Minggu, 19 Juni 2011

Universal Studio - repost @ifyalyssa

Hi teman-teman...
tempat yang banyak diminati orang Indonesia kalo ke Spore sekarang adalah tempat hiburan yang relatif baru : Universal studio
Disana, ada beberapa wahana yang bisa kita kunjungi : Istana SHREK... di luar kita bisa foto bareng Puss in the booth, atau shrek (by shift), masuk kesana ada theatre besar 3D..pas adegan semburan air..airnya juga nyembur. ada angin berhembus terasa juga anginnya...di kursi-kursinya udah dipasang deh hehe !! tapi seru karena gambarnya kan indah banget...Di setiap wahana ada toko yang jual pernak perniknya. Aku beli bando kuping shrek,T Shirt dll
Dari situ aku ke MUMMY kayak masuk daerah Mesir, ada orang berpakaian mesir yang agak sangar gitu mukanya...pake enggrang..jadi tinggi banget ! disitu pake roller coaster yang maju mundur ..belok >>.ngeriiii juga, di perut kayakkkk ada kupu=kupunya hehe...
sempet makan samosa dan cemilan di resto mediterania deket mummy. trus ada SKY-FY CITY, NEWYORK, HOLLYWOOD, THE LOST WORLD : JURRASIC PARK karena Jurrasic park berbasah-basah kita putusin terakhir aja...kita ke toko topi, yang jual macem-macem topi dan boleh pake topi yang tersedia disitu untuk foto2. Trus liat cara pembuatan badai di film-film... Ooo itu teknik aja !! (Mama bilang waktu ke Universal Studio di Florida, lebih besarrr dan lengkap lagi). Sebelum maakan siang kita sempet beli-beli di toko yang jual pernik-pernik Universal Studio...aku lagi liat-liat ke luar toko..tiba-tiba..FRANKENSTEIN datang, mukanya kehitaman dan serem dan ...dia peluk aku...aku bener2 takuttttt banget. aku lariiiiii masuk toko cari Mama.... ooohh ngeri banget, padahal orang-orang pada berfoto ria tuh ??? Di jalan ada yang lewat : Donald Duck, Marilyn Monroe, dll (boongan nya hehe).
aku seneng juga di Madagaskar (serasa anak SD), naik Carrousel dan pteranodon (kayak gajah bleduk di dufan)...cuekkk ga da yang liat..mama juga mauuu aja nemenin hehe...(jangan-jangan masa kecilnya kurang bahagia hehe)!!! ehh, ternyata adaaa juga teman-teman dari Indonesia yang ngenalin aku dan minta foto bareng ( kaka suka ngledek nih ...), ada juga dari Papua. dll. seneng aja sih ketemu temen sebangsa ho ho ho...
trus ngapain lagi ya ? di Jurassic bener2 basah..jadi yang mau ke sana jangan lupa bawa ganti baju lengkap ya...!!Gitu deh critanya...pokoknya aku seneng dan enjoy banget....

Keajaiban Natal

sebenernya cerpen ini udah gue terbitin waktu Cristmash Day, tapi itu dijadiin 3 bagian ..

nah, kalo yang ini langsung semuanya dijadiin satu ..

jadi bagi yang udah baca, baca ulang gpp kali yah :D

dan sory kalau ga nyambung !







*









Special RiFy







*





langit malam terlihat sangat indah dengan taburan berbagai bintang terang dan sebuah bulan kuning yang berkilau bak intan permata. aku duduk termenung sambil menopang dagu di tengah hamparan hijaunya rumput yang basah tertempel embun.

aku menatap lekat ke arah langit melihat setitik bintang yang berkilau sangat terang, indah berkelap kelip di atas sana. pikiranku menerawang jauh berandai andai seakan bintang itu bisa menunjukan sebuah keajaiban untukku. keajaiban yang aku tunggu selama ini.





aku melirik jam digital berwarna hitam mengkilat yang terpasang di tanganku. sudah menunjukan pukul 10.15 pantas saja udara dingin membelai lembut tubuhku, perlahan masuk menusuk tulan belulang.

aku sedikit merapatkan tubuh, memeluk lututku agar terasa sedikit hangat. namun udaranya terlalu dingin sehingga mampu merobohkan kehangatan yang aku ciptakan. aku memutuskan kembali ke dalam rumah yaa daripada aku menjadi beku terkena angin dingin, gk lucu kan !





aku duduk di sebuah kursi yang berada di dekat api unggun yang tengah berkobar riang di tengah malam sunyi, memancarkan cahaya merah dah menyebarkan setitik kehangatan untuku. sesekali aku menggosokan tangan lalu meniupnya, merasakan lembut kehangatan yang membelai telapak tanganku.

aku mengambil secangkir kopi hangat yang tergeletak di atas meja, asapnya melambung tinggi ke atas lalu dalam sekejap hilang diterpa angin. ku mendekatkan ke arah mulutku lalu menyeruputnya, hingga tenggorokanku terasa sangat hangat setelah meneguk kopi itu.





+





Pukul 06.00





fajar menyingsing. cahaya masuk melalui celah tirai kamarku. aku mengerjapkan mata beberapa kali, tanganku berusaha menepis cahaya mentari yang menyilaukan.

aku berjalan gontai keluar rumah, masih dengan piyama berwarna biru yang aku kenakan semalam untuk tidur. aku merentangkan tangan, meregangkan otot-otot yang terasa lemas dan kaku.

ku tarik nafas panjang menghirup udara yang sejuk lalu menghembuskannya perlahan.







aku tinggal di sebuah kota kecil yang berada di kawasan paris.

kota yang terletak di belakang pegunungan membuat udara menjadi bersih dan sejuk, apalagi penduduknya tidak begitu ramai hanya beberapa saja.

udaranya memang dingin namun lebih dingin lagi saat musim salju datang. seketika aku teringat kepada kekasihku, aku menyunggingkan senyum manis di sudut bibir. sebentar lagi dia akan datang untuk pulang kesini.

sungguh aku rindu sekali dengan senyum manisnya, dengan kata kata kocak yang bisa membuatku tetawa dan sejenak lupa akan penyakit ini. aku sangat rindu dengannya, aku ingin membelai lembut wajah cantiknya, aku ingin mendekapnya dalam pelukan hangatku. tapi sekarang dy berada jauh, bahkan sangat jauh.







yya..! sekarang dy sedang berada di indonesia, negara yang memiliki lambang garuda dan bendera merah putih. negara yang indah dan yang dipenuhi dengan rasa kesatuan dan kebersamaan.

dia pergi kesana untk menyelesaikan suatu masalah, entah apa itu aku tak berminat untuk mengetahuinya. yang penting bagiku adalah dy kembali dengan selamat dan keaadaan yang utuh.





aku beranjak kembali ke dalam rumah, untuk bergegas mandi dan merapikan diri agar saat dy datang aku terlihat menawan di depannya.

namun tiba tiba kepalaku terasa sangat pusing dan berat, bahkan darah segar yang berwarna kemerahan keluar menetes deras dari hidungku. kucaoba menutup hidungku agar darah itu berhenti namun sia sia saja darah itu semakin menambah aliran kecepatannya. aku berusaha melangkahkan kaki ini memasuki rumah tapi seketika semuanya menjadi buram dan gelap.





+





Pukul 11.00





aku melihat cahaya putih itu datang ke arahku. menyambarku dengan cepat secepat kilat.

aku berusaha membuka mata. dan aku melihat lampu benderang di atasku, sangat silau sehingga membuat pandanganku menjadi tidak jelas. tapi tunggu... aku melihat sesosok gadis tengah duduk di sofa.

ia menutup wajahnya sambil bergumam pelan. aku mengerutkan dahi. lalu aku melirik sebuah jam berbentuk bundar yang tertempel di dinding. aku melihat sudah pukul sebelas, berarti aku sudah pingsan selama enam jam.

ahh.. tapi tak apalah jugaan ini sudah sering terjadi.





gadis itu menoleh ke arahku lalu berjalan mendekati diriku. senyum senang terukir indah di wajahnya, aku terlihat bingung saat melihatnya namun di detik kemudian aku teringat siapa dy.





"ifyy.." gumamku pelan



"sayang kamu udah sadar, aku panggil dokter dulu ya" katanya seraya pergi





aku menggangguk kecil sambil tersenyum melihatnya. akhirnya dy kembali orang yang aku cintai selama ini ada untku sekarang.

yya.. namanya alyssa saufika umari atau biasa disapa ify. dy adalah bidadari yang selalu mewarnai hidupku, yang selalu membuatku tersenyum manis meski rasa sakit itu kerap menyiksa. aku bahagia bahkan sangat, sangat bahagia bisa memilikinya. tapi ada satu hal yang menjadi penghalang cinta kami yaitu AGAMA !







dy menganut agama islam sedangkan aku menganut agama kristen. sehingga dulu kami sempat berpisah selama 3bulanan dkarenakan orang tuanya tak menyetujui hubungan kami. aku sudah berusaha memperjuangkan cinta kami mati matian, tapi apa ? tetap tak ada restu dari mereka, bahkan orang tua ify berencana untk menjodohkan ify dengan lelaki yang bernama Cakka Kawekas Nuraga.

saat itu aku hanya bisa pasrah, mungkin kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama. aku mencoba memutuskan hubungan dengannya, menjauh dari hidupnya agar dy bisa hidup bahagia dengan cakka. aku pergi ke paris meninggalkan indonesia. karna aku tak kuat jika harus melihat ify bersanding dengan pria lain.





tapi ternyata dy datang menyusulku, bahkan dy rela untuk tinggal di paris brsamaku selamanya meningglkan keluarga, karir dan semuanya. itulah bukti cinta dan kasihnya kepada ku. cintanya begitu kuat dan tak terpisahkan.





+





Pukul 16.00





aku dan ify tengah duduk di tengah taman rumah sakit. angin sejuk membelai rambut panjangnya yang tergerai indah. aku dan ify sama sama terdiam karena masih sibuk bergelut dengan pikiran yang menjalar entah kemana. sesekali aku melirik ke arah ify yang sedang melamun sambil menatap lurus ke depan, melihat satu persatu daun daun berguguran dan jatuh melayang tertiup angin.

ku perhatikan lekuk wajahnya, tdak brubah masih tetap cantik seperti dulu. aku berinisiatif membuka topik pembicaraan, karena aku bosan dengan situasi sepperti ini.





"fy, i miss you" kata ku



"i miss you too mario" jawabnya tulus



"fy, besok temenin aku ke panti yah" pintaku



"tapi yo..." aku sudah tau apa yang akan ia katakan, aku menempelkan jari telunjuku di depan bibirnya.



"plisee" kataku memohon



"yaudahlah, aku gk bisa ngelarang kmu lagi" katanya pasrah



"makasih ify sayang" jawb ku





panti asuhan, yyaa aku sendiri yang membangunnya, aku memberi nama 'Panti Asuhan Miracle'. aku sedih ketika melihat anak anak kecil yang harus bekerja keras untuk mendapat sesuap nasi, mereka harus berdiri di bawah teriknya matahari sambil mengadahkan tangan meminta sekeping koin. hatiku iba melihat itu semua, oleh karena itu aku membangun panti asuhan ini untk mengurangi sdikit beban hidup mereka. untuk berbagi kebahagiaan kepada mreka sbelum tuhan mengangkat nyawaku.





+





20 Desember 2010





pagi ini aku meminta izin kepada dokter alvin untuk pulang. sebenarnya dokter alvin tidak mengizinkan, tapi jangan panggl aku rio kalo aku gk bisa mengatasi hal itu. aku turun ke lobby menggunakan sebuah lift. aku menghampiri seorang gadis sdang berdiri menungguku.



"ify" kataku



"udah?" tanyanya



"udah, ayok" ajaku





+





aku tiba di sebuah bangunin berukuran lumayan besar yang berwarna putih. di depannya ada palang bertuliskan 'Panti Asuhan Miracle' aku tersenyum, lalu menggandeng tangan ify masuk ke dalam sana.





"hay semua, hay bunda ira" sapaku



"papa rio" semua berseru kearhku lalu memeluku.



"papa kok bru dateng sih kan keke sama oik kangen sama papa" katanya manja.



"maafin papa ya ke, ik. nih papa bawain jajan, bagi bagi ya sama yang lain" kata ku sambil memberik kresek putih besar





aku menghampiri wanita separuh baya yang berdiri seraya tersenyum ke arahku. dy adalah bunda ira, dyalah yang mengasuh semua anak panti ini. akupun sudah menganggapnya sebagai bunda kandungku sendri.





"bunda" kataku sambl memeluknya



"rio, sini ikut bunda" kata bunda ira.





aku pergi ke taman yang terletak di disamping panti asuhan bersma bunda ira, sedangkan ify menemani anak panti.





"bagaimana keadaanmu yo?" tanya bunda



"baik bun, udalah gk usah pikirin rio, rio pasti baik baik aja kok" jwbku meyakinkan



"iya, jaga diri baik baik yah" pesan bunda





aku mengangguk kecil. aku mengalihkan pandanganku dari bunda ke arah ify yang tengah asik bermain. kulihat senyumannya yang begitu lepas, kulihat anak anak itu sedang tertawa bahagia.

ahh ...

aku ingin slalu melihat itu semua, tapi apa aku bisa ?





+





21 Desember 2010





aku memandang wajahku di depan cermin. aku melihat bayangan diriku dengan wajah pucat, bibir berwarna putih pasi dan rambut yang semakin menipis. aku tersenyum kecut melihatnya.





hari ini aku akan pergi ke panti asuhan lagi, untuk menyiapkan persiapan hari natal. aku dan ify membawa pohon natal dan berbagai pernak pernik lainnya, tidak lupa dengan berbagai jenis kado untk dtaruh dbawah pohon natal.





"yyee mama ify sama papa rio dateng lagi" kata oik bersorak riang



"ia oik, nih papa bawa pohon natal sama pernak pernik lainnya" kataku



"wahh, kita bakal buat pohon natal donk" kata oik





aku dan ify mengambil pohon natal yang berada di mobil, lalu membawanya masuk ke dalam panti asuhan.

aku dan semua anak panti mulai menghias pohon natal itu dengan berbagai macam pernak pernik. seperti boneka, klonceng, bintang dan lainnya. kami tertawa dan bercanda sesama, sungguh nyaman hatiku saat berada di dkat mereka.





"papa rio, nanti bintang emasnya ditaruh pas malem natal aja yah" kata oik sambl menunjukan bintang besar berwarna keemasana yang akan ditaruh di pucuk pohon natal.



"iya oik" jawabku sambl mencubit pipinya yang imut



"ntar papa bisa make a wish juga lho, mungkin meminta suatu keajaiban, yakan pa?" kata oik lagi





aku terdiam mendengar celotehan oik. 'yya semoga keajaiban itu akan datang' batinku. aku termenung menatap lurus ke depan sambil menopang dagu.

tteess...

suara tetesan darah yang mengalir deras dari hidungku. kepalaku terasa sangat pusing, pandanganku menjadi buram dan berbayang. sakit ini lebih sakit daripada yang sbelumnya. aku terduduk lemas di lantai yang berceceran darah.



"mama ify, mama ifyy tolongin papa" teriak oik sambil menangis



"oik, sini sama bunda" kata bunda sambl menggendong oik





dengan cepat ify menelpon ambulance untk membwaku kerumah sakit. hatinya sangat kalut dan cemas, bahkan sungai kecil sudah mengalir deras di pipinya.







++++



22 Desember 2010





aku masih tak sadarkan diri. tergeletak lemah di ranjang rumah sakit ini. ify masih setia menemaniku meskipun kata dokter alvin penyakitku sudah sangat parah dan hidupku tinggal beberapa hari lagi, mungkin gk sampe tiga hari. mendengar pernyataan seperti itu membuat hati ify bak disambar petir.

tentu sangat perih dah pedih rasanya jika mengetahui orang yang kita cintai akan pergi sebentar lagi.





aku tersadar dari pingsanku, perlahan kumembuka mata berharap aku langsung menatap mata bening ify, berharap aku langsung melihat lekat wajah manis ify.

tapi apa .. ?

semuanya gelap, gelap, dan sangat gelap. semuanya berwarna hitam tak terlihat apapun. kucoba mengerjapkan mata beberapa kali, mungkin saja aku sedan bermimpi. tapi ternya tidak ! semuanya tetap gelap dan hitam. aku menangis dan menjerit ketakutan sambil berlari entah kemana. namun disini gk ada orang sama sekali.







aku bingung ..

aku takut ..

aku sendiri ..

hanya sendiri disini !





tangisanku meledak, aku berusaha menjerit dan berteriak sekuat tenaga berharap ada seseorang yang datang menghampiriku dan menunjukan jalan keluar dari sini. namun aku sudah tak kuat, badanku terasa sakit dan tulangku terasa remuk semua. kakiku tak kuat lagi menopang tubuh lemasku. aku terduduk letih sambil menjerit minta tolong.







ahh ..

akhirnya aku melihat setitik cahaya terang yang menyilaukan di ujung sana. hatiku berlonjak senang, pasti disana ada seseorang yang bisa membantuku. aku menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan, berusaha mengumpulkan sedikit energi yang masih kumiliki.

aku mencoba mengubah posisi menjadi berdiri, ku langkahkan kaki ini selangkah demi selangkah. ku tangkis semua rasa lelah dan letih, ku tepis semua tetesan keringat dingin yang mengucur deras di pelipisku. sesekali aku terjatuh dan terhempas karena kelelahan.





aku memandang cahaya putih itu. hatiku terlonjak kaget ketika mataku menangkap seorang lelaki yang tengah tergeletak tak berdaya di sebuah ruangan rumah sakit. aku mengucek mataku beberapa kali, kucubit pelan lengan kananku hingga aku meringis kesakitan. namun penglihatanku tak kunjung berubah.

aku kembali menatap lekat cahaya itu, lelaki disana adalah aku, aku yang sedang terbaring lemah disana, dengan berbagai peralatan medis yang menempel lekat di kulit tubuhku. aku kembali menangis sejadi jadinya, tak kuasa membendung air mata yang menerobos keluar dari pelupuk mataku.





aku sangat terharu ketik melihat ify menggenggam erat jemariku, ketika ify meneteskan air ketulusan dari kelopak matanya,

ketik ify terus mengucapkan untaian doa untuku, ketika ify bersujud lalu mengadahkan tangannya meminta kepada tuhannya agar aku bisa terbangun. sekarang aku ingin mendekapny dalam pelukan hangat ku, aku ingin melihat senyumnya lagi. senyum yang selalu terpancar indah di wajahnya, yang bisa membuatku lulth.





+





23 Desember 2010





aku masih tetap tergeletak tak berdaya di ranjang rumah sakit yang empuk itu. masih tetap dengan alat bantu pernapasan, selang infus, dan berbagai alat medis lainnya. aku ingin segera terbangun dari semua mimpi buruk ini, aku ingin segera merobek lembaran kertas putih yang udah kotor terkena tinta hitam !

aku ingin melakukan semua itu !







aku baru teringat kalau besok adalah malam natal, aku ingin merayakannya bersama semua anak panti, bunda ira dan tentunya ify. aku ingin menghiar pohon natal bersama mereka, aku ingin mengatakan happy cristmas kepada semua orang. aku juga ingin berdoa di malam natal nanti pada tuhan agar memberikan sebuah keajaiban. aku ingin meminta di malam natal nanti pada santa claus agar semua derita hidupku hilang, agar tak ada lagi tetes air mata yang terbung.

yya .. !!

itu semua adalah angan angan dan keinginanku ..





+





24 Desember 2010





hari ini adalah hari jumat, tepatnya tanggal 24 desember, dan artinya tengah malam nanti adalah malam natal.

namun apa ?

aku masih seperti mayat hidup yang tak berdaya sedikitpun, terbaring lemah sambil terdiam mematung dan tak bergeming sedikitpun. sepertinya harapanku untuk hidup sudah pupus. dokter alvin saja sudah tak dapat berkata apapun tentang penyakitku ini. penyakit yang sudah tiga tahun aku derita dan rasakan. penyakit yang membuatku jatuh dan terpuruk di jurang kegelapan dan kesakitan. penyakit yang mungkin bisa membuatku meninggalkan dunia yang indah ini.





kanker otak !

begitulah orang menyebunya, saat pertama kali mendengar nama itu aku bergidik ketakutan. tapi sekarang aku sendiri yang mengidap penyakit itu, bahkan sudah tiga tahun lamanya dan aku tak kunjung sembuh. aku sudah tak kuat menahan rasa sakit yang terkadang datang tanpa permisi lalu dengan seenaknya menyiksa tubuh lemahku ini.

aku sudah capek pergi bolak-bolik kerumah sakit hanya untuk sekedar chek up. aku sudah bosan mencium aroma obat obatan yang baunya menusuk dan pekat. aku sudah malas mengecap lidahku merasakan pahitnya obat obatan itu.





+





Pukul 16.00





cclekk ..

suara decitan pintu terdengar jelas, sesosok gadis manis muncul dari belakang pintu dengan senyum kecut yang menandakan keperihan hatinya. ify membawa keranjang yang berisi berbagai macam buah dan sebuket bunga mawar merah yang menyebarkan aroma keharuman.

ia berjalan mendekatiku, membelai lembut rambutku dan mengecup pelan bibir manisku. aku melihat bayangan diriku dengan air mata yang deras. tapi seketika aku tersenyum senang ketika melihat jemari tanganku bergerak pelan.





kuusap semua aliran air mata itu. aku menengok kebelakang kulihat cahaya putih itu menyambarku lagi. aku berteriak sekuatnya namun seketika semuanya kembali gelap dan aku tak merasakan apapun lagi.



"rio sayang, kamu udah sadar" kata ify girang



samar samar aku mendengar suara ify. aku membuka mata sambil mengusapnya beberapa kali agar pandanganku menjadi jelas. ternyata aku sudah sadar, aku kira aku akan tertidur selamanya. ohh tuhan, kau memang maha kuasa. aku tersenyum simpul tapi dalam hati aku sangat senang karena aku bisa mendengar suaranya lagi. semoga ini semua bisa bertahan lama dan bukan hanya sebentar.

ternyata keajaiban itu muncul di malam natal ini, keajaiban atas perwujudan doa yang aku pinta selama ini.





+





Pukul 19.00





"ayo yo sekali lagi" rajuk ify sambil menyuapi bubur kemulutku



"udah fy" kataku sambil menggeleng pelan



"sekali lagi aja" kata ify



"gk mau pkoknya" tolaku sambil menutup mulut



"kalo gk mau yaudah" pasrah ify sambl manyun, aku terkikir melihatnya cemberut. lucu !



"ih ify mah ngambekan, yaudah tpi sekali lgi aja yak" kataku



"gitu donk" kata ify senang



"nanti jam sembilan ke panti yah fy" rajuku manja



"hhmm" ify nampak berpikir



"sekali ini aja fy" kataku meyakinkan



"hmm..okedeh" setuju ify





aku senang karena nanti aku akan merayakan natal bersama semua anak panti, dan mungkin ini akan menjadi hari natal terakhir untuku tapi ya semoga saja tidak. aku teringat akan cerita mami dan papiku dulu kala umurku masih berumur 6 tahun. mreka bercerita tentang malam natal yang dirayakan dengan pohon natal, kado dan juga kue. tapi yang terpenting adalah dengan cinta dan kasih yang tulus.

mereka juga bercerita tentang seorang lelaki tua dengan jenggot tebal berwarna putih dan perut gendut yang lucu. yyaapp...!! dy adalah sinterklaus atau santa claus, setiap malam natal sinterklaus turun dari langit lalu pergi mendatangi rumah penduduk satu persatu dengan menggunakan kereta yang dibawa oleh kijang besar. ia memberikan sebuah kado kado lucu kepada setiap anak. sungguh senang dong jika kita dapat hadiah gratis ?

namun sampai detik ini aku belum pernah melihat sinterklaus dengan mata kepalaku sendiri.





+





Pukul 21.00





aku sedang berada di dalam mobil bersama ify. kami akan pergi ke panti asuhan miracle. namun di tengah jalan turun salju yang lumayan lebat. menyelimuti kota paris dengan kristal kristal putih. membuat tubuhku terasa menggigil. bibirku bergetar pelan ify menengok ke arahku mendapati diriku yang sedang melamu sambil kedinginan. ify memberikanku syal putih, dan mantel tebal yang hangat.





salju itu membuat jalanan menjadi agak macet, sehingga kami -aku dan ify- harus menunggu beberapa menit. tapi aku tak merasa bosan atau jenuh sedikitpun, karena di setiap pinggir jalan kami disuguhkan dengan pemandangan indah nan menarik. banyak pohon natal yang berjejer dengan pernak pernik yang bergelantungan ditambah juga bintang emas besar yang berdiri kokoh di pucuknya, lampu berwarna warni yang berkelap kelip indah turut membingkai pohon natal tersebut.

apalagi sekarang hampir semua orang mengenakan topi sinterklaus yang berwarna merah putih, bahkan di setiap depan toko pasti ada saja orang yang menirukan penampilan sinterklaus untuk sekedar merayakan natal dan menarik pengunjung datang ketokonya.





aku tersenyum saat melihat seorang gadis kecil yang kira kira berumur lima tahun tengah mengenakan topi sinterklaus sambil berjalan menyusuri kota melihat indahnya pemandangan di malam natal bersama kedua orang tuanya. aku tersenyum ketika melihat tawa gadis kecil itu yang sungguh tulus dan lepas.



"mary cristmas and happy new year" kata seseorang sambil memberikan topi sinterklaus kepadaku.



"thengs, mary cristmas and happy new year too" jawabku seraya tersenyum.





+





Pukul 22.53





setelah sekitar hampir satu jam kemacetan dapat teratasi. semua mobil dan motor kembali melajukan kendaraannya dengan normal. ify menghentikan laju mobilnya di sebuah bangunan besar. aku turun lalu masuk ke dalam sambil menggandeng erat jemari ify.





"hay semua, mary cristmas" sapaku



"mary cristmas too papa" jawab semuanya serentak.





semua anak panti berlari memelukku. ify membagikan topi sinterklaus yang tadi kami beli. aku, ify dan semua anak panti mengobrol ria, terkadang ada kata kata kocak yang kulontarkan untuk sekedar mendinginkan suasana. aku melirik jam digital berwarna hitam yang terpasang ditanganku. sudah pukul 23.50 berarti sebentar lagi malam natal tiba. aku pergi kebelakang dengan mengendap ngendap.





"lohh rionya mana?" tanya ify



"bukannya tadi ada disamping mama ify ya" kata keke



"ihh, papa rio hebat bisa ngilang" kata kiki



"hhussh, orang hilang kok hebat sih" sahut ify.





ify mengajak semua anak panti untuk mencariku di taman semuanya menggangguk setuju. ify dan semua anak panti pun menyebar mencari keberadaanku. aku terkikik sendiri melihat mereka resah krna aku hilang scara tiba tiba, pdahal aku tengah sembunyi. aku ingin membuat surprise kepada anak panti dengan berpakaian ala santa claus, memakai janggut tebal yg berwrna putihl, baju dan topi yg berwarna merah putih, dan bantal besar yg ditaruh di perutku. aku terlihat gendut sekali, sungguh lucu. aku juga mengenggam sekarung kado untuk dibagikan kepada mreka nanti.



aku melihat mereka sudah kelelahan mencariku. aku berjalan keluar dengan mengendap ngendap.





‘’halo anak anak’’ sapaku dengan suara yg dibuat mirip dengan santa claus



‘’hahhahhaahhaa’’ semua anak tertawa melihatku. apalagi ify ia terkikik smbil menggelengkan kepala.



‘’ada yangg mau kado?’’ tanyaku



‘’mauu’’ teriak smuanya.



‘’kita kedalam aja, ya’’ kata ify





ku lirikan bola mataku yang berwarna coklat mengkilat ke arah jam digital berwarna hitam. sudah menunjukan 24.00. aku mengembangkan senyum manis, inilah saatnya malam natal tiba. aku berdiri di dekat pohon natal lalu menancapkan bintang emas berukuran besar di pucuk pohon natal. ku menutup mata lalu berdoa kepada tuhan dan berkata





‘terimakasih atas keajaibanmu’





semua anak bersorak gembira menyambut malam natal ini, tawa lepas dan pancaran senyum keindahan melekat di wajah polos mereka. aku mengajak anak panti menyanyikan lagu yang diriringi oleh nada nada indah yang diciptakan dari setiap tekanan tuts piano ify.



‘’we wish you mary cristmash and happy new year’’





aku membagikan sebuah kado kepada masing masing anak. mreka terlihat sangat senang menerima kado tersebut. aku menggenggam erat jemari ify membawanya berjalan ke arah taman.





‘’kamu lucu deh yo, pake janggut begitu’’ tawa ify



‘’ahh ify mah ngeledekin terus’’ kataku purapura ngambek



‘’kan aku Cuma becanda rio sayang’’ katanya smbil mencubit pipiku





ify.. bagaimna bisa aku rela menggantikan tawa itu dengan butiran air mata. bagaimmna bisa aku meninggalkan dy sndiri di bumi yg penuh derita ini. bagaimana bisa aku melepas belaian hangatnya yg selalu setia menyentuh lembut kulit tubuhku.



aku dan ify duduk di atas hamparan rumput yg sudah tertutupi butiran salju yg berwarna putih bersih. kami menatap ke arah langit, melihat beribu ribu tetes salju turun dari langit, aku mengadahkan tangan menyentuh setetes salju yg trasa dingin dan basah. hawa dingin masuk menusuk tulang belulangku, membuat kulit tubuhku terasa membeku.



aku tdurkan kepalaku di atas kaki ify, merapatkan tubuhku dengan tubuhnya. ify membelai rambutku dengan lembut. aku menatap lekat lekuk wajahnya yg sangat cantik. senyum indah terus terukir di wajahnya. senyum yg bisa membuat hatiku luluh. ahh .. tiba tiba aku mrasakan kpalaku terasa sakit yg begitu hebat, badanku serasa kaku. aku mencoba menahan rasa sakit ini demi ify.





‘’ify..’’ panggilku



‘’iyya yo’’ jwabnya



‘’i love you forever’’ bisiku



‘’i love you too rio’’ jwabnya.





aku sudah tak kuat menahan rasa sakit ini. kepalaku bagai tertusuk beribu jarum tajam, badanku bergetar pelan, tenggorokanku rasanya tercekat, tak mampu mengucapan sepatah katapun. hanya erangan kecil yang terdengar dari bibir manisku.



‘’arrgghh’’ aku mengerang pelan berusha agar ify tak mndengarnya. ternyata aku salah.



‘’yo..kmu knapa?’’ tanyanya dengan raut wajah yg terlihat sangat cemas



‘’sakit fy’’ jwabku pelan



‘’aku tlpon dkter alvin yah? atau aku panggil ambulane? tunggu bntar yya yo, kmu yg sabar ya’’ kata ify khawatir. aku

meletakan jari telunjuku di depan bibir merahnya.



‘’aku hanya butuh kmu’’ kataku





ify memeluku dengan hangat. air matanya sudah pecah tak dpat ia tahan lagi. mungkin ini adlah pelukan trakhirnya untuku. aku mengatur nafasku yg sudah tersenggal senggal. aku tak kuasa lagi menahan semuanya. mungkin keajaiban natal hanya sampai detik ini bukan untuk selamanya. tapi aku berterimkasih krna aku bisa mrasakan malam natal yangg trakhir kali dhidupku bersma dengan orang orang yg kucintai. saat ini aku hanya bisa pasrah terhadap keputusan tuhan.





‘’fy..ii...loo...vvee..yyo....yoouu..’’ kataku terputus putus dan terbata bata.





ify memegang tanganku, meyentuh denyut nadiku yg sudah tak berfungsi lagi. menekan dadaku yg sudah tak berdetak lagi, merasakan hembusan nafasku yg sudah tak berhembus lagi. ia menangis dan menjerit sejadi jadinya. ia memeluku lagi, mengusap pelan rambutku, dan mengecup lembut bibir pucatku. semua anak panti dan bunda ira juga turut mengeluarkan air mata, menghantar kepergianku ke atas sana.



+





25 Desember 2010





hari ini seharusnya adlah hari kebahagianku, hari ini seharusnya adlah perayaan natal yg sesunguhnya di seluruh belahan dunia, hari ini seharusnya aku berdiri tegak di gereja mengahadap tuhan yesus yang maha kuasa sambil melantunkan lagu suci untuknya, hari ini seharusnya aku mengembangkan senyum indah untuk semua orang yang kusayang, hari ini seharusnya aku berkumpul bersama anak panti merayakan natal.





tapi beginilah akhir kisah hidup seorang Mario Stevano Aditya Haling. berakhir di sebuah peti hitam yg mengkilat, aku tertidur pulas bukan untuk sementara tapi untuk selama lamanya, untuk seumur hidup. yya.. aku sudah pergi terbang ke atas sana berlari menuju ajalku, meninggalkan mreka semua yg aku sayangi. diiringi dengan deraian air mata ketidakrelaan dan lantunan doa suci yg begitu tulus terucap.





dari atas sini aku bisa melihat gadis yg kucintai sedang terluka, ia sedang bersedih disana krena kpergianku. ia sedang menangis tersedu di depan ragaku yg sudah tak bernyawa. aku berdiri di sebelahnya smbil tersenyum manis. kucoba membelai rambut indahnya dan mengecup lembut keningnya, berusaha menenangkannya. tapi apakah dy bisa melihat senyumanku ? apakah dy bisa merasakan lembut belaian kasihku ? apakah dy bisa merasakan hangat indahnya kecupanku ?





ahh.. pasti dy tidak merasakan apapun, aku lupa kini aku sudah berbeda dunia dengannya, aku bukan lagi seorang manusia yang memiliki wajah tampan, aku bukan lagi seorang manusia yang memiliki raga dan jiwa. aku harus merelakannya. tpi apa aku bisa tenang pergi ke atas sana dan melihatnya berderai air mata ? tapi biar bagaimanapun aku harus tetap pergi krena inilah takdirku. ini sudah jalan hidupku, aku tak bisa melanggarnya. semakin lamaku berdiri disini semakin sakit hati ini.




‘selamat tinggal iify, i still love you forever’


+

Dia dan Hujan (repost)

“Hatchiii…..hhhh……Hatchiiiii…..”

Srrrrrttttt…..

“Hatchiiii…..”

Srrrrrttt…..

“Lo pasti ujan-ujanan lagi ya?”

Fay masih terus mengusap-usapkan tisu ke hidungnya yang entah sudah habis berapa lembar untuk menghapus ingus yang ga mau berhenti keluar dari hidungnya.

“hehe….”
Fay cuma nyengir sambil melirik sedikit pada Alvin yang duduk di sampingnya.

Alvin geleng-geleng kepala melihat hidung sahabatnya yang memerah karena terus-terusan diusap.

“Kayak anak kecil aja sih lo kerjaannya ujan-ujanan. Udah SMP gini masa masih suka lari-larian di tengah hujan.”

Fay hanya tersenyum masih dengan menggosok-gosok hidung melernya dengan tisu.

Jam kosong adalah saat yang paling menyenangkan. Mereka bebas dari tugas dan pelajaran yang membosankan. Alvin dan Fay duduk di bangku semen di bawah pohon beringin depan kelas mereka.

Alvin dan Fay sudah bersahabat dari kelas 1 SD. Mereka tetanggaan dan dulu satu SD. Dan karena jumlah muridnya yang hanya 17 orang tiap tingkat, walhasil tidak ada pengacakan kelas di setiap pergantian tahun pelajaran. Jadi Alvin dan Fay selama 6 tahun sudah sekelas. Sedangkan di SMP, entah itu keajaiban atau jodoh, yang pasti mereka satu kelas lagi.

Alvin paham betul seperti apa sifat Fay. Begitu juga sebaliknya. Fay yang tomboy dan Alvin yang super duper cool.

Fay masih konsentrasi dengan hidungnya yang benar-benar menyiksa. Biasanya dia tidak pernah flu kalau habis hujan-hujanan. Tapi mungkin kali ini daya tahan tubuhnya sedang turun.

“Fay!!!!!”

Fay yang sedang berkonsentrasi tiba-tiba dikagetkan dengan bentakan Alvin dan tangan Alvin yang tiba-tiba memegang lutut Fay.

Alvin menyatukan kedua lutut Fay yang tadi sempat ngangkang padahal dia pakai rok.

“Lo tu duduk yang bener dong!!!”

“Sory Vin sory….”
Srrrrttt….
Fay hanya menengok sebentar pada Alvin lalu meneruskan kembali aktivitas mengelap ingusnya.

“Ah elo….jadi cewek duduk yang rapet nape sih…ngga enak banget tau diliatnya. Di depan sono tuh rame tau ngga.”
Alvin masih melotot pada Fay yang sekarang sudah merapatkan duduknya.

“Iye iye Vin….bawel deh…”

“Iissshhh…kebiasaan…” Alvin menoyor pelan kepala Fay.

“Eh…eh..eh…..gue usapin ingus lo…” Fay mendekatkan tisu bekas ingusnya pada Alvin yang langsung duduk menjauh dengan wajah jijik.

“Ihh….Fay….jijik tau….”

“Hahaha…”
Fay malah ketawa cekikikan liat muka Alvin yang bergidik sambil liatin tisu yang dia acung-acungkan.

Fay membuang tisunya ke tempat sampah di dekat kakinya dan mengambil tisu baru yang langsung dia usapkan lagi ke hidungnya.

“Lo tu kenapa sih suka banget sama ujan? Orang cuma aer kayak gitu doang girang banget sih lo liatnya?”

“Hmmmm…..”
Srrrtttt…..
“Hatchiiiii…..”

“Tapi perasaan tiap kali ada ujan lo juga ga selalu ujan-ujanan….Belakangan ini ujan terus tapi baru kemaren lo keliatan lari-larian di bawah ujan…”

“Hmmm….”

“Heh….elo ditanyain jawabnya ham hem ham hem mulu.”
Alvin manyun pada Fay yang sama sekali tak meliriknya.

“Lo ngga liat gue lagi sibuk ngelap ingus? Nyiksa banget nih. Elo sebagai sahabat gue dari kecil harusnya lo ngerti dong. Gue butuh pengertian Vin. Kalau lo terus-terusan maksa gue, gue ngga bisa. Gue capek dengan semua ini Vin….” Fay bicara dengan nada mendayu-dayu dan mimik memelas. Ia mengatupkan telapak tangan kanannya di jidat sementara tangan kirinya memegang tisu yang ia tutupkan ke hidung.

“Lebay…lebay ah….” Alvin menoyor pipi Fay lumayan keras.

“Hahaha….”
Fay makin cekikikan liat muka Alvin yang sebel sebel gemes ke dia.

“Eh, Fay…lo udah gapapa kan karena masalah kemaren? Mmmm….sory gue ga bisa bantu apa-apa. Gue telat sih datengnya. gue ngga nyangka Cakka bakal tega nampar lo cuma gara-gara lo ngalangin jalannya dia.”

“Hmmm….”

“Lo boleh tomboy, tapi kalau ada apa-apa lo tetep musti crita ke gue. Bagi tu beban lo sama gue. Jangan sok kuat. Jangan-jangan lo sok tegar tapi ternyata lo nyampe rumah nangis. Hahaha….”
Alvin bicara dengan nada meledek pada Fay.

“Yeee…..cewek kaya’ gue ngga gampang nangis tau…”
Fay melakukan pembelaan.

“Iya iya….tapi bukan berarti cewek tomboy ngga boleh nangis. Lo kan cewek. Yang namanya cewek tu perasaannya peka. Dan lo pasti butuh sandaran kalau lagi ada masalah. Dan gue siap jadi tempat curhat lo. Kita kan sahabat.”

“Apaan sih lo Vin….menye-menye banget lo. Kayak ngga tau gue aja. Gue ini mau lahir cowok kagak jadi. Lo tau bener kan sifat gue dari kecil kayak gimana? Pantang gue menye-menye kaya gitu.”

“lo tu ka….”

“Vin masuk yuk….dingin nih berasanya disini. Gue kan lagi flu. Ngga boleh kena udara luar sembarangan.”
Fay langsung beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kelas.

“Woe Fay….gue ngajak lo ngomong. Kok malah ngeloyor sih?”
Alvin menyusul Fay yang sudah berjalan duluan.

>>>>>>>>>>

Rabu, 23 Juni pukul 16.15

“Mantab Fay.”
Mulut Alvin penuh dengan kue lapis buatan mama Fay yang masih hangat.

“Mau gue bungkusin buat lo bawa pulang?”
Fay juga asik mengunyah gorengan dan cabai yang terasa nikmat dimakan saat suasana mendung begini.

Sore ini Alvin dan Fay mengabiskan waktu dengan nongkrong santai di teras rumah Fay setelah mereka berdua mengerjakan PR Kimia bersama. Setiap kali ada PR Kimia Fay selalu minta tolong pada Alvin untuk mengajarinya karena memang pelajaran itulah yang paling memusingkan buat Fay dan paling menyenangkan untuk Alvin.

Tik….
Tik…
Tik….

“yah ujan….” Alvin menghentikan kegiatan mengunyahnya dan berdiri menuju tepian teras. Ia menengadahkan tangannya ke atas dan benar saja, Setetes demi setetes air jatuh membasahi telapak tangan Alvin.

Diawali dengan titik-titik air, gerimis, dan akhirnya hujan turun lumayan deras.

“wah…..kesenengan lo nih Fay…..”
Alvin kembali duduk di samping Fay yang masih asik mengunyah Bakwan.

“Lo ngga beraksi?” Alvin memandang Fay yang tak beranjak sedikitpun dari duduknya.

“Hah?” Fay menoleh pada Alvin sambil menggigit cabai untuk menambah nikmat bakwan hangatnya.

“Lo ngga maen ujan kayak biasanya?”
Alvin mengulangi kembali pertanyaannya.

“Ngga ah…”

Alvin mengernyitkan dahi karena heran tumben Fay tak tertarik main hujan-hujanan.

“Kenapa? Bukannya lo suka banget sama hujan?”

“hmmm…..”
Fay hanya menyahut dengan gumaman pelan. Matanya menatap titik-titik air yang menetes dari ujung-ujung lekukan atap rumahnya.

Alvin yang melihat Fay benar-benar tidak berhasrat untuk hujan-hujanan akhirnya kembali mencomot kue lapis yang tinggal 4 potong di piring. Mereka kembali tenggelam dalam diam diiringi suara tumbukan air hujan dengan atap yang menambah syahdunya sore itu.

>>>>>>>>>>

Rabu,30 Juni pukul 09.00

“Buset dah….Alvin ngilang kemana sih? Giliran gue lagi butuh banget aja dia ngilang. Lo dimana sih Vin?”
Fay menggumam sendiri di sepanjang jalannya menyusuri lorong sekolah mencari-cari sosok Alvin yang tak juga ditemukannya.

Sudah hampir 10 menit Fay jalan kesana kemari celingak celinguk nyariin Alvin yang tadi pamitnya mau ke toilet bentar tapi ga balik-balik juga sampai sekarang.

Fay berjalan di sepanjang deretan kelas VIII dan celingak-celinguk kalau-kalau Alvin nyasar ke ruangan kakak kelas. Segalanya mungkin saja terjadi kan?

Tapi langkah Fay terhenti saat matanya tertumpu pada sosok yang sedang berdiri mengendap-ngendap di depan pintu ruang kesenian.

Sosok itu sembunyi di balik pintu dan mengintip ke dalam melalui kaca persegi kecil di tengah-tengah pintu.

“Alvin?”
Fay berjalan menghampiri Alvin yang entah sedang apa di depan ruang musik.

“Vin lo ngapain?”
Bukannya menoleh, Alvin malah mengacungkan telapak tangan kirinya pada Fay yang sudah berdiri di belakangnya sementara dia sendiri masih tetap fokus mengamati sesuatu melalui kaca kecil itu.

“Lo liat apaan sih Vin?”
Fay menepuk pundak Alvin yang tak juga berpaling padanya.

Tapi Alvin justru melambaikan tangan kirinya mengisyaratkan agar Fay ikut mengintip.

Fay pun mendekat dan ikut-ikutan melongok melalui kaca kecil di pintu.

Fay mencoba menemukan apa yang sedang dipandangi Alvin. Matanya mengitari seisi ruangan yang kosong tak ada seorangpun, kecuali…..

“Ify?”

“sssstttt….” Alvin mendekatkan telunjuk kiri ke mulutnya menyuruh Fay diam.

“Lo liat? Gila…..keren banget ngga sih main pianonya? Asli tuh anak…udah cantik, baik, pinter maen piano pula. “ Alvin masih fokus memandangi Ify sampai tiba-tiba sebuah jitakan mendarat di kepalanya.

“Wooooo….dasar lo tu ya….Kalo Ify aja lo puji-puji. Giliran gue aja lo omel-omelin.” Fay manyun di samping Alvin yang sama sekali tak menggubrisnya.

“Beda Fay….Ify tuh cewek banget….tipe gue banget dah….”
Alvin bicara masih dengan tatapan fokus pada Ify.

Ctakkk!!!!
Satu jitakan mendarat lagi di kepala Alvin. Kali ini cukup keras dan sukses membuat Alvin akhirnya menoleh pada Fay.

“Aduh….sakit Fay…” alvin melotot pada Fay yang masih manyun.

“dasar ngga gentle lo. Kalau lo suka terus ngapain lo ngendap-ngendap kayak kucing mau nyolong ikan gini? Masuk aja kali. Terus lo tepuk tangan. Lo puji deh tu permainan pianonya. Dia bakal klepek-klepek sama pujian lo, terus….”

“Terus gue tembak dia. Jadian deh gue sama Ify….”

Pletakkkk!!!!
Jitakan ketiga kembali mendarat di kepala Alvin.

“Dasar lo tu ya. Ga mutu… Omong doang… Talk less do more Bro…”
Fay berkacak pinggang di depan Alvin yang masih mengusap-usap kepalanya bekas dijitak Fay.

“Eh….“
Fay berekspresi seolah teringat sesuatu.
“gue tu butuh lo Vin. Gue nyariin lo kemana-mana taunya lo nangkring disini. Gue butuh bantuan lo nih. PR Fisika gue kurang 2 nomer. Bantuiiiinnnn…..”
Fay menarik tangan Alvin menjauh dari ruang kesenian.

“Eh eh eh…gue masih pengen liat Ify maen…”
Alvin mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Fay.

“Halah…..ntar klo PR gue udah selesai lo balik lagi aja kesini. Cepetan ayo….”
Fay menarik Alvin dengan lebih kuat dan akhirnya membuat Alvin terpaksa menurut dan meninggalkan Ify yang masih menekan tuts-tuts pianonya dengan anggun.

>>>>>>>>>>

Pukul 17.00

Hujan baru saja turun beberapa menit yang lalu. Bau tanah yang terguyur air masih menyisakan kesejukan di hati warga komplek Joglo sore itu.

Alvin duduk menghadap jendela yang langsung mengarah ke jalanan. Ia memangku gitarnya dan sesekali mencoba memetik senar-senar sesuai kunci yang tertulis di kertas yang baru saja ia Print. Dari komputer.

Alvin berkali-kali mengulang petikan gitarnya karena merasa bunyi yang dihasilkan kurang pas. Wajahnya penuh konsentrasi berusaha memperoleh nada yang pas untuk memainkan lagu Favorite Girl nya Justin Bieber.

Pandangannya yang terfokus pada senar gitar tiba-tiba saja teralih karena ia menangkap sosok Fay yang sedang berjalan keluar dari pintu rumahnya.

Fay berhenti sejenak di depan pintu. Sesaat kemudian ia melangkah menuju halaman depan dan keluar di tengah hujan yang cukup deras.

Fay berdiri di tengah-tengah halaman rumahnya dengan wajah menengadah ke atas dan mata terpejam menantang hujan.

Alvin mengamati Fay dengan dahi berkerut. Ia masih belum mengerti kenapa sahabatnya itu sangat menyukai hujan.

Wajah Fay sudah tak lagi menengadah ke atas. Sekarang pandangan matanya lurus menatap jalanan depan rumahnya.

“Fay!!!!!”
Alvin meletakkan gitarnya dan mendekat ke arah jendela lalu memanggil Fay.
Fay tampak kaget dengan teriakan Alvin.

Fay sontak menoleh. Setelah berusaha menajamkan penglihatannya yang agak buram karena air hujan, akhirnya dia bisa menangkap sosok Alvin yang berdiri di balik jendela sambil memandangnya. Fay melempar senyum pada Alvin.

“Hay!!!!”
Fay melambaikan tangannya pada Alvin. Alvin balas melambaikan tangan.

“Awas sakit lagi!!!!” Alvin kembali berteriak.

Fay hanya membalasnya dengan senyuman. Fay melambaikan tangan pada Alvin dan dia kembali menengadahkan wajahnya ke atas sambil merentangkan tangan dengan mata terpejam. Beberapa detik Fay tetap bertahan dalam posisinya dan sesaat kemudian dia mulai berdiri mematung menatap jalanan di depannya. Sejenak kemudian ia mulai berlari kesana-kemari sambil tersenyum-senyum sendiri. Terkadang mulutnya komat-kamit seolah melantunkan sesuatu.

Alvin tersenyum dari balik jendela mengamati tingkah sahabatnya itu.

>>>>>>>>>>

Selasa, 10 Agustus pukul 13.45

Fay dan Alvin menyusuri jalanan dari sekolah menuju rumah mereka. Hari ini susah sekali mendapatkan angkot untuk pulang karena para supir angkot berdemo kenaikan harga BBM. Saat-saat seperti ini memang paling menyebalkan bagi pelajar seperti mereka. Mereka harus berjalan dulu ke terminal baru bisa menemukan kendaraan untuk pulang. Itupun mereka harus naik bis yang tarifnya sedikit lebih mahal daripada angkot.

“Ah elah….pake demo segala nih angkot. Bikin ribet aja sih….”
Alvin berjalan dengan muka ditekuk tujuh sambil menendang-nendang botol plastik yang ditemuinya di jalan.

“Tau nih…..”
Fay ikut-ikutan mengeluh sambil mengusap keringat yang tetap saja mengucur walaupun hari tidak sedang panas. Tentu saja Fay berkeringat. Mereka berjalan hampir 1 kilometer. Langit memang sedang mendung tapi energi yang digunakan untuk berjalan lumayan membuat mereka ngos-ngosan.

“Aduh……”

“Kenapa Vin?” Fay sontak menoleh pada Alvin yang sedang menengadahkan tangannya ke atas.

“Mau ujan Fay….”

“Waduh….ayo cepetan ntar keburu deres.”
Fay berlari kecil diikuti dengan Alvin.

“Biasanya lo girang banget klo ada ujan?”

Fay terus berlari tanpa mempedulikan pertanyaan Alvin. Dan benar saja, baru beberapa meter mereka berlari, hujan turun dengan derasnya.

“Waaaaaaa!!!! Neduh dulu disana ya Vin….” Fay terus berlari sambil menunjuk sebuah toko tutup yang di depannya cukup nyaman untuk berteduh.

“Ho’oh…”
Alvin mengikuti Fay dari belakang.

Akhirnya mereka sampai di depan toko yang mereka tuju. Fay langsung melepas tasnya dan mengibas-ngibaskan sedikit roknya yang basah.

“Tumben lo ada ujan lari? Biasanya malah mainan….”

“Basah nih baju gue….capek tau ngga nyucinya. Lagi males nyuci gue.”

“Yah…” Alvin ikut meletakkan tas. Ia melepas baju atasannya karena memang dia selalu pakai rangkapan kaos kalau ke sekolah.

“Eh Vin, ada angkot !!!! Buseet…..satu-satunya nih Vin!!!!”
Fay berteriak heboh sambil menunjuk angkot kuning yang mendekat beberapa meter di depan mereka.

Fay melambai-lambaikan tangannya dengan gaya tomboinya pada supir angkot yang semakin mendekat.

Tapi na’as angkot yang mereka stop malah bablas tanpa berhenti sdikitpun untuk mereka.

“Woiiiiii…..angkot woiiii!!!! Woiii!!!! Ah..rese lo!!!! Woeee!!!! Ah…gue hajar juga lo!!!!”
Fay mengacung-acungkan kepalan tangannya pada supir angkot yang mungkin sama sekali tak mendengar umpatan Fay sedikitpun.

“Udahlah Fay. Udah jauh juga.”

“Lo gimana sih Vin? Itu angkot satu-satunya. Lo malah santai-santai aja.”
Fay masih melongok-longok ke arah angkot itu pergi.

“Ya elonya juga. Kalau mau nyetop angkot tu agak majuan dikit sono di pinggir jalan. Disini mana keliatan. “

“Males ah gue ujan deres gini.” Fay kembali memeras-meras roknya yang basah. “Ah…dasar elo Vin. Mending gue ada usaha daripada elo…”

“lagian tumben-tumbenan banget sih lo males kena air hujan?”

“Terus kita pulang gimana dong? Terminalnya masih jauh. Gue ngga bawa payung.”

“Yaudah kita tunggu aja nyampe reda kalau lo ngga mau nekat.”
Alvin mengibas-ngibaskan seragam sekolahnya yang lumayan basah.

“Ah…..rese emang tuh angkot.”
Akhirnya Fay duduk bersandar pada pintu toko itu. Merekapun akhirnya menunggu sampai hujan reda.

>>>>>>>>>>

Sabtu, 21 Augustus pukul 16.00

Alvin : “Fay….gue ke rumah lo ya sekarang….”
Fay : “ngapain?”
Alvin : “ada deh. Ntar gue ceritain…ya ya ya….”
Fay : “oke gue tunggu…”
Alvin : “Oke…dah Fay…”

Tut…tut…tut….
Telepon ditutup dari seberang. Fay mengerutkan kening karena bingung dengan Alvin yang tak biasa-biasanya girang banget.

Fay berjalan menuju teras rumahnya dan duduk menunggu Alvin. Langit tampak mendung. Sepertinya akan turun hujan.

Tapi hampir 10 menit Alvin tak juga datang.

“Tuh anak berangkat dari mana sih? Orang rumah cuma di depan ini.”
Fay melongok menatap rumah Alvin di kejauhan. Tak tampak Alvin keluar dari pintu rumahnya.

“Fay!!!”
Fay sontak menengok ke sumber suara. Tampak Alvin dengan motornya memasuki halaman rumah Fay.

“Lo dari mana Vin rapi amat? Gue pikir lo dari rumah.”

Alvin tak menjawab. Dia memarkir motornya sembarangan di halaman rumah Fay dan bergegas menghampiri Fay. Wajahnya tampak berseri sekali. Senyumnya tak lepas dari bibirnya. Baru saja dia sampai di hadapan Fay tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.

“Yah ujan….”
Alvin balik badan dan kembali ke motornya. Ia memindahkan motor kesayangannya ke garasi rumah Fay lalu kembali ke hadapan Fay masih dengan senyum terkembang.

“Lo kenapa Vin? Kayak dapet duit sekarung.”

Alvin masih tetap melempar senyum pada sahabatnya yang menatapnya dengan heran.

“Coba tebak….”
Alvin semakin membuat Fay penasaran dengan wajah jahilnya.

“Apa sih Vin? Cepetan deh…. Gua tonjok juga lo bikin gue penasaran.”

“Hahaha…..”
Alvin malah tertawa mendengar gertakan Fay. Wajah Alvin benar2 tampak merekah hari ini. Jarang-jarang Fay melihat Alvin seheboh ini.

“ehm…ehmmm….”
Alvin sok ngambil nada dasar seperti pejabat yang akan pidato.
kemudian dia diam dengan wajah serius dan perlahan mulai bicara…

“gue……“

“gue…..“

“gue……”

Pletakkkk!!!!
Belum sempat Alvin ngomong, Fay sudah menjitaknya dengan lumayan keras.

“gua gue gua gue….apa sih?”

Alvin menggosok-gosok kepalanya yang lumayan puyeng dijitak sama Fay.

“Gue jadian sama Ify!!!!!!!!”
Alvin melonjak-lonjak kegirangan di depan Fay sambil mengacung-acungkan kepalan tangannya ke udara tanda kemenangan yang sudah lama dia nanti-nantikan.

Fay menatap Alvin yang masih terus menari-nari kegirangan di depannya.

“Tau ngga sih Fay…gue tadi ke toko buku dan gue ketemu Ify. emang jodoh tuh kita. Kita berdua ngobrol, ngobrol dan ngobrol dan entah gue kerasukan setan apa tiba-tiba gue nembak dia. Dan lo tau Fay…..dia langsung nerima gue…..gila Fay….gila…..”

Alvin berputar-putar dengan girangnya di depan Fay yang masih menatapnya.

“Gue seneng Fay….gue seneng….”
Alvin menggenggam tangan Fay dan mengajaknya menari-nari tapi Fay hanya diam memperhatikan Alvin yang sepertinya benar-benar tidak bisa mengendalikan luapan kebahagiaannya. Alvin berlari kesana kemari di teras rumah Fay. Mata Fay mengekor kemanapun Alvin melangkah.

Tiba-tiba Fay berjalan ke arah halaman.

“Kemana Fay?”
Alvin yang melihat Fay sontak menghentikan loncatannya dan menatap Fay dengan dahi berkerut.

Fay terus berjalan keluar teras. Fay menuju halaman menantang hujan. Sekarang Fay berdiri di tengah-tengah halaman dengan guyuran hujan yang cukup deras sambil menghadap ke arah Alvin yang masih memandangnya dari teras.

Fay tersenyum.

“Selamat ya Viiiiinn!!!!!” Fay berteriak pada Alvin dari halaman mengalahkan suara hujan.

“Sini!!!!! Kita rayain disini!!!”
Fay melambaikan tangannya pada Alvin yang masih berdiri terpaku di teras.

Alvin yang sedari tadi bengong akhirnya tersenyum.

“Gue disini aja Fay…gue ngga suka ujan….gue nari dari sini aja ya!!!!”

Fay tersenyum pada Alvin. Perlahan Fay mulai menengadahkan wajahnya dan merentangkan tangan. Lalu dia mulai berputar-putar dan berlari mengelilingi halamannya.

Alvin yang melihat tingkah Fay pun akhirnya kembali meloncat-loncat kegirangan dan kembali menari-nari di teras rumah Fay. Walaupun mereka berjauhan tapi mereka seolah menari bersama.

Fay mengikuti gerakan Alvin yang melompat-lompat sambil berputar-putar.

Mata Fay menatap senyum sahabatnya yang terkembang.

Alvin terus menari. Namun, perlahan Fay berhenti berlari. Ia menari di tempat dan perlahan gerakannya semakin pelan. Fay menghentikan gerakan kakinya. Dia hanya menggerak-gerakkan tangannya sampai akhirnya dia berhenti menari. Dia hanya tersenyum menatap Alvin yang masih menari-nari. Fay terpaku dengan matanya terus menatap senyum sahabatnya. Ia menatap wajah bahagia sahabatnya. Fay tersenyum menatap Alvin.

Hujan…..

Aku suka hujan….

Karena….

Hanya dibawah hujan lah….

Air mataku takkan tampak…..







By: Fay

Aku hanya bisa menangis dibawah hujan.
Aku hanya akan menari bersama hujan jika aku ingin menangis.
Karena hanya di bawah hujanlah air mataku takkan tampak….
Dengan begitu aku tak perlu menunjukkan diriku yang lemah
Hujan akan membawa air mataku bersama alirannya.
Tapi sayang…
Ia tak bisa membawa masalahku juga….

Aku akan menari bersama hujan jika hatiku merasa tersakiti
Aku akan menari bersama hujan jika aku merasa gundah dan sedih
Aku akan menari bersama hujan….Jika kau menyebut namanya.
Andai hujan mampu membawa perasaan cintaku ikut pergi bersama alirannya….


Minggu 13 Juni

Aku benci hari ini. Sakit hati aku, Di. Kok Cakka tega banget sih nampar aku. Aku ngga nyangka Cuma gara-gara satu kalimatku itu Cakka bakal marah besar sama aku. Coba tadi Alvin dateng lebih cepet, pasti dia bakal ngebelain aku. Ngga kaya anak-anak laen yang malah ngejadiin aku tontonan gratis.
Asli sakit banget ati aku, Di. Tapi gapapa lah. Aku udah puas nangis hari ini. Ya seperti biasa, rain is the best way to cry.


Rabu, 30 Juni

Aku ga tau mesti bersikap gimana di depan Alvin. Aku terlalu takut untuk mengatakan perasaanku yang sebenarnya. Aku hanya pengen liat dia senyum. Liat dia bahagia.
Kapan ya kira-kira aku bisa jujur sama Alvin. Ga Cuma sok senyum bahagia waktu dia muji Ify di depanku.ngga tahan banget aku, Di, pengen nangis.Tapi bodoh ya aku. Malah cengengesan di depan Alvin. Munafik emang aku ini.
Andaikan dia bisa ngliat air mataku sore tadi. Ahh…bahkan saat menangispun aku akan tetap tersenyum jika dia melihatku.
Apa dia ngga ngrasain apapun saat liat aku ujan-ujanan tadi. Apa dia ngga ngrasain tatapan sakit hatiku ke dia.
Vin…Vin….kayaknya emang sampai kapanpun kamu ngga akan tau alasan kenapa aku suka hujan. Kalau kamu tau, mungkin semuanya ngga akan sesulit ini.

Pentas 14 desember





Pentas 14 DESEMBER 2008


MINGGU 14 DES 2008 RCTI 12:30

Cakka akan pentas bareng 2 teman: Selli dan Debo. Mereka adalah sahabat Cakka semua. Tapi dalam pentas kali ini salahsatu diantara bertiga harus tinggal kelas. Aduuhh... Cakka gag ngerti siapa ya diantara kami ini yang akan masuk 14 Besar Idola Cilik 2 menduduki Bintang ke13 dan ke14????????
Cakka akan menyanyikan lagunya Peterpan: Khayalan Tingkat Tinggi, lalu duet dengan ayah membawakan Disco Lazy Time (Nidji). Selain itu Cakka harus ngapalin juga lagunya kakak-kakak The Changcuters 'I-luv-u-bibeh', kerna nanti salah satu diantara bertiga akan dipilih juga untuk nemenin kakak2 Changcuters - nggak beda seperti pentas sebelumnya - ketika Cakka dipilih menemani kak Rizky The Titans menyanyikan 'Rasa Ini' 6 Desember lalu.

Kali ini Cakka akan tetap berusaha tampil sebaik-baiknya. Siapa nanti yang bakal masuk, bagi Cakka adalah tergantung hasil poling sms dari semua teman-teman...

Cakka masuk 42 Besar adalah sebuah anugerah...
Kemudian bisa masuk 35 besar dengan voting sms tetinggi (22.74%) juga merupakan anugerah...
Begitu pula saat bisa mendapat voting sms tertinggi kembali (40.16%) masuk putaran 28 Besar juga sebuah Anugerah...
Dan ketika berhasil meraih kembali bintang biru dengan voting 40,11% saat menuju 21 Besar caka merasakan itupun anugerah...
Banyak sekali anugerah-anugerah yang Cakka terima selama hampir sebulan ini... Betapa senangnya bisa disayang oleh banyak orang, banyak teman, banyak sahabat. Dan Cakka rasakan semua itu diberikan oleh teman-teman sahabat Idola Cilik dari seluruh tanah air bahkan teman-teman dari Luar Negeri pun. Terimakasih teman-teman...

Akhir-akhir ini Cakka seperti terlambung karena sangat banyak menerima pujian dan dukngan dari teman-teman. Dan Cakka ingin sekali bisa mengucapkan terimakasih kepada semua secara satu-persatu. Tapi itu dalah hal yang tidak mungkin. Jadi lewat blog ini Cakka menulis dengan bimbingan kakak, ayah, dan kerabat2 dekat Cakka ingin mengucapkan TERIMAKASIH...TERIMAKASIH...dan TERIMAKASIH.... kepada semua yang menyayangi Cakka dengan memberikan support dan dukungan kepada Cakka dalam usaha MERAIH IMPIAN Cakka selama ini.

Lewad Blog ini pula Cakka ingin mohon maaf kepada beberapa teman yang merasa kecewa dengan penampilan-penampilan Cakka yang belum dan sangat jauh dari Sempurna. Lewat blog ini juga Cakka minta maaf kepada teman-teman yang mungkin merasa Terluka ataupun marah karena Cakka dianggap tidak merespon komentar di FS/FB/Fansite juga SMS lewad hape.
Sesungguhnya Cakka sangat ingin bisa memberikan respon satu persatu kepada semua teman-teman. Tapi hal itu tidaklah mungkin. Tangan Cakka Cuman dua, comment yang datang mengalir mencapai 400 lebih setiap harinya, sementara kalau di FS hanya diberikan kuota atau limit menjawab 100 Testimoni perhari, dan ketika sudah habis jatah 100 maka Cakka hanya bisa memandangi halaman demi halaman membacanya tanpa bisa melakukan balasan apapun.
Bagitu pula di SMS yang masuk ke hape Cakka, pernah mencapai angka 4417 sms dalam sehari. Untuk menampung sms sejumlah itu saja memerlukan waktu berjam-jam proses update SMS masuk, bahkan hingga pukul 23 malam baru bisa masuk semua - selama proses update hape cakka tidak bisa dipergunakan, karena hanya ada layar putih dan icon jam pasir muter-muter terus.
Dan ketika melihat jumlah sms tersebut, cakka hanya bengong dan bingung dengan apa yang harus cakka lakukan... Menjawabnya satu persatu? Tidak Mungkin! butuh berapa hari untuk melakukannya. Menjawabnya yang penting2 saja? TIDAK! Karena semua Cakka anggap penting. Pada akhirnya Cakka harus menerima keputusan Management Cakka untuk tidak ada setting sms di hape Cakka, dan hanya boleh menerima telepon saja, dan setiap telepon masuk WAJIB DIANGKAT pada saat memungkinkan.
Dengan keputusan inipun juga muncul masalah baru. Selain ada yang telepon malem2 bahkan jam 2 pagi... berkali-kali bahkan sering Cakka menerima telpun tapi terus dimatikan dari sana. Misscall... Hmmm...
Dengan menulis di blog ini Cakka cukup merasa lega, dan sudah siap menerima dikatakan sombong atau apapun... karena memang demikianlah kenyataannya...

Terimakasih kepada teman teman yang sudah membaca blog ini dan bisa mengertiin Cakka. Mohon maaf bila ada kekurangannya. Seperti lagunya SimplePlan:Perfect, Cakka tidaklah Sempurna. Walau demikian Cakka ingin bisa berbuat sesuatu dengan maksimal. Bila hasilnya tidaklah sempurna mohon dimaafkan.

Kembali ke perjuangan Cakka dalam MENUJU PENTAS IDOLA CILIK 2 ini, bila hasil yang didapat tidaklah seperti yang diharapkan, cakka dengan lapang dada akan menerima karena Cakka anggap kegagalan bukanlah akhir dari perjuangan, masih banyak kesempatan didepan yang bisa dilakukan.
Namun Harapan Cakka adalah memberikan penampilan terbaik dengan hasil menggembirakan. Untuk itu dukungan teman2 semua adalah sangat besar artinya bagi Cakka. Dukung Cakka ya....

Rindukan Dirimu (repost)

Rindukan Dirimu
***************Disini, aku kan selalu rindukan dirimu, wahai sahabatku*********************

Lukisan bunga-bunga sakura yang tergambar di atas gorden berwarna putih itu tampak meliuk-liuk karena hembusan angin semilir dari luar jendela.
Angin yang membawa hawa sejuk menerobos masuk ke dalam ruangan bernuansa kuning gading yang sepi tanpa penghuni. Hembusannya yang lembut mampu menyingkapkan lembaran sebuah buku yang tergeletak bebas di atas meja tak jauh dari jendela.
Lembar demi lembar yang penuh dengan tulisan satu persatu tersingkap mempertontonkan goresan halus yang terpampang di atasnya. Barisan huruf-huruf yang tersusun rapi membentuk sebuah cerita di setiap alurnya.
Sejenak angin berhenti bertiup dan membiarkan lembaran buku itu terhenti di sebuah halaman yang juga penuh dengan tulisan………….


21 Agustus 2000

“Aaaaa!!!!!”
Ify berlari sekencang-kencangnya tanpa menengok ke belakang sedikitpun. Sebisa mungkin ia memacu langkahnya menghindari tangan yang mencoba menggapai bahunya. Ia berusaha sekuat tenaga agar tangan itu tak mampu menjangkaunya. Dikerahkannya segenap tenaga untuk memacu langkahnya lebih cepat. Namun, ia merasa semakin sulit bertahan karena perutnya yang terasa kram karena terus berlari sambil tertawa.

“Huaaaa!!!!!”
Ify makin kencang berlari sambil berteriak histeris karena kejaran Alvin dan Rio di belakangnya.

“Tangkep Vin!!!!!!”
Rio yang tertinggal di belakang Alvin berteriak menyemangati Alvin yang dengan susah payah mencoba meraih Ify sambil terus berlari.

“Gaaaa kenaaaaaa!!!!! Huaaaa!!!!”
Adrenalin Ify benar-benar terpacu. Ia merasa seperti benar-benar dikejar pembunuh bayaran. Ia terus berlari di bibir pantai berpasir lembut itu. Tak mempedulikan kakinya yang tanpa alas meninggalkan jejak dalam di sepanjang pantai yang dilaluinya.

Tiba-tiba Ify merasakan ada sesuatu menggapai punggungnya.

“Kenaaaaa!!!!”
Alvin menarik bahu Ify dan itu hampir membuat Ify terjatuh ke belakang.

“Huaaaa!!!”
Ify yang kaget pun berteriak geli saat Alvin menangkap pinggangnya.

“Yeayyyy kena!!!!”
Rio berhasil menyusul mereka dan sekarang ikut-ikutan memegangi tangan Ify yang meronta minta dilepaskan. Alvin mulai menggelitiki Ify dan membuatnya tertawa menahan rasa geli di pinggangnya.

“Aaaaaa!!!! Alvin!!! Aduh!!!! Aduh…lepasin!!! Alvin!!!!”

“Hahahaha….”
Rio yang turut andil memegangi tangan Ify semakin tertawa terbahak melihat badan Ify yang kejang-kejang minta dilepaskan.

“Ampun…. ampun!!! Alvin udah!!! Aaaa….Rio ampun!!!! Hahaha…..”

“Hahahaha….ngga bisa wekkkk…hahaha….”

“Huaaaa……. Alvinn geliiiii!!!!”
Ify makin menjerit campur ketawa karena Alvin yang semakin ganas menggelitikinya. Setetes air mata menyembul dari sudut mata Ify saking gelinya.

“Aaaa!!! Udah dong!!! Ampun!!! Aku nangis nih!!!”

Rio yang melihat Ify kegelian sampai menangis akhirnya melepaskan pegangan tangannya.
“Udah Vin udah……mewek tuh dia…”

Alvin pun akhirnya menghentikan aksinya. Dia masih tertawa terbahak-bahak melihat Ify yang masih guling-guling di pasir sambil terus memegangi perut saking gelinya. Ify juga masih tertawa-tawa sambil menghapus air matanya sendiri.

Rio mengulurkan tangannya dan membantu Ify bangun. Ify meraih tangan Rio dan bangkit berdiri lalu menepuk-nepuk bajunya yang kotor terkena pasir sambil masih terus menahan sisa-sisa rasa geli.

“aduh….Alvin reseee!!!!”
Ify memukul-mukul bahu Alvin tapi masih sambil meringis-meringis karena rasa geli yang masih belum hilang. Perutnya terasa kram gara-gara ulah dua sahabatnya itu.

“Hahahaha…”
Alvin berlari-lari kecil meninggalkan Ify dan Rio. Ify dan Rio pun menyusul langkah Alvin yang mulai memelan. Merekapun berjalan beriringan sambil menikmati deru ombak yang saling bersahutan di tengah lengangnya suasana pantai yang hanya ada mereka bertiga disana.

“Mau gendong ngga Fy?”
Rio menawarkan punggungnya pada Ify.

“mauuuu!!!!”
Tanpa basa basi lagi Ify pun langsung pasang badan di punggung Rio. Perlahan Rio mencoba berlari sambil menggendong Ify, meninggalkan Alvin yang masih berjalan santai di belakang.

“kejar aku Vin!!!!! Wekkkk….”
Ify memeletkan lidahnya kearah Alvin yang hanya tersenyum menatap mereka.

“Hih….ngledek ya? Okeeee!!!!”
Alvin berlari pelan menyusul mereka.

“Huaaaaa!!!! Lari Yo!!!”
Rio pun spontan mempercepat larinya karena komando Ify. Alvin sengaja melambatkan larinya karena Rio pun tak bisa berlari terlalu cepat dengan Ify di punggungnya.

“Ayo Vin!!!!!”
Ify mengulurkan tangannya pada Alvin. Alvin pun menggapai tangan kiri Ify yang masih bebas sedangkan tangan kanan Ify berpegangan di pundak Rio.

“Woy kasian Rio berat…turun.”
Alvin mulai menoel-noel pinggang Ify yang otomatis menggeliat kegelian.

“Aaaa!!!!Alvin!!!”

“Aduh Ify jangan gerak-gerak…”
Rio mulai protes karena Ify yang meronta-ronta di punggungnya.

“Alvin nih….”
Ify mencoba membela diri sambil manyun kearah Alvin.

Rio pun tak lagi berlari. Ia hanya berjalan dengan Ify yang bergelayut di punggungnya sambil menggandeng tangan Alvin.

“Hahahahaha…..”
tawa mereka membahana berpadu dengan sorot kemerahan mentari senja yang mulai tenggelam di tengah lautan.

“Jika saat ku pejamkan mata
Yang tertinggal hanya kegelapan dan kesunyian
Tiada tampak rupa dan wajahmu
Maka….
Inginku terjaga selamanya

Tangguh,
Menantang silau terik mentari
Terjaga di keheningan malam
Hanya untuk melihat
Lukisan dunia di setiap detik hidupku
Terwarnai satu persatu
Oleh gelak tawamu“

***************Semoga dirimu disana kan baik-baik saja untuk selamanya******************


Sejenak kemudian semilir angin kembali mengiringi tarian bunga-bunga sakura yang meliuk-liuk di antara lekukan tirai jendela yang tersibak menyambut kedatangan sang pembawa udara.
Lembaran-lembaran itu kembali tersingkap melewati beberapa halaman, hingga terhenti kembali saat sang dewi angin menghentikan desah semilir merdunya.
Sebuah halaman yang masih penuh dengan rangkaian huruf membentuk untaian kenangan sang penulis……………


3 Maret 2003

Ify berlari menerobos keramaian anak-anak yang masih saling berbisik di sepanjang lorong-lorong sekolah. Anak-anak itu masih penasaran akan apa yang sedang terjadi hingga ketenangan waktu istirahat mereka tiba-tiba terpecahkan dengan suara teriakan dan derap langkah orang-orang yang berlarian.

Sekuat apapun ia berusaha, langkah Ify tetap tak mampu menyusul langkah satpam sekolah yang sudah jauh menghilang di depannya. Sedangkan Rio entah sekarang berlari dari arah mana. Ify hanya berharap semuanya akan baik-baik saja. Yang paling ia inginkan sekarang adalah tak ada sesuatupun hal buruk yang akan terjadi hari ini.

Rio terus berlari melompati tanaman-tanaman kecil. Sekuat tenaga dicobanya melampaui berbagai halangan yang menghalangi jalannya. Ia memilih memotong jalan dari lorong di belakang laboratorium bahasa dengan harapan ia dapat mendahului satpam sekolah. Ia memilih lorong yang sepi dengan harapan langkahnya tidak perlu terhalang oleh anak-anak yang sedang ramai beristirahat.

Nafasnya yang memburu semakin membuat langkahnya terasa berat. Sesekali langkahnya terseok tersandung bebatuan ataupun tanaman kecil yang ia lalui. Mata Rio teliti menatap jalanan di depannya. Sedikit lagi ia akan sampai di persimpangan lorong.

Persis seperti yang ia perkirakan…

“Alvin!!!!”
Secepat mungkin diraihnya badan Alvin yang melaju kencang saat ia tepat melewati persimpangan lorong. Akhirnya ia bisa mendahului satpam sekolah dan menghentikan Alvin tepat di pertigaan samping perpustakaan.

Tangan Rio yang tepat menggapai pundak Alvin membuat Alvin menghentikan larinya dengan tiba-tiba dan jatuh tersungkur bersama dengan Rio. Tangan Rio masih memegang kuat ujung baju Alvin agar ia tak lagi melarikan diri.

“Lepasin gue!!”
Alvin berusaha bangkit. Matanya waspada menatap ke belakang kalau-kalau satpam sekolah mampu menyusulnya.

“Vin lo jangan lari!”
Rio masih tetap memegangi baju Alvin.

“Lo pengen gue ketangkep? Hah??”
Alvin membentak Rio masih dengan nafas tersengal. Ia ingin secepat mungkin meninggalkan tempat itu, tapi Rio bersikeras tak mau melepaskannya.

“Keadaan bakal lebih parah kalau lo lari Vin!”

“Ahhh!!!”
Buggg!!!

Rio jatuh tersungkur karena pukulan Alvin tepat mengenai sudut bibirnya. Alvin mulai berlari meninggalkan Rio.

“Vin!!!”
Tanpa memperdulikan rasa sakitnya, Rio mencoba bangkit dan berlari mengejar Alvin.

“Vin!”
Langkah Alvin kembali terhenti karena Rio menarik bagian belakang bajunya. Kali ini tanpa bicara apapun Alvin langsung melayangkan tinjunya ke arah Rio. Rio tersungkur untuk yang kedua kalinya. Tapi kali ini Alvin tak melanjutkan larinya, ia mencengkeram kerah baju Rio dan melayangkan tinjunya sekali lagi. Hantaman tangannya berhasil membuat setetes darah membasahai sudut bibir Rio.

“Lo ngga punya hak ngatur-ngatur hidup gue. Apapun yang gue lakuin, lo ngga berhak ikut campur. Gue….”
Belum sempat Alvin menyelesaikan kalimatnya, ia merasa kerah belakangnya ditarik oleh seseorang.

“Alvin!”
Tepat saat Alvin menoleh ke belakang, sang satpam sekolah telah berdiri menahan amarah karena Alvin yang melarikan diri dari kejarannya.

“Lepasin!”
Kali ini Alvin tak akan mampu melepaskan diri dari satpam sekolah bertubuh kekar itu. Ia menyeret tubuh Alvin menjauh dari Rio.

“Lepasin!”

“Diam kamu! Ikut saya!”
Alvin ditarik menuju ruang kepala sekolah. Ia tak lagi meronta. Karena semakin ia meronta, maka semakin murkalah pria paruh baya yang kini menahan gerak tubuhnya. Dengan sorot mata tajam menatap Rio, Alvin berjalan pasrah kemana satpam sekolah membawanya.

“Vin!”
Rio menatap kepergian Alvin. Setitik rasa penyesalan tersirat dari tatapan matanya. Perih di sudut bibirnya tak lagi terasa. Rasa penyesalan itu jauh lebih dominan. Kenyataan yang baru saja terjadi seolah menampar dan menyadarkan dirinya. Karena ternyata, ia sama sekali tak mengenal sahabatnya.

Di kejauhan Ify sontak menghentikan langkahnya saat melihat Alvin berhasil dicekal oleh satpam sekolah. Rasa takutnya yang memuncak membuatnya terdiam menatap Alvin yang menjauh.

--------------

Ify yang duduk tak jauh dari tempat Rio berdiri tampak gelisah menatap jalanan yang terus berlari meninggalkan mereka. Keramaian dan bisingnya jalanan terasa begitu hening dalam pikiran Ify. Matanya menatap kosong lantai yang berada di bawah kakinya. Bayangan kejadian tadi siang begitu jelas terputar kembali dalam otaknya.

Sementara itu, tangan Rio masih menggenggam erat pegangan busway yang ia jadikan penopang tubuhnya agar tak jatuh. Urat-urat tangannya yang menegang menyiratkan kekhawatiran yang tak jua reda. Jarak yang biasa mereka tempuh untuk sampai di rumah kali ini terasa begitu panjang. Rasa ingin cepat sampai bercampur baur dengan begitu banyak tanda tanya yang menuntut untuk segera mendapat jawaban.

Rio menatap Ify yang duduk tak jauh darinya. Wajahnya masih tertunduk dengan jari-jemari terkait menahan gelisah.

“Tenang Fy, Alvin bakal baik-baik aja.”
Sebuah kalimat yang mungkin juga ia lontarkan untuk menenangkan hatinya sendiri.

Ify tak mengangkat wajahnya. Ia hanya mengangguk perlahan. Ia pun berharap seperti itu, dan itulah yang sedari tadi coba ia yakini namun terus menerus gagal karena pikiran-pikiran buruk lebih kuat menghantuinya.

10 menit di perjalanan, akhirnya sekarang mereka sudah melangkahkan kaki di jalanan komplek rumah mereka. Di persimpangan jalan Ify tak berbelok pulang ke rumahnya, begitupun Rio. Mereka terus berjalan hingga beberapa meter kemudian sampailah mereka di depan rumah Alvin. Dari seberang jalan sejenak mereka berhenti mencoba menata hati dan membayangkan hal seperti apa yang sekiranya mungkin terjadi nanti.

Rio mendahului langkah menuju rumah Alvin yang pagarnya masih terbuka. Bahkan pintu rumah pun belum sempat ditutup oleh pemiliknya. Tanpa menunggu lagi mereka memasuki halaman rumah Alvin. Rasa penasaran dan khawatir semakin mendesak untuk diluapkan hingga tiba-tiba….

Pranggg!!!!

Sebuah suara pecahan kaca membuat Rio dan Ify sontak berlari masuk kedalam. Betapa terkejutnya mereka melihat kejadian yang untuk pertama kalinya mereka saksikan menimpa sahabatnya.

“Kurang apa yang papa kasih sama kamu,HAH? Berani-beraninya kamu mencoreng muka papa?!?!?”
Plakkk!!!

Sebuah tamparan tepat mendarat di pipi Alvin yang tertunduk berlutut di hadapan ayahnya.

“Alvin!”
Rio berteriak dari arah pintu. Terakannya sontak membuat ayah Alvin memalingkan wajahnya kearah Rio dan Ify yang baru datang. Baru saja Rio akan masuk ke dalam untuk menolong Alvin….

“Siapa yang menyuruh kalian masuk?!?”
Tampak gurat-gurat kemarahan semakin jelas terlukis di wajah ayah Alvin yang tampak menyiratkan jejak-jejak usia.

“Kenapa Om mukulin Alvin?”

“Bukan urusan kamu! Pergi kalian!”

Di belakangnya tampak Alvin yang berusaha bangkit. Ify semakin membelalakkan matanya saat melihat ternyata wajah Alvin penuh dengan lebam.

“Dia pantas mendapatkannya! Dia sudah mencoreng nama baik keluarga ini!”

Rio tak menyangka satu-satunya orang tua yang masih Alvin miliki tega melakukan hal tersebut pada putra kandungnya sendiri. Seorang anak kelas 1 SMA yang ketahuan merokok di sekolah tak selayaknya mendapat perlakuan yang berlebihan seperti sekarang. Kejadian ini membuat Rio semakin penasaran jangan-jangan ayah Alvin selama ini memperlakukan Alvin dengan tidak layak.
“Tapi, Om, Alvin Cuma ngrokok, ngga perlu sampai dipukuli seperti itu…”

“Kamu anak kecil tau apa? Jangan ikut campur urusan orang lain. Ngrokok kamu bilang cuma? Atau jangan-jangan kamu yang bikin anak saya jadi salah pergaulan seperti ini? Pergi!!!”

“Tapi Om…”

“Pergi kalian!”
Tanpa disangka Alvin melangkah cepat kearah Rio dan Ify lalu mendorong mereka keluar dengan paksa.

“Alvin…”
Ify menyebut nama Alvin lirih. Pandangannya nanar menatap wajah sahabatnya yang penuh lebam. Seberkas darah tampak mengering di sudut bibirnya. Air mata menerobos sudut mata Ify, tak tega melihat keadaan Alvin seperti sekarang apalagi melihat Alvin tampak begitu pasrah atas perlakuan ayahnya.

“Makin lama kalian disini itu bakal nambah penderitaan gue. Kalian pikir kedatangan lo bakal nyelametin gue? Ngga! Lo Cuma nambahin siksaan yang bakal gue terima. Pergi!!”
Sekali lagi Alvin mendorong tubuh Rio dan Ify hingga keluar dari pintu rumahnya dan dengan kasar ia menutup pintu rumahnya lalu menguncinya dari dalam.

Di belakang tubuh Rio yang masih terpaku menatap daun pintu yang terkunci, badan Ify sudah gemetar hebat menahan tangis. Perih menyeruak dari dalam rongga tenggorokannya menahan isakan yang terasa begitu menyesakkan.

Beberapa saat mereka terpaku disana. Entah apa yang terjadi. Hanya sesekali teriakan sang Ayah samar-samar menelusuk celah-celah dinding dan suara benda pecah menambah kegetiran hati dua sahabat yang masih termenung pasrah akan takdir.

Semakin mereka menyadari bahwa ternyata begitu banyak hal yang tidak mereka ketahui tentang sahabatnya, dan begitu banyak hal yang tidak Alvin bagi dengan mereka. Tentang kehidupannya, tentang seperti apa perlakuan orang tuanya selama ini, dan tentang apa yang ia rasakan, semua semakin buram dimata Rio dan Ify.

“Ketika kaki ini
tak mampu menandingi derap langkah sang waktu
Ketika hati ini
Tak mampu menerangi gelap jalanmu
Ketika raga ini
Tak sanggup menemani gulir asamu

Alir darah di antara degup jantungku
Membawa sesal menerobos relung mata
Menyampaikan rasaku
Lewat bulir bening yang menyadarkan
Betapa aku tak mengenalmu”


***********Berjanjilah wahai sahabatku bila kau tinggalkan aku tetaplah tersenyum*************

Lembar demi lembar terus tersibak. Hembusan angin membuka kembali halaman-halaman lusuh yang terkadang hanya berisi coretan-coretan kasar ataupun gambar-gambar sederhana. Di halaman-halaman selanjutnya tampak beberapa baris kata dengan tinta yang luntur di beberapa bagian karena tetesan air mata. Air mata kepedihan dari si empunya cerita. Hingga sang dewi angin kembali memilih sebuah halaman untuk berhenti…..

12 November 2004

Ify berdiri terpaku di ambang pintu ruangan gelap dan penuh debu itu. Ia menutupkan kedua telapak tangannya ke mulutnya menahan rasa terkejut yang begitu dahsyat menghantam relung jiwanya. Rembesan berbutir-butir air mata tak mampu lagi ia tahan dengan kapasitasnya sebagai seorang wanita. Sekujur tubuhnya lemas menahan beban yang seolah baru saja mencapai titik terberat.

“Alvin!”
Dengan sisa-sisa tenaga di antara tulang-tulangnya yang seolah tak mampu menopang tubuhnya sendiri ia berlari kearah Alvin. Dengan paksa ia meraih benda laknat itu dari tangan Alvin.

“Apa-apaan lo?”
Dengan tubuh gemetar Alvin mencoba meraih kembali benda sejenis dari atas meja kecil tak jauh dari tempat ia terduduk menyandar dinding.

Plakkk!!!
Dengan penuh amarah Ify menampar wajah Alvin yang memandangnya tajam.
“Kamu gila!!!”
Ify meraih kembali benda laknat itu dari tangan sahabatnya. Setelahnya, dengan sekali sapuan ia menghempaskan barang-barang haram yang berceceran tak teratur di atas meja. Membuatnya jatuh berceceran di lantai berdebu yang tak terjamah mentari entah untuk berapa tahun.

Alvin mencoba merangkak menggapai benda-benda yang berceceran itu. Gemetar badannya menahan sakau yang sedang hebat melanda raganya.

“KENAPA KAMU MAKE BARANG LAKNAT ITU VIN?!?!?”
Sekuat tenaga Ify menarik tubuh Alvin sebelum tangannya mampu menggapai suntikan-suntikan dan benda asing yang tak pernah Ify sangka akan berada langsung di hadapannya. Air mata Ify sudah jatuh membanjiri lantai di bawah kakinya yang bercampur dengan cairan-cairan berwarna aneh.

“Sadar Vin!!! Sadar!!!”
Ify mencoba menjauhkan Alvin dan menyeretnya menjauh. Tapi apa daya, tenaga seorang perempuan tak akan mampu menandingi arogansi seorang lelaki yang sedang berada dalam keadaan tak terkendali.

Alvin melayangkan sebuah tamparan yang sangat kuat kearah pipi Ify karena rasa marah yang semakin meledak-ledak. Ify yang tak siap dengan tamparan tiba-tiba itupun jatuh menghantam lantai.

Belum sempat Ify mengusap pipinya yang terasa panas, Alvin tiba-tiba menjambak rambutnya dan menariknya cukup keras hingga Ify pun terpaksa berdiri mengikuti arah tarikan Alvin. Tangan kiri Alvin yang masih bebas sontak mendorong tubuh Ify ke belakang hingga menghantam dinding.

Ify tak pernah menyangka sifat arogan Alvin akan menjadi sejauh ini dan bahkan membuatnya melupakan status mereka sebagai sahabat. Ify tak sempat berpikir apapun. Yang dia harapkan sekarang hanyalah ada seseorang yang datang menolongnya dan menjauhkannya dari Alvin yang sedang kalap.

Alvin melepaskan tangannya dari rambut Ify dan beralih mencengkeram kuat pipi Ify yang sudah benar-benar merasa kesakitan karena perlakuan Alvin.

“Lo bisa diem ngga sih??? Ini urusan gue dan lo ngga berhak ikut campur!!! Lo tu bisanya Cuma ngomong!!!! Lo ngga pernah ngrasain apa yang gue rasain!!!”
Alvin menekan pipi Ify kuat-kuat hingga Ify hanya mampu mengerang tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun untuk membela diri. Kepalanya terasa pening karena benturan ke dinding yang cukup keras.

Ify meronta sekuat tenaga dari cengkeraman tangan Alvin. Tapi semakin dia meronta, semakin kuat pula Alvin menyiksa dirinya. Emosional yang tak terkontrol membuat Alvin melampiaskan segala kemarahannya pada Ify.

“Aaaa!!!!”
Ify terus berontak. Ia menendang-nendangkan kakinya ke kaki Alvin, namun sama sekali tak mengendurkan cengkeraman Alvin dari tubuhnya. Teriakannya hanya bergema diantara dinding-dinding rumah usang di tengah hutan kecil yang dulu sering mereka gunakan sebagai tempat bermain. Tak ada seorangpun yang mungkin mendengar ataupun mencoba menolongnya.

“Vin…..aaaaa…. ini aku, Ify…sahabat kamu…sakit Vin…lepasin!!!”
Ify terus berusaha melepaskan diri dan diapun menendang sekuat tenaga lutut Alvin. Alvin yang merasa jengah dengan tingkah Ify akhirnya membanting tubuh Ify ke lantai yang kotor dan dingin.

Ify yang berhasil lepas dari cengkeraman Alvin hendak berdiri untuk menyelamatkan diri tetapi Alvin tiba-tiba kembali melayangkan sebuah tamparan. Tamparannya memang tak mengenai pipi Ify yang sempat memalingkan wajah. Tapi hantaman keras dari telapak tangan Alvin itu cukup membuat kepala Ify pening karena pelipisnya yang terhantam.

Ify berusaha melindungi kepalanya dengan menyilangkan kedua tangannya di atas kepalanya. Alvin terus menghujaninya dengan pukulan-pukulan keras. Tangan kiri Alvin pun tak mau ketinggalan. Alvin menahan tangan Ify dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya terus melayangkan pukulan kearah wajah Ify. Kondisi psikologis yang sedang tak terkendali membuat Alvin bertindak tanpa berpikir.

Tak pelak lagi, wajah Ify mulai lebam disana sini. Setetes darah mengalir dari sudut bibir Ify. Pertama kali dalam hidupnya ia mendapat perlakuan seperti ini. Terlebih lagi dari seorang sahabat.

Alvin yang seolah kalap tak perduli lagi dengan erangan Ify yang kali ini benar-benar tak menyangka dengan sikap Alvin yang membuatnya tak berkutik. Alvin seolah tak mengenali Ify, bahkan seolah tak mengenali dirinya sendiri. Alvin tak pernah seperti ini. Ify benar-benar takut melihat kondisi sahabatnya sekarang.

“Alvin!!! Alvin sakit!!!! Alvin lepasin!!!! Sakiiittt!!!!”
Alvin tak mempedulikan teriakan Ify. Tangannya tanpa henti terus menjambak, menampar dan memukuli Ify.

Dengan sisa-sisa kesadaran yang masih dimilikinya, Ify berusaha melindungi wajah dan kepalanya dari hantaman tangan Alvin yang sudah benar-benar kehilangan akal sehat, hingga akhirnya sebuah pukulan yang tepat mengenai pelipis kanan Ify membuat gadis itu jatuh tersungkur ke lantai dan kehilangan kesadaran.

Dengan dada yang masih naik turun karena nafas yang tersengal, Alvin menatap Ify yang sudah tak melakukan perlawanan lagi. Kepalan tangannya perlahan mengendur melihat sosok di hadapannya sekarang sudah tak bergerak. Kini kakinya tergerak untuk mundur perlahan. Alvin mulai menggeleng-gelengkan kepalanya pelan menyadari apa yang baru saja ia lakukan.

Berangsur-angsur Alvin melangkah mundur. Untuk yang terakhir kalinya Alvin menatap tubuh yang tergeletak penuh luka dan darah di hadapannya, hingga sesaat kemudian tubuhnya tak mampu melawan perintah otaknya untuk lari sejauh mungkin.

Alvin berlari sekuat yang ia bisa. Sejauh mungkin dari tempat dimana Ify tergeletak. Sekencang mungkin seolah ia berharap rasa penyesalannya akan jatuh tertingal seiring derap langkah kakinya.

-------------------------------------

Rio menatap nanar kepergian mobil berwarna biru hitam itu menjauh dari halaman rumah sahabatnya. Suara bisik-bisik orang-orang yang bergerombol tak jauh dari sana menambah isakan Ify yang menangis bersandar di bahu Rio. Hanya rangkulan tangan Rio mencoba meredam goncangan tubuhnya yang kejang menahan isakan mendalam.

Beberapa orang sudah kembali masuk ke dalam rumah masih dengan gumaman-gumaman miris dan ungkapan-uangkapan tajam yang merendahkan. Sementara itu Rio masih terpaku menatap jalanan lengang di kejauhan. Tak lagi terdengar sirine berdengung memecah kesunyian. Urat lehernya menegang menahan perasaan yang sama dengan Ify.

Tak pernah ia sadari suatu saat ia akan mengalami guncangan sehebat ini. Alvin, entah seperti apa hidup yang akan mereka jalani mulai sekarang.

Sudah berhari-hari Alvin dan Ify ijin tidak hadir di sekolah. Tak ada satupun yang bisa dihubungi ataupun ditemui. Tak ada seorangpun yang Rio tanyai mampu memberi jawaban yang melegakan hatinya. Hingga akhirnya 2 hari yang lalu Ify datang ke sekolah dengan sisa-sisa lebam di wajah bersama kedua orang tuanya.

Dan hari ini, baru saja Rio mendengar segala apa yang terjadi langsung dari Ify yang menceritakan semuanya dengan berurai air mata. Dan hari ini pula, semuanya menjadi semakin buram dimata mereka. Di DO dari sekolah, dan baru saja dibawa oleh polisi karena perintah penahanan dengan tuntutan telah mengedarkan dan memakai narkoba, membuat mereka semakin jauh dari harapan untuk bahagia seperti dulu.

Semakin jauh waktu bergulir, semakin jauh jarak memanjang, semakin dalam penyesalan. Betapa Rio dan Ify terbelenggu dalam kesedihan karena selama ini sebuah fakta yang tak pernah mereka sadari, bahwa sebenarnya mereka tak mengenal siapa Alvin. Tak satupun mampu menemukan jawaban siapa yang harus bertanggung jawab atas segala perubahan pada diri sahabatnya. Mungkinkah mereka? yang terlalu disibukkan oleh kedewasaan sehingga tak lagi mampu menghidupkan masa-masa indah saat permasalahan mampu mereka hadapi hanya dengan saling bergandengan tangan?

Sejak saat itu mereka tak kan mampu lagi mengelak dari jeruji batas yang akan semakin memisahkan mereka. Orang tua yang tak kan merelakan putra putrinya bergaul dengan orang yang salah, adalah hal terbesar yang akan menjadi tembok tertinggi kebebasan mereka. Penghalang terbesar bagi persahabatan yang memang semakin hari semakin tampak buram maknanya.

“Kau lepas genggam erat tanganmu
Pergi menjauh menerobos sang waktu
Tak lagi lekat canda tawa
Mengisi ruang hampa kehidupan

Alur sungai menuju hilir
Tak kan mampu kembali menjemput hulu
Semakin menjauh
Membawa pasir,lumpur dan bebatuan
Hingga sampai di ujung perjalanan
Terpisah jauh di tengah luasnya lautan”


************Meski hati sedih dan menangis, Ku ingin kau tetap tabah menghadapinya************

Setahun…

Begitu banyak yang telah terjadi. Rio, Ify dan Alvin kini telah menempuh jalannya masing-masing. Bukan hendak pasrah melepas kawan, hanya raga yang tak kuasa melawan haluan. Segala upaya yang diusahakan jika terus dipaksa justru akan menyebabkan perpecahan. Tiada pilihan lain, kecuali hanya mengenang persahabatan dan menanti saat yang tepat untuk menemukan kembali indahnya pertemanan.

Rio dan Ify hanya sesekali mengunjungi Alvin. Untuk itupun mereka harus rela bolos sekolah. Karena kedua orang tua mereka selalu mengantar mereka ke sekolah dan menjemput ketika pulang. Rasa takut dan kekhawatiran membuat mereka over protective.

Semakin lama intensitas perjumpaan mereka semakin berkurang. Tes masuk perguruan tinggi semakin menyita waktu dan pikiran Rio dan Ify. Mereka tak lagi saling bercerita, mengungkapkan segala apa yang dirasa. Ketika akhirnya Alvin mampu menghirup udara kebebasan dari pusat rehabilitasi pun, mereka berdua tak sempat menengoknya karena tenggelam dalam kesibukan yang tak bisa mereka tinggalkan untuk mempersiapkan kehidupan kampus. Hingga akhirnya waktulah yang menyadarkan, betapa kini mereka sudah terlalu jauh…….

6 Juli 2006

TIIINNNN!!!!!!TIIIIINNNN!!!
Tangan Rio yang basah keringat dingin terus menekan klakson mobil berkali-kali. Sebuah angkot yang berhenti di pinggir jalan mempersempit ruas jalanan yang padat dengan lalu lalang kendaraan.

Ify memukul-mukulkan pelan kepalan tangannya ke pahanya sendiri. Berkali-kali ia menggigit bibir berharap jalanan mau sejenak memberikan ruang untuk mereka melaju.

“Yo, gimana dong? Cepetan Yo…”

Rio kembali menekan klakson mobil. Kali ini bunyi nyaring mobil Rio menarik perhatian orang-orang di sekitar. Mereka menatap Rio dan Ify dengan pikiran mereka masing-masing. Ada yang berbaik sangka, tapi tentu saja ada yang berburuk sangka. Rio tak peduli dengan tatapan mereka, yang terpenting sekarang adalah ia ingin memacu mobilnya sekencang yang ia bisa.

Perlahan angkot di depannya melaju menyisakan sedikit ruang. Dengan sigap Rio memutar stir mobilnya, menyusup di keramaian kendaraan yang berlalu lalang. Honda Jazz merah itu kembali melaju kencang menerobos jalanan Jakarta yang padat dan panas.

10 menit berlalu…
Gedung-gedung menjulang tinggi sekarang tak lagi tampak. Yang ada sekarang adalah pohon-pohon palm di kanan dan kiri jalan yang berlari kencang meninggalkan mereka seiring laju mobil Rio yang semakin cepat.

“Yo…”
Semakin dekat dengan tujuan, hati Ify bukan semakin tenang, tapi justru semakin panik. Perasaan khawatir, gundah dan gelisah menyeruak di antara kebisingan degup jantungnya sendiri. Perasaan tak enak menggelayut muram di relung hatinya.

Rio tak menoleh sedikitpun pada Ify. Matanya konsentrasi menatap jalanan lengang di hadapannya. 100 km/jam terasa tak cukup berpacu mengejar waktu.

Mata Ify terpejam menahan air mata yang hampir jatuh ke pangkuannya. Bayangan suara Kak Sivia terngiang-ngiang di telinganya. Suara yang membuat Ify sontak terlonjak dari tempat duduk kuliahnya dan berlari meninggalkan dosen yang sedang mengajar. Suara yang membuatnya berteriak memanggil nama Rio dari jarak 30 meter dan mengundang tatapan jengah mahasiswa di sekelilingnya.

Sivia adalah tetangga sebelah rumah mereka (Rio, Alvin dan Ify). Kira-kira 20 menit yang lalu ia menelfon Ify. Sebuah kabar yang tak pernah ia sangka akan mampir ke telinganya baru saja disampaikan oleh Sivia.

Ia bilang, sekarang dia sedang berada di bawah sebuah menara PLN. Sebuah menara yang berada tak jauh dari komplek rumah mereka. Ia bilang semua orang sedang berkumpul disana, menatap keatas, menantang terik mentari. Ia bilang…..

Alvin ada di atas sana…..

“Kenapa jadi kayak gini Yo?”
Pejaman mata Ify tetap tak mampu membendung bulir air mata yang berarakan menyusuri lekuk pipinya. Rasa sesal terus menghantui Ify di sepanjang perjalanan. Rasa sesal karena dia baru menyadari betapa mereka terlalu jauh dari Alvin, betapa mereka telah sejenak melupakan sahabat mereka yang mungkin sangat membutuhkan kehadiran mereka untuk mendampingi hari-harinya yang sulit. Rasa sesal karena ia tak lagi sering menanyakan kabar Alvin. Rasa sesal karena harus dengan cara seperti ini mereka diingatkan kembali akan pentingnya kebersamaan dan rasa sesal lain yang masih banyak tak mampu terhitung lagi oleh Ify dan Rio.

Tak ada jawaban dari Rio.
Rio terlalu takut untuk menjawab. Ia hanya ingin sampai secepat mungkin. Ia ingin segera menebus rasa sesalnya. Ia tak ingin rasa sesal itu menghantui dirinya seumur hidup jika sampai terjadi sesuatu pada sahabatnya.

“RIOOOOO!!!!”

Ify sontak berteriak saat matanya yang buram karena air mata samar-samar menangkap bayangan besar yang tiba-tiba muncul dari kelokan jalan di hadapan mereka. Sebuah truk pemuat material bangunan sebentar lagi akan menghantam mobil mereka.

Entah apa yang terjadi, hanya sakit dan perih di sekujur tubuh yang bisa Ify rasakan saat ia dengan sisa-sisa kesadarannya mencoba meraih pundak Rio yang tertelungkup menghantam stir. Pecahan-pecahan kecil dari kaca mobil berserakan di atas tubuh mereka. Tangan Ify tak sampai meraih pundak Rio yang bersimbah darah. Ify hanya mampu meraih udara hingga akhirnya ia sendiri jatuh bersandar tak sadarkan diri di pintu mobil yang terbalik.

-----------------------------

Prang!!!!!
Suara nyaring nampan alumunium rumah sakit yang menghantam lantai membuat Bu Ira terjaga dari tidurnya. Baru saja ia memejamkan mata sejenak sambil bersandar di kursi kayu yang keras. Rasa penat dan lelah setelah semalaman terjaga membuatnya tak lagi memperdulikan kenyamanan.

“Rio?!?!”
Bu Ira terlonjak dari duduknya dan bergegas meraih tubuh Rio yang jatuh tersungkur di lantai.

“Ma, Mama….”
Rio menyebut nama mamanya lirih. Tangannya berusaha menggapai sesuatu yang bisa ia jadikan pegangan.

“Rio….Bangun Nak….”
Bu Ira menarik tubuh Rio untuk bangkit. Akan tetapi Rio menepis tangan mamanya dengan kasar hingga akhirnya ia tersungkur kembali di lantai. Tangannya kembali mencoba meraih apa saja yang ada di sekelilingnya.

“Rio….”
Bu Ira berlutut di samping Rio. Kedua tangannya meraih pundak putra satu-satunya itu dan memeluknya erat. Air mata seorang ibu yang melihat anaknya dalam kesedihan meluncur melampaui gurat-gurat usia di wajah sayunya.

Ia tak mempedulikan Rio yang terus meronta di pelukannya dengan tangan yang masih mencoba menggapai, dan meraba.

“Matakuuuuu!!!!!!!!!!! Aaaaaaa!!!!!!!!!!”
Tak lagi hanya meronta, kini Rio memukul-mukulkan kepalan tangannya ke lantai. Mencoba meluapkan rasa hatinya yang dibelenggu ketakutan karena tak mampu menangkap bayangan apapun.

Bu Ira semakin erat memeluk putranya tanpa peduli Rio yang semakin kalap memukul-mukul lantai. Pedih hatinya mencoba merasakan kesendirian yang diderita Rio karena berada dalam dunia yang tak nampak di matanya.

Rio berhenti memukul lantai. Tubuhnya lemas pasrah menatap kosong hitam tak berujung di pelupuk matanya. Kesendirian dalam kegelapan. Kini, dunia pun kelam dalam pandangannya. Matanya yang terjaga hanya mampu memandang pekatnya warna dunia. Hanya setetes air mata mewakili amarahnya, karena kini, kehampaan adalah teman setianya.

“ Di kala mata menatap kembali
Ukiran-ukiran kasar alur kehidupan

engkau tenggelam di dasar kehampaan
Terasa gentar ragamu
menapak kembali jalan keadaan

Dirimu sendiri di tengah bara dunia

merana di tengah hampa semesta
Terlintas alunan nada sumbang

rintihanmu lirih jauh dan samar-samar
Aku tak pernah sejauh ini denganmu”

Bunga-bunga sakura itu menari-nari kembali. Hembusan angin menebarkan hawa sejuk ke seluruh penjuru ruangan. Lembaran-lembaran kusam itu kembali tersingkap menunjukkan tegas pena yang tergores. Terus, terus dan terus. Halaman demi halaman mengikuti alur cerita jalan kehidupan. Sebuah foto yang warnanya telah memudar disana-sini, tampak terpajang di sebuah bingkai kayu berukiran sederhana di samping buku tersebut. Foto tiga orang anak berseragam SMP yang saling berangkulan berlatarkan sunset dan deburan ombak senja di sebuah pantai indah yang lengang.
Hembusan terakhir sang dewi angin, lembar selanjutnya perlahan terkuak, bergerak menyingkap lembaran baru. Hingga akhirnya terhenti di sebuah lembaran kosong tak bertulisan……..

************Bila kau harus pergi meninggalkan diriku, Jangan lupakan aku*******************

Hari ini, 1 Desember 2011

“Liku terjal bukit berbatu
Debur hantam ombak lautan
Tak kan menghalang pandang
Karena yang paling kau kasihi
Mungkin tampak lebih jelas dalam ketiadaannya
Bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki
Nampak lebih agung
Daripada tanah ngarai daratan

Kelam dunia di mataku
Kini tlah jadi milikmu
Ku lihat biru langit meluas
Ku tatap hijau hamparan semi
Ku pandang indah warna dunia
Untukmu…
Karenamu….. ”

-------------------------------

30 September 2008

Hatinya terlalu takut untuk berhenti berlari sekarang. Ia terus, terus dan terus berlari seolah jantungnya akan ikut terhenti jika ia menghentikan langkahnya.

Tangannya yang mengepal mulai berair. Terasa dingin. Lututnya terasa bergetar menopang tubuhnya yang tak henti berkeringat. Udara panas menerpa tubuhnya yang terus melaju melawan arah angin di tengah sesaknya lalu lalang manusia.

“Kumohon……”
Desah lirih terucap di sela-sela nafasnya yang terputus-putus karena paru-paru yang turut berpacu.

Ia menggigit bibirnya mencoba menahan perasaan takut teramat sangat yang menyergapnya. Ia tak mempedulikan tangan dan kakinya yang berulang kali terantuk karena ia terus berlari di tengah kerumunan yang menghalangi jalannya. Licinnya lantai bandara bisa saja membuatnya terjatuh saat itu juga. Tapi dia tak peduli, hanya satu yang dia ingin saat ini. Dia ingin melihat wajah orang yang disayanginya untuk terakhir kali. Ia ingin memohon agar dia tidak pergi.

BRAKKK!!!

“Woiii dek!!!!!”

Rio tak menghiraukan teriakan dan pandangan orang-orang di belakangnya. Ia terus berlari. Ia tak sanggup untuk berhenti sekarang walaupun dadanya sekarang terasa begitu sesak.

‘Kumohon….’

Rio memejamkan matanya sekejap mencoba melawan sesak di dadanya agar kakinya tak menyerah dan berhenti. Ia menatap papan petunjuk di kejauhan. Ia berharap tak tersesat dalam keadaan seperti ini. Ia mencoba mengingat kembali saat terakhir kali dia kesini 2 tahun yang lalu. Bukan waktu yang sebentar untuk tetap mengingat dimana arah menuju tempat pemberangkatan internasional. Berharap ia bisa menemukan orang yang disayanginya sebelum ia pergi.

‘satu belokan lagi.’
Rio menatap papan petunjuk di depannya. Langkahnya mulai terseok dengan kecepatan yang semakin berkurang namun tetap ia paksa untuk terus berlari.

“DEPARTURE”
dengan anak panah ke kiri.

Rio berbelok mengikuti arah yang ditunjuk anak panah di depannya. Ia hampir saja terjatuh karena berbelok dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Di depannya tampak sebuah palang kecil yang dijaga 2 orang berseragam. Tampak antrian orang menyerahkan sesuatu kepada para penjaga itu lalu kemudian mereka akan diijinkan masuk.

Rio menghentikan langkahnya dan berdiri tak jauh dari palang pintu itu dengan pandangan mata yang teliti mengawasi kerumunan orang yang melewati palang tersebut. Matanya mencoba menemukan apa yang dia cari.

Deg!!!
Debar jantungnya menyadarkan ia dari kediaman. Matanya menemukan orang yang ia cari sedang berjalan membelakanginya. Sontak Rio pun berlari. Ia berlari mendekati palang yang dijaga orang berseragam itu namun tepat saat kakinya hendak melangkah melewatinya, tangan kekar kedua penjaga itu terasa menghantam dadanya. Mereka menahannya.

“Maaf, paspornya?”

Rio tak mempedulikan pertanyaan mereka.matanya tak lepas dari orang yang disayanginya. Ia mencoba meronta dari genggaman tangan kedua penjaga itu.

“Maaf, anda tidak diijinkan lewat tanpa paspor…”
Salah seorang penjaga memandang tajam padanya dan semakin erat mencengkeram lengannya yang meronta kuat. Rio terus mencoba melepaskan diri.

Alvin berjalan semakin menjauh. Rio makin panik karena tak juga bisa menembus palang itu.

“Lepasin…..saya mau ketemu temen saya!!!”

Seseorang yang berdiri tak jauh dari dari sana sontak menengok begitu mendengar teriakan Rio.

“Rio?”
Ify yang berdiri tak jauh dari situ bergegas menghampiri Rio yang terus meronta.

“Rio!”
Rio menoleh kearah suara yang memanggilnya.

“Ify?”
Rio berhenti meronta. Ia menjauh dari kedua penjaga itu, menghampiri Ify yang menatapnya dengan mata memerah. Tampak gurat jejak air mata mengering di kedua pipinya.

Sejenak mereka bertatapan hingga akhirnya Rio sadar.

“Alvin…”
Rio mendekat kearah kaca pembatas. Dari sana ia bisa menatap Alvin yang menjauh. Alvin berpegangan pada tangan seorang laki-laki paruh baya yang entah siapa.

“ALVIIIINNN!!!”
Sekuat tenaga dipanggilnya nama sahabatnya. Tak pelak lagi puluhan pasang mata menyorot Rio yang berteriak pada orang di seberang sana yang entah bisa mendengarnya atau tidak.

“Udah Yo, udah….”
Ify mengelus pundak Rio yang masih berteriak dari kaca pembatas.
“ALVIIIINNN!!!”

“Rio udah…”
Ify tak mampu menahan air matanya. Begitu banyak air mata yang mewarnai kisah mereka. Entah ini akan menjadi yang terakhir atau bukan, yang jelas, jarak semakin jauh terbentang.

“Alvin….”
Suara Rio melemah. Tubuhnya merosot di hadapan kaca bening yang berdiri angkuh membatasi dirinya dari sahabatnya. Perlahan ia memukulkan kepalan tangannya kearah kaca yang sama sekali tak bergeming.

Ditatapnya punggung Alvin yang terus menjauh, hingga akhirnya menghilang di balik badan pesawat yang menelan tubuhnya menghilang dari pandangan Rio. Betapa inginnya Rio melihat Alvin untuk yang terakhir kalinya. Ia bahkan belum sekalipun melihat wajah sahabatnya itu sejak ia bisa membuka kembali matanya. Betapa Alvin meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Kali ini Rio membiarkan air matanya mengalir bebas. Membiarkan butiran-butiran basah itu jatuh menyapa dunia. Butiran bening yang mewakili segenap rasa kehilangannya. Butiran bening yang mewakili ribuan kata yang tak sempat ia ucapkan. Butiran bening yang mewakili kata maaf dan terima kasih yang tak sempat ia sampaikan. Butiran bening yang menetes lembut dari sudut matanya. Butiran bening yang menetes lembut dari sudut mata sahabatnya, yang kini menjadi miliknya.

___________________________________

“……Hari ini aku menemuimu Lewat puisi untuk mengenangmu
ku tatap nanar ragamu yg tlah pergi
Meninggalkan tanya gundah di hati


Aku masih menatap langit yang sama
Yang juga menaungi ragamu disana

Entah...
Dalam dekapan rasa
Untuk berapa kali aku duduk di sini
Entah...
Dalam dekapan rindu
Berapa kali lagi aku akan di sini
Saat ini...
Dengan segala asa
Masih duduk di dermaga tua ini
Entah sampai kapan aku di sini
Mungkin...
Sampai tidak ada lagi dermaga di kota ini

Di manapun engkau berada
Entah masih mewarnai
Lukisan hidupmu di dunia
Ataukah telah damai
Bersama kekasih abadimu
Kami disini selalu mengingatmu
Seperti dulu
Berpegang tangan menggapai langit
Berpegang tangan menggapaimu”


Rio menutup buku kecil berisi puisi yang baru saja ia bacakan. Derai tepuk tangan orang-orang yang hadir menggema di seluruh sudut ruangan. Tangan Rio meraih kembali selembar kertas kusam dari dalam kantong jas putihnya. Sebuah kertas lusuh termakan usia yang selama ini terus disimpan olehnya.

Dari atas panggung Rio menunjukkan kertas yang dibawanya kepada tamu yang hadir.Seulas senyum tersungging dari bibirnya saat ia menatap kembali barisan-barisan kata yang tertulis disana. Tatapan matanya seolah mengatakan bahwa benda itu sangat berharga baginya.

“Ini adalah sebuah surat. Surat yang dikirimkan ke rumah saya beberapa bulan yang lalu. Sebuah surat dengan kertas yang sudah sedikit kusam. Entah kapan sang penulis membuatnya. Dan siang ini, saya akan membaca kembali isi surat ini. Saya hanya ingin kehadirannya tidak dilupakan.”

Rio menatap Ify yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. Ify mengangguk pelan padanya.Dan Rio pun mulai membacakan untaian-untaian kata yang terukir disana.

Kepada sahabatku,
Rio dan Ify

Bagaimana kabar kalian? Baikkah? Masihkah kalian mengingatku?
Maaf, mungkin, beribu tanya yang ingin kalian sampaikan padaku.
Disini panas, mungkin disana sedang hujan.Tapi yang jelas, seperti yang selalu kalian katakan, kita masih menatap langit yang sama.

Ify, marahkah kau padaku? Karena aku yang tak pernah berterus terang padamu? Karena aku yang selalu memendam semua masalahku sendirian? Karena aku yang membuatmu begitu terkejut saat mengetahui seperti apa diriku? Masih sakitkan lukamu dulu? Maaf……

Rio……
Aku tak pernah marah padamu. Sekalipun aku tak pernah membencimu. Semua itu bukan amarah, bukan benci. Aku yang salah.
Rio……
Cerahkah disana? Masih bisakah kau melihat rasi bintang kita bertiga? Masih indahkah bukit belakang rumah jika rerumputannya bersemi?
Aku bisa melihatnya. Walaupun aku jauh disini, aku bisa melihatnya. Karena kita melihatnya bersama kan? Aku masih bisa menatap Ify setiap hari, aku masih bisa menatap padatnya jalanan Jakarta setiap hari, aku masih bisa melihat birunya langit disana setiap hari. Karena kau memandangnya,Rio. Mata yg ada padamu, jagalah, agar aku tetap bisa melihat tawa kalian dari sini.

Rio, Ify….
Apakah kalian masih mengingatku?
Apakah kalian masih mengingat saat kita bersama dulu?
Apakah kalian masih ingat?
Aku masih ingat. Karena setiap kali ku membuka mata, tak ada lagi warna dunia yang bisa kulihat. Di tengah kegelapan, hanya bayangan kalian yang terlintas. Hanya saat-saat indah itu yang membekas.

Rio, Ify….
Bisakah kalian membayangkan aku ada disana sekarang? Bisakah kalian membayangkan aku menggenggam tangan kalian sekarang? Jika iya, bayangkanlah aku berada di dekat kalian. Bayangkanlah aku tersenyum pada kalian. Karena sekian lama aku tak melakukannya.

Aku, menjadi seperti ini semua karena orang tuaku. Perlakuan mereka padaku membuatku memandang dunia menjadi sesuatu yang kejam. Kehidupan yang kujalani membuatku memandang hidup sebagai sesuatu yang melelahkan.
Maaf,…

Rio, Ify….
Surat ini kutitipkan pada seseorang. Aku memintanya mengirimkan pada kalian. Tapi saat aku memberikannya, aku hanya meminta satu hal. Aku ingin surat ini dikirim jika kelak aku telah tiada.
Maaf, sekali lagi aku tak jujur pada kalian.
Aku, menderita AIDS. Kata dokter, semua karena jarum suntik yang dulu kupakai untuk mengkonsumsi narkoba. Hidupku takkan lama.
Maaf, akulah yang membuat kalian celaka. Aku begitu putus asa hingga berniat mengakhiri hidupku sendiri. Aku merasa begitu sendiri, hingga akhirnya aku sadar masih ada kalian yang begitu mengkhawatirkanku.

Karena tingkah bodohku kamu kehilangan penglihatanmu Rio. Maaf… karena itulah aku memberikan mataku untukmu Rio. Untuk menebus kesalahanku. Maaf, bahkan aku melarang semua orang memberitahumu bahwa itu adalah mataku. Maaf, bahwa kau harus tau semuanya tepat disaat hari aku harus pergi meninggalkan Indonesia. Maaf, bahkan aku tak sekalipun menemuimu. Maaf, aku terlalu malu, aku terlalu takut menghadapi kenyataan.

Tapi, dibalik semua itu, ada alasan lain kenapa aku memberikan mata ini untukmu. Karena aku tak ingin begitu saja meninggalkan warna dunia. Karena aku tetap ingin menatapnya, lewat dirimu. Walaupun suatu saat aku tak lagi hidup, aku ingin tetap menatap tawa kalian. Aku ingin tetap melihat senyum kalian.

Sungguh, betapa penyesalan tak pernah bisa kuhapuskan setiap kali aku memikirkan kalian. hidup terlalu berharga untuk dilewati dengan sia-sia. Aku hanya berharap cerita tentang kita bisa menjadi pengalaman bagi orang lain.

Satu hal yang sekian lama begitu ingin kukatakan, dan kali ini, akhirnya aku bisa mengatakannya.

Rio, Ify….
Aku merindukan kalian…
Aku ingin terus bersama kalian….
Maaf,…
Dan terimakasih untuk segalanya…..

Dari sahabatmu,
Alvin Jonathan



Rio mengusap sudut matanya dengan punggung tangannya. Tamu yang hadir terdiam larut dalam keheningan.

“Kami, tidak akan melupakan Alvin. Setiap orang berhak menatap dunia, setiap orang berhak memaknai hidup dengan cara mereka sendiri. Tak ada seorangpun yang hidup sia-sia. Karena mereka semua tercipta untuk orang-orang yang menyayanginya.”

“Di hari AIDS sedunia kali ini, saya Rio, dan sahabat saya Ify, meresmikan yayasan rehabilitasi AIDS ini untuk mengingatkan kembali kepada saudara-saudara kita yang terkena AIDS, bahwa hidup terlalu berharga untuk dilewati dengan sia-sia, seperti yang Alvin katakan. Kami ingin membagi apa yang pernah kami alami. Apa yang pernah kami rasakan adalah pengalaman bagi orang lain dan diri kami tentunya. Apapun itu, satu hal yang pasti, setiap diri kalian telah diciptakan untuk memberi kebahagiaan bagi orang lain. Kalian adalah harta yang berharga bagi orang-orang yang menyayangi kalian. Karena itu, tetaplah berjuang,…”

“Untuk sahabat kami Alvin, semoga kau tenang disana. Maaf, dan terima kasih…..”

Sekali lagi derai tepuk tangan tamu undangan riuh rendah mengiringi akhir kalimat Rio. Namun sejenak kemudian keramaian itu kembali terganti dengan keheningan.

Jemari lentik Ify menekan tuts tuts piano yang terletak tak jauh dari tempat Rio berdiri. Perlahan terlantun suara merdu menyergap setiap rasa orang-orang yang mendengarnya.

Intro sebuah lagu mengalun perlahan….

Rio menatap tamu-tamu yang datang. Wajah orang-orang yang pernah dibelenggu keputusasaan karena merasa hidupnya sia-sia. Orang-orang yang pernah terpuruk dalam ketakutan karena ajal yang terasa begitu dekat di depan mata. Orang-orang yang mengingatkan Rio pada sahabatnya. Orang-orang yang pernah merasakan apa yang dirasakan Alvin. Menatap wajah mereka, serasa seperti menatap sahabatnya tersenyum di hadapannya.

“Untukmu Alvin, Dari kami, Rindukan Dirimu….”
Rio memejamkan matanya. Tangannya lembut menggenggam standing mic di hadapannya. Seluruh jiwa dan raganya terhanyut dalam keheningan. Keheningan yang memutar kembali slide-slide buram kenangan.
Sebuah pantai, dihiasi semburat kemerahan sang surya tenggelam. Gelak canda tiga orang anak yang penuh kegembiraan dalam balutan indah persahabatan menggaung memecah kesunyian. Berpadu dengan riuh rendah deburan ombak. Nyanyian alam menegaskan lukisan samar-samar wajah mereka. Berlarian dalam canda,…..Rindukan Dirimu…….


Berjanjilah wahai sahabatku
Bila kau tinggalkan aku
tetaplah tersenyum

Meski hati sedih dan menangis
Ku ingin kau tetap tabah menghadapinya

Bila kau harus pergi meninggalkan diriku
Jangan lupakan aku

Semoga dirimu disana
kan baik-baik saja
Untuk selamanya

Disini aku kan selalu
rindukan dirimu

Wahai sahabatku….