Jumat, 30 Desember 2011

Desember Song #Memorian2011 #Goodbye2011

December Song…


05:43. Aku terbangun. Menyambut langkah matahari yang berjalan keluar dengan pelan. Tanpa suara bising. Hanya dengan bisik kokok ayam jago dan gesekan daun. Pemandangan yang indah, kalau saja bisa seindah kisahku. Aku senang mengangkat telapak tangan lalu menyentuh setiap tetes embun yang berdansa mesra bersama udara. Memperhatikannya dengan tawa senang… lalu berujar “sampaikan salam pagiku padanya yaa” entahlah, semoga saja embun cantik itu benar-benar mau menyampaikan pesan singkatku. Meskipun dengan malu-malu.

Aku lupa sudah berapa kali menyaksikan matahari itu terbit, melihatnya tersenyum padaku, lalu menyapanya dengan riang. Hingga sadar, ternyata waktu melompat dengan cepat. Aku risau, memikirkan laju waktu yang telah mengalahkan kisahku. Ohh, jarum panjang itu sungguh licik. Dengan santainya ia asik melangkah dengan wajah tegak, melewati aku yang malah duduk terpuruk dengan wajah ditekuk. Aku baru sadar, dialah tokoh anatagonis dalam kisahku ini. Meskipun berjalan lambat, meskipun waktu tak padat, tapi cerita kisahku tetap jahat.

Matahari terus terbit, lalu terbenam dengan sisa sinarnya. Burung terus berkicau, lalu berterbangan menyapa langit. Awan terus merangkak, lalu sesekali mengeluarkan tangisan anugerah. Begitu banyak waktu, tapi aku tak kunjung bangkit dari kegalauan. Sebenarnya banyak detik berarti yang sanggup mewarnai kisahku. Menjadi semanis merah muda, secerah biru tua, atau seunik ungu pear. Tapi aku enggan melangkah, kakiku. Membuat aku menjadi enggokan sampah di pojok kegelapan. Aku bosan mengingat semua alur kisah itu dari awal indah hingga akhir kesakitan. Kisahnya tak berubah, terulang dengan tokoh dan kenangan yang lebih membekas.

Aku semakin rapuh. Bahkan hampir hancur menjadi debu kotor. dan waktu makin cepat melangkah, menyeretku untuk masuk ke masa kalender baru. Ke dalam sebuah bulan kasih penuh berkat. Membuatku semakin merasa bahwa-aku-benar-dikalahkan-waktu. Aku lelah menjadi sepotong sampah kotor, ditonton oleh berbagai tikus busuk, hingga diusik serangga berbulu menjijikan. Aku akan lemah kalau terus begitu. Lalu entah mengapa pagi ini terasa begitu berbeda. Sesuatu menghentakku, seakan membangunkan jiwaku dari tidur kelam yang panjang. Membuatku merasa masih banyak kisah biasa-indah-kelam lainnya yang akan aku lewati. Dan aku tak mungkin bertahan dalam keterpurukkan jika setiap kisah kelam menyapa ramah.

Dan sebentar lagi—tanpa terasa—sebuah masa baru akan datang. Seharusnya aku bisa merubah kisah ini menjadi suatu kisah yang bisa dikenang dengan senyuman nantinya. Yang menyakitkan memang ada, lalu untuk apa diingat kalo bikin sedih? Entahlah yaaaa, aku Cuma bisa berdoa setidaknya masa baru akan membawa kisah baru. Dan untuk kisah lamaku, selalu diingat untuk jadi pelajaran. Mwehee…

Terimakasih untuk semua orang yang menjadi peran antagonis-protagonis dalam kisah hidupku selama setahun berharga ini. Terimakasih atas senyum tulusnya, tangisan harunya, dan pelukan hangatnya. Maafkan aku yang selalu menyebalkan ini. Maafkan juga karena selalu salah. aku bukan gadis bersayap emas dengan tongkat ajaib yang berwujud sempurna. Ilovyusomuch until my life will end!

Kamis, 01 Desember 2011

Tulisan Gadis Labil

Entah sudah keberapa kalinya aku menulis tentangmu. tentang rasaku dan hidupku bersamamu. maaf, bila mengusik. tapi aku akan tetap menulis tentangmu.


Dear kakak,
Hari ini cerah meskipun matahari tersembunyi di balik gumpalan-gumpalan awan memenuhi hampir seluruh langit. Angin mengantarkan rasa hangat dan menyentuh kulit dengan lembut. Ah, terlalu naif jika aku berharap angin hangat sama bertiup juga di tempatmu berpijak sekarang. Terlalu jauh dan rumit perjalanan yang harus ditempuhnya. Dan, di bumi yang semakin gersang angin semakin sulit berbisik. Dahulu, ia bisa menyampaikan salam sepasang kekasih yang terpisah jarak lewat bisikannya dengan bunga dan deadaunan. Namun, kini ia hanya bisa berdansa dengan debu dan udara panas.

Kakak,
Apakah kau bahagia hari ini? Dengan kecukupan udara untuk membantumu bernafas, dengan kesempurnaan tubuh dan bakat yang kau miliki, dengan orang-orang di sampingmu yang menyayangi tanpa pamrih, dengan lindungan Tuhan yang menjaga langkahmu setiap hari. Apakah kau bahagia? Aku tau kau bahagia, karena sebenarnya kebahagiaan itu begitu sederhana. Tapi, apakah kau bahagia meskipun juga tanpaku? …..mungkin, karena tak ada lagi yang membuatku sebal kan.

Setiap aku memandang senyum di fotomu, aku melihat kebebasan terpancar di sinar matamu. Bebas, tak terikat, kau menjelajah sesuka hati, melakukan apapun yang membuatmu senang tanpa larangan. Satu persatu teman dan sahabat, atau para gadis yang menggemarimu menambatkan perahu mereka dan berhenti bertualang, sementara kau masih bermain dengan tanah, ombak, dan matahari. Tak terpikirkanlah olehmu, bahwa seseorang (aku) telah merindumu, menunggumu berlabuh? Tak adakah keinginan untuk melalui semua petualangan itu dengan seseorang special di sampingmu? Mungkin aku. Ya aku.

Kakak, sedang dimanakah kau saat ini?
Apakah kau tenggelam di balik kaca gedung tinggi di belantara ibu kota? Apakah kau tengah duduk manis bersama para teman menunggu dosen tercinta berjumpa? Ataukah pasir pantai yang lembut sedang menggoda ujung-ujung kakimu yang telanjang? Ataukah rimbunan dedaunan dan binatang hutan sedang menyanyikan lagu-lagu peri di sekitarmu? Atau bahkan mungkin kau sedang tertawa manis dengan para gadis yang ingin menarik hatimu? Dimanapun kau saat ini, aku berharap itu tempat yang terbaik untukmu. Dan aku selalu berdoa, agar Tuhan memberkatimu setiap dentang waktu.

Terkadang, aku begitu ingin menghubungimu. Menekan angka demi angka kepunyaanmu di keypad, yang bahkan tiga angka terakhirnya berwujud sama, yaa aku tau itu angka kesukaanmu. Dan angka kesukaanku dua kali lipat dari angkamu itu. Kemudian saat tau, kau mengejekku. Mengatakan bahwa angka cantikku berlambang setan-kematian-iblis. Lalu menekan tombol “Call”. Menekan huruf demi huruf menjadi rangkaian kata dan kalimat, lalu mengklik button “Send”. Tapi rasa takutku begitu besar, kau sudah tahu bukan kalau aku selalu takut mengirimu pesan singkat. Dan kau selalu berkilah dan berkata; kenapa harus takut? Silahkan saja mengirimiku sebuah pesan singkat. Aku menjawab; aku takut jika sebuah rangkaian kata dalam pesan singkat itu mengganggumu, bukankah kau orang yang sangat sibuk?. Dan itu benar, setelah kemarin aku mencoba mengirimu pesan singkat, kau malah mengusirku… dengan halus dan menusuk. Masih ingat bahwa saat itu kau mengatakan secara tidak langsung bahwa aku menjadi pengganggu di hidupmu. Apa aku begitu menyebalkan? Tak apa, aku mungkin benalu bagimu. Dan sekarang… sudahkan kau tenang saat aku tak muncul lagi di hidupmu?

Ah, kakak….
Terkadang, aku menyesal. Bagaimana mungkin itik kecil yang baru saja menetas dari telurnya berani sekali mencintai burung jantan yang sudah ahli berterbangan kian kemari sepertimu. Aku merasa bersalah. Tak pantas mencintaimu yang hampir melampaui kata sempurna. Tapi ingatlah aku ini hanya gadis biasa, yang akan terpesona jika menatap mata sepertimu, yang akan luluh rapuh karena perhatian darimu, yang akan rela bersembunyi di balik takdir… menyembunyikan tangis saat melihatmu bahagia bersama yang lain. Aku egois. Kau sudah tahu bukan? Bahkan kau sering berbicara panjang lebar untuk menjadikanku sosok gadis yang dewasa, yang tak egois lagi. Maafkan aku belum bisa menjadi seperti yang kau mau.


Kakak,
Waktu di setiap hari terus berjalan, hingga senja dating menyapa. Tak terasa, aku tak pernah melihat senyummu selama 2 bulan lebih. Sungguh, itu bukan waktu yang singkat bagiku. Tapi selama hari-hari itu berjalan meski tanpa senyummu (atau bahkan tanpamu) mereka tetap menghakimiku. Tak sedikitpun memberikan aku waktu untuk jengah memikirkanmu, untuk lelah bermimpi tentangmu, untuk bosan menanyakan kabarmu pada setiap helai dedaunan yang gugur lalu terbang menari bersama angin. Ah, jika saja aku bisa berbisik pada Tuhan. Aku akan memohon… biarkan aku berhenti saja mencintaimu. Aku terlalu letih, hingga terlalu rapuh untuk menjaga rasa ini sendirian.

Aku berusaha, berlatih untuk tidak terlalu memikirkan rasa ini lagi. Move on. Lihat kakak, sedikit dari usahaku ternyata menghasilkan sesuatu. Aku sudah bisa menyayangi sosok lain, yang mungkin juga menyayangiku. Menjalani hari bersamanya, cukup indah meskipun tak seindah bersamamu. Aku senang menatapnya dari kejauhan, memperhatikan setiap geraknya. Dia memang tak sesempurna dirimu, tak sebaik dirimu, tapi mungkin senyumnya lebih manis darimu, kakak. Aku menulis tentangmu bukan untuk mengusik hidupmu, bukan untuk menyalahkan mu atas setiap tangisku. Maafkan aku, maaf jika setiap kata dalam kalimat di tulisanku menjadi pengusik. Aku hanya senang menulis tentangmu, karena kau begitu istimewa. Menggambarkan betapa sempurnanya dirimu, melukiskan betapa aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Bosankah kau mendengarnya? Maaf.

Kakak cumiku tercinta,
Berhentilah berdansa bersama kasih di setiap jejak pikiranku. Kau terlalu semangat berlari, menuntutku untuk selalu memimpikan tentangmu. Beri aku waktu untuk sedikit melegakan hati. dimensi otakku semakin mengecil, memorinya hampir habis termakan tangis. Tak kasiankah kau melihatku? Yang selalu menatap bintang di langit malam, berbisik mesra untuk membujuknya agar mau menyampaikan salam selamat malam padamu. Yang selalu menyentuh embun di ujung rumput hijau, membelainya lembut mengucap selamat dating pada pagi yang telah tiba. Dan… yang selalu memimpikan gadis bernama tinkerbell dating padaku, memberikan sekantung serbuk ajaib untuk menyulap kisah hidupku.

Maafkan aku yang terlalu menyebalkan. Masih maukah menganggapku sebagai adik perempuanmu satu-satunya? Aku harap kakak juga masih mau menemaniku melihat tetesan hujan, lalu menari bersama dibawah rintiknya. Suatu saat nanti…


Dari, adikmu yang tak dianggap
Aku.