Selasa, 15 November 2011

Surat kecil kepada lelaki yang mengajariku untuk bersikap dewasa.

Surat,
Kepada lelaki yang mengajariku bersikap dewasa.

Untuknya, kakak cumi tersayang. (Yang pernah menyebutku gembel-_-)

Ini kali pertama akhirnya aku bisa mengatakan apa yang sekian lama kurahasiakan tentang perasaanku yang semakin mendalam. Hanya dua kata yang mampu kuucapkan. Aku mencintaimu. Apakah itu cukup membuatmu mengerti? Kamu berpikir itu sangat sederhana sehingga aku mampu mengucapkannya kan?

Sebenarnya, aku sendiri masih belum memahaminya. Kakak. Aku mencintaimu. Hanya itu. Aku tak punya kata lain yang cukup berarti lagi. Dan hanya karena itukah Tuhan bilang aku berdosa? Kenapa? Aku selalu bertanya. Hingga lelah. Tapi, Tuhan tak pernah menjawab apapun.

Jika besok kutemukan Tuhan, aku pasti akan menanyakan; apa salahku mencintaimu, kakak?
Bukankah setiap orang berhak mencintai?

Bagiku, kau seperti silir udara yang menghantar buih ombak ke dalam pelukan pasir putih—hanya untuk menyampaikan pesan yang begitu tergesa—lalu membawanya kembali ke tengah lautan dengan penuh kesetiaan. Dan, kau juga, seperti tirai-tirai hujan yang menari lentik dalam pacuan detak jantungku saat aku melangkah lirih di atas rerumputan pada suatu malam hening penuh rintih kesakitan; bahkan aku masih ingat, senyumanmu sering kupakai untuk menghapus air mata sakit hati atau kekecewaan sebabmu.

Tanpa kau sadari, kau ajarkan aku bagaimana caranya menggores tinta dengan bijaksana diatas secarik kertas usang agar dia bisa tetap abadi. Meluluhkan perasaan angin dan hujan, lalu berubah menjadi burung kecil bersayap putih yang telah bersiap terbang mengejar matahari. Kau juga mengajariku cara menetskan dengan amat sangat perlahan hingga hanya kedua malaikat di bahuku yang mampu mendengarnya. Lalu kau ajak kedua kelopak bibirku bergerak, mengucapkan kata yang akhir-akhir ini malah kubenci; doa dan harapan.

Kau katakan padaku; kamu lebih cantik daripada kakakmu, kamu masih terlihat polos dan aku senang melihatnya (message 01/Aug/2011 23:45 PM). Kau katakan lagi; setiap malam aku meminta pada Tuhan agar bisa semakin dekat dan menjadi jodohmu kelak nanti (message 09/Sep/2011 19:28 PM). Kau juga mengatakan; akus udah berkomitmen tidak akan meninggalkan kamu (message 19/Sep/2011 16:16 PM). Dan, terakhir kau katakan lebih lembut lagi; lakukanlah semua yang membuatmu senang, tapi jangan pernah menangis lagi (message 06/Nov/2011 14:20 PM). Apakah kau masih mengingatnya, kakak? Mungkin bagimu ini hanya kata bualan sampah, tapi bagiku ini termasuk rangkaian kenangan darimu. Dan tolong, berikan wujud nyata dari semua kata dan janjimu.

Pertemuan denganmu begitu manis sekaligus pahit. Kau menyelam kedalam hatiku seperti matahari terbit. Saat bersamamu, aku mampu merasakan kebahagiaan yang sempurna sekaligus kepedihan yang dalam; kutemukan kegelisahan yang panjang sekaliggus kenikmatan naluriah; keheningan yang begitu damai sekaligus kenangan yang amat pahit. Maaf. Mungkin aku terlalu menyebalkan bagimu, tapi bagiku Tuhan lebih menyebalkan. Apa Tuhan tidak punya hati? bukankah keinginanku sangat sederhana. Aku hanya ingin kau miliki. Terlalu hinakah harapan ini?

Aku sendiri kini; di tepi pantai sepi tempat kita dulu pernah saling melukis mimpi, menyulam bait-bait cerita kehidupan yang pernah dialami, meneriakkan kesakitan, dan bertanya-tanya tentang Tuhan. Tempat kali pertama kita bertemu, kau ingat? Di depan taman berkolam kecil yang dikelilingi pura-pura berukir indah, disebelah bangunan greja megah kebesaran Tuhanmu. Apa kau ingat? Kau juga sempat tertarik dengan pias wajah cantik saudaraku yang sering tersenyum manis, dan itu sempat membuatku terikat cemburu.

Kau tau, siang ini, di tempat keempat dari enam kali pertemuan kita; dengan sebungkus lays rumput laut (aku tau, ini makanan kesukaanmu juga) dengan sekaleng fanta merah, aku mulai menulis tentangmu. Tentang senyummu yang membelai waktu dan pikiranku. Tentang ciumanmu yang begitu hening, begitu hangat melemahkan rasa sakitku. Tentang jari-jarimu yang halus selembut kabut, yang sering kaugunakan untuk membelai lembut bibir merahku atau mengusap air di pelupuk mataku. Tentang bahumu yang kokoh, yang mampu menjadi sandaran kelemahanku, juga bongkah dadamu yang kuat, begitu wangi. Semua ini membuatku menjadi gadis cengeng yang rapuh.

Masihkah cinta dapat dipercaya, seperti juga Tuhan? Cinta. Satu kata yang kupakai untuk melukiskan betapa aku ingin kau miliki. betapa aku ingin menjadi perempuanmu. Yang akan memberimu seluruh hidupnya, yang akan setia mengangkat payung setiap hujan menyapa, yang akan melahirkan malaikat-malaikat kecil, untuk menghapus kesepianmu. Hanya ini yang ingin aku sampaikan padamu, kakak dan juga pada Tuhan. Hanya demikian.

Tapi karena Tuhan bukan manusia, Dia tak pernah bisa merasakan kesakitanku, merasakan kekecewaanku terhadapmu.. terhadap-Nya. Dia hanya membisikan ke telingaku bahwa mencintaimu adalah dosa. Jadi, jika besok kutemukan Tuhan, kakak, aku pasti akan menanyakan; apa salahnya mencintaimu? Kenapa aku tak boleh mencintaimu? Mengapa cinta tiba-tiba menjadi dosa? Mungkin aku tahu. Mungkin Tuhan akan menjawab bahwa dosa mencintaimu semua karena tentang-Nya. Tentang perbedaan antara Tuhanmu dan Tuhanku. Aku tidak pernah tau bahwa perbedaan sara ini ternyata akan menjadi penghalang rasa cintaku untukmu. Biarkanlah jika mencintaimu menghasilkan puing dosa aku tetap kan melakukannya. Dan kakak, jika kelak nanti kau dapat melihatku ada… tengoklah kebelakang. Aku kan selalu setia menunggumu dengan sepercik harapan usang.

Juga, maafkan aku karena tlah berani mencintaimu.

Gadis kecil yang akan mencintaimu dalam diam.
Aku.


untukku my big brother yang dimaksudkan dalam surat ini, maafkan aku jika terlalu menyebalkan dan... mungkin aku mengganggu hidupmu. terimakasih karena sudah mengajariku untuk bersikap lebih dewasa dan tak egois. terimakasih juga karena memberiku pemahaman tentang cinta yang sebenarnya. jika memang rasa ini hanya sebagai adik-kakak, anggaplah aku sebagai adikmu... jangan anggap aku sebagai orang lain :)

(Ins: Teenlit Kepada Cinta (True Love Keep No secret)
(tittle real: Kepada Lelaki Yang Mengajariku Menggores Tinta (Febry Nur Ramahmi))

Jumat, 04 November 2011

Barbie? I wanne be it

Judul postingan blog gue kali ini, asli deh konyol banget. Nyata banget kaliya kalo bukan Cuma gue aja yang pingin menyerupai sosok ‘barbie’ mungkin semua cewek yang lagi bernafas sekarang juga pingin banget yaa jadi Barbie. Gak munafik. ini nyatanya kan.

Apa sih kelebihannya Barbie?

Pertanyaan ini asli gak penting. Terlalu jelas deh keliatannya kalo Barbie itu emang lebih-lebih-lebih banget. Bukan Cuma punya kelebihan, tapi yaa emang Barbie itu sempurna banget. Kalo ada kalimat -no body’s perfect- kalimat ini gak berlaku bagi Barbie, Barbie kan bukan manusia jadi yaa dia bisadong jadi sempurna. Detailnya deh, pertama Barbie itu punya kulit mulus semulus papan tulis di sekolah gue. Dan catat: di kulitnya gak pake bintik-bintik merah hitam bernoda atau tonjolan-tonjolan menyebalkan yang bikin stress-_-dan jelas cantiknya gak ada yang ngalahin. Pesonapun terlalu kuat ampe bikin mulut berbusa kalo ngeliat 

Kedua, Barbie itu mukanya senyum terus, ini nih yg gue iriin. Liat deh, kapan sih ada Barbie yang rupa mulutnya manyun-manyun? Atau yang lagi nangis? Lagi galau? Lagi marah? Gak ada man!! Nah itu yang paling gue iriin sama si Barbie, dia selalu tersenyum manis meskipun waktu dia diinjek-injek, atau waktu rambutnya dijambakin ampe botak, atau waktu dia lagi ditelanjangin bulat di depan khalayak dia juga tetep senyum kan-_-ha ha banget ini. Seandainya.. muka gue kaya Barbie ini kan enak, walaupun gue lagi nangis termehek-mehek gue bakal bisa nutupin dengan senyum manis itu. Dan tentunya gak ada orang yang sok kasian sama gue 

Ketiga, Barbie itu gak punya hati dan perasaan. Okee! Disini gue yang bodoh, yaa jelaslah Barbie gak punya hati, dia kan Cuma terbuat dari bahan-bahan yang gak jelas dan guepun gak tau apa namanya. Tapi coba aja kalo gue juga gak punya hati, pasti gue gak bakalan ngerasain yang namanya suka-jatuh cinta-patah hati. Gue gak bakalan deh senyum-senyum mirip orang gila saat lagi jatuh cinta, dan gue juga gak bakalan nangis-nangis ngesot sampe mau mati saat lagi patah hati. and then.. hidup gue bakal tentram, aman, damai dan tentunya sejahtera. Dijamin bahagia dunia akhirat deh gue.

Ini khayalan gue, apa khayalan lo? ;)