Rabu, 01 Agustus 2012

Lovehurts... Uhh!



Lagi-lagi aku menangis. Menangis tanpa sebab yang jelas tapi nyatanya membuat hatiku perih. Aku tersudut di pojok ruangan sambil memeluk boneka beruang berwarna cream. Ditemani suara isakan yang terus keluar dari bibir merahku. Aku membiarkan air mata ini terjatuh, tak berniat untuk berusaha menghentikannya. Biar saja butiran air mata ini menjadi saksi atas kesedihanku, ketakukanku, kekecewaanku, dan kesakitanku. Aku tak pernah mengerti cara Tuhan mengatur jalan hidupku dalam jalur asmara. Takdir ini seolah-olah mempermainkan aku seperti sebuah boneka kecil yang tak berdaya. Yang hanya bisa diam mengikuti kehendak tuannya meskipun ingin melawan tapi tak mungkin bisa.

Bulan July ini seharusnya dari awal hingga akhirnya akan penuh suka cita. Saat aku bersamanya tengah dalam kebahagiaan cinta yang meletup dasyat. Bulan keenam dari awal dimulainya hubungan kami. Aku mengira semuanya akan terus berjalan sesuai perkiraanku. Aku dan dia akan terus bersama diliputi senyum bahagia dengan mata penuh cinta. Rasanya sungguh indah saat kita berjalan bersama lalu dia menggenggam jemariku dan mengusapnya lembut penuh kasih. Aku senang menatapnya dalam diam, memperhatikan setiap jengkal wajahnya yang sering tak berekspresi. Air mukanya datar, dia lebih banyak diam daripada mengatakan sesuatu yang tak penting. Setiap hari aku tersenyum karena memikirkannya. Bersamanya hidupku menjadi lebih berwarna.

Lalu aku tersadar, hidup ini tak bisa terus berjalan sesuai dengan kemauanku. Takdir yang lebih sering dominan untuk mengatur kisah hidup. Dan sekarang takdir itu menentang kemauanku, menghancurkan segala impian bersamamu menjadi uap yang ketika detik berikutnya hilang ditelan angin. Aku tak tau. Takdirkah yang salah atau memang dirimu yang tak pantas bersamaku? Ketika aku telah melambung bersama perasaan bahagia karena cinta tiba-tiba saja aku dihempas jatuh ke sudut paling mengerikan. Merasakan kekecewaan yang menorehkan luka di hati. Patah hati itu memang biasa, tapi sakitnya juga memang luar biasa. Warna-warni ceria dalam hidupku seolah terhapus tanpa jejak. Yang tersisa hanya abu kelam juga hitam gelap. Aku terkurung dalam sunyi dengan sepi yang membelai. Dan aku hanya bisa menangis. Bukan menangis karena cengeng. Tapi menangis karena tak kuat menahan sakit yang terlalu memilukan. Menangis karena kecewa pada takdir dan pada dirinya. Aku mengerti. Aku tau memang setelah kita bahagia akan ada kesedihan. Tapi tak bisakah membiarkan aku bahagia sedikit lebih lama lagi? Aku. Hanya. Ingin. Bersamanya.

Waktu berlalu, dan perasaan ini masih belum bisa berlalu. Aku rindu pesan manis yang dikirimkannya sebelum aku terlelap tidur. Aku rindu genggaman tangannya yang halus. Aku rindu bercerita bersamanya. Aku rindu dirinya yang sederhana. Aku rindu berjalan di bawah hujan bersama dirinya. Tapi karna takdir menolak aku bersamanya yang aku lakukan hanya menitipkan salam rindu pada setiap debu yang berdansa dibawah terik matahari untuknya. Untuk dirinya yang terkasih.

Jumat, 20 Juli 2012

Ever You Feel?

Sudah pernah merasakan bagaimana saat kalian jatuh cinta pada seseorang lalu tetap mempertahankan dan setia menunggunya hingga bertahun-tahun? Aku sudah pernah. Rasanya menunggu tanpa kepastian dalam jangka waktu yang lama itu membosankan. Dan rasanya merawat cinta yang tumbuh hanya sendirian itu melelahkan. Tapi aku bahagia, karena cinta ini tak sia-sia dan sempat terbalaskan—meskipun—oleh hubungan yang singkat. Sebuah hubungan yang sudah aku impikan sejak lama. Hubungan itu memang indah juga membawa kebahagiaan, tapi takdir yang tak sesuai impianku membuatnya menjadi hubungan yang berakhir oleh kekecaewaan, kesedihan, juga kesalah pahaman hingga membuat dirinya merasa dihianati olehku. Demi setiap titik cinta dihatiku, aku menyayanginyadengan tulus.. terlalu tulus hingga tak mungkin bisa menghianati cinta ini.

Dan setelah di waktu yang lain kita berada di tempat yang sama. Aku tak tahu apa salahku hingga rasanya membuat dia ingin melempar aku kedalam neraka dan tersiksa disana. Aku hanya bisa menangis saat tau seseorang yang dulunya aku puja sebagai pria tampan nan baik hati, kini malah menjadi musuh busuk di hidupku. Kalau dulu aku ingin memeluknya dan merasakan kehangatan, tapi sekarang aku lebih ingin menonjoknya dan melihat mukanya membiru lebam lalu aku akan tertawa licik. Tapi aku tak bias seperti itu… bagaimanapun, dia pernah menjadi yang paling indah dihidupku—meskipun sekarang aku merasa menyesal—Salam teman untuk dia disana.

Lalu pernahkah merasakan bagaimana saat kalian jatuh cinta pada seseorang yang hanya menganggapmu seorang adik perempuannya dan cintamu hanya bertepuk sebelah tangan? Aku sudah pernah. Diantara berbagai canda dan perkelahian bodoh yang terjadi, ada setitik benih kasih cinta yang tumbuh. Dan rasa itu semakin tumbuh besar hingga terasa menjalari nadiku dengan denyut cinta, terutama ketika dia memberikan perhatian lebih kepadaku dan saat dia menggenggam erat jemariku. Saat itu aku masih tak mengerti—juga tidak tau—apakah semua perhatian dan sikap manisnya itu karena mempunyai perasaan padaku atau ada alasan lain. Yang aku tau, aku mencintainya dan dia hanya untukku saja.

Dan inilah akhir dari kisah cintaku padanya. Ketika semua kebohongan yang akhirnya tentu saja akan terungkap. Kini aku mengerti alasan dibalik perhatian dan sikapnya dulu. Ya! Karena dia menganggapku seorang adik perempuannya. Apakah dia tak mengerti bahwa aku menginginkannya lebih dari seorang kakak? Aku tau, aku paham.. dia sudah mempunyai wanita lain yang lebih berarti dariku. Aku kecewa. Kecewa karena cinta yang tak terbalaskan. Juga kecewa karena menurutku wanita yang dipilihnya kurang dalam segi kecantikan—jangan salah paham! Aku tidak berusaha menyombongkan diri—. Terimakasih untuknya yang pernah mengisi hariku sebagai kakak yang baik. Salam manis dari adikmu yang tak kunjung tinggi ini.

Tapi semua itu hanya kisah lalu. Aku tidak berusaha mengingatnya tapi hanya ingin mengenangnya. Setelah semuanya, aku mengerti tentang harapan, kekecewaan, keputusasaan, dan lebih mengerti bahwa semua keinginan dan perasaan yang tercipta tak semuanya juga bisa terbalaskan lalu mendapat akhir yang baik.

Sabtu, 14 Juli 2012

Big Time Rush!



From Screen To Stage Big Time Rush started our as a fictional band on the hit Nickelodeon show of the same name, but pretty soon fans of the show wanted to see the guys perform for real. So just as Miley Cyrus embarked on a Hannah Montana tour, BTR is hitting the road to meet their fans! Big Time Rush is playing 16 cities, starting in Dallas, Texas on October 29 and ending on November 21 in Portland, Oregon.

The Guys :


1. Kendall Knight (Kendall Schmidt) is the cool-headed guy in the group. He may like pulling pranks and teasing the other members but Kendall is the most down to earth.


2. Logan Mitchell (Logan Henderson) is the smartest guy in the band, but he’s also the most stressed—maybe because he realizes how much is on the line.


3. James Diamond (kwlink 24507]James Maslow[/kwlink]) always has his eye on the prize—FAME. James is a good guy but he cares a little too much about his appearance and can be a bit of a player with girls.


4. Carlos Garcia (Carlos Pena Jr.) may be the oldest guy in Big Time Rush, but he’s also never had a “real girlfriend.” Nevertheless, Carlos is a happy go lucky joker with a superstitious streak(INI YANG PALING GUE SUKA HOY!)


Rabu, 06 Juni 2012

JUDAS\m/

JUDAS from Mother Monster Lady gaga. Ohohohoh I'm in love with judas Ohohohoh I'm in love with judas Judas! Judaas judas! judaas Judas! judaas judas! Gaga [Lady Gaga - Verse 1] When he comes to me, I am ready I’ll wash his feet with my hair if he needs Forgive him when his tongue lies through his brain Even after three times, he betrays me I’ll bring him down, bring him down, down A king with no crown, king with no crown [Chorus] I’m just a Holy Fool, oh baby he’s so cruel But I’m still in love with Judas, baby I’m just a Holy Fool, oh baby he’s so cruel But I’m still in love with Judas, baby Ohohohoh I'm in love with Judas Ohohohoh I'm in love with Judas Judas! Judaas Judas! Judaas Judas! Judaas Judas! GAGA [Lady Gaga - Verse 2] I couldn’t love a man so purely Even darkness forgave his crooked way I’ve learned our love is like a brick Build a house or sink a dead body I’ll bring him down, bring him down, down A king with no crown, king with no crown Lady Gaga Judas lyrics [Chorus] I’m just a Holy Fool, oh baby he’s so cruel But I’m still in love with Judas, baby I’m just a Holy Fool, oh baby he’s so cruel But I’m still in love with Judas, baby Ohohohoh I'm in love with Judas Ohohohoh I'm in love with Judas [Bridge] In the most Biblical sense, I am beyond repentance Fame hooker, prostitute wench, vomits her mind But in the cultural sense I just speak in future tense Judas kiss me if offenced, Or wear an ear condom next time I wanna love you, But something’s pulling me away from you Jesus is my virtue, Judas is the demon I cling to I cling to [Chorus] I’m just a Holy Fool, oh baby he’s so cruel But I’m still in love with Judas, baby I’m just a Holy Fool, oh baby he’s so cruel But I’m still in love with Judas, baby Ohohohoh I'm in love with Judas Ohohohoh I'm in love with Judas Judas! Judaas Judas! Judaas Judas! Judaas Judas! GAGA

Jumat, 30 Desember 2011

Desember Song #Memorian2011 #Goodbye2011

December Song…


05:43. Aku terbangun. Menyambut langkah matahari yang berjalan keluar dengan pelan. Tanpa suara bising. Hanya dengan bisik kokok ayam jago dan gesekan daun. Pemandangan yang indah, kalau saja bisa seindah kisahku. Aku senang mengangkat telapak tangan lalu menyentuh setiap tetes embun yang berdansa mesra bersama udara. Memperhatikannya dengan tawa senang… lalu berujar “sampaikan salam pagiku padanya yaa” entahlah, semoga saja embun cantik itu benar-benar mau menyampaikan pesan singkatku. Meskipun dengan malu-malu.

Aku lupa sudah berapa kali menyaksikan matahari itu terbit, melihatnya tersenyum padaku, lalu menyapanya dengan riang. Hingga sadar, ternyata waktu melompat dengan cepat. Aku risau, memikirkan laju waktu yang telah mengalahkan kisahku. Ohh, jarum panjang itu sungguh licik. Dengan santainya ia asik melangkah dengan wajah tegak, melewati aku yang malah duduk terpuruk dengan wajah ditekuk. Aku baru sadar, dialah tokoh anatagonis dalam kisahku ini. Meskipun berjalan lambat, meskipun waktu tak padat, tapi cerita kisahku tetap jahat.

Matahari terus terbit, lalu terbenam dengan sisa sinarnya. Burung terus berkicau, lalu berterbangan menyapa langit. Awan terus merangkak, lalu sesekali mengeluarkan tangisan anugerah. Begitu banyak waktu, tapi aku tak kunjung bangkit dari kegalauan. Sebenarnya banyak detik berarti yang sanggup mewarnai kisahku. Menjadi semanis merah muda, secerah biru tua, atau seunik ungu pear. Tapi aku enggan melangkah, kakiku. Membuat aku menjadi enggokan sampah di pojok kegelapan. Aku bosan mengingat semua alur kisah itu dari awal indah hingga akhir kesakitan. Kisahnya tak berubah, terulang dengan tokoh dan kenangan yang lebih membekas.

Aku semakin rapuh. Bahkan hampir hancur menjadi debu kotor. dan waktu makin cepat melangkah, menyeretku untuk masuk ke masa kalender baru. Ke dalam sebuah bulan kasih penuh berkat. Membuatku semakin merasa bahwa-aku-benar-dikalahkan-waktu. Aku lelah menjadi sepotong sampah kotor, ditonton oleh berbagai tikus busuk, hingga diusik serangga berbulu menjijikan. Aku akan lemah kalau terus begitu. Lalu entah mengapa pagi ini terasa begitu berbeda. Sesuatu menghentakku, seakan membangunkan jiwaku dari tidur kelam yang panjang. Membuatku merasa masih banyak kisah biasa-indah-kelam lainnya yang akan aku lewati. Dan aku tak mungkin bertahan dalam keterpurukkan jika setiap kisah kelam menyapa ramah.

Dan sebentar lagi—tanpa terasa—sebuah masa baru akan datang. Seharusnya aku bisa merubah kisah ini menjadi suatu kisah yang bisa dikenang dengan senyuman nantinya. Yang menyakitkan memang ada, lalu untuk apa diingat kalo bikin sedih? Entahlah yaaaa, aku Cuma bisa berdoa setidaknya masa baru akan membawa kisah baru. Dan untuk kisah lamaku, selalu diingat untuk jadi pelajaran. Mwehee…

Terimakasih untuk semua orang yang menjadi peran antagonis-protagonis dalam kisah hidupku selama setahun berharga ini. Terimakasih atas senyum tulusnya, tangisan harunya, dan pelukan hangatnya. Maafkan aku yang selalu menyebalkan ini. Maafkan juga karena selalu salah. aku bukan gadis bersayap emas dengan tongkat ajaib yang berwujud sempurna. Ilovyusomuch until my life will end!

Kamis, 01 Desember 2011

Tulisan Gadis Labil

Entah sudah keberapa kalinya aku menulis tentangmu. tentang rasaku dan hidupku bersamamu. maaf, bila mengusik. tapi aku akan tetap menulis tentangmu.


Dear kakak,
Hari ini cerah meskipun matahari tersembunyi di balik gumpalan-gumpalan awan memenuhi hampir seluruh langit. Angin mengantarkan rasa hangat dan menyentuh kulit dengan lembut. Ah, terlalu naif jika aku berharap angin hangat sama bertiup juga di tempatmu berpijak sekarang. Terlalu jauh dan rumit perjalanan yang harus ditempuhnya. Dan, di bumi yang semakin gersang angin semakin sulit berbisik. Dahulu, ia bisa menyampaikan salam sepasang kekasih yang terpisah jarak lewat bisikannya dengan bunga dan deadaunan. Namun, kini ia hanya bisa berdansa dengan debu dan udara panas.

Kakak,
Apakah kau bahagia hari ini? Dengan kecukupan udara untuk membantumu bernafas, dengan kesempurnaan tubuh dan bakat yang kau miliki, dengan orang-orang di sampingmu yang menyayangi tanpa pamrih, dengan lindungan Tuhan yang menjaga langkahmu setiap hari. Apakah kau bahagia? Aku tau kau bahagia, karena sebenarnya kebahagiaan itu begitu sederhana. Tapi, apakah kau bahagia meskipun juga tanpaku? …..mungkin, karena tak ada lagi yang membuatku sebal kan.

Setiap aku memandang senyum di fotomu, aku melihat kebebasan terpancar di sinar matamu. Bebas, tak terikat, kau menjelajah sesuka hati, melakukan apapun yang membuatmu senang tanpa larangan. Satu persatu teman dan sahabat, atau para gadis yang menggemarimu menambatkan perahu mereka dan berhenti bertualang, sementara kau masih bermain dengan tanah, ombak, dan matahari. Tak terpikirkanlah olehmu, bahwa seseorang (aku) telah merindumu, menunggumu berlabuh? Tak adakah keinginan untuk melalui semua petualangan itu dengan seseorang special di sampingmu? Mungkin aku. Ya aku.

Kakak, sedang dimanakah kau saat ini?
Apakah kau tenggelam di balik kaca gedung tinggi di belantara ibu kota? Apakah kau tengah duduk manis bersama para teman menunggu dosen tercinta berjumpa? Ataukah pasir pantai yang lembut sedang menggoda ujung-ujung kakimu yang telanjang? Ataukah rimbunan dedaunan dan binatang hutan sedang menyanyikan lagu-lagu peri di sekitarmu? Atau bahkan mungkin kau sedang tertawa manis dengan para gadis yang ingin menarik hatimu? Dimanapun kau saat ini, aku berharap itu tempat yang terbaik untukmu. Dan aku selalu berdoa, agar Tuhan memberkatimu setiap dentang waktu.

Terkadang, aku begitu ingin menghubungimu. Menekan angka demi angka kepunyaanmu di keypad, yang bahkan tiga angka terakhirnya berwujud sama, yaa aku tau itu angka kesukaanmu. Dan angka kesukaanku dua kali lipat dari angkamu itu. Kemudian saat tau, kau mengejekku. Mengatakan bahwa angka cantikku berlambang setan-kematian-iblis. Lalu menekan tombol “Call”. Menekan huruf demi huruf menjadi rangkaian kata dan kalimat, lalu mengklik button “Send”. Tapi rasa takutku begitu besar, kau sudah tahu bukan kalau aku selalu takut mengirimu pesan singkat. Dan kau selalu berkilah dan berkata; kenapa harus takut? Silahkan saja mengirimiku sebuah pesan singkat. Aku menjawab; aku takut jika sebuah rangkaian kata dalam pesan singkat itu mengganggumu, bukankah kau orang yang sangat sibuk?. Dan itu benar, setelah kemarin aku mencoba mengirimu pesan singkat, kau malah mengusirku… dengan halus dan menusuk. Masih ingat bahwa saat itu kau mengatakan secara tidak langsung bahwa aku menjadi pengganggu di hidupmu. Apa aku begitu menyebalkan? Tak apa, aku mungkin benalu bagimu. Dan sekarang… sudahkan kau tenang saat aku tak muncul lagi di hidupmu?

Ah, kakak….
Terkadang, aku menyesal. Bagaimana mungkin itik kecil yang baru saja menetas dari telurnya berani sekali mencintai burung jantan yang sudah ahli berterbangan kian kemari sepertimu. Aku merasa bersalah. Tak pantas mencintaimu yang hampir melampaui kata sempurna. Tapi ingatlah aku ini hanya gadis biasa, yang akan terpesona jika menatap mata sepertimu, yang akan luluh rapuh karena perhatian darimu, yang akan rela bersembunyi di balik takdir… menyembunyikan tangis saat melihatmu bahagia bersama yang lain. Aku egois. Kau sudah tahu bukan? Bahkan kau sering berbicara panjang lebar untuk menjadikanku sosok gadis yang dewasa, yang tak egois lagi. Maafkan aku belum bisa menjadi seperti yang kau mau.


Kakak,
Waktu di setiap hari terus berjalan, hingga senja dating menyapa. Tak terasa, aku tak pernah melihat senyummu selama 2 bulan lebih. Sungguh, itu bukan waktu yang singkat bagiku. Tapi selama hari-hari itu berjalan meski tanpa senyummu (atau bahkan tanpamu) mereka tetap menghakimiku. Tak sedikitpun memberikan aku waktu untuk jengah memikirkanmu, untuk lelah bermimpi tentangmu, untuk bosan menanyakan kabarmu pada setiap helai dedaunan yang gugur lalu terbang menari bersama angin. Ah, jika saja aku bisa berbisik pada Tuhan. Aku akan memohon… biarkan aku berhenti saja mencintaimu. Aku terlalu letih, hingga terlalu rapuh untuk menjaga rasa ini sendirian.

Aku berusaha, berlatih untuk tidak terlalu memikirkan rasa ini lagi. Move on. Lihat kakak, sedikit dari usahaku ternyata menghasilkan sesuatu. Aku sudah bisa menyayangi sosok lain, yang mungkin juga menyayangiku. Menjalani hari bersamanya, cukup indah meskipun tak seindah bersamamu. Aku senang menatapnya dari kejauhan, memperhatikan setiap geraknya. Dia memang tak sesempurna dirimu, tak sebaik dirimu, tapi mungkin senyumnya lebih manis darimu, kakak. Aku menulis tentangmu bukan untuk mengusik hidupmu, bukan untuk menyalahkan mu atas setiap tangisku. Maafkan aku, maaf jika setiap kata dalam kalimat di tulisanku menjadi pengusik. Aku hanya senang menulis tentangmu, karena kau begitu istimewa. Menggambarkan betapa sempurnanya dirimu, melukiskan betapa aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Bosankah kau mendengarnya? Maaf.

Kakak cumiku tercinta,
Berhentilah berdansa bersama kasih di setiap jejak pikiranku. Kau terlalu semangat berlari, menuntutku untuk selalu memimpikan tentangmu. Beri aku waktu untuk sedikit melegakan hati. dimensi otakku semakin mengecil, memorinya hampir habis termakan tangis. Tak kasiankah kau melihatku? Yang selalu menatap bintang di langit malam, berbisik mesra untuk membujuknya agar mau menyampaikan salam selamat malam padamu. Yang selalu menyentuh embun di ujung rumput hijau, membelainya lembut mengucap selamat dating pada pagi yang telah tiba. Dan… yang selalu memimpikan gadis bernama tinkerbell dating padaku, memberikan sekantung serbuk ajaib untuk menyulap kisah hidupku.

Maafkan aku yang terlalu menyebalkan. Masih maukah menganggapku sebagai adik perempuanmu satu-satunya? Aku harap kakak juga masih mau menemaniku melihat tetesan hujan, lalu menari bersama dibawah rintiknya. Suatu saat nanti…


Dari, adikmu yang tak dianggap
Aku.

Selasa, 15 November 2011

Surat kecil kepada lelaki yang mengajariku untuk bersikap dewasa.

Surat,
Kepada lelaki yang mengajariku bersikap dewasa.

Untuknya, kakak cumi tersayang. (Yang pernah menyebutku gembel-_-)

Ini kali pertama akhirnya aku bisa mengatakan apa yang sekian lama kurahasiakan tentang perasaanku yang semakin mendalam. Hanya dua kata yang mampu kuucapkan. Aku mencintaimu. Apakah itu cukup membuatmu mengerti? Kamu berpikir itu sangat sederhana sehingga aku mampu mengucapkannya kan?

Sebenarnya, aku sendiri masih belum memahaminya. Kakak. Aku mencintaimu. Hanya itu. Aku tak punya kata lain yang cukup berarti lagi. Dan hanya karena itukah Tuhan bilang aku berdosa? Kenapa? Aku selalu bertanya. Hingga lelah. Tapi, Tuhan tak pernah menjawab apapun.

Jika besok kutemukan Tuhan, aku pasti akan menanyakan; apa salahku mencintaimu, kakak?
Bukankah setiap orang berhak mencintai?

Bagiku, kau seperti silir udara yang menghantar buih ombak ke dalam pelukan pasir putih—hanya untuk menyampaikan pesan yang begitu tergesa—lalu membawanya kembali ke tengah lautan dengan penuh kesetiaan. Dan, kau juga, seperti tirai-tirai hujan yang menari lentik dalam pacuan detak jantungku saat aku melangkah lirih di atas rerumputan pada suatu malam hening penuh rintih kesakitan; bahkan aku masih ingat, senyumanmu sering kupakai untuk menghapus air mata sakit hati atau kekecewaan sebabmu.

Tanpa kau sadari, kau ajarkan aku bagaimana caranya menggores tinta dengan bijaksana diatas secarik kertas usang agar dia bisa tetap abadi. Meluluhkan perasaan angin dan hujan, lalu berubah menjadi burung kecil bersayap putih yang telah bersiap terbang mengejar matahari. Kau juga mengajariku cara menetskan dengan amat sangat perlahan hingga hanya kedua malaikat di bahuku yang mampu mendengarnya. Lalu kau ajak kedua kelopak bibirku bergerak, mengucapkan kata yang akhir-akhir ini malah kubenci; doa dan harapan.

Kau katakan padaku; kamu lebih cantik daripada kakakmu, kamu masih terlihat polos dan aku senang melihatnya (message 01/Aug/2011 23:45 PM). Kau katakan lagi; setiap malam aku meminta pada Tuhan agar bisa semakin dekat dan menjadi jodohmu kelak nanti (message 09/Sep/2011 19:28 PM). Kau juga mengatakan; akus udah berkomitmen tidak akan meninggalkan kamu (message 19/Sep/2011 16:16 PM). Dan, terakhir kau katakan lebih lembut lagi; lakukanlah semua yang membuatmu senang, tapi jangan pernah menangis lagi (message 06/Nov/2011 14:20 PM). Apakah kau masih mengingatnya, kakak? Mungkin bagimu ini hanya kata bualan sampah, tapi bagiku ini termasuk rangkaian kenangan darimu. Dan tolong, berikan wujud nyata dari semua kata dan janjimu.

Pertemuan denganmu begitu manis sekaligus pahit. Kau menyelam kedalam hatiku seperti matahari terbit. Saat bersamamu, aku mampu merasakan kebahagiaan yang sempurna sekaligus kepedihan yang dalam; kutemukan kegelisahan yang panjang sekaliggus kenikmatan naluriah; keheningan yang begitu damai sekaligus kenangan yang amat pahit. Maaf. Mungkin aku terlalu menyebalkan bagimu, tapi bagiku Tuhan lebih menyebalkan. Apa Tuhan tidak punya hati? bukankah keinginanku sangat sederhana. Aku hanya ingin kau miliki. Terlalu hinakah harapan ini?

Aku sendiri kini; di tepi pantai sepi tempat kita dulu pernah saling melukis mimpi, menyulam bait-bait cerita kehidupan yang pernah dialami, meneriakkan kesakitan, dan bertanya-tanya tentang Tuhan. Tempat kali pertama kita bertemu, kau ingat? Di depan taman berkolam kecil yang dikelilingi pura-pura berukir indah, disebelah bangunan greja megah kebesaran Tuhanmu. Apa kau ingat? Kau juga sempat tertarik dengan pias wajah cantik saudaraku yang sering tersenyum manis, dan itu sempat membuatku terikat cemburu.

Kau tau, siang ini, di tempat keempat dari enam kali pertemuan kita; dengan sebungkus lays rumput laut (aku tau, ini makanan kesukaanmu juga) dengan sekaleng fanta merah, aku mulai menulis tentangmu. Tentang senyummu yang membelai waktu dan pikiranku. Tentang ciumanmu yang begitu hening, begitu hangat melemahkan rasa sakitku. Tentang jari-jarimu yang halus selembut kabut, yang sering kaugunakan untuk membelai lembut bibir merahku atau mengusap air di pelupuk mataku. Tentang bahumu yang kokoh, yang mampu menjadi sandaran kelemahanku, juga bongkah dadamu yang kuat, begitu wangi. Semua ini membuatku menjadi gadis cengeng yang rapuh.

Masihkah cinta dapat dipercaya, seperti juga Tuhan? Cinta. Satu kata yang kupakai untuk melukiskan betapa aku ingin kau miliki. betapa aku ingin menjadi perempuanmu. Yang akan memberimu seluruh hidupnya, yang akan setia mengangkat payung setiap hujan menyapa, yang akan melahirkan malaikat-malaikat kecil, untuk menghapus kesepianmu. Hanya ini yang ingin aku sampaikan padamu, kakak dan juga pada Tuhan. Hanya demikian.

Tapi karena Tuhan bukan manusia, Dia tak pernah bisa merasakan kesakitanku, merasakan kekecewaanku terhadapmu.. terhadap-Nya. Dia hanya membisikan ke telingaku bahwa mencintaimu adalah dosa. Jadi, jika besok kutemukan Tuhan, kakak, aku pasti akan menanyakan; apa salahnya mencintaimu? Kenapa aku tak boleh mencintaimu? Mengapa cinta tiba-tiba menjadi dosa? Mungkin aku tahu. Mungkin Tuhan akan menjawab bahwa dosa mencintaimu semua karena tentang-Nya. Tentang perbedaan antara Tuhanmu dan Tuhanku. Aku tidak pernah tau bahwa perbedaan sara ini ternyata akan menjadi penghalang rasa cintaku untukmu. Biarkanlah jika mencintaimu menghasilkan puing dosa aku tetap kan melakukannya. Dan kakak, jika kelak nanti kau dapat melihatku ada… tengoklah kebelakang. Aku kan selalu setia menunggumu dengan sepercik harapan usang.

Juga, maafkan aku karena tlah berani mencintaimu.

Gadis kecil yang akan mencintaimu dalam diam.
Aku.


untukku my big brother yang dimaksudkan dalam surat ini, maafkan aku jika terlalu menyebalkan dan... mungkin aku mengganggu hidupmu. terimakasih karena sudah mengajariku untuk bersikap lebih dewasa dan tak egois. terimakasih juga karena memberiku pemahaman tentang cinta yang sebenarnya. jika memang rasa ini hanya sebagai adik-kakak, anggaplah aku sebagai adikmu... jangan anggap aku sebagai orang lain :)

(Ins: Teenlit Kepada Cinta (True Love Keep No secret)
(tittle real: Kepada Lelaki Yang Mengajariku Menggores Tinta (Febry Nur Ramahmi))

Jumat, 04 November 2011

Barbie? I wanne be it

Judul postingan blog gue kali ini, asli deh konyol banget. Nyata banget kaliya kalo bukan Cuma gue aja yang pingin menyerupai sosok ‘barbie’ mungkin semua cewek yang lagi bernafas sekarang juga pingin banget yaa jadi Barbie. Gak munafik. ini nyatanya kan.

Apa sih kelebihannya Barbie?

Pertanyaan ini asli gak penting. Terlalu jelas deh keliatannya kalo Barbie itu emang lebih-lebih-lebih banget. Bukan Cuma punya kelebihan, tapi yaa emang Barbie itu sempurna banget. Kalo ada kalimat -no body’s perfect- kalimat ini gak berlaku bagi Barbie, Barbie kan bukan manusia jadi yaa dia bisadong jadi sempurna. Detailnya deh, pertama Barbie itu punya kulit mulus semulus papan tulis di sekolah gue. Dan catat: di kulitnya gak pake bintik-bintik merah hitam bernoda atau tonjolan-tonjolan menyebalkan yang bikin stress-_-dan jelas cantiknya gak ada yang ngalahin. Pesonapun terlalu kuat ampe bikin mulut berbusa kalo ngeliat 

Kedua, Barbie itu mukanya senyum terus, ini nih yg gue iriin. Liat deh, kapan sih ada Barbie yang rupa mulutnya manyun-manyun? Atau yang lagi nangis? Lagi galau? Lagi marah? Gak ada man!! Nah itu yang paling gue iriin sama si Barbie, dia selalu tersenyum manis meskipun waktu dia diinjek-injek, atau waktu rambutnya dijambakin ampe botak, atau waktu dia lagi ditelanjangin bulat di depan khalayak dia juga tetep senyum kan-_-ha ha banget ini. Seandainya.. muka gue kaya Barbie ini kan enak, walaupun gue lagi nangis termehek-mehek gue bakal bisa nutupin dengan senyum manis itu. Dan tentunya gak ada orang yang sok kasian sama gue 

Ketiga, Barbie itu gak punya hati dan perasaan. Okee! Disini gue yang bodoh, yaa jelaslah Barbie gak punya hati, dia kan Cuma terbuat dari bahan-bahan yang gak jelas dan guepun gak tau apa namanya. Tapi coba aja kalo gue juga gak punya hati, pasti gue gak bakalan ngerasain yang namanya suka-jatuh cinta-patah hati. Gue gak bakalan deh senyum-senyum mirip orang gila saat lagi jatuh cinta, dan gue juga gak bakalan nangis-nangis ngesot sampe mau mati saat lagi patah hati. and then.. hidup gue bakal tentram, aman, damai dan tentunya sejahtera. Dijamin bahagia dunia akhirat deh gue.

Ini khayalan gue, apa khayalan lo? ;)

Sabtu, 22 Oktober 2011

Aku Hanya Wanita Biasa (repost)

Aku Hanya Wanita Biasa

Aku tak seperti Cinderella
Yang bisa dengan mudah kau temukan
Asal cocok dengan sepatu kaca
Aku hanya wanita biasa
Hidup di antara wanita biasa lainnya
Tak perlu melarikan diri dari apapun pada pukul 12 malam

Aku tak secantik Cleopatra
Yang dengan mudah memikat pria
Dengan pesona dan kecantikan luar biasa
Aku hanya wanita biasa
Dengan wajah pas-pasan tanpa pesona

Aku bukan seperti putri salju atau putri tidur lainnya
Yang dengan mudah kau bangunkan lewat satu kecupan manis
Aku hanya wanita biasa
Tak butuh ciuman seperti itu..

Aku wanita biasa..
Inginkan kebahagiaan tanpa cela
Yang ingin dicintai dan mencintaimu
Harap kau menerimaku..
Apa adanya diriku

Senin, 17 Oktober 2011

Galau? Who is that?

Galauw .
Who is that?

Penyakit rutin yang selalu datang tnpa permisi, lalu bersemayam seenaknya di otak dan tubuh gue .
Mengendap, lalu menguap menjadi titik air hingga menjadi asap yang membumbung tinggi, tentunya tak kasatmata .
Entah kenapa otak gue dipenuhin sama impian konyol yang dengan nyatanya mustahil banget buat terwujud .
Apalagi dibumbuin sama angan-angan yang terlalu tinggi untuk gue raih, terlalu jauh untuk gue capai, dan terlalu kuat untuk gue genggam .
Gue juga bingung, entah gue yang kelewatan atau emang begini adanga .
mereka padahal orang-orang yang gue sayang .
Gue ngejauhin kalian karena kalian yang maksa gue untuk nutup diri, membuat deretan dosa yang udah kalian lakuin sama gue .
Merenungi semuanya, memutar memori akan kejadian menyakitkan dimasa lalu .
Semakin membuat gue yakin bahwa kalian orang-orang yang harus segera gue depak jauh-jauh dari hidup gue .
Mempersilahkan diri untuk memisahkan ikatan pertemanan .
Kalian -sebenarnya- bukan temen gue, kalian hanya pembantu hidup gue .
Membuat susah tak terlalu berarti dalam hidup, kalian juga hanya pajangan di masa lalu .
Yang cukup disimpan dalam kefokusan jiwa, dan ditangkap dalam hembusan angin .