya terasa berat. Sesekali langkahnya terseok tersandung bebatuan ataupun tanaman kecil yang ia lalui. Mata Rio teliti menatap jalanan di depannya. Sedikit lagi ia akan sampai di persimpangan lorong.

Persis seperti yang ia perkirakan…

“Alvin!!!!”
Secepat mungkin diraihnya badan Alvin yang melaju kencang saat ia tepat melewati persimpangan lorong. Akhirnya ia bisa mendahului satpam sekolah dan menghentikan Alvin tepat di pertigaan samping perpustakaan.

Tangan Rio yang tepat menggapai pundak Alvin membuat Alvin menghentikan larinya dengan tiba-tiba dan jatuh tersungkur bersama dengan Rio. Tangan Rio masih memegang kuat ujung baju Alvin agar ia tak lagi melarikan diri.

“Lepasin gue!!”
Alvin berusaha bangkit. Matanya waspada menatap ke belakang kalau-kalau satpam sekolah mampu menyusulnya.

“Vin lo jangan lari!”
Rio masih tetap memegangi baju Alvin.

“Lo pengen gue ketangkep? Hah??”
Alvin membentak Rio masih dengan nafas tersengal. Ia ingin secepat mungkin meninggalkan tempat itu, tapi Rio bersikeras tak mau melepaskannya.

“Keadaan bakal lebih parah kalau lo lari Vin!”

“Ahhh!!!”
Buggg!!!

Rio jatuh tersungkur karena pukulan Alvin tepat mengenai sudut bibirnya. Alvin mulai berlari meninggalkan Rio.

“Vin!!!”
Tanpa memperdulikan rasa sakitnya, Rio mencoba bangkit dan berlari mengejar Alvin.

“Vin!”
Langkah Alvin kembali terhenti karena Rio menarik bagian belakang bajunya. Kali ini tanpa bicara apapun Alvin langsung melayangkan tinjunya ke arah Rio. Rio tersungkur untuk yang kedua kalinya. Tapi kali ini Alvin tak melanjutkan larinya, ia mencengkeram kerah baju Rio dan melayangkan tinjunya sekali lagi. Hantaman tangannya berhasil membuat setetes darah membasahai sudut bibir Rio.

“Lo ngga punya hak ngatur-ngatur hidup gue. Apapun yang gue lakuin, lo ngga berhak ikut campur. Gue….”
Belum sempat Alvin menyelesaikan kalimatnya, ia merasa kerah belakangnya ditarik oleh seseorang.

“Alvin!”
Tepat saat Alvin menoleh ke belakang, sang satpam sekolah telah berdiri menahan amarah karena Alvin yang melarikan diri dari kejarannya.

“Lepasin!”
Kali ini Alvin tak akan mampu melepaskan diri dari satpam sekolah bertubuh kekar itu. Ia menyeret tubuh Alvin menjauh dari Rio.

“Lepasin!”

“Diam kamu! Ikut saya!”
Alvin ditarik menuju ruang kepala sekolah. Ia tak lagi meronta. Karena semakin ia meronta, maka semakin murkalah pria paruh baya yang kini menahan gerak tubuhnya. Dengan sorot mata tajam menatap Rio, Alvin berjalan pasrah kemana satpam sekolah membawanya.

“Vin!”
Rio menatap kepergian Alvin. Setitik rasa penyesalan tersirat dari tatapan matanya. Perih di sudut bibirnya tak lagi terasa. Rasa penyesalan itu jauh lebih dominan. Kenyataan yang baru saja terjadi seolah menampar dan menyadarkan dirinya. Karena ternyata, ia sama sekali tak mengenal sahabatnya.

Di kejauhan Ify sontak menghentikan langkahnya saat melihat Alvin berhasil dicekal oleh satpam sekolah. Rasa takutnya yang memuncak membuatnya terdiam menatap Alvin yang menjauh.

--------------

Ify yang duduk tak jauh dari tempat Rio berdiri tampak gelisah menatap jalanan yang terus berlari meninggalkan mereka. Keramaian dan bisingnya jalanan terasa begitu hening dalam pikiran Ify. Matanya menatap kosong lantai yang berada di bawah kakinya. Bayangan kejadian tadi siang begitu jelas terputar kembali dalam otaknya.

Sementara itu, tangan Rio masih menggenggam erat pegangan busway yang ia jadikan penopang tubuhnya agar tak jatuh. Urat-urat tangannya yang menegang menyiratkan kekhawatiran yang tak jua reda. Jarak yang biasa mereka tempuh untuk sampai di rumah kali ini terasa begitu panjang. Rasa ingin cepat sampai bercampur baur dengan begitu banyak tanda tanya yang menuntut untuk segera mendapat jawaban.

Rio menatap Ify yang duduk tak jauh darinya. Wajahnya masih tertunduk dengan jari-jemari terkait menahan gelisah.

“Tenang Fy, Alvin bakal baik-baik aja.”
Sebuah kalimat yang mungkin juga ia lontarkan untuk menenangkan hatinya sendiri.

Ify tak mengangkat wajahnya. Ia hanya mengangguk perlahan. Ia pun berharap seperti itu, dan itulah yang sedari tadi coba ia yakini namun terus menerus gagal karena pikiran-pikiran buruk lebih kuat menghantuinya.

10 menit di perjalanan, akhirnya sekarang mereka sudah melangkahkan kaki di jalanan komplek rumah mereka. Di persimpangan jalan Ify tak berbelok pulang ke rumahnya, begitupun Rio. Mereka terus berjalan hingga beberapa meter kemudian sampailah mereka di depan rumah Alvin. Dari seberang jalan sejenak mereka berhenti mencoba menata hati dan membayangkan hal seperti apa yang sekiranya mungkin terjadi nanti.

Rio mendahului langkah menuju rumah Alvin yang pagarnya masih terbuka. Bahkan pintu rumah pun belum sempat ditutup oleh pemiliknya. Tanpa menunggu lagi mereka memasuki halaman rumah Alvin. Rasa penasaran dan khawatir semakin mendesak untuk diluapkan hingga tiba-tiba….

Pranggg!!!!

Sebuah suara pecahan kaca membuat Rio dan Ify sontak berlari masuk kedalam. Betapa terkejutnya mereka melihat kejadian yang untuk pertama kalinya mereka saksikan menimpa sahabatnya.

“Kurang apa yang papa kasih sama kamu,HAH? Berani-beraninya kamu mencoreng muka papa?!?!?”
Plakkk!!!

Sebuah tamparan tepat mendarat di pipi Alvin yang tertunduk berlutut di hadapan ayahnya.

“Alvin!”
Rio berteriak dari arah pintu. Terakannya sontak membuat ayah Alvin memalingkan wajahnya kearah Rio dan Ify yang baru datang. Baru saja Rio akan masuk ke dalam untuk menolong Alvin….

“Siapa yang menyuruh kalian masuk?!?”
Tampak gurat-gurat kemarahan semakin jelas terlukis di wajah ayah Alvin yang tampak menyiratkan jejak-jejak usia.

“Kenapa Om mukulin Alvin?”

“Bukan urusan kamu! Pergi kalian!”

Di belakangnya tampak Alvin yang berusaha bangkit. Ify semakin membelalakkan matanya saat melihat ternyata wajah Alvin penuh dengan lebam.

“Dia pantas mendapatkannya! Dia sudah mencoreng nama baik keluarga ini!”

Rio tak menyangka satu-satunya orang tua yang masih Alvin miliki tega melakukan hal tersebut pada putra kandungnya sendiri. Seorang anak kelas 1 SMA yang ketahuan merokok di sekolah tak selayaknya mendapat perlakuan yang berlebihan seperti sekarang. Kejadian ini membuat Rio semakin penasaran jangan-jangan ayah Alvin selama ini memperlakukan Alvin dengan tidak layak.
“Tapi, Om, Alvin Cuma ngrokok, ngga perlu sampai dipukuli seperti itu…”

“Kamu anak kecil tau apa? Jangan ikut campur urusan orang lain. Ngrokok kamu bilang cuma? Atau jangan-jangan kamu yang bikin anak saya jadi salah pergaulan seperti ini? Pergi!!!”

“Tapi Om…”

“Pergi kalian!”
Tanpa disangka Alvin melangkah cepat kearah Rio dan Ify lalu mendorong mereka keluar dengan paksa.

“Alvin…”
Ify menyebut nama Alvin lirih. Pandangannya nanar menatap wajah sahabatnya yang penuh lebam. Seberkas darah tampak mengering di sudut bibirnya. Air mata menerobos sudut mata Ify, tak tega melihat keadaan Alvin seperti sekarang apalagi melihat Alvin tampak begitu pasrah atas perlakuan ayahnya.

“Makin lama kalian disini itu bakal nambah penderitaan gue. Kalian pikir kedatangan lo bakal nyelametin gue? Ngga! Lo Cuma nambahin siksaan yang bakal gue terima. Pergi!!”
Sekali lagi Alvin mendorong tubuh Rio dan Ify hingga keluar dari pintu rumahnya dan dengan kasar ia menutup pintu rumahnya lalu menguncinya dari dalam.

Di belakang tubuh Rio yang masih terpaku menatap daun pintu yang terkunci, badan Ify sudah gemetar hebat menahan tangis. Perih menyeruak dari dalam rongga tenggorokannya menahan isakan yang terasa begitu menyesakkan.

Beberapa saat mereka terpaku disana. Entah apa yang terjadi. Hanya sesekali teriakan sang Ayah samar-samar menelusuk celah-celah dinding dan suara benda pecah menambah kegetiran hati dua sahabat yang masih termenung pasrah akan takdir.

Semakin mereka menyadari bahwa ternyata begitu banyak hal yang tidak mereka ketahui tentang sahabatnya, dan begitu banyak hal yang tidak Alvin bagi dengan mereka. Tentang kehidupannya, tentang seperti apa perlakuan orang tuanya selama ini, dan tentang apa yang ia rasakan, semua semakin buram dimata Rio dan Ify.

“Ketika kaki ini
tak mampu menandingi derap langkah sang waktu
Ketika hati ini
Tak mampu menerangi gelap jalanmu
Ketika raga ini
Tak sanggup menemani gulir asamu

Alir darah di antara degup jantungku
Membawa sesal menerobos relung mata
Menyampaikan rasaku
Lewat bulir bening yang menyadarkan
Betapa aku tak mengenalmu”


***********Berjanjilah wahai sahabatku bila kau tinggalkan aku tetaplah tersenyum*************

Lembar demi lembar terus tersibak. Hembusan angin membuka kembali halaman-halaman lusuh yang terkadang hanya berisi coretan-coretan kasar ataupun gambar-gambar sederhana. Di halaman-halaman selanjutnya tampak beberapa baris kata dengan tinta yang luntur di beberapa bagian karena tetesan air mata. Air mata kepedihan dari si empunya cerita. Hingga sang dewi angin kembali memilih sebuah halaman untuk berhenti…..

12 November 2004

Ify berdiri terpaku di ambang pintu ruangan gelap dan penuh debu itu. Ia menutupkan kedua telapak tangannya ke mulutnya menahan rasa terkejut yang begitu dahsyat menghantam relung jiwanya. Rembesan berbutir-butir air mata tak mampu lagi ia tahan dengan kapasitasnya sebagai seorang wanita. Sekujur tubuhnya lemas menahan beban yang seolah baru saja mencapai titik terberat.

“Alvin!”
Dengan sisa-sisa tenaga di antara tulang-tulangnya yang seolah tak mampu menopang tubuhnya sendiri ia berlari kearah Alvin. Dengan paksa ia meraih benda laknat itu dari tangan Alvin.

“Apa-apaan lo?”
Dengan tubuh gemetar Alvin mencoba meraih kembali benda sejenis dari atas meja kecil tak jauh dari tempat ia terduduk menyandar dinding.

Plakkk!!!
Dengan penuh amarah Ify menampar wajah Alvin yang memandangnya tajam.
“Kamu gila!!!”
Ify meraih kembali benda laknat itu dari tangan sahabatnya. Setelahnya, dengan sekali sapuan ia menghempaskan barang-barang haram yang berceceran tak teratur di atas meja. Membuatnya jatuh berceceran di lantai berdebu yang tak terjamah mentari entah untuk berapa tahun.

Alvin mencoba merangkak menggapai benda-benda yang berceceran itu. Gemetar badannya menahan sakau yang sedang hebat melanda raganya.

“KENAPA KAMU MAKE BARANG LAKNAT ITU VIN?!?!?”
Sekuat tenaga Ify menarik tubuh Alvin sebelum tangannya mampu menggapai suntikan-suntikan dan benda asing yang tak pernah Ify sangka akan berada langsung di hadapannya. Air mata Ify sudah jatuh membanjiri lantai di bawah kakinya yang bercampur dengan cairan-cairan berwarna aneh.

“Sadar Vin!!! Sadar!!!”
Ify mencoba menjauhkan Alvin dan menyeretnya menjauh. Tapi apa daya, tenaga seorang perempuan tak akan mampu menandingi arogansi seorang lelaki yang sedang berada dalam keadaan tak terkendali.

Alvin melayangkan sebuah tamparan yang sangat kuat kearah pipi Ify karena rasa marah yang semakin meledak-ledak. Ify yang tak siap dengan tamparan tiba-tiba itupun jatuh menghantam lantai.

Belum sempat Ify mengusap pipinya yang terasa panas, Alvin tiba-tiba menjambak rambutnya dan menariknya cukup keras hingga Ify pun terpaksa berdiri mengikuti arah tarikan Alvin. Tangan kiri Alvin yang masih bebas sontak mendorong tubuh Ify ke belakang hingga menghantam dinding.

Ify tak pernah menyangka sifat arogan Alvin akan menjadi sejauh ini dan bahkan membuatnya melupakan status mereka sebagai sahabat. Ify tak sempat berpikir apapun. Yang dia harapkan sekarang hanyalah ada seseorang yang datang menolongnya dan menjauhkannya dari Alvin yang sedang kalap.

Alvin melepaskan tangannya dari rambut Ify dan beralih mencengkeram kuat pipi Ify yang sudah benar-benar merasa kesakitan karena perlakuan Alvin.

“Lo bisa diem ngga sih??? Ini urusan gue dan lo ngga berhak ikut campur!!! Lo tu bisanya Cuma ngomong!!!! Lo ngga pernah ngrasain apa yang gue rasain!!!”
Alvin menekan pipi Ify kuat-kuat hingga Ify hanya mampu mengerang tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun untuk membela diri. Kepalanya terasa pening karena benturan ke dinding yang cukup keras.

Ify meronta sekuat tenaga dari cengkeraman tangan Alvin. Tapi semakin dia meronta, semakin kuat pula Alvin menyiksa dirinya. Emosional yang tak terkontrol membuat Alvin melampiaskan segala kemarahannya pada Ify.

“Aaaa!!!!”
Ify terus berontak. Ia menendang-nendangkan kakinya ke kaki Alvin, namun sama sekali tak mengendurkan cengkeraman Alvin dari tubuhnya. Teriakannya hanya bergema diantara dinding-dinding rumah usang di tengah hutan kecil yang dulu sering mereka gunakan sebagai tempat bermain. Tak ada seorangpun yang mungkin mendengar ataupun mencoba menolongnya.

“Vin…..aaaaa…. ini aku, Ify…sahabat kamu…sakit Vin…lepasin!!!”
Ify terus berusaha melepaskan diri dan diapun menendang sekuat tenaga lutut Alvin. Alvin yang merasa jengah dengan tingkah Ify akhirnya membanting tubuh Ify ke lantai yang kotor dan dingin.

Ify yang berhasil lepas dari cengkeraman Alvin hendak berdiri untuk menyelamatkan diri tetapi Alvin tiba-tiba kembali melayangkan sebuah tamparan. Tamparannya memang tak mengenai pipi Ify yang sempat memalingkan wajah. Tapi hantaman keras dari telapak tangan Alvin itu cukup membuat kepala Ify pening karena pelipisnya yang terhantam.

Ify berusaha melindungi kepalanya dengan menyilangkan kedua tangannya di atas kepalanya. Alvin terus menghujaninya dengan pukulan-pukulan keras. Tangan kiri Alvin pun tak mau ketinggalan. Alvin menahan tangan Ify dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya terus melayangkan pukulan kearah wajah Ify. Kondisi psikologis yang sedang tak terkendali membuat Alvin bertindak tanpa berpikir.

Tak pelak lagi, wajah Ify mulai lebam disana sini. Setetes darah mengalir dari sudut bibir Ify. Pertama kali dalam hidupnya ia mendapat perlakuan seperti ini. Terlebih lagi dari seorang sahabat.

Alvin yang seolah kalap tak perduli lagi dengan erangan Ify yang kali ini benar-benar tak menyangka dengan sikap Alvin yang membuatnya tak berkutik. Alvin seolah tak mengenali Ify, bahkan seolah tak mengenali dirinya sendiri. Alvin tak pernah seperti ini. Ify benar-benar takut melihat kondisi sahabatnya sekarang.

“Alvin!!! Alvin sakit!!!! Alvin lepasin!!!! Sakiiittt!!!!”
Alvin tak mempedulikan teriakan Ify. Tangannya tanpa henti terus menjambak, menampar dan memukuli Ify.

Dengan sisa-sisa kesadaran yang masih dimilikinya, Ify berusaha melindungi wajah dan kepalanya dari hantaman tangan Alvin yang sudah benar-benar kehilangan akal sehat, hingga akhirnya sebuah pukulan yang tepat mengenai pelipis kanan Ify membuat gadis itu jatuh tersungkur ke lantai dan kehilangan kesadaran.

Dengan dada yang masih naik turun karena nafas yang tersengal, Alvin menatap Ify yang sudah tak melakukan perlawanan lagi. Kepalan tangannya perlahan mengendur melihat sosok di hadapannya sekarang sudah tak bergerak. Kini kakinya tergerak untuk mundur perlahan. Alvin mulai menggeleng-gelengkan kepalanya pelan menyadari apa yang baru saja ia lakukan.

Berangsur-angsur Alvin melangkah mundur. Untuk yang terakhir kalinya Alvin menatap tubuh yang tergeletak penuh luka dan darah di hadapannya, hingga sesaat kemudian tubuhnya tak mampu melawan perintah otaknya untuk lari sejauh mungkin.

Alvin berlari sekuat yang ia bisa. Sejauh mungkin dari tempat dimana Ify tergeletak. Sekencang mungkin seolah ia berharap rasa penyesalannya akan jatuh tertingal seiring derap langkah kakinya.

-------------------------------------

Rio menatap nanar kepergian mobil berwarna biru hitam itu menjauh dari halaman rumah sahabatnya. Suara bisik-bisik orang-orang yang bergerombol tak jauh dari sana menambah isakan Ify yang menangis bersandar di bahu Rio. Hanya rangkulan tangan Rio mencoba meredam goncangan tubuhnya yang kejang menahan isakan mendalam.

Beberapa orang sudah kembali masuk ke dalam rumah masih dengan gumaman-gumaman miris dan ungkapan-uangkapan tajam yang merendahkan. Sementara itu Rio masih terpaku menatap jalanan lengang di kejauhan. Tak lagi terdengar sirine berdengung memecah kesunyian. Urat lehernya menegang menahan perasaan yang sama dengan Ify.

Tak pernah ia sadari suatu saat ia akan mengalami guncangan sehebat ini. Alvin, entah seperti apa hidup yang akan mereka jalani mulai sekarang.

Sudah berhari-hari Alvin dan Ify ijin tidak hadir di sekolah. Tak ada satupun yang bisa dihubungi ataupun ditemui. Tak ada seorangpun yang Rio tanyai mampu memberi jawaban yang melegakan hatinya. Hingga akhirnya 2 hari yang lalu Ify datang ke sekolah dengan sisa-sisa lebam di wajah bersama kedua orang tuanya.

Dan hari ini, baru saja Rio mendengar segala apa yang terjadi langsung dari Ify yang menceritakan semuanya dengan berurai air mata. Dan hari ini pula, semuanya menjadi semakin buram dimata mereka. Di DO dari sekolah, dan baru saja dibawa oleh polisi karena perintah penahanan dengan tuntutan telah mengedarkan dan memakai narkoba, membuat mereka semakin jauh dari harapan untuk bahagia seperti dulu.

Semakin jauh waktu bergulir, semakin jauh jarak memanjang, semakin dalam penyesalan. Betapa Rio dan Ify terbelenggu dalam kesedihan karena selama ini sebuah fakta yang tak pernah mereka sadari, bahwa sebenarnya mereka tak mengenal siapa Alvin. Tak satupun mampu menemukan jawaban siapa yang harus bertanggung jawab atas segala perubahan pada diri sahabatnya. Mungkinkah mereka? yang terlalu disibukkan oleh kedewasaan sehingga tak lagi mampu menghidupkan masa-masa indah saat permasalahan mampu mereka hadapi hanya dengan saling bergandengan tangan?

Sejak saat itu mereka tak kan mampu lagi mengelak dari jeruji batas yang akan semakin memisahkan mereka. Orang tua yang tak kan merelakan putra putrinya bergaul dengan orang yang salah, adalah hal terbesar yang akan menjadi tembok tertinggi kebebasan mereka. Penghalang terbesar bagi persahabatan yang memang semakin hari semakin tampak buram maknanya.

“Kau lepas genggam erat tanganmu
Pergi menjauh menerobos sang waktu
Tak lagi lekat canda tawa
Mengisi ruang hampa kehidupan

Alur sungai menuju hilir
Tak kan mampu kembali menjemput hulu
Semakin menjauh
Membawa pasir,lumpur dan bebatuan
Hingga sampai di ujung perjalanan
Terpisah jauh di tengah luasnya lautan”


************Meski hati sedih dan menangis, Ku ingin kau tetap tabah menghadapinya************

Setahun…

Begitu banyak yang telah terjadi. Rio, Ify dan Alvin kini telah menempuh jalannya masing-masing. Bukan hendak pasrah melepas kawan, hanya raga yang tak kuasa melawan haluan. Segala upaya yang diusahakan jika terus dipaksa justru akan menyebabkan perpecahan. Tiada pilihan lain, kecuali hanya mengenang persahabatan dan menanti saat yang tepat untuk menemukan kembali indahnya pertemanan.

Rio dan Ify hanya sesekali mengunjungi Alvin. Untuk itupun mereka harus rela bolos sekolah. Karena kedua orang tua mereka selalu mengantar mereka ke sekolah dan menjemput ketika pulang. Rasa takut dan kekhawatiran membuat mereka over protective.

Semakin lama intensitas perjumpaan mereka semakin berkurang. Tes masuk perguruan tinggi semakin menyita waktu dan pikiran Rio dan Ify. Mereka tak lagi saling bercerita, mengungkapkan segala apa yang dirasa. Ketika akhirnya Alvin mampu menghirup udara kebebasan dari pusat rehabilitasi pun, mereka berdua tak sempat menengoknya karena tenggelam dalam kesibukan yang tak bisa mereka tinggalkan untuk mempersiapkan kehidupan kampus. Hingga akhirnya waktulah yang menyadarkan, betapa kini mereka sudah terlalu jauh…….

6 Juli 2006

TIIINNNN!!!!!!TIIIIINNNN!!!
Tangan Rio yang basah keringat dingin terus menekan klakson mobil berkali-kali. Sebuah angkot yang berhenti di pinggir jalan mempersempit ruas jalanan yang padat dengan lalu lalang kendaraan.

Ify memukul-mukulkan pelan kepalan tangannya ke pahanya sendiri. Berkali-kali ia menggigit bibir berharap jalanan mau sejenak memberikan ruang untuk mereka melaju.

“Yo, gimana dong? Cepetan Yo…”

Rio kembali menekan klakson mobil. Kali ini bunyi nyaring mobil Rio menarik perhatian orang-orang di sekitar. Mereka menatap Rio dan Ify dengan pikiran mereka masing-masing. Ada yang berbaik sangka, tapi tentu saja ada yang berburuk sangka. Rio tak peduli dengan tatapan mereka, yang terpenting sekarang adalah ia ingin memacu mobilnya sekencang yang ia bisa.

Perlahan angkot di depannya melaju menyisakan sedikit ruang. Dengan sigap Rio memutar stir mobilnya, menyusup di keramaian kendaraan yang berlalu lalang. Honda Jazz merah itu kembali melaju kencang menerobos jalanan Jakarta yang padat dan panas.

10 menit berlalu…
Gedung-gedung menjulang tinggi sekarang tak lagi tampak. Yang ada sekarang adalah pohon-pohon palm di kanan dan kiri jalan yang berlari kencang meninggalkan mereka seiring laju mobil Rio yang semakin cepat.

“Yo…”
Semakin dekat dengan tujuan, hati Ify bukan semakin tenang, tapi justru semakin panik. Perasaan khawatir, gundah dan gelisah menyeruak di antara kebisingan degup jantungnya sendiri. Perasaan tak enak menggelayut muram di relung hatinya.

Rio tak menoleh sedikitpun pada Ify. Matanya konsentrasi menatap jalanan lengang di hadapannya. 100 km/jam terasa tak cukup berpacu mengejar waktu.

Mata Ify terpejam menahan air mata yang hampir jatuh ke pangkuannya. Bayangan suara Kak Sivia terngiang-ngiang di telinganya. Suara yang membuat Ify sontak terlonjak dari tempat duduk kuliahnya dan berlari meninggalkan dosen yang sedang mengajar. Suara yang membuatnya berteriak memanggil nama Rio dari jarak 30 meter dan mengundang tatapan jengah mahasiswa di sekelilingnya.

Sivia adalah tetangga sebelah rumah mereka (Rio, Alvin dan Ify). Kira-kira 20 menit yang lalu ia menelfon Ify. Sebuah kabar yang tak pernah ia sangka akan mampir ke telinganya baru saja disampaikan oleh Sivia.

Ia bilang, sekarang dia sedang berada di bawah sebuah menara PLN. Sebuah menara yang berada tak jauh dari komplek rumah mereka. Ia bilang semua orang sedang berkumpul disana, menatap keatas, menantang terik mentari. Ia bilang…..

Alvin ada di atas sana…..

“Kenapa jadi kayak gini Yo?”
Pejaman mata Ify tetap tak mampu membendung bulir air mata yang berarakan menyusuri lekuk pipinya. Rasa sesal terus menghantui Ify di sepanjang perjalanan. Rasa sesal karena dia baru menyadari betapa mereka terlalu jauh dari Alvin, betapa mereka telah sejenak melupakan sahabat mereka yang mungkin sangat membutuhkan kehadiran mereka untuk mendampingi hari-harinya yang sulit. Rasa sesal karena ia tak lagi sering menanyakan kabar Alvin. Rasa sesal karena harus dengan cara seperti ini mereka diingatkan kembali akan pentingnya kebersamaan dan rasa sesal lain yang masih banyak tak mampu terhitung lagi oleh Ify dan Rio.

Tak ada jawaban dari Rio.
Rio terlalu takut untuk menjawab. Ia hanya ingin sampai secepat mungkin. Ia ingin segera menebus rasa sesalnya. Ia tak ingin rasa sesal itu menghantui dirinya seumur hidup jika sampai terjadi sesuatu pada sahabatnya.

“RIOOOOO!!!!”

Ify sontak berteriak saat matanya yang buram karena air mata samar-samar menangkap bayangan besar yang tiba-tiba muncul dari kelokan jalan di hadapan mereka. Sebuah truk pemuat material bangunan sebentar lagi akan menghantam mobil mereka.

Entah apa yang terjadi, hanya sakit dan perih di sekujur tubuh yang bisa Ify rasakan saat ia dengan sisa-sisa kesadarannya mencoba meraih pundak Rio yang tertelungkup menghantam stir. Pecahan-pecahan kecil dari kaca mobil berserakan di atas tubuh mereka. Tangan Ify tak sampai meraih pundak Rio yang bersimbah darah. Ify hanya mampu meraih udara hingga akhirnya ia sendiri jatuh bersandar tak sadarkan diri di pintu mobil yang terbalik.

-----------------------------

Prang!!!!!
Suara nyaring nampan alumunium rumah sakit yang menghantam lantai membuat Bu Ira terjaga dari tidurnya. Baru saja ia memejamkan mata sejenak sambil bersandar di kursi kayu yang keras. Rasa penat dan lelah setelah semalaman terjaga membuatnya tak lagi memperdulikan kenyamanan.

“Rio?!?!”
Bu Ira terlonjak dari duduknya dan bergegas meraih tubuh Rio yang jatuh tersungkur di lantai.

“Ma, Mama….”
Rio menyebut nama mamanya lirih. Tangannya berusaha menggapai sesuatu yang bisa ia jadikan pegangan.

“Rio….Bangun Nak….”
Bu Ira menarik tubuh Rio untuk bangkit. Akan tetapi Rio menepis tangan mamanya dengan kasar hingga akhirnya ia tersungkur kembali di lantai. Tangannya kembali mencoba meraih apa saja yang ada di sekelilingnya.

“Rio….”
Bu Ira berlutut di samping Rio. Kedua tangannya meraih pundak putra satu-satunya itu dan memeluknya erat. Air mata seorang ibu yang melihat anaknya dalam kesedihan meluncur melampaui gurat-gurat usia di wajah sayunya.

Ia tak mempedulikan Rio yang terus meronta di pelukannya dengan tangan yang masih mencoba menggapai, dan meraba.

“Matakuuuuu!!!!!!!!!!! Aaaaaaa!!!!!!!!!!”
Tak lagi hanya meronta, kini Rio memukul-mukulkan kepalan tangannya ke lantai. Mencoba meluapkan rasa hatinya yang dibelenggu ketakutan karena tak mampu menangkap bayangan apapun.

Bu Ira semakin erat memeluk putranya tanpa peduli Rio yang semakin kalap memukul-mukul lantai. Pedih hatinya mencoba merasakan kesendirian yang diderita Rio karena berada dalam dunia yang tak nampak di matanya.

Rio berhenti memukul lantai. Tubuhnya lemas pasrah menatap kosong hitam tak berujung di pelupuk matanya. Kesendirian dalam kegelapan. Kini, dunia pun kelam dalam pandangannya. Matanya yang terjaga hanya mampu memandang pekatnya warna dunia. Hanya setetes air mata mewakili amarahnya, karena kini, kehampaan adalah teman setianya.

“ Di kala mata menatap kembali
Ukiran-ukiran kasar alur kehidupan

engkau tenggelam di dasar kehampaan
Terasa gentar ragamu
menapak kembali jalan keadaan

Dirimu sendiri di tengah bara dunia

merana di tengah hampa semesta
Terlintas alunan nada sumbang

rintihanmu lirih jauh dan samar-samar
Aku tak pernah sejauh ini denganmu”

Bunga-bunga sakura itu menari-nari kembali. Hembusan angin menebarkan hawa sejuk ke seluruh penjuru ruangan. Lembaran-lembaran kusam itu kembali tersingkap menunjukkan tegas pena yang tergores. Terus, terus dan terus. Halaman demi halaman mengikuti alur cerita jalan kehidupan. Sebuah foto yang warnanya telah memudar disana-sini, tampak terpajang di sebuah bingkai kayu berukiran sederhana di samping buku tersebut. Foto tiga orang anak berseragam SMP yang saling berangkulan berlatarkan sunset dan deburan ombak senja di sebuah pantai indah yang lengang.
Hembusan terakhir sang dewi angin, lembar selanjutnya perlahan terkuak, bergerak menyingkap lembaran baru. Hingga akhirnya terhenti di sebuah lembaran kosong tak bertulisan……..

************Bila kau harus pergi meninggalkan diriku, Jangan lupakan aku*******************

Hari ini, 1 Desember 2011

“Liku terjal bukit berbatu
Debur hantam ombak lautan
Tak kan menghalang pandang
Karena yang paling kau kasihi
Mungkin tampak lebih jelas dalam ketiadaannya
Bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki
Nampak lebih agung
Daripada tanah ngarai daratan

Kelam dunia di mataku
Kini tlah jadi milikmu
Ku lihat biru langit meluas
Ku tatap hijau hamparan semi
Ku pandang indah warna dunia
Untukmu…
Karenamu….. ”

-------------------------------

30 September 2008

Hatinya terlalu takut untuk berhenti berlari sekarang. Ia terus, terus dan terus berlari seolah jantungnya akan ikut terhenti jika ia menghentikan langkahnya.

Tangannya yang mengepal mulai berair. Terasa dingin. Lututnya terasa bergetar menopang tubuhnya yang tak henti berkeringat. Udara panas menerpa tubuhnya yang terus melaju melawan arah angin di tengah sesaknya lalu lalang manusia.

“Kumohon……”
Desah lirih terucap di sela-sela nafasnya yang terputus-putus karena paru-paru yang turut berpacu.

Ia menggigit bibirnya mencoba menahan perasaan takut teramat sangat yang menyergapnya. Ia tak mempedulikan tangan dan kakinya yang berulang kali terantuk karena ia terus berlari di tengah kerumunan yang menghalangi jalannya. Licinnya lantai bandara bisa saja membuatnya terjatuh saat itu juga. Tapi dia tak peduli, hanya satu yang dia ingin saat ini. Dia ingin melihat wajah orang yang disayanginya untuk terakhir kali. Ia ingin memohon agar dia tidak pergi.

BRAKKK!!!

“Woiii dek!!!!!”

Rio tak menghiraukan teriakan dan pandangan orang-orang di belakangnya. Ia terus berlari. Ia tak sanggup untuk berhenti sekarang walaupun dadanya sekarang terasa begitu sesak.

‘Kumohon….’

Rio memejamkan matanya sekejap mencoba melawan sesak di dadanya agar kakinya tak menyerah dan berhenti. Ia menatap papan petunjuk di kejauhan. Ia berharap tak tersesat dalam keadaan seperti ini. Ia mencoba mengingat kembali saat terakhir kali dia kesini 2 tahun yang lalu. Bukan waktu yang sebentar untuk tetap mengingat dimana arah menuju tempat pemberangkatan internasional. Berharap ia bisa menemukan orang yang disayanginya sebelum ia pergi.

‘satu belokan lagi.’
Rio menatap papan petunjuk di depannya. Langkahnya mulai terseok dengan kecepatan yang semakin berkurang namun tetap ia paksa untuk terus berlari.

“DEPARTURE”
dengan anak panah ke kiri.

Rio berbelok mengikuti arah yang ditunjuk anak panah di depannya. Ia hampir saja terjatuh karena berbelok dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Di depannya tampak sebuah palang kecil yang dijaga 2 orang berseragam. Tampak antrian orang menyerahkan sesuatu kepada para penjaga itu lalu kemudian mereka akan diijinkan masuk.

Rio menghentikan langkahnya dan berdiri tak jauh dari palang pintu itu dengan pandangan mata yang teliti mengawasi kerumunan orang yang melewati palang tersebut. Matanya mencoba menemukan apa yang dia cari.

Deg!!!
Debar jantungnya menyadarkan ia dari kediaman. Matanya menemukan orang yang ia cari sedang berjalan membelakanginya. Sontak Rio pun berlari. Ia berlari mendekati palang yang dijaga orang berseragam itu namun tepat saat kakinya hendak melangkah melewatinya, tangan kekar kedua penjaga itu terasa menghantam dadanya. Mereka menahannya.

“Maaf, paspornya?”

Rio tak mempedulikan pertanyaan mereka.matanya tak lepas dari orang yang disayanginya. Ia mencoba meronta dari genggaman tangan kedua penjaga itu.

“Maaf, anda tidak diijinkan lewat tanpa paspor…”
Salah seorang penjaga memandang tajam padanya dan semakin erat mencengkeram lengannya yang meronta kuat. Rio terus mencoba melepaskan diri.

Alvin berjalan semakin menjauh. Rio makin panik karena tak juga bisa menembus palang itu.

“Lepasin…..saya mau ketemu temen saya!!!”

Seseorang yang berdiri tak jauh dari dari sana sontak menengok begitu mendengar teriakan Rio.

“Rio?”
Ify yang berdiri tak jauh dari situ bergegas menghampiri Rio yang terus meronta.

“Rio!”
Rio menoleh kearah suara yang memanggilnya.

“Ify?”
Rio berhenti meronta. Ia menjauh dari kedua penjaga itu, menghampiri Ify yang menatapnya dengan mata memerah. Tampak gurat jejak air mata mengering di kedua pipinya.

Sejenak mereka bertatapan hingga akhirnya Rio sadar.

“Alvin…”
Rio mendekat kearah kaca pembatas. Dari sana ia bisa menatap Alvin yang menjauh. Alvin berpegangan pada tangan seorang laki-laki paruh baya yang entah siapa.

“ALVIIIINNN!!!”
Sekuat tenaga dipanggilnya nama sahabatnya. Tak pelak lagi puluhan pasang mata menyorot Rio yang berteriak pada orang di seberang sana yang entah bisa mendengarnya atau tidak.

“Udah Yo, udah….”
Ify mengelus pundak Rio yang masih berteriak dari kaca pembatas.
“ALVIIIINNN!!!”

“Rio udah…”
Ify tak mampu menahan air matanya. Begitu banyak air mata yang mewarnai kisah mereka. Entah ini akan menjadi yang terakhir atau bukan, yang jelas, jarak semakin jauh terbentang.

“Alvin….”
Suara Rio melemah. Tubuhnya merosot di hadapan kaca bening yang berdiri angkuh membatasi dirinya dari sahabatnya. Perlahan ia memukulkan kepalan tangannya kearah kaca yang sama sekali tak bergeming.

Ditatapnya punggung Alvin yang terus menjauh, hingga akhirnya menghilang di balik badan pesawat yang menelan tubuhnya menghilang dari pandangan Rio. Betapa inginnya Rio melihat Alvin untuk yang terakhir kalinya. Ia bahkan belum sekalipun melihat wajah sahabatnya itu sejak ia bisa membuka kembali matanya. Betapa Alvin meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Kali ini Rio membiarkan air matanya mengalir bebas. Membiarkan butiran-butiran basah itu jatuh menyapa dunia. Butiran bening yang mewakili segenap rasa kehilangannya. Butiran bening yang mewakili ribuan kata yang tak sempat ia ucapkan. Butiran bening yang mewakili kata maaf dan terima kasih yang tak sempat ia sampaikan. Butiran bening yang menetes lembut dari sudut matanya. Butiran bening yang menetes lembut dari sudut mata sahabatnya, yang kini menjadi miliknya.

___________________________________

“……Hari ini aku menemuimu Lewat puisi untuk mengenangmu
ku tatap nanar ragamu yg tlah pergi
Meninggalkan tanya gundah di hati


Aku masih menatap langit yang sama
Yang juga menaungi ragamu disana

Entah...
Dalam dekapan rasa
Untuk berapa kali aku duduk di sini
Entah...
Dalam dekapan rindu
Berapa kali lagi aku akan di sini
Saat ini...
Dengan segala asa
Masih duduk di dermaga tua ini
Entah sampai kapan aku di sini
Mungkin...
Sampai tidak ada lagi dermaga di kota ini

Di manapun engkau berada
Entah masih mewarnai
Lukisan hidupmu di dunia
Ataukah telah damai
Bersama kekasih abadimu
Kami disini selalu mengingatmu
Seperti dulu
Berpegang tangan menggapai langit
Berpegang tangan menggapaimu”


Rio menutup buku kecil berisi puisi yang baru saja ia bacakan. Derai tepuk tangan orang-orang yang hadir menggema di seluruh sudut ruangan. Tangan Rio meraih kembali selembar kertas kusam dari dalam kantong jas putihnya. Sebuah kertas lusuh termakan usia yang selama ini terus disimpan olehnya.

Dari atas panggung Rio menunjukkan kertas yang dibawanya kepada tamu yang hadir.Seulas senyum tersungging dari bibirnya saat ia menatap kembali barisan-barisan kata yang tertulis disana. Tatapan matanya seolah mengatakan bahwa benda itu sangat berharga baginya.

“Ini adalah sebuah surat. Surat yang dikirimkan ke rumah saya beberapa bulan yang lalu. Sebuah surat dengan kertas yang sudah sedikit kusam. Entah kapan sang penulis membuatnya. Dan siang ini, saya akan membaca kembali isi surat ini. Saya hanya ingin kehadirannya tidak dilupakan.”

Rio menatap Ify yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. Ify mengangguk pelan padanya.Dan Rio pun mulai membacakan untaian-untaian kata yang terukir disana.

Kepada sahabatku,
Rio dan Ify

Bagaimana kabar kalian? Baikkah? Masihkah kalian mengingatku?
Maaf, mungkin, beribu tanya yang ingin kalian sampaikan padaku.
Disini panas, mungkin disana sedang hujan.Tapi yang jelas, seperti yang selalu kalian katakan, kita masih menatap langit yang sama.

Ify, marahkah kau padaku? Karena aku yang tak pernah berterus terang padamu? Karena aku yang selalu memendam semua masalahku sendirian? Karena aku yang membuatmu begitu terkejut saat mengetahui seperti apa diriku? Masih sakitkan lukamu dulu? Maaf……

Rio……
Aku tak pernah marah padamu. Sekalipun aku tak pernah membencimu. Semua itu bukan amarah, bukan benci. Aku yang salah.
Rio……
Cerahkah disana? Masih bisakah kau melihat rasi bintang kita bertiga? Masih indahkah bukit belakang rumah jika rerumputannya bersemi?
Aku bisa melihatnya. Walaupun aku jauh disini, aku bisa melihatnya. Karena kita melihatnya bersama kan? Aku masih bisa menatap Ify setiap hari, aku masih bisa menatap padatnya jalanan Jakarta setiap hari, aku masih bisa melihat birunya langit disana setiap hari. Karena kau memandangnya,Rio. Mata yg ada padamu, jagalah, agar aku tetap bisa melihat tawa kalian dari sini.

Rio, Ify….
Apakah kalian masih mengingatku?
Apakah kalian masih mengingat saat kita bersama dulu?
Apakah kalian masih ingat?
Aku masih ingat. Karena setiap kali ku membuka mata, tak ada lagi warna dunia yang bisa kulihat. Di tengah kegelapan, hanya bayangan kalian yang terlintas. Hanya saat-saat indah itu yang membekas.

Rio, Ify….
Bisakah kalian membayangkan aku ada disana sekarang? Bisakah kalian membayangkan aku menggenggam tangan kalian sekarang? Jika iya, bayangkanlah aku berada di dekat kalian. Bayangkanlah aku tersenyum pada kalian. Karena sekian lama aku tak melakukannya.

Aku, menjadi seperti ini semua karena orang tuaku. Perlakuan mereka padaku membuatku memandang dunia menjadi sesuatu yang kejam. Kehidupan yang kujalani membuatku memandang hidup sebagai sesuatu yang melelahkan.
Maaf,…

Rio, Ify….
Surat ini kutitipkan pada seseorang. Aku memintanya mengirimkan pada kalian. Tapi saat aku memberikannya, aku hanya meminta satu hal. Aku ingin surat ini dikirim jika kelak aku telah tiada.
Maaf, sekali lagi aku tak jujur pada kalian.
Aku, menderita AIDS. Kata dokter, semua karena jarum suntik yang dulu kupakai untuk mengkonsumsi narkoba. Hidupku takkan lama.
Maaf, akulah yang membuat kalian celaka. Aku begitu putus asa hingga berniat mengakhiri hidupku sendiri. Aku merasa begitu sendiri, hingga akhirnya aku sadar masih ada kalian yang begitu mengkhawatirkanku.

Karena tingkah bodohku kamu kehilangan penglihatanmu Rio. Maaf… karena itulah aku memberikan mataku untukmu Rio. Untuk menebus kesalahanku. Maaf, bahkan aku melarang semua orang memberitahumu bahwa itu adalah mataku. Maaf, bahwa kau harus tau semuanya tepat disaat hari aku harus pergi meninggalkan Indonesia. Maaf, bahkan aku tak sekalipun menemuimu. Maaf, aku terlalu malu, aku terlalu takut menghadapi kenyataan.

Tapi, dibalik semua itu, ada alasan lain kenapa aku memberikan mata ini untukmu. Karena aku tak ingin begitu saja meninggalkan warna dunia. Karena aku tetap ingin menatapnya, lewat dirimu. Walaupun suatu saat aku tak lagi hidup, aku ingin tetap menatap tawa kalian. Aku ingin tetap melihat senyum kalian.

Sungguh, betapa penyesalan tak pernah bisa kuhapuskan setiap kali aku memikirkan kalian. hidup terlalu berharga untuk dilewati dengan sia-sia. Aku hanya berharap cerita tentang kita bisa menjadi pengalaman bagi orang lain.

Satu hal yang sekian lama begitu ingin kukatakan, dan kali ini, akhirnya aku bisa mengatakannya.

Rio, Ify….
Aku merindukan kalian…
Aku ingin terus bersama kalian….
Maaf,…
Dan terimakasih untuk segalanya…..

Dari sahabatmu,
Alvin Jonathan



Rio mengusap sudut matanya dengan punggung tangannya. Tamu yang hadir terdiam larut dalam keheningan.

“Kami, tidak akan melupakan Alvin. Setiap orang berhak menatap dunia, setiap orang berhak memaknai hidup dengan cara mereka sendiri. Tak ada seorangpun yang hidup sia-sia. Karena mereka semua tercipta untuk orang-orang yang menyayanginya.”

“Di hari AIDS sedunia kali ini, saya Rio, dan sahabat saya Ify, meresmikan yayasan rehabilitasi AIDS ini untuk mengingatkan kembali kepada saudara-saudara kita yang terkena AIDS, bahwa hidup terlalu berharga untuk dilewati dengan sia-sia, seperti yang Alvin katakan. Kami ingin membagi apa yang pernah kami alami. Apa yang pernah kami rasakan adalah pengalaman bagi orang lain dan diri kami tentunya. Apapun itu, satu hal yang pasti, setiap diri kalian telah diciptakan untuk memberi kebahagiaan bagi orang lain. Kalian adalah harta yang berharga bagi orang-orang yang menyayangi kalian. Karena itu, tetaplah berjuang,…”

“Untuk sahabat kami Alvin, semoga kau tenang disana. Maaf, dan terima kasih…..”

Sekali lagi derai tepuk tangan tamu undangan riuh rendah mengiringi akhir kalimat Rio. Namun sejenak kemudian keramaian itu kembali terganti dengan keheningan.

Jemari lentik Ify menekan tuts tuts piano yang terletak tak jauh dari tempat Rio berdiri. Perlahan terlantun suara merdu menyergap setiap rasa orang-orang yang mendengarnya.

Intro sebuah lagu mengalun perlahan….

Rio menatap tamu-tamu yang datang. Wajah orang-orang yang pernah dibelenggu keputusasaan karena merasa hidupnya sia-sia. Orang-orang yang pernah terpuruk dalam ketakutan karena ajal yang terasa begitu dekat di depan mata. Orang-orang yang mengingatkan Rio pada sahabatnya. Orang-orang yang pernah merasakan apa yang dirasakan Alvin. Menatap wajah mereka, serasa seperti menatap sahabatnya tersenyum di hadapannya.

“Untukmu Alvin, Dari kami, Rindukan Dirimu….”
Rio memejamkan matanya. Tangannya lembut menggenggam standing mic di hadapannya. Seluruh jiwa dan raganya terhanyut dalam keheningan. Keheningan yang memutar kembali slide-slide buram kenangan.
Sebuah pantai, dihiasi semburat kemerahan sang surya tenggelam. Gelak canda tiga orang anak yang penuh kegembiraan dalam balutan indah persahabatan menggaung memecah kesunyian. Berpadu dengan riuh rendah deburan ombak. Nyanyian alam menegaskan lukisan samar-samar wajah mereka. Berlarian dalam canda,…..Rindukan Dirimu…….


Berjanjilah wahai sahabatku
Bila kau tinggalkan aku
tetaplah tersenyum

Meski hati sedih dan menangis
Ku ingin kau tetap tabah menghadapinya

Bila kau harus pergi meninggalkan diriku
Jangan lupakan aku

Semoga dirimu disana
kan baik-baik saja
Untuk selamanya

Disini aku kan selalu
rindukan dirimu

Wahai sahabatku….
Gala Dinner With CAKKA-ELANG


Hmm .
Sebenernya ini kejadiannya pada tanggal 6-february kemarin, udah lama sih. Tapi karena masih terkenang jadi pingin di ceritain, maklum itukan hari spesial. Saya bukan sombong atau mau pamer karena udah ketemu cakka, tapi hanya sekedar melampiaskan kesenangan ajah. Cuma pingin cerita gimana kelakuannya gokilnya cakka dan mas.elang yang sukses bikin jantung dag-dig-dug. Apalagi pas nebar senyum. Oh, god ! gak lebay nih, tapi emang bener bikin klepek-klepek :D


*

Waktu itu udah jam sepuluhan lebih, pokoknnya udah lumayan malem banget deh. gue lagi asik twitteran, terus pas di TL ngeliat twitternya ka sagita sama ka nila, banyak deh. Mereka kaya ngomongin sesuatu gituh, terus gue juga di sms malem itu sama Harysa. Pas denger ka sagita nulis tweet kabar bahagia buat @CLLombok, jadi penasaran banget.

Pertamanya pas dikasitau harysa gak percaya sih, kirainnya bohongan buat bercandaan ajah. Eh, pas beneran di kasitau sama ka sagita sama ka nila baru deh kaget, shock banget dengernya. Semua anak @CLLombok langsung deh seru-seruan ngomongin itu di twitter sampe jam satu malem mungkin. Semuanya udah gak sabar buat nungguin hari itu.

Terus pas paginya, katanya cakka gak dating Cuma mas.elang. hmm, udah kecewa sih tapi ya.. mau gimana lagi ?! terus harysa dating kerumah gue, dia bilang gala dinnernya hari sabtu. Pas banget 5 February sehari sebelum gue ulang tahun. Uhh, berandai-andai itu bakal jadi hari special buat @CLLombok.

Tak tak tak.
Udah tiba nih hari jumat, udah gak sabar nunggu sehari lagi. Ehh, ada pemberitahuan baru kalo GLnya hari minggu bukan hari sabtu, soalnya hari sabtu mas.elang ada Garden Party di Bali. Biarin deh diundur malah tambah seneng. Nah !! Pas hari sabtu kita bingung mau ke pesona hijau buat bayar, soalnya kan gak tau tempatnya. Udah telpon-telpon sama sms ka sagu, baru deh ketemu. Habis bayar kita ngobrol dikit, uhh, seneng banget waktu denger cakka dating. Impian selama bertahun-tahun ketemu dia bakal terwujud deh besok ! xD


THIS IS MY SPECIAL DAY  6 February 2011.

Dari semalem tidurnya jam satu atau jam duaan mungkin, gara-gara asik twitteran sama anak @CLLombok. Pas paginya bangun jam setengah enam, langsung deh buka laptop onlen twitter sama facebook. Busseett dah, baru buka profil langsung numpuk wall-wallnya *sombong*. nahLoh (?) saya lupa kalo hari itu ulang tahun, ahh seneng deh ngeliat wall semuanya ngucapin HBD :’) biarpun pegel capek, tapi tetep harus balesin tuh wall satu-satu, mkasih deh buat semua yg udah ngucapin.

Pas buka inbox, baru inget untung ajah GLnya sore, jadinya bisa siap-siap dulu paginya. Pas udah sore mandi, siap-siap udah rapi deh pokoknya, gak lupa bawa kamera segala mecem ! tapi tiba-tiba takut buat minta ijin ke ortu, takut kecewalah taku gak dikasihlah, tapi demi cakka beraniin deh. Akhirnya setelah ngalamin detik-detik galau, setelah ngambilin tissue buat ngelap keringet dingin dikasih juga :D udah deh langsung OTW ke PESONA HIJAU 


AT PESONA HIJAU  HAPPY TIME !!

Pas udah nyampe di pesona hijau, bingung nyariin Akila, chessa, sama harysa. Nah udah ketemu, tapi mereka duduknya dibelakang -_- padahal pingin banget duduk di depan, kan pingin ngeliat mukanya cakka sama mas elang lebih jelas kalo perlu maunya bawa kaca pembesar sih (?) untung ajah ada nenek gue tersayang a.k.a cahya jadinya bisa duduk paling depan *hahaymakasoyyasayangs.

Semua anak @CLLombok, udah pada gak sabar. Duduknya kaya cacing kepanasan, terus kepalanya tengok kanan tengok kiri. Apalagi udah keringetan, keringet dingin deh saking senengnya. Pas diliat liat disitu cuman ada om gub sama paku alaman ajah, yang ditunggu-tunggu kaga muncul ._.

Tiba-tiba ada yang teriak katanya mas.elang udah dating. Wiihh, semuanya pada nyerbu keluar siapin kamera sama jantungnya biar gak copot *lebeh* ahh, melted deh gue liatnya. Ga bisa kedip, ternyata lebih cakep dari potonya xD apalagi pas senyum, tambah melotot liatny.

mas elang pas masuk langsung ke wastafel cuci tangan.

Semuanya udah pada ceklak-ceklik deh sibuk poto-poto. Apalagi pas mas.elang lewatin kita, udah pada nyubitin, nyolek-nyolek pokoknya semuanya pada histeris.sementara MCnya cuap-cuap, mas elang siap-siapin gitar buat nyanyiin lagu bunga harapan.



Setelah siap mas.elang berdiri di depan mic, tapi sebelum nyanyi ada sesi Tanya-tanya dulu. Nah saya langsung angkat tangan deh mau nanya sesuatu, abis itu kata MCnya ‘’gak ada yang mau ditanyain lagi’’ sempet mikir sih mau Tanya apa lagi. Baru keingetan, gue bilang deh ‘’tolong ucapin selamat ulang tahun ke saya’’ ehh, semuanya pada nyorak langsung :p tapi mas.elangnya maulah ‘’happy birthday’’ dia bilang pake nama gue juga loh dia sebut :3 . Uhh, seneng banget ccooyy :D diucapin HBD sama mas.elang. tengskyu pull deh mas elang :D



Baru deh setelah itu mas.elang gejreng gitar nyanyiin BUNGA HARAPAN.



Semunya pada spechelless ngeliat mas.elang nyanyi, suaranya bok :p ajib gile :D mas elang joget-joget, terus jogetnya itu sambil naikin celananya soalnya turun terus kan bahaya kalo keliatan *sensor* (?) -___- malah mas.elang sampe jalan terus naikin kursi gue, nyanyi deh di atas meja :D




Setelah nyanyi bunga harapan, ada sesi Tanya lagi. Ada yang nanya ‘lirik lagu mana yang paling pas buat mas.elang’ *kalokagasalah* terus mas.elang bingung jawabnya. Dipelerin dulu deh tuh kaset bunga harapan.



Baru dijawab, tapi sory ye saya lupa jawabannya apa *yangtaukoment* :p haha. Setelah selese tanya-tanyanya, ehh ada anak @CLLombok yang mau pulang (tika : red) katanya gak dikasih emaknya lama-lama, soalnya kan besok sekolah. Jadi deh dia nangis terisakisak-tersedusedu, tapi yang bikin @CLLombok lain envy dia dapet topinya mas.elang :p




Habis itu mas.elang ngajak duet anak @CLLombok yang hafal lagu BUNGA HARAPAN. Sebernya sih gue ditawarin, kan yang lagi ulang tahun -.- eh tapi bodohnya gue, kaga gue hapalin tuh lagu. Jadinya ka sagu deh yang duet -___- semuanya pada teriak-teriaak, enpy dong bok :p





Envy-envynya selese deh, terus diputer video perjalanan cakka. Semuanya pada histeris teriak-teriak. Pas cakka keluar sebagai 6 besar idola cilik 2, pada nangis deh. Apalagi ka nila :p banjir semuanya dibuat -___- tapi ka nila nangis itu karena terharu ngeliat kegigihan cakka dan perjuangan cakka. Meskipun dia udah out tapi dia gak pernah sedih dan gak putus asa, malah selalu terus berkarya buat bahagiain C~LUVers :”)




JRENG JRREENNGG TTAATT TTAARRRAAA JJEDDYYAARRR :D
Wahaha xp
Sosok makhluk hidup ciptaan tuhan yang sempurna, yang tampannya luar biasa, kerennya aje gile, imutnya ngelebihin marmut muncul dari pintu samping. Oh god ! gak lebay nih ya, tapi emang bikin DAG-DIG-DUG :p dengan tampang bingung binti polos dia berdiri terus tangannya dilipet kesamping-belakang buat perbaikin bajunya. Cekkacekka 




Alamak semuanya pada melongo ngeliatin langsung keluarin kamera, handycam, hp, pota-poto mengabadikan pose dan profil mukanya yang bener-bener bikin tepar :D wakawakaa. Next, kita lanjutin ke acara potong kue sama tiup lilin buat ngerayain ulang tahunnya @CLLombok *sekalianulangtahunguesih* :p haha. Winkwink. Pas cakka nyanyi selamat ulang tahun, eh dianya lupa liriknya. ‘’selamat ulang tahun mmm mmm mmm’’ ahh, akhirnya tuh mic diarahin ke kita biar kita yang nyanyi :p



Selanjutnya acara potong kue, cakka nyuruh kita pegang tangannya terus potong bareng-bareng. Krna desek-desekan gue males ikutan yaudah deh Cuma potion ajah :p


SEKALI LAGI YANG BIKIN ENVY xP
Setelah potong kue, cakka berdiri terus disebelahnya ada ka @SAGITALUCK (sagu : red) ini nih suatu moment yang perlu dan sangat harus di abadikan :p soalnya sukses bikin anak @CLLlombok, envy berat -___- teriak-teriak histeris kaga rela kaga tega deh (?) tapi selamet yaw buat ka sagu, akhirnya bisa disuapin noh sama cakka, malah ampe rebutan garpu -.- mendingan buat saya deh kalo bisa :D



Setelah suap-suapan cakka ngucapin selamat buat @CLLombok sekalian nyanyi dikit :p
‘’semoga C~LUVersLombok semakin kompak, semakin oke, semakin..semakinn.. sssseeeee… semakin ku menggilaimu semakin ku menggilaimu kau bintang di hatiku, terangi setiap langkahku. Semakin ku memikirkanmu semakin ku menggilaimu, kau bintang di hatiku. Terangi setiap langkahku. Semakin oke yah  hidup C~LUVersLombok’’
Oke, sesi envy-envynya stop deh. Sekarang Gala Dinnernya, tapi sebenernya ini bukan GL sih ! soalnya gak ada yang makan :p semuanya malah ngintilin cakka, pokoknya gak boleh kelewat adegan gokil dari cakka deh. Yang kasiannya itu mas.elang -__- cakka dating, mas.elangnya dianggurin di pojokan asik gejreng gitar sendiri :D wakawakkaa.

Sabar yee mas.elang :D haha. Nah balik lagi ke cakkanya. Cakka lagi duduk di belakang tempat jual merchandise, makan es buah sambil sibuk tanda tangan. Terus dia lari ke depan kearah ka fiola :”) ngobrol bentar terus cakka malah cerita cerita sambil makan es buahnya :p terus ka fiola juga ngasih kado buat cakka, baju Lombok sama apa gituh *lupa* -.-


Udah dapet kado, eh cakkanya malah ngeloyor pergi -__- dia duduk di depan drum. Buju busett, bakal ada pukul panci nih (?) cakkanya mau gebuk drum, bukannya keren malah lucu :p haha.

Gebuk drum udah selese nih, lanjut ke belakang lagi :p tanda tangan sama ngambil es buah lagi. Cakkanya keenekan kali yak makan es buah ampe nambah terus :D hagzhagz. Terus gue minta tanda tangan sama cakka. Pas selese, gue bilang ‘’tolong tulisin happy birthday yah buat saya’’ nah entah ada setan apa lewat, cakka malah bengong di depan saya sambil bilang ‘’shilla’’ Ngek -__- gue kan kaga mirip shilla wee ;p uhh tapi tatapannya itu mak :D gue di pelototin abis-abisan, apalagi pas bola mata tapi bikin melted abis deh. Apalagi bibirnya uoouoo :p seksoy bok!




Tap tap tap ..
Nextnya, poto-poto dong sama cakka. Cakka sibuk makan nah kita-kita pada curi-curi kesempatan buat poto :p hahay. Cakka ajah makannya ampe jatuh tuh gara-gara di mainin di mulutya spontan semua teriak ‘’ihh cakka jorok’’ nah cakka ? mesem-mesem sambil minta maap deh :D

Foto diatas yang pertama, pasti udah pada tau kan :p itu foto di camera gue. Pas lagi asik foto cakka ngerebut paksa tuh camera gue. Alah demi cakka, yah gue kasih dong :D terus dia ngeluarin BB Onix Putihnya, beuh.. gara-gara takut ketauan kalo wallpaper BBnya pake potonya –cakkashilla- sembunyi-sembunyi deh bukanya. Setelah itu baru dia foto camera gue, hahay :D seandainya ga ada hpnya si chessa -__- muka gue pasti masuk noh di BBnya :p huuh.

setelah itu lanjut deh yah poto-potoannya :p ting tong (?) udah hampir jam sepuluhan malem. Semuanya pada keluar, cakka sibuk loncat ke punggungnya om @paku_alaman terus main senggek-senggean deh ._. sedangkan yang lain kesemsem sendiri. singkat waktu deh ye :p cakka tos-tosan sama kita, salam-salaman berulang kali. Alamak :D tangannya lembut amat deh yaw :3 waktu pulang kita puas poto-poto soalnya Cuma nyisa 7 orang mungkin disana.

Sebelum pulang, cakka sama chessa sibuk rebutan hp dulu -__- yang punya hp siapa ? eh yang ngototan siapa. Ceritanye kan chessa mau pamit pulang, salaman gituh. Eh cakkanya malah ngerampas tuh hpnya chessa. Dia bilang ‘’ayok poto’’ nah chessa mau nyuruh gue potion, Lah si cakka maunya dia yang poto. Yaudah deh, udah begaya pas diliat Cuma mukanya cakka doing yang nongol -.- ngeekk :p


Okeh, berasa buat nopel deh yak panjang amat :p tapi terserah gue dong :D wakawakkaa. Di cerita ini gak ada unsure pamer ato sombong loh :p jadi jangan asal cuap deh kalo mau coment. Hanya sebatas bagi cerita  yang gasuka, yah gak usah baca kali :p kalo suka baru Like deh . sankyuu.

Penantian Panjang (Rify)

kaki kecil itu melangkah pelan menciptakan bunyi hentakan yang berirama, terkadang melompat melewati kumpulan titik air yang menggenang di lobang-lobang atau permukaan jalan. Memang saat semalam, dewa hujan memerintahkan anak buahnya untuk mengguyur kota kembang itu dengan beribu-ribu tetes air bening. membuat jalanan dan aspal menjadi licin dan basah tentunya, bahkan hujan tadi malam juga meninggalkan jejak titik air di ranting dan dedaunan.



Seorang gadis manis terlihat tengah berjalan pelan di sisi trotoar, menyusuri kota bandung dengan setianya. Pandangannya sibuk mengamati bangunan demi bangunan yang berjejer rapi di sudut jalan, mengamati keramian kota bandung yang sudah hampir mirip dengan kota metropolitan, Jakarta. Tak bosan-bosan memandanginya, meskipun sudah 20 tahun gadis itu menetap di kota bandung. Tinggal di sebuah kota yang memiliki keindahan alam tersendiri, kota bandung. Memiliki keindahan alam yang tak ternilai dan memiliki jutaan billion udara sejuk yang menyegarkan.



Gadis itu mengehentikan derap langkahnya. Sejenak melamun, pikirannya melayang jauh ke sudut langit biru yang tinggi. Kedua bola mata coklat yang indah itu terus saja menatap lekat ke arah sebuah bangunan tua yang sepertinya sudah tak berpenghuni lagi. Entah mengapa tatapannya seperti menunjukan sebuah rasa kecewa dan kerinduan yang amat sangat. Namun dengan cepat gadis cantik itu mengalihkan pandangannya berusaha mengontrol detakan jantung yang semakin cepat. Atau mungkin berusaha untuk tidak memutar memori indah itu dan berusaha menahan sebuah tetesan hangat yang sudah hampir keluar dari pelupuk matanya.





Uhh.. gadis itu menghembuskan nafas sebal saat sebuah tetesan bening itu jatuh dan mengalir lembut di pipinya. Membentuk sebuah aliran sungai bening yang terlihat perih. Tapi dengan cepat jemari lentiknya menepis kasar aliran bening itu, ia tak mau terlihat lemah di depan orang lain apalagi di depan orang yang sangat dicintainya. Tapi sayang orang yang dicintainya tak ada disini, dia jauhh ..







*





Di depan sana terlihat sebuah bangunan yang cukup besar dengan tembok yang bercat berwarna-warni. Di sebelahnya terdapat halaman luas dengan rumput hijau yang menyegarkan apalagi di sekililingnya nampak berbagai bunga cantik yang bermekaran. Tempat itu biasa disebut taman bermain, taman bermain yang sangat menyenangkan. Tapi tenang saja, gadis itu berjalan kesini bukan untuk bermain ayunan, jungkat-jungkit atau yang lainnya. Tapi ia lebih senang duduk manis di sebuah bangku berwarna kuning kecoklatan yang sudah menjadi langganannya bersantai.



Yaa.. setiap ada waktu senggang dia pasti berjalan kaki kesini. Melihat anak-anak kecil yang bermain dengan asiknya, melepaskan sebuah tawa bahagia yang terlihat menggemaskan. Wajah polos nan lugu yang selalu menjadi profil anak kecil membuatnya lebih tenang saat kesini. Sesekali tawa renyah ia tampilkan saat melihat tingkah lucu dari salah satu anak kecil yang bermain gembira.



Gadis itu duduk manis sambil menopang dagu, menatap ke depan dengan senyum manisnya. Seorang anak kecil yang memiliki wajah imut dan cantik juga datang mendekat ke arahnya.





‘’halo ka ipy, kemalin ko gak kesini sih ? kan aku kangen sama ka ipy’’ kata anak kecil itu dengan wajah gemas, apalagi lidahnya yang potal membuat ify tersenyum manis melihatnya.



‘’maaf ya agni sayang, kemarin kaka banyak tugas jadinya ga sempet kesini, kaka juga kangen banget sama agni’’ sahut ify –gadis tadi- sambil mengusap lembut puncak kepala agni –anak kecil itu-



‘’iya deh, aku maapin ka ipy’’ kata agni sambil mengangkat jari kelingkinya yang langsung ditautkan ke jari kelingking ify. Mereka berdua sama-sama tersenyum manis.



‘’uhmm.. agni mau ga beli ice cream ? ntar kaka deh yang beliin’’ tawar ify sambil mengerling jahil.



‘’mau deh, tapi aku maunya es klim stlobelly ya ka’’ jawab agni dengan senyum lebarnya.



Ify dan agni, berjalan beriringan layaknya seorang ibu dan anaknya. Sangat serasi, mereka tertawa dan bercanda bersama. Sosok agni yang menggemaskan itu mampu membuat ify sejenak melupakan lelaki yang sudah menorehkan sebuah luka kecewa di hati ify. Memang ini yang selalu ify inginkan, taman bermain ini selalu menjadi obat mala rindu dan rasa kecewanya.







‘’iihh, kaa ipy nakaaaalll’’ agni berteriak kencang saat tangan ify dengan seenaknya mencolekkan sebuah goresan ice cream di pipinya. Ify tertawa senang lalu berlari menjauh sambil menjulurkan lidahnya.



‘’ka ippyyy jaaangan llaalliii, awas ajah nanti aku kejaall, atau ga aku lapolin ke ka lio’’ teriak agni kencang dengan suara nyaringnya. ‘’Ooppss’’ agni berhenti berlari lalu dengan cepat menutup mulutnya.



Ify ? seketika ify mengehentikan hentakan kakinya yang berlari kencang itu. Kini ify malah terdiam mematung dan membisu. Ice cream conello vanilla yang tadi dinggenggam erat kini langsung jatuh ke tanah. Pikirannya kacau, jantungnya berdebar kencang mendengar nama itu, tubuhnya seperti terkena sengata listrik hingga mampu membuatnya bergetar hebat. uhh, sepertinya kejadian yang tak diinginkan akan datang lagi.



Bbrrukk !

Tubuh ify jatuh berlutut seketika, menyentuh tanah dan beribu butir pasir kotor. Kakinya sudah tak mampu menopang tubuhnya yang terasa kaku. Getaran hebat itu membuatnya berkeringat, matanya terasa perih menahan semua tetesan bening yang tak dapat terbendung lagi. Dari kejauhan, dengan tatapan menyesal agni menghampiri tubuh ify yang mematung kini. Tak puas-puasnya agni mendumel dalam hati, menyesali pengucapan katanya yang menyebutkan nama –LIO- atau tepatnya –RIO-.





RIO ? ada apa dengan sebuah nama itu ? ada apa dengan ketiga deretan huruf cantik yang diikat satu itu ? memang itu hanya sebuah nama biasa, namun bagi ify memiliki makna dalam di hatinya. Yaa.. nama itu mampu membuatnya melupakan keperihan dunia dulu yang begitu dashyat dihadapinya. Nama itu mampu membuatnya merasakan getaran-getaran cinta yang sungguh nikmat dan tentunya mampu membuat jantungnya berdebar kencang setiap detik.



Tapi sayang, kini sosok yang memiliki nama RIO itu telah jauh di Negara sebrang sana. Hmm.. setahun yang lalu tepat saat ulang tahun hari jadinya dengan Ify, Rio pamit untuk pergi ke PARIS. Menuntut ilmu dan mengejar cita-cita disana, karena kelak rio akan menjadi pemimpin di perusahaan terbesar di kota Jakarta. rio akan mewarisi berbagai macam bisnis dan perusahaan papanya. Saat itu, dengan berat hati ify melepas kepergian rio dengan sebuah kecupan hangat di bibir merahnya. Sebuah kecupan yang mungkin untuk terakhir kalinya.



Huuhh, ify merasakan dirinya seperti orang bodoh yang setiap detik menanti kepulangan rio. Sudah setahun lamanya, cintanya masih tetap utuh dipersembahkan untuk rio. Hanya rio, rio dan rio. Tak pernah sedikitpun perasaan bosan menyelip di hatinya, ia selalu bertekad untuk selalu menanti kepulangan rio dan akan hidup bahagia lagi bersama rio.



Namun sejak rio hilang secara tiba-tiba, tak memberikan kabar bahkan tak pernah menelpon atau hanya sekedar mengirimkan pesan padanya, ify menganggap rio sudah tak mengingat dirinya lagi. Mungkin sajakan kalau rio mempunyai kekasih baru disana, gadis-gadis yang lebih cantik tentunya daripada ify. Rasa keputus asaan sempat melandanya, menerobos semua pertahan yang sudah berdiri kokoh. Menghantam dan menghancurkan tembok-tembok ketegaran di hatinya. Membuat dirinya merasa bahwa harus mulai menghapus ukiran nama rio dihatinya. Menghapus bayang-banyang rio yang selalu mengganggu benak dan pikirannya.



‘’hmm.. ka ii..iippyy..’’ kata agni dengan suara lirih dan terbata-bata.



‘’….’’ Ify hanya meresponnya dengan sebuah butiran air mata. Tetap diam, tetap mematung, dan tetap membisu. Agni semakin merasa bersalah, lalu dengan kerasnya ia menangis sesenggukan mengeluarkan ucapan maaf dari bibir mungilnya.



Agni memang mengetahui siapa rio dan kemana rio. Ia mengerti jika ify sedih saat ditinggal rio, sangat mengerti meskipun umurnya yang baru menginjak 8 tahun. Karena dulu agni sering bermain bersama rio dan juga ify, menganggap mereka berdua sebagai bunda dan ayah keduanya.



‘’ka..ka.ii..ippyy..maapp..maapin..agni.yaa’’ kata agni di sela-sela tangisnya. Ify langsung tersadar dari semua lamunannya itu, kini kedua bola mata ify menatap tepat di manik mana agni. Memandangnya dengan tatapan sayu lalu dengan cepat mendekap tubuh mungil agni kedalam pelukannya. Membiarkan semua rasa yang tercampur itu tenggelam di tengah kehangatan ini. Membiarkan pelukan ini sebagai pengganti pelukan hangat rio dulu.









*





Detik demi detik sudah berlalu panjang, kini sang mentari mulai merangkak kembali ke peraduannya yang nyaman itu. Langit biru mulai menampakan warna merah oranye, dan perlahan berevolusi menjadi warna kehitaman yang begitu gelap. Satu persatu titik-titik bintang mulai bermunculan dan tergantung indah di atas langit, menemani pemimpin langit yang tengah kesepian karna kesendiriannya. Pangeran kegelapanpun sudah menampakan dirinya ke atas bumi. Mereka –bulan-bintang- mulai mengerahkan tenaganya untuk mengeluarkan siluet cahaya, menerangi malam gelap sekaligus menghiasi langit malam agar terlihat lebih indah.



Disana, di sebuah balkon rumah yang cukup megah dan mewah. Terlihat sosok gadis manis yang tengah asik melamun sembari menopang dagu. tubuhnya yang putih tinggi dibalut dengan sehelai kaos putih roxy tipis dan celana pendek sepaha berwarna kemerahan. Cukup terbuka hingga kulitnya dapat merasakan sentuhan lembut hawa dingin yang cukup menusuk ke tulang. Membuat tubuhnya bergetar dan bibirnya menggigil karna tak sanggup menahan belaian hawa dingin itu.



Namun sepertinya hawa dingin dan tusukan lembut angin dingin yang menerpa tubuhnya tak mampu membangunkan ify dari alam lamunanya. Pikiran dan benaknya masih tersita penuh karna sesuatu hal. Apasih yang membuatnya melamun hingga membuka mulut dan tak sedikitpun mengerdipkan mata ? segitu pentingnya kah ? hmm.. pasti angan-angannya sudah melambung tinggi kini, sangat tinggi karena sekarang sosok RIO yang tengah di pikirkannya. Lagi, Lagi, Lagi dan lagi. Tak pernah henti dan tak pernah bosan meskipun sudah beribu-ribu kali ify menjadi mayat hidup karena membayangkan sosok rio.



Ddrrrtt ddrrtt …

Tapi sebuah getaran keras sedikit menganggu dan menyita lamunanya. Getaran dari BBnya sendiri yang tengah tergeletak pasrah di atas meja. Ternyata sebuah panggilan masuk menghampiri BBnya disaat yang kurang tepat. Deretan nomer berjejer rapi di layar BBnya, tak ada nama ! hanya deretan nomer yang tak dikenal. Dengan malasnya ify menggerakan jemari lentiknya kea rah tombol reject. Lebih baik ia membuang waktunya untuk melamunkan rio, daripada mengangkat telpon dari nomer yang tak jelas pemiliknya.



Uhh, ify berdecak kesal saat getaran itu kembali terdengar keras di daun telinganya. Dengan cepat ify menekan tombol reject lagi, tanpa melihat nomer yang sudah menganggunya berulang kali. Untuk ketiga kalinya ! getaran keras kembali hinggap di telinganya. Ify yang mendengar lagi menjadi kesal sendiri, dumelan kasar terus ia lontarkan untuk mengutuk manusia yang sudah mengganggunya itu. Tapi dengan terpaksa ify menekan tombol answer dan menaruh BBnya tepat di samping telinga kanannya.



‘’haloo’’ kata ify dengan nada jutek bin judes.

‘’halo, hay ify. Ops, ini benar ify kan ?’’ Tanya orang di seberang sana. Suara itu ?! tiba-tiba darah ify berdesir halus dan bergelombang. Detakan jantungnya kembali berpacu cepat, bahkan sangat cepat dan tak terkontrol lagi. Raut wajah kesal dan emosi tadi kini berevolusi menjadi sebuah senyum manis dan tatapan mata tak percaya diiringi rasa kaget yang luar biasa.









Oh, god ! suara ini benar-benar mirip dengan.. dengan Rio ! yaa.. sangat mirip dengan rio. Ini rio, benarkah ? ahh, tapi rasanya tak mungkin. Mana mungkin rio mau menelponnya berulang-ulang kali meskipun sudah di reject. Rio kan sudah melupakannya. Pikiran itu menyelinap di hatinya membuat semburat wajahnya kembali suram dan kecewa.



‘’helo, bener ga ini ify ?’’ tanyanya lagi setelah diacuhkan oleh pikiran ify.

‘’hmm, iya. Ini siapa ya ?’’ agak ragu saat mengucapkan ‘siapa ya’ !

‘’hha ? keterlaluan kamu fy, masa lupa sama aku. aku rio fy, rio’’ katanya diiringi sebuah tawaan kecil. Hha ? tadi dia bilang apa ? siapa namanya ? jangan bilang kalau dia RIO ! JANGAN …. !!!!

‘hmm.. apa aku gak salah denger, coba ulangi’’ suruh ify.

‘’apa ? siapa aku ? aku rio fy, plise donk jangan sok amnesia gitu deh fy’’ katanya diiringi dengan tawa kecil lagi. Haruskah aku merasa senang ? atau marah ? saat mengetahui rio menelponku !

‘’rr..rriioo..rio?’’ kataku lirih

‘’iya fy, aku Mario stevano’’ jawabnya meyakinkan.

‘’aduh, sory banget yah fy. Sory banget, aku ga pernah ngabarin kamu sampe kamu bisa lupa sama aku. uhh, sory ya fy aku terlalu sibuk’’ lanjutnya dnegan nada sedikit lirih dan pelan.

‘’malah aku mengira, kamu udah lupa sama aku’’ jawabku cepat dengan senyum manis di sudut bibir.

‘’gak mungkin dan ga bakal mungkin. Aku ga mungkin lupa sama orang yang selalu mengisi hatiku ini, yang selalu dan selamanya aku cinta dan sayang’’ katanya tegas dan pasti.



Sekali lagi ! aku shock dibuatnya. Dia bilang bahwa dia sellau mencintaiku dan menyayangiku. Bahagia ! hanya itu perasaanku sekarang. Sudah bertahun-tahun lamany menunggu hingga akhirnya baru sekarang bisa mendengar suara lembutnya.





‘’I miss you so fy’’ katanya menganggetkanku.

‘’I miss you too rio’’ jawabku sumringah

‘’sunday, I will come back to indonesia’’ katanya semangan. APA ? dia mau kembali kesini ? terimakasih tuhan, tenyata engaku mendengar doaku selam ini.

‘’really ? itu yang sangat aku tunggu sejak setahun lalu’’ jawabku semangat dengan senyum sumringah

‘’yaps, aku akan kembali untuk ngelamar kamu jadi pedamping hidupku di atas bukit kenangan kita dulu. Disana.. tepat hari minggu’’ aku bisa mendenger bahwa rio mengatakan itu dengan suara lantang dan jelas. Oh tuhan, betapa bahagianya aku saat ini. Dan sebentar lagi aku akan sah menjadi miliknya seutuhnya.





*



Setelah berhari-hari aku menunggu, setelah berpuluh-puluh jam aku menunggu, setelah beribu-ribu detik aku menunggu dan setelah aku menanti akhirnya hari ini tiba juga. Hari ini memang cerah, bahkan sangat cerah. Burung-burung berkicau merdu, sementara sang bunga mengepakan kelopaknya dengan indah aku kira mereka juga ikut menyambut rasa bahagia ku ini. Rasa bahagia yang sudah bergejolak tinggi saat mengetahui hari ini telah tiba. Hari dimana mungkin aku akan menjadi milik rio sepenuhnya, hari dimana rio datang dan berlutut sambil berkata manis di depanku, tak lupa dengan kotak perhiasan yang berisi cincin berlian putih. Oh, god ! hal itu akan terjadi hari ini, yaa.. akan kupastikan itu semua terjadi.



aku berdiri mematung di depan sebuah cermin besar yang memantulkan keelokan tubuh dan wajahku. Aku tak ingin beranjak dari hadapan cermin ini, aku masih ingin memperhatikan lekuk wajahku yang biasa saja –menurutku-. Tubuhku yang tinggi semampai dengan kulit berwarna putih mulus di balut dengan gaun putih berwarna pink soft selutut. Jemari kakiku yang lentik itu dibungkus oleh sepasang high heels cantik berwarna senada. Tak lupa, rambutku yang bermodel keriting gantung ini di selipkan sebuah pita besar berwarna putih.



Apa aku sudah cantik dengan berdandan seperti ini ? memang aku tak mengenakan make-up sedikitpun, paling Cuma polesan bedak tipis saja. Karna seingatku rio tak suka dengan gadis yang suka memakai make-up apalagi yang tebal. ‘’huuhh’’ aku sedikit menghembuskan nafas sebal saat perasaan tak percaya diri itu muncul lagi. Kenapa sih aku jadi seperti ini ? padahal biasanya kalau ketemu rio perasaanku tak sehebat dan tak sedashat dulu, yaa.. meskipun setahun lalu.



‘’sayang, kamu jadi pergi ga ? udah jam 10 nih, ntar kasian loh rionya nunggu’’ teriak mamaku dari lantai bawah.



‘’iya ma, aku jadi pergi kok. Iya aku udah siap nih mau berangkat’’ jawabku tergesa-gesa.



*



Hmm.. kini aku berdiri di sebuah puncak bukit yang tidak terlalu tinggi. Rerumputan hijau yang menjadi alas dan juga dikelilingi oleh berbagai macam pepohonan rindang. Betapa sejuknya udara disini, betapa terangnya sinar mentari hangat yang memancar kearah tubuhku. rasanya sudah lama aku tak pernah kesini lagi, tentu saja setelah kepergian rio aku tak mau mendatangi tempat ini. Terlalu banyak kenangan yang akan menguras habis air mataku.



‘’RIO, I MISS YOUUU’’ teriakku dengan suara nyaring sehingga terdengar gemaan dari setiap sudut bukit ini.



Bola mataku tak bisa berhenti melirik arloji di tangan kiriku, setiap detik selalu aku lalui dengan keresahan. Sudah tak sabar ingin bertemu dengan kekaish tercinta, kekasih tersayang selamanya. Hatiku selalu berdenar kencang, bibirku serasa bergemetar dengan riangnya. Uhh, aku sudah sangat merindukan senyum manis rio, sangat merindukan belaian halus tangannya.



‘’hhooaamm’’ sudah 40 menit aku menunggu disini, namun rio juga tak kunjung datang. Meskipun kecewa aku akan selalu menunggunya. Hmm.. hembusan angin lembut ini membuatku ngantuk. Dengan berjalan pelan aku menuju sebuah pohon rindang yang tinggi menjulang ke langit.



Perlahan aku bersandar pada batangnya yang kokoh, lalu lama-lama rasa kantuk ku makin menjadi-jadi sehingga sekarang aku sudah berada di alam mimpi yang indah ini.







*





‘’hhooaamm’’ aku menguap lebar sambil menusap pelan mataku.



Aku melirik kea rah jam digital di tangan kananku. Oh tuhan, sudah jam 5 sore, berarti aku sudah tertidur selama 7 jam. Dengan cepat aku bangun, dan mengelilingi bukit tersebut. Terus dan terus berharap semoga rio belum datang, aku takut jika dia sudah sampai tapi karna melihatku tertidur dia lalu pergi lagi. Bisa-bisa semua mimpi untuk bertemunya sirna sudah oleh kelalaianku sendiri. aku begitu bodoh ! bagaimana bisa aku tertdidur begitu lama ?



Ddrrtt ddrrtt ..

Suara getaran BB ku sedikit mengacaukan pikiran tentang rio. Dengan tergesa-gesa dan bingung aku lalu mengangkat telfon itu tanpa melihat layar dan mengetahui siapa penelpon itu.



‘’halloo, ify ? ini ify kan ?’’ Tanya orang di sebrang dengan nada bergetar dan sedikit isakan. Siapa dia ? mengapa dia tau aku ?

‘’iya, maaf ini siapa ? ad aperlu apa dengan saya?’’ tanyaku sesopan mungkin

‘’gue Alvin, gue temen deketnya rio. Gue..guee cumaa mau bilang.. kalo..kaloo’’ ucapannya tersendat-sendat dan isakannya semakin keras ku dengar. Sebenarnya ad aapa sih ini ? sedikit demi sedikit aku juga gelisah.

‘’kenapa ? rio ? dimana dia ? dia janji akan bertemu denganku hari ini. Aku ingin berbicara dengan dia’’ jawabku sedikit antusias mendengar nama rio.

‘’uhmm..ehh..riioo..rio, diaa..’’ ahh.. kenapa sih orang ini ? aku menjaid bingung sendiri mendengar perkataannya yang tak jelas.

‘’rio udah meninggal’’ lanjutnya cepat dengan nada bergetar dan langsung diakhiri oleh tangisan kecil. Tapi ? apa ? rio meninggal ?

‘’rio meninggal ? haha, sungguh manis sekali kejutan kali ini. Kalian benar-benar ingin membuat surprise kan untukku ? oh, rio. Dia pacar termanis dalam hidupku’’ jawabku diselingi tawa renyah yang sebenarnya terlihat parau.

‘’tidak fy ! ini serius, ini kenyataan. Pagi tadi pukul 11 dia berangkat menggunakan pesawat ke Indonesia untuk bertemu dengan kamu, tapi ternyata kehendak tuhan berbeda dari semua rencana yang sudah disusun rapi, pesawat mereka mendarat darurat di sebuah hutan dann..dann semuanya meninggal !’’



JEEDDYYAAARRR !!!!

Apa-apaan ini ? apakah ini sebah lelucon belaka ? atau.. atau kenyataan pahit yang harus kutelan ? ahh, pasti mereka ingin membuata kejutan untukku. Rio kan sudah berjanji untuk menemuiku hari ini, bahkan akan menjadikanku miliknya seutuhnya. Alvin benar-benar keterlaluan bercandanya ! yaa.. ini hanya lelucon, hanya lelucon, hanya kejutan belaakkaa !!



Tapi..tapii kalau itu semua kenyataan ? sebuah kenyataan pahit yang mampu mmebuatku merasakan tusukan jarum tajam di setiap pori-pori kulitku. Sebuah kenyataan yang mampu membuat ku ingin tertidur dan terus teritdur dan menganggap semuanya hanya mimpi. Ohh ! rio, cukup sudah semua janji palsu itu terucap ! cukup sudah kau menggoreskan luka di dadaku ini, tak taukah kau bahwa rasa sakitnya terasa menusuk dan sangat perih ! sampai rasanya, tubuhku bagaikan selembar kain tanpa benangnya. Kau membuatku gila rio, aku gila karna cintamu dan semua tentangmu.



‘halo, halo, ify fy ! jangan sedih, ini semua takdir tuhan ! tetaplah tersenyum mesti semuanya terasa sakit’’ ktanya lembut.

‘’kamu bohong vin, rio gak mungkin ninggalin aku ! rio sayang dan cinta sama aku !!!!’’ teriaku dengan keras. Lalu tanpa basa-basi lagi ..



BBrraakkk ..

BB kesayanganku itu terlempar dan terhantam sebuah bongkahan batu. Menjadikannya sebuah benda rusak yang tak berguna lagi. Aku tak mau mendnegar semua penjelasan dan kata-kata yang mmebuatku semakin sakit.



‘’RRRRIIIIIOOOOOOOOO’’ teriaakku dengan rembesan air mata yang mengalir deras tanpa ampun.



Cukup sudah ! cukup dan cukup semuanya ! berakhir sudah kisah penantian ku kini. Yang tersisa hanya seberkas kenangan indah dan pahitnya. Hanya tetesan hangat mewakili perasaan hancur. Hanya goresan luka dan perih yang selalu membekas di hati. Semuanya telah berakhir pengorbananku. Sampai disini aku menanti cinta yang tak kunjung datang, malah sekarang pergi menjauh menemui ajalnya. Rio memang jahat ! sangat jahat, dia pergi dengan mencuri seluruh potongan hati dan cintaku. Membiarkannya tergenggam erat meskipun perlahan hancur terkikis oleh keadaan.



Aku salah mencintainya ! seharusnya dulu aku memintanya untuk mengembalikan cintaku dan melepaskan hatiku dari genggamannya sebelum dia pergi. Tapi terlambat ! semuanya terlambat, hanya ucapan sesal dan tetesan hangat yang terus ada. Oh tuhan ! kini sudah hancur semuanya, tak ada lagi yang perlu aku nantikan. Penantian panjangku selama ini hanya sia-sia, hanya sebuah kejadian membuang waktu dan air mata. Bertahun-tahun sudah aku melakukan penantian panjang untuknya, tapi ternyata apa ? hari ini dan detik ini semuanya bagaikan kepingan berlian putih yang semu. Tak berguna dan tak mungkin terlihat, meskipun meninggalkan seberkas cahaya terang yang berkilauan indah. ternyata aku baru sadar, bahwa aku hanya ditakdirkan sendiri, tanpa seorang pun yang aku cintai !





---->> THE END <<----

PLAGIAT!

PLAGIAT~

P
L
A
G
I
A
T
.

gue emang gak kenal elo, bahkan gue gak mau ngenal elo. kita cuma temenan di Facebook doang kan?
uh. gue cuman sebel gara22 salah satu koleksi foto gue dijadiin propict sama orang asing-,-
muka lo jelek ya? ancur? garata? gajelas? Ckck. parah amat sih lo.
perasaan banyak deh cewek22 yang lebih cantik dan perfect dari gue? terus kenapa malah plagiatin foto gue?
dasar gilaa~
facebook gue elo blokir lagi.
damn, whatev deh.

note galau-,-
maaf.

Selasa, 14 Juni 2011

Kuingin Selamanya

Seorang gadis cantik tengah duduk manis diatas kursi roda yang selalu setia menemaninya, di atas rerumputan hijau, di taman salah satu rumah sakit jiwa yang terletak di kota jogja. Gadis itu terdiam, mematung, dan membisu. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, tak ada satu gerakanpun yang diisyaratkan oleh tubuhnya, ia seperti gadis bisu yang terkena penyakit struk, meskipun sebenarnya tidak. Bola matanya yang berwarna kecoklatan itu menatap lekat kearah dedaunan yang satu persatu gugur dari rantingnya, perlahan jatuh melayang ke atas tanah coklat.


Hembusan nafasnya terdengar berat dan tertahan, meskipun tetap mengeluarkan irama indah. Kelopak matanya membiru, sembab dan terkadang mengeluarkan butiran hangat. Butiran hangat yang selalu memberi isyarat bahwa hatinya sedang sakit dan perih, bahwa jiwanya sedang terguncang, bahwa pikirannya sedang galau dan takut.











Namun makhluk-makhluk tuhan yang berada di sekitarnya itu sungguh egois, tak ada satupun orang yang memperhatikannya ataupun sekedar menghiburnya. Semua orang malah menjauhinya dan menganggapnya gila !











Dia -gadis itu- sama sekali tak punya gangguan jiwa atau semacamnya, dia tidak gila ! sama sekali tidak. Dia hanya sedang kalut, sedih, kesepian dan merasa kosong. Atau lebih tepatnya dia sedang frustasi dan depresi. Masa lalu yang buruk itu sudah membuat hatinya merasakan kehilangan yang sangat mendalam. Kehilangan sosok anak adam yang sangat dicintainya, melebihi cintanya pada dirinya sendiri.



‘’mba ify, kita makan dulu ya’’ bujuk salah satu suster -nova-



‘’…..’’ ify -nama gadis itu- tetap terdiam


‘’ayo mba, dari semalam mba belum makan. Nanti mba sakit’’ rayu nova lagi


‘’…..’’ ify masih dalam posisi membisu


‘’nih mba, buka mulutnya ya. Biar mba tidak lapar’’ kata nova se,bari menyuapkan sesendok nasi





Ppllaakk ..







Tangan ify menepis kasar tangan nova, membuat nova terpelonjak kaget dan menjatuhkan sendok beserta piringnya. Bola mata ify beralih menatap nova dengan tajam dan geram, namun juga disertai dengan titik-titik air yang perlahan keluar dari kelopak mata ify.











‘’aku Cuma mau RIO!’’ kata ify dengan nada lirih dan lembut tapi juga tegas.







‘’nanti mas Rionya datang kok mba,tapi mba harus makan dulu ya’’ bujuk nova sambil tersenyum manis







‘’ga ! rio jahat, dia udah dua tahun ninggalin aku’’ kata ify lagi







‘’pergi, pergi, pergi !’’ teriak ify sambil sedikit mengamuk











Nova hanya bisa pasrah melihat kelakuan ify yang selalu begitu, hanya melamun dan termenung setiap saat. Semuanya terjadi karena satu nama, karena satu lelaki, dan karena satu cinta, Rio ! yya.. rio adalah lelaki yang sudah tega meninggalkan ify, pergi menjauh untuk selamanya. Membawa cinta dan hati ify ikut terbang bersamanya, bukan hanya sekeping, sepotong atau setengah cinta ify ! tapi semuanya, seutuhnya telah dibawa oleh rio.















Rio memang bukan malaikat atau dewa, ia juga bukan seseorang yang sempurna. Namun cinta kasih dan sifat tulus yang dimiliki Rio mampu mengurung ify dalam pelukannya. Membuat ify menjadi tergila-gila dan rela menyerahkan apapun hanya untuk rio seorang. Rio memang sangat beruntung bisa mendapatkan ify, gadis yang memiliki wajah cantik dan hati yang baik. Mereka berdua memang serasi dan sangat cocok.



Tiba-tiba seorang gadis yang berpenampilan acak-acakan dan tengah menggendong boneka bayi, datang kearah ify. Berbicara dan terus berbicara, membuat ify terpaksa membuyarkan lamunanya, dan mengembalikan jiwanya ke alam nyata.











‘’ipy ipy, liat deh. Anak aku lucu kan, ihh.. gemes banget’’ kata agni -gadis tadi- yang mempunyai gangguan jiwa akibat kehilangan anak dan suaminya.







‘’ipy, coba denger deh. Anak aku bisa ngomong loh. Hihhii dia cakep deh kaya papanya’’ kata agni –lagi- sembari bertingkah aneh dan tertawa sendiri.







‘’ipy mau gendong ? nih aku kasi, aku titip dulu ya, soalnya aku mau jemput suami aku di surga sana’’ kata agni smabil meletakan boneka bayi itu di pangkuan ify











Ify menunduk menatap lekat kearah boneka bayi itu, biarpun hanya sebuah boneka. Tapi kelihatan seperti bayi betulan, dan benar saja tampan dan lucu. Pikiran ify kembali melayang jauh, merayap mendaki masa lalu yang buruk itu. Seandainya saja kejadian itu tak menimpa dirinya pasti sekarang ia dan rio menjadi sepasang orang tua, yang mmepunyai bayi cantik ataupun tampan. ya.. seandainya sajaa !











‘’surga’’ kata ify lirih dan pelan, agni yang masih berdiri disitu berjongkok dan menatap wajah ify.







‘’ipy tau ya surga itu dimna ? kasih tau aku dong, soalnya kasian suami aku ntar capek nungguin’’ Tanya agni dengan muka berharap namun tetap cengar-cengir sendiri. Ify menggeleng lemah.







‘’ipy juga gak tau ya, huuhh.. emang ipy ga mau jemput suaminya apah? Ihh.. ipy gak punya suami ya. Huuu..’’ agni bersorak-sorak sambil tertawa dan loncat-loncat sendiri.


‘’ipy jelek sih, mangkanya ga punya suami. Liat agni donk badannya montok, cantik lagi’’ kata agni sambil bersolek ria di depan ify, jemari lentiknya sibuk memelintir helaian rambut hitamnya.



‘’aku punya suami, aku punya rio. AKU PUNYA RIO!’’ ify berteriak di depan agni, emosinya sudah tak tertahankan lagi. Seandainya saja agni tau bagaiman perasaan ify ketika ditinggal rio. Agni yang melihat ify teriak-teriak malah tertawa.


‘’hihhii.. ipy gila, ipy gilaa ! ihh, aku jijik deket-deket ipy, kan ipy gila. Hhuu.. ipy gilaa, ipy gilaa’’ sorak agni dengan tawa garing yang dikeluarkannya.


‘’aarrgghh.. pergi, peergii, pergi kamuu!’’ ify berteriak keras sambil mengacak-acak rambutnya.



Dua suster -nova-dea- yang mendengangar teriakan ify, langsung berlari mendekat kearah ify dan agni. Suster dea segera membawa pergi agni menjauh dari tempat ify, sedangkan suster nova yang memang dekat dengan ify, berusaha menenangkan ify.











*











Waktu demi waktu berlalu, sang mentari mulai merangkak kembali ke peraduannya. Langit biru mulai menampakan warna merah oranye, dan perlahan berevolusi menjadi warna kehitaman. Satu persatu titik-titik bintang mulai bermunculan, sang pangeran kegelapanpun sudah menampakan dirinya ke atas bumi. Mereka –bulan-bintang- mulai mengerahkan tenaganya untuk mengeluarkan siluet cahaya, menerangi malam gelap sekaligus menghiasi langit malam.











Ify masih setia dengan kursi rodanya, duduk di depan jendela kamar. Menatap lekat ke arah langit. Jari lentiknya menunjuk sebuah bintang terang yang berkelap-kelip indah di atas sana. Tatapan matanya memancarkan guratan kesedihan dan kerinduan yang terasa amat sangat. Bintang itu bagaikan rio, yang sudah tenang di surga sana. Tapi seketika kepala ify terasa agak pusing saat siluet bayangan buruk itu melintasi benaknya.











Bayangan dimana saat rio pergi meninggalkannya, tepat dua tahun lalu. Setelah pesta pernikahanya yang digelar besar-besaran dan sangat meriah. Saat beberapa jam setelah janji suci itu diucapkan dan terikrar, hanya sebuah JANJI MANIS ! yang mungkin tak pernah bisa jadi kenyataan. Karena rio, sudah tenang di alam sana. Dan tak mungkin bisa lagi menjaga, merawat, melindungi ataupun membahagiakaan ify. Mungkin ini semua sudah takdir mereka berdua.
















* FlashBack On *













Di daerah Jakarta Selatan, pukul 10.00







Di sebuah gedung putih yang besar dan megah, banyak orang-orang berlalu lalang lalu masuk kedalamnya. Deretan kursi kayu yang dibalut dengan helaian kain putih bersih berjejer rapi di gedung itu, juga karpet merah panjang yang digelar di antara kelompok kursi-kursi tersebut. Tanda salip dan berbagai macam foto tuhan jesus terpampang jelas di tembok atasnya.











Banyak orang yang sudah duduk manis di kursi-kursi tersebut, mereka semua tampak cantik dan tampan. Kebanyakan memakai dress dan kemeja yang dibalut berbagai warna jas. Yya.. di hari dan saat ini akan diadakan sebuah acara sakral atau pernikahan, acara sakral untuk mengikat satu pasangan yang saling mencintai agar dapat hidup bersama selamanya. Seorang pendeta suci berdiri tegak di depan sana, menunggu kehadiran sang pengantin yang tak kunjung muncul.











Seorang wanita cantik tengah berdiri di sebuah cermin besar yang memantulkan gambar tubuh dan wajahnya yang rupawan. Gaun pengantin berwarna putih, dan pita besar di pinggangnya menyelimuti tubuh gadis itu. Rambut yang digulung rapi dan diberi sedikit pernak-pernik dan juga sedikit polesan make up menambah aura kecantikannya. Senyum manis selalu dipamerkannya, memperlihatkan jejeran gigi putih dan juga kawat giginya yang berwarna bening.





Ify –gadis itu- terus saja berjalan bolak-balik ke kanan dan ke kiri, telapak tangannya sudah dibanjiri keringat dingin. Terlihat sekali bahwa ia tengah grogi dan gugup. Maklumlah namanya juga calon pengantin. Tiba tiba seorang lelaki paruh baya menghampirinya, membuatnya terpelonjak kaget.


‘’kenapa ? kok gugup begitu, seharusnya kamu seneng donk’’ kata lelaki itu


‘’hmm.. ii..iyya sih pi, tapi aku kan ify grogi banget’’ jawab ify







‘’papi ga nyangka, ternyata sekarang putri kecil papi udah jadi gadis cantik yang tumbuh dewasa. Bahkan sekarang mau menikah’’ kata papi ify sembari tersenyum kecil







‘’ihh, papi. Ify jadi tambah grogi nih’’ sahut anaknya sambil memanyunkan bibirnya







‘’hari ini adalah hari bahagia kamu, jalani dengan sebaik mungkin ya. Kasih senyuman termanis kamu buat rio. Papi udah percaya sama rio, papi udah rela nyerahin putri kecil papi ke rio, itu artinya dia memang yang terbaik untuk kamu’’ jawab papi ify sambil terkekeh kecil







‘’makasih pi, selama ini udah jadi papi yang paling baik buat ify dan mami’’ kata ify sembari memeluk papinya







‘’iya saying, udah ya sekarang kamu siap-siap sebentar acaranya mulai’’ kata papi ify sambil membalas pelukan buah hatinya.















*







Acara pernikahan Alyssa Saufika Umari & Mario Stevano Aditya Haling sudah dimulai. Rio berdiri tegap di samping pastur, menunggu kedatangan calon nona halingnya.







Tap tap tap ..



Ketukan nada dari higheels putih kepunyaan ify berirama menggema di sudut gereja. Ify berjalan dengan anggun dan senyum manisnya, berjalan berdampingan dengan papi tercinta. Cantik, satu kata itu cukup mewakili berbagai ragam pujian yang dilontarkan untuknya. Mereke berdua –rio-ify- bertatapan lekat, saling memandangi ketampanan dan kecantikan pasangan mereka hari ini.











Ify sangat bahagia, melihat calon suaminya yang tampan itu. Kini rio berdiri dengan tubuh yang dibalut kemeja dan jas putih, bunga mawar merah kecil terselip di saku jasnya, rambutnya ditata agak rapi daripada biasanya. Siapapun yang melihatnya pasti langsung jatuh pingsan, apalagi saat rio melontarkan senyum manisnya itu.











Penonton berdecak kagum melihat sepasang kekasih itu berdiri berdampingan untuk mengucap janji suci. Sebelum memulai mereka menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan, sambil mencuri kesempatan untuk saling menatap bola mata. Ify menatap bola mata rio dengan tajam, disana ada guratan kebahagiaan dan sedikit guratan sedih, atau mungkin takut !











Kenapa ? kenapa, mesti ada guratan kesedihan dan ketakutan dari pancaran mata rio. Bukankah seharusnya ia senang dan bahagia ? ahh.. mungkin itu hanya sekedar perasaan ify saja. Yya.. semoga saja.







‘’Apakah kau bersedia menikah dengan mempelai wanita ?’’ Tanya pastur sambil menatap rio. Rio menghembuskan nafas panjang, lalu dengan yakin menjawab lantang







‘’yaa, saya bersedia’’ jawab rio







‘’apakah kau bersedia menikah dengan mempelai pria ?’’ Tanya pastur sambil menatap ify. Dengan senyum gembiran dan grogi ify menjawab diiringi anggukan kepala.







‘’yaa, saya bersedia’’ jawab ify







‘’Mario Stevano Aditya Haling, apakah kau bersedia mendampingi dia dalam suka dan duka ? menjadi suami dan ayah yang baik dan berbakti ? merawat dan menjaganya saat ia tengah sakit dan menderita ? selalu mencintai dan hidup bersama sampai ajal menjemput ?’’ Tanya pastur







‘’yaa, saya berjanji akan selalu mendampingi dia, menjadi suami yang baik dan akan mencintainya seumur hidup’’ kata rio sambil mengangkat tangan kanannya.







‘’Alyssa Saufika Umari, apakah kau bersedia mendampingi dia dalam suka dan duka ? menjadi suami dan ayah yang baik dan berbakti ? merawat dan menjaganya saat ia tengah sakit dan menderita ? selalu mencintai dan hidup bersama sampai ajal menjemput ?’’ Tanya pastur







‘’yaa, saya berjanji akan selalu mendampingi dia, menjadi istri yang berbakti pada suami dan akan mencintainya seumur hidup’’ kata ify sambil juga mengangkat tangannya.











Acara pernikahan itu berlangsung dengan lancar dan hitmat. Riuh tepuk tangan dan senyuman kebahagiaan memenuhi gereja itu. Kini Rio dan Ify sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Jemari mereka saling bertaut dengan erat, menggenggam satu dan lainnya.











*











Tik tik tik ..



Suara dentingan jam dan suara rintikan hujan saling bersautan. Jarum pendek di sebuah jam dinding berbentuk kotak polos itu menunjukan pukul 01.00. seharusnya jam segini adalah waktu bagi sang mentari untuk memancarkan sinarnya secara penuh. Membagikan kilauan terik cahaya gratis untuk seluruh makhluk di bumi ini. Membuat buliran air keringat jatuh menetes di pelipis, membuat orang jatuh tak sadarkan diri jika berdiri di bawahnya, membuat orang menjadi malas untuk keluar dan menikmati cahayanya.











Tapi ternyata tidak, posisi sang mentari sebagai leader langit kini telah digantikan oleh awan hitam yang menggulung, mengeluarkan beribu ribu tetesan air yang akan membanjiri bumi. Sedangkan sang mentari tengah asik bersembunyi di belakang sana, takut jika akan terkena kilatan tajam dan cambukan petir dasyat dari awan hitam itu.











Gereja besar tadi sudah kosong, tak ada lagi seorang pun disana. Acara pernikahan ify dan rio sudah selesai dan berakhir. Kini pasangan itu sedang menikmati detik-detik kebersamaan dan kemesraan setelah status hubungan mereka berganti. Dari yang pertamanya –pacaran-tunangan- dan kini mereka sudah –menikah-. Tak terasa mereka sudah dewasa dan akan membina rumah tangga sendiri. Pasti mereka akan menjadi keluarga harmonis yang selalu hidup dipenuhi cinta kasih, ya.. begitulah prinsip mereka.











Rio dan Ify kini tengah duduk manis di dalam sebuah mobil Mercedes hitam yang di atasnya di beri pita putih, untuk menandakan mereka baru selesai menikah. Mereka saling mengumbar senyuman manis, sama-sama memamerkan daya tarik mereka dan perhatian mereka. Tangan ify menggantung erat di lengan rio. Kepalanya ia senderkan di pundak rio, sesekali mereka berdua saling curi-curi pandang dan menjadi salting sendiri.







Namun entah mengapa, perasaan ify menjadi tidak enak. Ada sesuatu hal yang membuatnya gelisah dan menjadi galau. Membuat sifatnya berubah menjadi sangat manja kepada rio, seperti tadi saat masuk ke mobil ia meminta rio untuk menggendongnya, jemarinya selalu bertaut dengan jemari rio, sangat erat. Seperti enggan untuk melepasnya, seperti rio akan meninggalkannya.















‘’aku seneng banget yo, hari ini’’ kata ify membuka topik pembicaraan







‘’iya fy, aku juga. Ga nyangka ya, ternyata hubungan kita bisa sampai di pernikahan’’ jawab rio







‘’hmm.. semoga aja aku selalu bisa sama-sama kamu ya yo’’ kata ify dengan nada seperti memohon atau lebih tepatnya berharap.



‘’pasti donk fy, aku akan selalu ada disamping kamu’’ kata rio sambil sedikit mengusap pundak kepala ify.











Dua sejoli itu tengah terlarut dalam kebahagiaan asmara yang baru saja terikat kuat. Membayangkan kehidupan nanti yang akan mereka tempuh bersama-sama. Mata mereka sama-sama memancarkan sebuah keinginan kuat untuk selalu bersama, menempuh kehidupan baru. Namun seketika, semua lamunan itu buyar dan hancur menjadi potongan kecil yang tak mungkin bisa disatukan lagi.















Mercedes hitam yang ditumpangi rio dan ify oleng dan berbelok tak jelas kian kesana dan kemari. Pak dave, supir yang mengendarai Mercedes hitam itu tak dapat mengendalikannya ke jalur sempurna. Aspal basah akibat terkena rintikan hujan semakin membuat jalanan menjadi licin dan mempersulit keadaan mobil itu. Sepatu hitam mengkilat yang menyelimuti jemari kaki pak dave menginjak keras pedal rem, namun hasilnya nihil.











‘’pak dave, mobilnya kenapa?’’ Tanya rio panic







‘’saya juga ga tau tuan, remnya blonk’’ jawab pak dave bingung







‘’terus gimana ? kok bisa sih’’ ify ikutan menyahut







‘’berdoa saja sama tuhan nonya agar kita semua selamat’’ jawab pak dave











Jawaban pak dave semakin membuat ketebalan selimut gelisah di hati ify menjadi bertambah. Panic, kacau dan bingung terpancar jelas dari bola mata mereka. Kenapa semua harus seperti ini ? lantunan doa suci terbentuk indah dari bibir ketiganya, berharap tuhan masih mempunyai belas kasihan agar mereka dapat selamat. Tak terasa, cambukan petir yang tercipta itu semakin keras mendera jiwa, lolongannya terdengar memekakan telinga. Buliran air mendemo untuk keluar di ujung pelupuk mata ify, terantai kuat menjadi satu dan berbaris tertib saat keluar menuruni pipi lembutnya.











Siluet cahaya dari lampu jazz putih di depan Mercedes hitam rio bersinar terang, membuat semua mata terpejam dan tak tau kejadian selanjutnya. Kedua mobil itu saling menggesek keras dan membenturkan diri, jazz putih itu melayang lalu menghantam perbatasan jalan tol, sedangkan Mercedes hitamnya terlihat sangat mengerikan, berputar keras lalu menghantam sebuah pohon besar yang rindang.











Teriakan dan jeritan ketakutan terdengar nyaring bersamaan saat keduanya terbentur di daerah masing-masing. Bisa dipastikan tak ada yang selamat, termasuk rio dan ify. Cairan merah segar terkamuflase oleh rintikan air hujan, mengalir dan membentuk aliran sungai yang deras. Tubuh rio terkapar tak berdaya dengan kepala yang dilumuri darah, irama nafasnya sudah tak terdengar sama sekali, dentingan indah denyut nadinya sudah berhenti bernada.











Sedangkan tubuh ify tak jauh beda dengan rio, kepalanya terbentur dan mengeluarkan darah yang banyak, kedua kakinya terhimpit oleh pintu mobil yang ringsek dan amblas akibat gesekan keras tadi. Tapi ify lebih beruntung, detak jantungnya masih berirama dengan indah, hidung mancungnya masih menghembuskan nafas lirih. Perlahan tapi pasti, bibir merahnya yang tersiram darah terbuka dan membentuk sebuah nama.











‘’rrr....iioo’’ nama itu terdengar lirih dan pelan seperti bisikan maut.











Ify membuka dan mengerjapkan matanya, bola matanya yang bercahaya kecoklatan berusaha menangkap sosok rio yang sudah tak bernyawa lagi. Suara keras dari kilat tajam yang menusuk itu membuat hatinya bertambah hancur menjadi kepingan sampah yang tak berguna lagi. Di hadapannya, suami tercintanya meninggal akibat kecelakaan maut tadi. Dengan tergesa-gesa ify mengumpulkan seluruh tenaganya lalu perlahan bangkit mendekati rio. Tapi kedua kakinya terjepit keras dan tercekam perih yang menyakitkan.











Tak bisa ia melangkah lebih jauh dan memeluk jasad rio untuk terakhir kalinya. Sosok rio kini hanya dapat dipandang sedih dengan guratan kehancuran, air mata ify dan air hujan kini telah menyatu erat. Erangan sakit dari bibir ify dan cambukan petir juga telah terikat kuat. Mungkin inilah jalan takdirnya dnegan rio, terpisahkan oleh maut !
















* FlashBack On *

















Kejadian mengenaskan itu sudah terjadi 2 tahun lalu, biarpun sudah lama namun lukanya kan tetap terkenang dan membekas. Membuat kesengsaraan dan keperihan hati menyatu jadi satu. Kejadian itu telah membuat suami tercinta ify pergi jauh dan melayang tinggi, dan juga membuat kedua kaki ify menjadi tak berfungsi lagi, hanya sebuah pajangan untuk mengkamuflase semuanya. Ify bersuara pelan menyanyikan sebuah lagu indah yang dulu sering dinyanyikan rio untuknya. Kuingin Selamanya !











*Cinta adalah misteri dalam hidupku yang tak pernah kutau akhirnya namun tak seperti cintaku pada dirimu yang harus tergenapi dalam kisah hidupku.







Kuingin selamanya mencintai dirimu sampai saat ku akan menutup mata dan hidupku kuingin selamanya ada di sampingmu menyayangi dirimu sampai waktu kan memanggilku







Ku berharap abadi dalam hidupku mencintamu bahagia untuk ku karena kasihku hanya untuk dirimu selamanya kan tetap milikmu







Kuingin selamanya mencintai dirimu sampai saat ku akan menutup mata dan hidupu ku ingin selamanya mencintai ada disampingmu menyayangi dirimu sampai waktu kan memanggilku







dirimu sukmamu kubelai langkah seluruh cintaku dihembus nafas mu abadikan seluruh kasih dan sayangku *











ify menggeret pelan kursi rodanya ke sebuah tempat gelap yang mengerikan dan menciptakan hawa mencekam. Disana, diatasnya sebuah tali panjang yang terikat kuat terulur panjang ke bawah. Ify mendekati tali itu lalu mengalungkannya di lehernya.











‘’rio sayang, tunggu aku ya disana. Sebentar lagi aku akan nyusul kamu terus hidup bahagia sama kamu disana’’ ucap ify sambil tersenyum kecut.











Sosok ify juga telah pergi jauh ke atas sana, rohnya tengah menanti janji rio yang akan mencintainya untuk selamanya. Menanti semua janji manis yang sudah tertempel lekat di benaknya, mungkin memang begini akhirnya. Berakhir dengan duka dan keperihan, juga keputus asaan. Yaa.. ify sudah putus asa menghadapi kejamnya dunia ini sendirian, berdiri tegap di tengah ombak deras dan udara kencang yang menyapu semuanya. Untuk apa hidup kalau setengah hati dan segenap jiwa kita telah membeku dan mati rasa ?











Sudah saatnya semua tinta hitam tumpah mengotori lembaran kertas putih yang sudah kusam. Sudah saatnya semua keperihan itu berakhir dengan terangkatnya jiwa suci yang lelah kian tersakiti. Sudah saatnya rio dan ify bersatu dalam cinta abadi mereka di surga sana. Biarkanlah raga mereka memucat dan membeku mati, tetapi jiwa mereka bahagia dan terikat disana. Dan sudah saatnya kitab hidup mereka ditutup dan digembok rapat selamanya. selamanyaa ..





The End :)





*

BENTO - By CAKKA NURAGA :)

My name is Cakka, I live in Jogja

Temanku banyak dimana-mana ..

Orang mengenalku idola cilik 2 ..

Setipa sabtu-minggu di RCTI.. Oke !





Nyanyi lagu jepang, dalang dan wayang.. Aku suka !

Gambar gaya manga, tembang ghanding Jawa.. Ku bisaaaaaaa !

Aku bahagia, kini banyak teman di idola cilik 2 ..

Siapa yang mau mengenal dekat denganku, sebut tiga kali namaku ..

Cakka .. Cakka.. Cakka..

CAKKA.. !!



sekali lagi !



Cakka.. Cakka.. Cakka..

CAKKA.. !!





Cakka.. ?? Yaa.. Ammppuuunnnn !!

Cakka.. ?? Yaa.. Ammppuuunnnn !!

Cakka.. ?? Yaa.. Ammppuuunnnn !!

Cakka.. ?? Yaa.. Ammppuuunnnn !!





CAKKA *One Lova One Heart*

CAKKA *Ya.. Ampun*

CAKKA <3 C~LUVers CAKKA - -> @cakkaNRG

CAKKA CAKKA CAKKA.. !! CAKKA :D



CAKKA ALWAYSFOREFERFEVERPOLEPEL IN MY HEART !





000000___00000___*

00000000_0000000___*

00 CAKKA <3 CL 00____* _00000000000000_____* ___00000000000_____* ______00000_______* ________0________* ________*__000000___00000 _______*__00000000_0000000 ______*___000 I <3 CAKKA 00 ______*____00000000000000 ______*______00000000000 _______*________00000 ________*_________0 _________*________* ___________________* ____________________* ____________________* ___________________* __________________* By: Valery Axelle Lova --> @riostevalery