Sabtu, 06 Agustus 2011

Inilah Takdir Tuhan

Inilah Takdir Tuhan.


Semuanya hancur dalam gelap, lebur dan hilang dalam sekejap. Berakhir saat guncangan itu bergetar dasyat dan menelannya dengan kalap. Raungan itu tak berarti sudah, semakin lama tertelan deburan ombak. Hanya seberkas cahaya yang dapat terpantul oleh bola bening mataku. Penyesalan belaka terus berputar jelas, tak kunjung henti dan tak kunjung hilang.

*
Hhmm..
Aku menarik nafas panjang untuk menghirup udara segar ini. Udara sejuk yang dingin dan menyegarkan. Sungguh lega hatiku, saat telapak kakiku menginjak sebuah kampung di pinggir pantai ini. Sebuah kampung dimana sosok yang kucintai menempatinya. Kalau dihitung, sudah sekitar empat tahun aku tak pernah kesini.
Yaa.. pasti ! pasti rasa rindu dan kangen sudah bergejolak keras di hatiku. Bergelombang tinggi menerjang semua rasa. Aku tak sabar untuk melihat wajah tampannya yang dulu selalu mengisi hari-hariku, mendengar suara lembutnya yang dulu selalu menyanyi untukku, dan merasakan lembut usapan kasihnya yang dulu selalu membelaiku dengan kasih sayang.
Dengar ! detakan jantungku berdetak keras dan berirama indah. Lihat ! Kedipan mataku semakin sayu merasakan rindu yang semakin dalam. Dan Rasakan ! sentuhan tanganku mengeluarkan keringat dingin yang menandakan aku grogi bertemu dengannya. Oh tidak mungkin, mana mungkin aku bisa grogi mau bertemu dengannya ? padahal dulu setiap detik aku selalu bersamanya, yaahh… meskipun dulu tapi tetap teringat dan terkenang.
Mataku menyusuri keindahan kampung ini dengan teliti. Tak ada satupun yang terlewat. Pantai yang sejuk dengan pohon-pohon rindang yang mengelilinginya, tebing-tebing curam dan mengerikan namun tetap mengeluarkan kesan indah pada setiap bentuknya yang beraneka ragam, dan tentunya deburan ombak cantik yang menerjang semuanya dan menghempas. Sungguh indah pemandangan alam yang terbentang di hadapanku.
Mataku sedikit terbelalak saat melihat rumah yang jaraknya tak begitu jauh dari tempatku berdiri sekarang. Rumah kecil namun indah dan rapi, menyimpan beribu kenangan manis yang tak kunjung terlupakan. Disana, di rumah itu pangeran hatiku berada. Oh tuhan, sungguh senangnya hatiku kini dapat berjumpa dengannya. Degupan jantung dan detakan hatiku sudah tak karuan lagi, sangat cepat seperti terkena sengatan listrik.

‘’ini ify kan ?’’ Tanya seorang gadis dengan senyuman manisnya. Memoriku langsung berputar, berusaha mengingat siapa sosok gadis di depanku ini ?
‘’iya, aku ify. Maaf, kamu teh siapa ? aku agak lupa’’ jawabku diiringi senyuman manis, oh ternyata logat sundaku keluar juga.
‘’iya tidak apa-apa kok. Memang sudah lama kita tak bertemu, aku agni’’ katanya tetap dengan senyuman manis.
‘’oh ini agni ? apa kabar ni ? maaf yah, kamu sudah banyak berubah jadinya aku tidak ingat’’ jawabku dengan derai tawa kecil.
‘’ah tidak, malah kamu yang berubah sekarang. Lebih cantik dan tentunya lebih sempurna ify’’ katanya memujiku. Aku hanya tersenyum sebagai tanda terimakasih atas pujiannya yang mungkin terlalu berlebihan.
‘’aku kangen, sudah lama sekali tak melihatmu ify. Pasti kamu kesini mau mencari mas rio kan ?’’ lanjutnya lagi, tapi dengan satu tebakan yang sangat benar !
‘’iya agni, aku sudah tak sabar bertemu dengannya’’ jawabku cepat, disertai semburat merah di wajah manisku.
‘’ayo aku antarkan ke tempatnya, soalnya sekarang ia sedang di pinggir pantai’’ tawar agni, tanpa basa-basi aku langsung menganggukan kepala.

Kami berdua berjalan beriringan layaknya seperti sepasang sahabat dulu. Agni memang sungguh baik, wajahnya pun cantik dan manis. Cinta sucinya yang begitu tulus terhadap rio mampu membuatku meneteskan air mata haru biru ketika dulu. Dia sungguh gadis yang sangat baik, hatinya penuh dengan ketulusan dan pengertian. Namun sayang, rio menyia-nyiakan gadis sesempurna ini dan lebih memilihku. Memang ! cinta tak mungkin bisa dipaksakan. Dengan rela dan ikhlasnya dia yang menyatukan aku dengan rio, menyatukan cinta yang penuh kebahagiaan kini.

*

Kami berdua menghentikan derap langkah yang terus berbunyi sedari tadi. Di depan sebuah pantai indah dengan lautan biru yang luas. Tak lupa, deburan ombak, karang, dan perahu-perahu kecil yang berjejer indah di pinggirannya. Sejenak kami sempat terpaku disitu, memandang lekat semuanya sambil merasakan hembusan angin kencang yang menerpa tubuh.
Tapi, agni lalu menggandengan tanganku dan menarikku kearah sekumpulan orang yang tengah duduk sambil bercanda ria, dan sepertinya mereka sedang membakar ikan. Uhh, bau sedapnya langsung hinggap di hidungku.
‘’itu yang pake kaos putih, mas rio’’ tunjuknya dengan berbisik pelan. Mataku dengan cepat mengarah ke orang yang dimaksud agni. Entah kenapa, detak jantungku menjadi bertambah kecepatannya. Mataku langsung berbinar-binar dan rasanya ingin menangis saking senangnya.
‘’sana gih, samperin’’ senggol agni sambil tersenyum untuk mendukungku.
aku berusaha menenangkan diri, lalu dengan langkah pelan mendekati sosoknya. Ide jahil lewat di otakku. Aku tersenyum bangga, kedua tanganku menutup kedua kelopak matanya dan mendengarkan celotehannya.

‘’aduuhh, kok gelap sih. Ini siapa ? main tutup ajah’’ katanya kaget.
‘’buka dong, gelap nih. Siapa sih ini ?’’ namun semua celotehannya berhenti, saat jemari tangannya menyentuh dan mengusap halus punggung tanganku. Aku merasa ada rasa hangat disana, saat belaian itu hinggap di kulit tubuhku.
‘’rriiooo’’ bisiku di telinga kanannya dan melepas tutupan tangan di matanya.
Rio terdiam, mematung tepatnya bahkan sama sekali tak berkedip dengan mulut yang terbuka lebar saking kagetnya. Tangannya langsung mengusap kasar kedua kelopak mata indahnya itu, lalu dengan hati dag-dig-dug wajahnya mengarah tepat ke arah wajahku. Manic matanya menatap tepat di manic mataku, tatapannya begitu teduh dan membuatku spechlees.
‘’hey, kalian berdua jangan bengong ajah dong’’ sorak agni yang membuat rio sedikit menjadi salah tingkah, dan juga membuat semburat merah kembali muncul di wajahku.
‘’ify ? ini ify kan ? ini bener-bener ify ? Alyssa saufika umari ?’’ tanyanya cepat sambil mengguncang tubuhku dengan sedikit kasar, aku tertawa renyah melihat sejuta senyum bahagia di wajah tampannya.
‘’iya, aku ify. Alyssa saufika umari, pacar kamu yo’’ kataku meyakinkannya.
Dengan cepat, secepat kilat tubuh mungilku yang jenjang dan tinggi ini direngkuhnya kedalam pelukan yang begitu hangat. ia memeluk tubuhku dengan erat bahkan sangat erat, hingga tak ada secenti jarakpun yang terbentang diantara kami berdua.
‘’rio, udah dong aku kan gak bisa nafas nih’’ protesku dengan senyum tertahan.
‘’aku kan masih kangen sama kamu fy’’ jawabnya dengan nada manja. Tapi tubuhku tetap dilepaskannya dari rengkuhan kehangatan itu. Kedua bola matanya yang bening dan indah menatapku dengan lekat, tepat di maniknya.

*

Kini aku dan rio tengah asik melangkah di atas ribuan pasir putih yang halus. Merasakan rasa geli saat kulit telapak kakiku terkena butirannya. Hmm, tuhan memang maha pencipta, ciptaannya begitu sempurna dan takan tertandingi. Membuatku tak pernah melepaskan pandangan dari semua keindahan yang tersuguhkan ini. Apalagi kini di sebelahku sudah ada dia, dia manusia yang selalu membuatku merasakan debaran jantung liar dan detakan tak tentu yang berorasi cepat.
Lensa mataku seolah enggan berpaling dari wajah tampannya, senyuman indah terpancar jelas di sudut bibir merahnya. Aku rindu! Rindu masa-masa yang membuat pipiku merona merah menahan malu, membuat debaran jantungku seakan berdetak lebih-lebih-lebih dan terus berdetak cepat. Dan kini momen itu kembali hadir menghampiriku dengan sejuta rasa tak beraturan.
''kamu kesini kok gak bilang aku fy ?'' tanya rio tetap berjalan santai di sampingku.
''buat apa ? Aku kan mau ngasih surprise'' jawabku sambil terkekeh. Dia tersenyum. Senyuman manis itu lagi.
''oh?'' jawabnya singkat dengan kespresi datar. Aku terdiam dan dia juga diam.
''aaaa...rriiooo lepasiinn akuu'' aku berteriak kencang sambil tertawa bahagia, saat tangan kokohnya merengkuh tubuh kurusku dan mengangkatnya layak putri raja.
''haha, kamu gak pernah berenang kan fy ? Nah sekarang kita berenang aja'' katanya dengan tawa menyeringai. Bahkan sudah ada tanduk devil di atas kepalanya. Huuhh, bagaimana mau berenang ? Aku kan gak bisa berenang. Ckck.
''aa rioo, plise deh yo jangan gitu. Aku beneran takut'' aku langsung memasang tampang memelas dan memohon kepadanya.
''kenapa takut ? Kan ada aku, ayolah fy'' pertanda buruk!
''riioo, jahat deh ya! Kamu tau kan aku gak bisa berenang?'' aku mencibir kesal seperti anak kecil yang ingin membeli ice cream namun tak dibelikan.
''kamu gak bisa berenang ? Masa sih ? Alah, paling juga bohong kan'' rio berhenti melangkah. Sedikit berpikir lalu berkata seperti itu. Dia tertawa lebar.
''ahh rio, teganya deh! Ayo turunin aku dong. Yayaya ? Rio baik, yang cakep, manis imut, kurus, item, jelek, bau turunin aku yak ?'' ify menaik turunkan alisnya sambil cengir gak jelas. Itu muji atau ngolok sih ? Muji kok gak niat.
''heh, kaga pake ngolok ya. Muji, muji aja, yang jelek kaga usah ikut'' sungut rio sambil mencibir.

Mereka, sepasang anak hawa dan adam yang tengah asik bercanda gurau. Menampilkan tawa lebar, cengiran lucu, dan senyum indah. Lengkap! Kebahagiaan alami terpeta jelas di setiap sudut wajah mereka. Mengeluarkan pancaran sejuk dan semburat rona merah menahan malu. Pasangan aneh! Tetapi serasi dan sehati.

''lets go iffyyyy'' teriak rio sambil berlari ke arah gulungan ombak yang sedikit keras dan tinggi. Perasaan ify sudah mulai tak enak kini. Pasti dirinya akan.. akaannn....
bbyyuuurrrr
gulungan ombak yang sedari tadi berbaris rapi untuk pergi ke pinggir pantai pecah di tengah jalan saat tubuh ify terhempas ke atasnya. Dengan santainya, rio melepas kedua tangannya yang menggendong ify, dengan cepat bahkan sangat cepat ify terjungkal ke bawah dan masuk ke dalam gulungan ombak.
Rio tertawa keras, saat ify berteriak menyebut namanya. Tak kunjung sadar dari tawanya tadi, ify berjuang mati-matian agar tak terseret arus ombak yang cukup kuat menariknya. Sedikitpun, ify tak mempunyai keahlian untuk berenang biasanya dia kan hanya berendam saja. Tapi sekarang ? Nafasnya sudah tersengga-senggal dadanya terasa sesak dan sempit sekali. Tak ada udara yang mengisi dan tak udara yang dapat ia hirup.
Andai saja ify punya kemampuan magic untuk terbang keluar dari air dan mleyang tinggi. Atau andai ify keturunan putri duyung yang dapat berenang lincah dan pastinya bernafas di dalam air. Tapi kenyataannya memang begini, ify hanya manusia gak punya sihir dan dia juga bukan keturunan putri duyung, manusia tulen loh!
Sampai semuanya berakhir, tak terdengar lagi raungan keras ify yang meminta tolong, tak terdengar lagi deru nafas ify yang memburu cepat dan terputus-putus. Semuanya hilang ditelan keserakahan ombak, tubuh kecilnya terasa lelah dan lunglai, jatuh tak berdaya menyentuh pasir putih dibawah air. Ify ? Bagaimana dengan dia ? Apa dia hanya lelah bernafas dan pingsan untuk sementara ? Atau mungkin, tergeletak lemah tak berdaya dan terlelap untuk selamanya ? Mungkinkah ? Uhm..
Rio ? Lelaki itu baru sadar dari gelak tawanya yang membahana, baru teringat dan baru berteriak keras setelah beberapa menit lalu kekasihnya meminta tolong memanggil namanya. Rio terdiam, membisu tanpa bergerak sedikitpun. Mengingat ingat sesuatu, yaa! Dia baru sadar IFY BENER-BENER GAK BISA RENANG. Oh god! Tamatlah riwayatmu rio.
Dengan sigap dan tergesa gesa, rio meneriakan nama ify berulang kali. Ikut masuk memecah gulungan ombak dan menyelam mencari sosok gadisnya. Air mukanya memancarkan kecemasaan dan khekawatiran, bola bening matanya terlihat perih seperti siap mengeluarkan tetesan bening.

*
semuanya terlambat sudah, ide jahil atau lelucon kasar itu membawa bencana bagi dirinya sendiri. Sedari tadi, rio selalu merutuki dirinya sendiri, kenapa dia menjadi begitu idiot dan hampir membunuh ify ? Sekarang saja, di dalam gendongan rio ify sudah tak sadarkan diri. Wajah cantik ify lebih merona, mengkilap terkena basuhan air. Membuat rio mau-tidak-mau meskipun dalam keadaan cemas tetap mengeluarkan guratan senyum yang membingkai indah wajah tampannya,
Rio sempat khawatir saat menemukan ify tergeletak lemas diatas ribuan pasir putih yang halus. Dengan cepat dan sigap, tubuh ify dibaringkan di bawah pohon kelapa yang menjadi tameng dari sinar mentari. Rio mencoba menepun pipi dan pundak ify. Namun tak ada respon.
“fy..ify”
“iffyy, ayo dong bangun”
“iffyy, plise bangun fy”
“fy maafin aku, aku cuma main-main tadi. Bangun donk”
satu satunya jalan yang melintas di otak rio adalah, memberikan nafas buatan. Yaa, meskipun berat hati tapi demi ify tak apalah. Akhirnya, perlahan rio menghembuskan nafas berat yang tertahan. Namun dengan perlahan, wajahnya semakin dekat dengan wajah ify yang sayu itu. Semakin lama, semakin dekat dan ..
“huahhahahahahaaaa” ify tertawa kencang sambil memegang perutnya, menahan tawa. Ify yang tertawa bahagia karena sukses megerjai rio, sambil terkikik nakal. Sedangkan rio ? Melongo, cengo, ngangak, diem mematung. Ini yang gila siapa ? Perasaan tadi ify pingsan, trus kenapa tiba-tiba ketawa kenceng gitu. Emang dasar otaknya rio agak lambat, jadinya gak sadar kalo dikerjain ify.

“haha, rio rioo. kamu odong banget sih” ify mencoba menahan tawanya yang sudah tak terkendali itu. Ditambah dengan muka polos rio yang sukses bikin dia ngakak abis.
“fy kok ketawa ? Perasaan tadi kamu pingsan deh fy ?” pertanyaan rio yang sangat konyol.
“aku gak pingsan dan aku gak tenggelem” tawa ify kembali meledak.
“ohh, jadi kamu ngerjain aku kan ?” rio bersungut sebal sambil memasang wajah curiga yang bikin ketawa ngeliatnya.
“aku gak pernah bilang gitu” ify menjulurkan lidahnya lalu berlari menjauhi rio.
“awas yaa kamu fy. Bakal aku kerjain lagi” rio berteriak mengancam sambil mengangkat tangan, seperti seorang ksatria yang ingin membalaskan dendam.
Mereka berdua, di tengah kedamaian pantai. Ombak ria berkejar-kejaran, di gelanggang biru bertepi langit. Dengan tebing curam ditantang diserah, dialasi pasir rata berulang dikecup. Dalam berlomba bersama mega.
“rio geli banget, udah deh” ify memegangi perutnya yang sakit menahan tawa.
“gantian dong sekarang aku ngerjain kamu lagi, adi skor kita 2-1. haha” rio tertawa bahagia sambil memeluk pinggang ify dari belakang, dan menggelitiknya hingga membuat ify mengeluarkan air mata.

*
seandainya semua terpeta sesuai harapan. Pasti mereka tau akan ada apa setelah ini. Suatu moment menyakitkan akan berbekas sepanjang masa, tak terperi dalam labirin otak sedikitpun...

*
tak terasa, kini waktu mulai bergulir lebih cepat. Gulungan langit oranye berkejaran menutupi langit biru yang sudah berevolusi kini. Awan putih, perlahan lenyap ditelah kegelapan. Namun masih menyisakan setitik terang di atas sana.Ify dan rio, baru selesai bermain di pantai, saat menatap sunset indah bersama-sama. Ditemani cinta damai, kasih tulus dan sebuah senyuman hangat menjadikan moment itu tampak berarti. Keduanya, melangkah pasti untuk kembali pulang.
Rio menggenggam jemari ify dengan erat, seperti tak mau kehilanganya atau takut ify tersesat dan tak bisa kembali pulang. Langkah rio semakin cepat, ia menarik tangan ify untuk ikut bergerak lebih cepat. Karena melihat langit hitam yang tak berpihak, dan selanjutnya memang benar.Perlahan dahan bergoyang sambut-menyambut, menjatuhkan setitik embu jernih berwarna. Menimpa bumi beruap dan lembut tentunya. Gemuruh demi gemuruh saling bersahut, bertangkai hujan diarah awan, menghambur daun entah kemana. Semakin menakut hati dan menggoyangkan batin.
Ify sedikit bergidik melihat penampakan langit yang cukup menyeramkan, membuat hatinya kalut dan batinnya resah. Menurut pendapat sok tahunya mungkin akan ada badai besar yang menghantam, tapi.. semoga saja tidak. Memang tak bisa dipungkiri pikiran negative dan perasaan tak enak kerap muncul dan mengudara di benak ify. Namun dengan cepat ditepis, menghamburkan asap udara yang terpecah belah. Ini hanya sekedar perasaan... mungkin!
“ify, kita harus cepat pulang. Sebentar lagi akan hujan deras, dan mungkin akan ada badai” selesai rio mengucapkan kalimat itu, suara petir menggelegar keras. Batinnya semakin resah dan kalut.
“iya rio, ayo kita lebih cepat. Aku..aku mulai takut rio” ify sedikit gemetar berbicara. Mungkin karena cuaca sangat dingin dan gerimis yang mulai turun atau mungkin rasa takutnya sudah memuncak kini.
“iyaa ayoo” rio semakin mengeratkan genggamannya. Menarik ify lebih kuat.
“jangan dilepas yo, jangan dilepas” ify berteriak sekuat tenaga. Berusaha mengalahkan suara sambaran petir agar rio dapat mendengarnya.
“gak bakal, aku selalu di samping kamu. Selalu menggenggam jemari kamu” rio menghadap ify sebentar, menghantarkan sebuah sneyuman manis dan tulus.
Degghh..
sungguh kali ini, ify merindukan senyum itu. Biarpun tadi senyum itu sudah terlihat, namun kali ini beda. Senyuman itu lebih berarti, lebih tulus, lebih indah tentunya. Namun.. yaa, ada guratan lain disana. Ingin rasanya ify memeluk rio kali ini, menghapuskan semua jarak yang terbentang lebar.
Tanpa sadar, ify merutuki dirinya sendiri. Membuat sumpah serapah palsu, dan doa-doa tulus. Bahkan pikiran buruk itu semakin mengudara di benaknya. Sekali lagi, ekor mata ify melirik ke atas langit. Oh god! Langit itu semakin terlihat menyeramkan kini, lebih mengerikan dan lebih gelap. Tak ada pancaran sinar bahagia lagi, sudah lenyap. Tertelan awan hitam pekat yang serakah.
Seketika, tubuh ify terdiam. Tak bisa bergerak, dan tak mau bergerak. Otomatis genggamannya dari rio terlepas, bahkan anehnya butiran hangat tak berdosa itu turun dengan mulus di kedua belah pipi ify. Apa ini ? Apa yang terjadi ? Kenapa tiba-tiba ify diam mematung lalu menangis keras ?
Rio yang merasakan genggamannya terlepas, segera membalikan badan. Ia berdecak kesal, lalu mundur untuk menghampiri ify. Cukup kaget, melihat ify menangis sesenggukan tanpa alasan yang jelas. Rio membelai bingkai wajah ify, lalu merengkuhnya dalam pelukan hangat.

“kenapa nangis sayang ? Ayo kita pulang, hujannya bakal makin deres” mungkin hanya perasaan ify saja, tapi suara rio memang terdengar lebih lembut. Usapan tangan rio di puncak kepalanya begitu hangat.
“aku..aku mau ki..kitaa diam disini” ify berbicara dengan nada bergetar menahan tangis.
“ngapain ? Kita harus cepet pul...” jari telunjuk ify mendrat di bibir merah rio, membuat rio terdiam dan menatap ify dengan tatapan -kenapa-

tanpa sebab dan tanpa apapun, seketika ify menarik rio mendekat ke arahnya. Menghapus bentang jarak yang tak tersisa kini. Rengkuhan hangat, pelukan manis, dan belaian kasih, mampu membuat segala seakan milik mereka berdua. Sudah terlupakan rintikan hujan, dan gelegar petir dasyat yang meraung keras. Yang sempat menggoyahkan batin.
Mata mereka terpejam, merasakan kehangatan yang begitu lama dirindukan. Mematung, mereka berdiam dalam posisi itu untuk beberapa menit. Sampai air bening ify turun dengan deras lagi. Mereka berdua saling mendekap dan membagi kehangatan, batinnya merasa terkoyak merasakan hawa buruk yang sebentar lagi datang.

“aku sayang, dan cinta kamu selamanya” ify mengucapkan dengan lancar dan tegas. Diiringi senyuman hangat dan manis. Rio tersenyum. Senyum kecut yang parau kini. Entah kenapa ?!
“aku juga sayang dan cinta sama kamu selamanya, meskipun nanti... jesus berkata lain” rio sedikit tercekat dengan ucapannya barusan. Apa yang baru dikatannya ? Tak masuk akal.
“jangan, sampai kapanpun kamu milik aku dan selalu sama aku. Hanya aku seorang, hanya kita berdua. Aku dan kamu. biarpun nanti jesus tak memberkati, tapi cobalah. Kita akan bersama” ucapan konyol. Kenapa tiba-tiba jadi membicarakan sesuatu yang tak masuk akal ? Bahkan sampai menyertai nama Jesus! astagaa..
“aa..kkuu..aku..hanyaa milik kamu ify. Hanyaa aku dan kamu” ify mengangkat jari kelingkingnya, biarpun tersirat rasa lain. Cukup dia hanya memberikan senyuman manis untuk gadisnya. Dan biarpun janji itu hanya kepalsuan, biakan dia yang menanggung semuanya.

Mereka, dua insan yang sedang membuat janji tak tertulis. Tak perlu matrai, tinta hitam, tanda tangan resmi ataupun sebagainya. Janji yang hanya bermodal hati dan keyakinan. Meskipun sebagian keyakinan itu tak sepenuhnya teryakini, tapi cukup menangkan hati. Semuanya juga akan kembali pada hak Tuhan. Semua sesuai kehendak dan kemauannya. Tapi cukup berdoa bahwa kehendaknya itu, setidaknya cukup memberikan titik kebahagiaan. Meskipun siratan perasaan buruk menyiksa, tapi sepertinya sudah takdir!

*
petir itu, masih meraung dengan keras bahkan sangat keras. Cambukan kilat dengan siluet cahaya mengerikan terus terpantul. Gelegar tangis alam, membanjiri semuanya. Sapuan angin kencang, membelai dengan lembut namun terasa menyeramkan. Tubuhku menggigil, bergetar hebat dalam alunan nyata.
Semuanya, bertambah mengerikan saat nelayan dan seluruh pengunjung pantai berhambur keluar. Mereka, berlomba dan berlomba untuk secepatnya keluar dari daerah pantai itu. Ditambah dengan genderang tangis yang terdengar perih, teriakan histeris yang terus terulang memekakan telinga.
Mereka semua seperti orang yang habis melihat kuntilanak. Hah ? Kuntilanak ? Zaman udah 2011 masa sih masih jaman sama kuntilanak. Yang pasti ini lebih mengerikan. Lihat, lihat mereka sampai nangis tersedu sambil berlari sekencang mungkin. Berusaha menghindari suatu bencana yang akan menjemput ajal mereka, mungkin.
Yaa, suara deburan ombak dasyat terdengar keras menghantam dan pecah menjadi kepingan tak berarti. Busa putih menggelayut manja dan menempel indah pada butiran pasir. Tapi kali ini ombaknya lebih dasyat. Ditambah dengan getaran, yaa getaran hebat yang biasa disebut GEMPA dan TSUNAMI!
Oh tuhan, berkatilah mereka semua! Ify dan rio malah asik mematung sambil terlamun melihat keadaan sekitar yang seketika menjadi hancur. Semua kacau, semua berantakan. Tak terpikirkan bahwa mereka seharusnya ikut berlari menghindari kejaran maut itu.
“rio..rioo..aku takut yoo, ini kenapa? Aku taaakuutt” ify berteriak kencang sambil menangis terisak. Batinnya cukup parah terkoyak kini!
“aku..akuu..aku gak tau fy. Aku jugaa takut” rio menjawab dengan nada bergetar, ditambah bibirnya yang sudah memutih.
“hey nak, ayoo cepaat lari ini tsunaamii” seorang bapak tua yang memegang jaring berhenti, memperingatkan rio dan ify untuk ikut berlari, bukan malah terdiam dan nanti menyesali smeuanya.
Angin dingin semakin kencang menerjang, semua benda terangkat ke atas. Ombak tinggi terus naik naik dan naik menelan semuanya. Getaran hebat membuat semuanya menggigil, mereka bagaikan mayat yang terjatuh dan terjatuh berulang kali. Jerit tangis dan helaan nafas pasrah terus terngiang jelas. Apa ini akhir hidup mereka ?
“ify ayo larii, ayoo kitaa lariii” rio menggenggam erat jemari ify, menariknya untuk ikut berlari kencang. Namun nihil, ify malah terdiam dan tersenyum pasrah. Tatapan sayunya terlihat menyedihkan.
“iffyy jangan diam. Aku hanya mau kita selamat, ayoo ifyy” tak sadar setetes air mata ketakutan turun dengan mulus dari kelopak mata rio. Sebuah tetes air mata yang mewakilinya resahnya.

Ify mencoba untuk ikut berlari kencang, ia tak ingin mati konyol di telan ombak. Masih punya setitik harapan untuk menempuh hidup bersama rio. Tapi sayang, entah kenapa kakinya seperti digandoli berton-ton beton dan besi yang mampu membuat kakinya hanya diam. Tak tahu harus berbuat apa, genggaman tangan rio membuat dirinya berdesir.

“kaki aku gak bisa gerak yo, kaki aku sakit” ify berteriak histeris, menahan tetesan air mata yang terus mengalir.

Terlambat! Seketika ombak menerjang dasyat, mengalahkan kecepatan kilat. Mengalahkan keganasan cambukan petir yang tak kunjung henti. Tangisan alam, deru teriakan, terus bermunculan dimanapun. Air ombak yang cukup –bahkan sangat- deras menyapu orang-orang yang tengah berlarian. Termasuk ify dan rio. Kedua jemari mereka bertaut erat, meskipun keduanya mulai terpisah oleh ombak. Nafas tersenggal yang hampir mencapai batas klimaks. Kini, hanya doa yang punya andil besar, menentukan hidup, mati mereka.
Finally! Mereka beruda sudah tak terlihat. Banyak rimbunan daun dan pohon yang tumbang, menutupi semuanya. Ribuan sampah dan juga benda lainnya berhambur kacau. Pemandangan yang sangat me-nye-ram-kan. Getaran dasyat deburan ombak maut tadi, menjadikan pantai indah ini seperti sarang mayat. Disana, orang-orang tak berdosa menanggung derita. Tubuh lemah, bibir membiru, dan kulit putih tanpa nyawa.

“rrii..rii..rioo” bisikan sendu yang terucap lirih, keluar dari bibir manis ify. Gadis itu mencoba bertahan, menahan semua letih yang mendera!

Ify selamat. Ternyata tuhan belum menginginkannya. Ify mencoba berdiri, berdiri tegak untuk berlari mencari sosok rio, yang entah ada dimana sekarang. Mungkin masih hidup dengan nafas berirama, tapi mungkin sudah terkulai lemah dengan hembusan nafas akhir menjadi penutup hidup selama ini.
Dan benar! Dengan seketika lututnya melemas. Melihat sebuah pemandangan tak terlupakan. Rio, lelaki tercintanya terbaring dengan wajah tampan yang kini terlihat lelah. Hanya raga, jiwanya telah pergi menembus gumpalan awan putih. Dengan sekejap dunia ini terasa suram dan hitam. Bagi ify.
Tak ada secuil perasaan dan secercah harapan kini. Semuanya sudah selesai. Cukup sampai disini. Terhapus sudah semua mimpi menempuh hidup bersama rio, mempunyai buah hati cantik dan hidup harmonis. Tragisnya semua mimpi belum tentu bisa jadi kenyataan. Hanya sebuah mimpi dan selalu menjadi mimpi.
Bulir air mata. Genggaman tangan perih. Dada sesak dan nafas tercekat. Menjadi satu di dalam raga ify, entah mungkin jiwanya sudah melayang mengikuti rio atau malah mencari jalannya sendiri. Seandainya saja ia membeli kantong ajaib doraemon, mungkin semuanya takan begini. Atau mungkin seandainya ia seperti thumbellina, pasti semua akan jadi gampang.
Sekarang. Hanya waktu dan detik kini. Kulit halus wajah rio, dapat dirasakannya untuk terakhir kali. Mata sayu rio yang terpejam tenang, sungguh terlihat damai. Tak ada beban disina. Hanya guratan letih yang tersirna. Ini adalah takdir. Mungkin ini semua sudah menjadi rentetan kehidupan ify. Setiap cerita, pasti akan ada buliran tangis dan goresan luka tajam.
Dan untuk terakhir kali ify berbaring di sebelah rio. Menggelayut manja di lengan kananya, seperti dulu. Memandang wajah rio yang tak bernyawa dengan sebuah senyuman manis, senyuman tulus yang semoga bisa dilihat rio dari atas sana, itu sebuah senyum special dari ify. Ify sedikit mendekap rio, berusaha merasakan kehangatan yang kini sudah berhenti dialirkan oleh rio.
Ify ikut terpejam. Merasakan hembusan nafasnya yang tak teratur. Merasakan rasa lelahnya yang terus menyiksa batin. Merasakan nyeri di setiap goresan luka di kulit putihnya, maupun luka di sudut hatinya. Dan yang terpenting ify ingin merasakan, bahwa saat ia membuka mata nantinya ?! Berharap semua ini hanya mimpi buruk yang menemani malamnya. Hanya sebuah bunga tidur yang tak sengaja terselip ke dalam mimpinya.

*

ketika waktu telah terpekur, semuanya berakhir dengan irama perih. Meninggalkan bercak ingatan yang tak mungkin terlupakan. Sang dewa hati telah mati nyawa dan mati rasa disana. Meninggalkan dewi cintanya dengan remukan hati tak berguna...

*

@_valeryals
Valery Axelle Lova

Adegan Usai Hujan

Adegan Usai Hujan





6 February 2011..


Hari ini langit sangat tak bersahabat. Gelegar guntur dan petir menyambar keras. Gulungan awan hitam berdatangan dari berbagai arah, lalu menyerbu hingga menimbulkan gemericik air. Dibawah rinai hujan, dengan atap langitu hitam kelam dan backsound petir yang menggema, seenggok manusia tanpa nafas telah bersembunyi dalam butiran pasir coklat.

Ternyata sang langit sungguh menawan, hingga rela menyusahkan orang lain dengan hujannya, hanya untuk ikut berduka cita. Naungan pepohonan lebat, tak mampu menahan guyuran hujan, dahannya malah tergoyang keras dengan dedaunan yang melayang lalu jatuh tak terarah.


Raungan tangis terus menggema tanpa ampun. Teriakan-teriakan kecil hingga teriakan histeris selalu terdengar miris. Entah sudah berapa ribu tetes mata yang jatuh, dan sekejap hilang saat tanah hitam dengan rakusnya meresapi mereka. Padahal tetes-tetes air mata itu sangat berarti, akan menunjukan pengakuan bahwa mereka telah turut berbela sungkawa.

Kepalaku benar-benar terasa pening. Raungan tangis, teriakan miris, hingga ucapan menghibur yang tak berarti itu telah memenuhi dan mendesak benakku. Daun telingaku hampir robek karna tak kuat menampung suara-suara menyakitkan tersebut. Apalagi kini, langit seolah ikut prihatin terhadap nasibku. Aku tak butuh rasa iba dan kasihan!

Uh, aku bosan melihat air mata palsu yang terus meluncur deras. Jangan sok menderita di depanku, karna aku bahkan sangat menderita daripada kalian. Dan aku, masih harus mendengar suara-suara parau mereka, yang malah membuatku sesak. Tak bisakah kalian untuk diam sejenak, mengunci mulut hingga rapat dan menyimpan lelehan tangis untuk nanti saja ? Aku butuh ketenangan. Dan aku butuh suasana hening.

“kamu yang sabar ya, jangan sungkan buat nangis di depan aku. Aku bakal selalu ada buat kamu, aku bakal minjemin bahu untuk kamu nanti” seorang gadis dengan pakaian serba hitam, sambil memegang payung hitam mengelus pundaku. Berusaha berbicara lembut untuk menengankan perasaanku.

“aku tau kamu menderita dan sedih banget fy, jangan kayak gitu! Kamu gak perlu berpura-pura tegar dan menyembunyikan tangisan itu. Aku bisa menemanimu menangis sepanjang hari disini” seorang wanita lainnya, dengan pakaian yang serba hitam juga, berusaha merengkuh aku ke dalam peluknya.

Sungguh! Aku tak butuh kata-kata hiburan yang akan membuatku sesak saja. Apa-apaan kalian, dengan seenaknya menuduh aku 'berpura-pura tegar'. Aku tak butuh dan tak akan pernah butuh kepura-puraan. Kalian tak akan tahu, bahwa aku bukan menyembunyikan raungan tangis itu. Aku tak pernah melarang mereka untuk keluar dan membuat aliran sungai kecil.

Aku tak pernah memarahi atau membentak mereka jika ingin keluar! Hanya saja air mataku telah habis. Sudah benar-benar habis, lalu apa yang akan aku keluarkan saat menangis ? Apa kalian ingin melihat aku mengeluarkan darah, sehingga kalian bisa benar-benar tau bahwa aku sangat menderita ?

Aku terlalu lelah, terlalu rapuh, dan terlalu kalut. Haruskah aku berteriak sekeras mungkin sampai tenggorokanku tercekat, dan haruskah aku menangis sesenggukan sampai mati kehausan, agar kau bisa hidup lagi ?

Sebutkan semua dukun yang mampu menghidupkan nyawa yang telah mati, sebutkan semua orang-orang yang mengaku dirinya nabi dan bisa menghidupkan nyawa yang telah mati. Aku rela memberi kalian bilion harta berlimpah, aku rela memberi kalian tumbal tubuhku sendiri. Ayo! Carikan aku.

Orang-orang pasti heran melihatku yang diam tak bersuara dan tanpa sebercak air mata. Orang-orang pasti heran melihatku yang tak mengeluarkan ekspresi sedih kehilangan. Orang-orang pasti heran melihatku yang tak bergerak sedikitpun. Dan orang-orang pasti heran melihatku yang seperti patung tak berseni.

Ya! Sejak melihatnya terkapar terkena kecelakaan parah dengan lelehan darah merah, sejak melihatnya terpejam menahan sakit sayatan pisau saat operasi, sejak melihatnya terpejam dengan tenang lalu menghembuskan nafas terakhir, sejak melihatnya tertidur damai dengan setelan jas hitam-putih di dalam peti kematian, dan sejak melihatnya tenggelam dalam lautan pasir hitam. Aku hanya diam.

Seperti yang kubilang tadi, air mataku telah habis hingga tak meninggalkan bekas sedikitpun. Rasa sakit dan sedih kehilangan, terlalu memuncak hingga mencapai batas klimaks. Aku terlalu rapuh, hingga hanya mampu memandangnya di bawah naungan pohon yang jaraknya cukup jauh. Aku tak mau kalau mataku nantinya terjatuh mencelos saat melihat senyum dingin di wajahnya.

Semuanya benar-benar instan. Seingatku, baru kemarin dia membelikanku liontin gelang berbentuk kunci yang sangat lucu. Baru kemarin, dia memamerkan tawa lepas dan senyuman manis. Oh, tuhan. Ini sangat tidak adil. Apalagi yang harus kulakukan sekarang ? Apa yang harus aku perbuat ? Tidak ada. Ya! Tidak ada.


Aku hanya bisa diam..
Aku hanya bisa berdoa meminta keajaiban..


**


Sejak dua jam yang lalu. Aku hanya diam mematung, duduk bersimpuh di sebelah sebuah makam yang aroma kematiannya masih tercium hangat. Sendirian. Saat semua orang dengan baju serba hitamnya pulang—termasuk aku yang dari bawah, hingga atas menggunakan hitam—tak lupa membekaliku dengan hiburan kecil, senyuman getir, dan juga belaian halus di pundakku.

Inilah suasana yang sangat aku butuhkan. Dimana tak ada lagi raungan tangis, teriakan histeris, dan kata lembut 'sok menghibur', aku sangat bosan mendengarnya. Dalam keheningan yang mencekam ini aku terus mematung. Tetap duduk bersimpuh di atas tanah hitam kotor, dengan pandangan yang tak pernah beralih dari makam di depanku. Sebuah nisan dengan bertuliskan namanya: Alvin Jonathan Sindunata, seorang lelaki yang seumur hidupku diisi dengan bersamanya.

Dia sosok lelaki idaman semua wanita. Sosok lelaki yang mampu melindungiku dari mara bahaya, mampu membuat aku mengeluarkan gelak tawa meskipun dalam sedih yang mendera. Sayangnya, ini bukan kisah cinta yang suci. Bukan kotor karna perbuatan fisik, bukan ternodai karna nafsu syahwat manusia, tetapi ternodai dan kotor karna darahku dan darahnya yang bercampur, memperlihatkan seutas ikatan tali persaudaraan yang tak terlihat oleh mata.

Dia, Alvin, seorang kakak yang dengan baik telah membahagiakan aku sebagai adiknya. Tapi disisi lain, dia, Alvin, seorang kekasih yang dengan baik telah membahagiakan aku sebagai kekasihnya. Kami merangkap, menciptakan ruang baru yang telah susah payah kami bangun sendiri. Dengan ketidaksengajaan, rasa cinta yang selayaknya dirasakan oleh anak adam dan hawa tumbuh dengan subur.

Cinta sebagai sepasang kekasih yang sudah lima tahun kami jalani. Cukup untuk memenuhi kotak kenanganku dengan berbagai kenangan indah tak terlupakan. Rasanya, aku tak cukup mampu untuk menata deretan kenangan tersebut, lalu menjejalkannya ke dalam kotak biru yang akan aku gembok rapat. Membuangnya kedalam ruangan tak bercahaya dengan suara cicitan tikus nakal.

Di sisi lain, aku bukan hanya kehabisan air mata. Tapi aku juga terlalu tidak percaya, bahwa disana! Dibawah tumpukan butiran pasir hitam, didalam kurungan peti kayu coklat sosoknya telah tergolek lemas. Sosok yang selama 17 tahun telah menemaniku. Menemaniku sebagai kakak yang sangat aku sayang, dan sebagai kekasih yang sangat aku cintai.

Ah, alvin alvin alvin! Aku mohon bangunlah, buka matamu lalu dekap aku dalam pelukmu walau hanya semenit. Ayo, aku masih disini, selalu disini, dan selamanya disini. Selalu berharap seketika makam di depanku bergoyang keras, lalu kau keluar dengan senyuman manis. Aku janji akan membelikanmu berkardus-kardus berisi yupi, dan segala makanan yang berbau yupi. Kau senang bukan ? Itu kesukaanmu! Jadi ayolah bangun.

“alvin”

akhirnya mulutku masih bisa berfungsi, masih bisa menyebut namamu. Aku teringat, dulu kau selalu membuat janji dan itupun selalu kau penuhi. Kau pernah bilang “panggil aku tiga kali, lalu cium liontin kalung kita. Aku janji, akan berusaha ada dan tersenyum manis di depanmu” sungguh! Janji yang begitu manis. Dan benar-benar manis ketika kau datang saat sebentar lagi aku menyebut namamu. Kau harus datang. Kau punya janji, alvin.

“Alvin, Alvin, ALVIN”

aku sudah berteriak, berteriak memanggil namamu tiga kali. Dan lihat, lihat ini. Aku juga sudah, mengusap pelan bahkan mencium mesra liontin kita. Oh, tuhan! Aku mohon demi apapun alvin bisa hidup lagi. Aku sudah cukup kehilangan sosok kakak lelaki yang sungguh baik sepertinya. Dan kini ? Aku juga telah kehilangan sosok kekasih yang dengan tulusnya aku cintai.

“ify”

itu namaku, ya.. ify adalah namaku. Lalu siapa yang barusan memanggilku dengan intonasi lembut ? Dan oh! Siapa juga yang menepuk pundakku dengan mesra ini. Siapa sih yang telah berani merusak damainya keheninganku ? Tak tahukan dia bahwa aku tengah dirundung kesedihan.

“ify, ini aku rio”

damn! Ternyata dia, buat apa dia datang saat ini. Sungguh saat-saat yang tepat. Meskipun sebenarnya aku membutuhkan bahu untuk meredam kesedihan, tapi dia bisa datang nanti kan. Aku terlalu kacau untuk dilihatnya sekarang. Dan aku janji, kalau saja dia mengeluarkan sepatah kalimat yang berintonasi lembut dan berbau 'kata hiburan', aku akan menendangnya jauh-jauh.


“bolehkan aku menemanimu disini, untuk sekedar menatap nisannya ?” aku merasakan rio ikut duduk bersimpuh di sebelahku.

“alvin jahat banget deh, dia gak tau apa kalo kita sedih banget disini. Dia penghianat, dengan seenaknya ninggalin kita dan janji-janji itu” ternyata dia malah ikut berkeluh-kesah bersamaku. Baguslah, jadinya aku tak perlu membuang tenaga untuk menendangnya.

“aku pasti bakal kangen banget sama dia, kangen leluconnya, kangen tawa lepasnya, kangen sikap jahil dan semuanya” sungguh, aku merasakan setetes air mata jatuh di tangannya yang kini digenggamnya dengan erat. Itu air mata tulus kehilangan, bukan air mata pura-pura kehilangan.

“aku tau kamu masih pingin nemenin alvin disini, aku tau kamu masih gak percaya dengan kepergiannya. Tapi aku mohon, demi dia kamu pulang. Mama kamu gak kuat sendirian dirumah” jemarinya menyentuh hangat kepalaku. Mama ? Ah, aku lupa kalau aku punya mama dirumah.

“gu..gue..gue..gak..ma..mau..pergi” seperti yang aku bilang tadi, untuk saat ini aku hanya butuh ketenangan. Aku juga gak sanggup liat mama nangis nantinya.

“baiklah, aku akan menemanimu duduk disini, selalu disini, dan selalu bersamamu” aku hanya membalas dengan senyum dingin.


Aku dan rio duduk bersimpuh menemani alvin yang tengah sendirian di dalam sana. Rio, sahabat kecilku dan alvin. Kita selalu bertiga, selalu bersama-sama setiap saat. Membuat moment-moment indah tak terlupakan. Rio, sosok lelaki manis dengan tubuh tinggi yang menawan. Sikap lembut dan hangatnya membuatku nyaman berada di dekatnya.

Dia sungguh pengertian dan perhatian kepadaku. Dia juga telah berbaik hati ikut merahasiakan hubungan terlarangku dengan alvin. Karna dia sahabat, yang dengan setulus hati ingin melindungiku dan alvin. Meskipun—entah benar atau tidak—seringkali aku merasakan dirinya kesal bahkan tubuhnya bergetar saat melihat kami—aku dan alvin—saling merajuk manja dan membelai mesra.

Aku juga sayang padanya. Sayang yang dulunya pernah terartikan sebagai perasaan lelaki kepada wanita. Tetapi perlahan pupus saat alvin mulai memasuki celahnya. Perasaan sayang itu tengah berevolusi dan terartikan sebagai perasaan adik ke kakaknya. Dia kakak kedua bagiku.

Sudah beribu-ribu detik aku duduk disini bersama rio. Disebelah alvin, dan dibawah naungan rinai hujan. Badanku telah bergetar hebat, meskipun tak melihatnya tapi aku tau bahwa bibirku sudah berwarna keputihan. Kulit jari-jariku saja sudah mengkerut tak tahan dengan dinginnya. Belum lagi suara cambukan petir dan guntur yang serasa mengguncang dunia, dan bahkan hampir membuatku tuli.

Tak apalah, berkorban begini untuk alvin tak ada harganya bagiku. Yang penting alvin tau, bahwa aku masih disini untukknya. Masih menunggunya untuk bangun dari tidur panjang yang akan dihadapinya. Ingin sekali aku menggali kuburan ini, tapi tak mungkin. Jangan-jangan alvin malah murka kepadaku.

Tapi aku sudah tak kuat. Benar-benar tak kuat. Tubuhku terasa sangat menggigil, aku saja sudah melihat kalau wajah rio juga memucat. Entah, detik keberapa aku mulai limbung dan tak sadarkan diri. Yang aku tahu, aku masih berada disisi alvin untuk menemaninya. Aku malah berharap, kalau mataku takan terbuka lagi. Agar aku bisa bertemu alvin disana. Semoga!


**

Senja sudah tiba, perlahan langit mulai berevolusi menjadi warna jingga kemerahan bercampur dengan putih vanilla. Tak ada suara kicau burung untuk menyambut rembulan dan para bintang seperti biasanya. Semuanya hening, mendekam dalam sarangnya untuk berlindung. Yang ada hanya suara rinai hujan

oh, ternyata sang langit masih saja terkurung dalam lingkup prihatin. Masih saja sibuk berpura-pura untuk turut berduka cita. Dari aku terlelap dalam kegelapan, hingga aku mampu membuka mata dan duduk tenang di atas kasur biru kepunyaan alvin, orang-orang masih saja sanggup berpura-pura.

Aku kira setelah aku tak sadarkan diri dan memejamkan mata tadi, aku akan bertemu alvin dan hidup dalam rengkuhannya. Ternyata tidak, mataku masih bisa terbuka, dan aku masih bisa melihat dunia. ah. Padahal aku akan sangat berterimakasih pada tuhan kalau saja dia mau mengambil nyawaku sekarang.

Sekarang apa yang harus aku lakukan? Entah sudah berapa lama aku duduk mematung di dalam kamar alvin. Kamar bercat putih dengan ukiran bunga cantik, selalu tertata rapi, dan harum tentunya. Sesekali aku menghirup udara sebanyak mungkin, berusaha memenuhi rongga dada dengan harum kamar ini.

Mataku saja rasanya tak bisa lepas memandang baju basket berwarna merah dengan nomor punggung 9, yang digantung rapi di sebelah cermin besar. Baju itu, mengingatkanku pada adegan-adegan bahagia, bersama alvin. Aku masih benar-benar ingat saat alvin menyuruhku memakai baju basketnya, lalu bermain basket bersamanya.

Saat alvin membentakku dengan kasar, mendiamkan aku menganggapku sebagai angin selama 3 hari, hanya karna aku mengotori dan merobek baju basket itu. Tapi kemudian, dengan bersusah payah aku belajar menjahit di sekolah, memperbaiki bajunya, lalu memakaikannya saat dia sudah memaafkan aku. Ah, terlalu banyak kenangan, hingga aku tak mampu.. tak mampu untuk menghapus sedikit saja kenangan itu. Jangankan menghapus, menyentuhnya saja aku tak mampu. Aku takut, jika aku menyentuhnya kenangan itu akan pudar lalu menghilang dan lenyap..

“ify” suara ketukan pintu, dan juga panggilan lembut namaku terdengar nyaring. Uh, sungguh menganggu saja.

Tiba-tiba sebuah kepala tersembul dari balik pintu coklat dengan sebuah poster Cristhian Ronaldo yang tertempel erat. Sebuah manusia lalu menampakan dirinya, memperlihatkan wajah ramah sampai senyuman manisnya padaku. Tapi sayangnya aku sama sekali tak tertarik dengan senyuman manis itu, karna aku masih punya simpanan senyum yang lebih manis darinya.

“ayo makan, kamu pasti lapar. Aku sudah buatkan sandwich kesukaanmu, ayolah” barusan dia mengajaku makan? Astaga aku juga tak ingat kapan terakhir kali aku makan. Mungkin kemarin sore?

Aku hanya mengarahkan lirikan kepadanya. Dia berdiri mendekat kepadaku, menampakan wajah ramah yang mampu membuat orang-orang terbuai. Tapi aku tak bergerak. Tak bersuara. Hanya diam, sambil melirik.

“ayo makanlah bersamaku, aku janji akan menyuapimu hingga habis” janji yang sungguh manis, tapi aku benar-benar tidak tertarik. Perutku saja tak berasa apapun. Aku telah mati rasa.

“please fy, ayo makan. Jangan begini, kamu tidak kasihan melihat mama yang menangis di luar melihatmu begini, jangan tambah penderitaannya. Dia juga sedih kehilangan alvin” rio, mengiba padaku. Dengan wajah memohon yang hampir membuatku luluh.

Astaga, aku lupa jika aku masih mempunyai seorang mama yang juga sedang terpuruk dalam kesedihan. Ah, aku tak tahu bagaimana perasaan mamaku yang kehilangan sosok alvin, anak yang paling dibanggakannya kini sudah tiada. Oh tuhan, kenapa bukan aku saja yang mati dan terbang ke atas menyusulmu? Kenapa harus alvin? Sungguh tidak adil.

“jangan hanya memikirkan dirimu sendiri ify, lihat dan pikirkan mama, cobalah sedikit kuatkan hatimu. Kalau kamu memang merasa rapuh, ayo.. disini masih ada aku, aku masih sanggup memberikan kehangatan dalam dekapan kasih sayang untukmu!” rio melebarkan tangannya, mengajak aku untuk masuk ke dalam rengkuhannya. Aku mengalihkan pandangan. Memalingkan muka dari mata dan hadapannya. Karna tatapan matanya sungguh tajam, seperti.. menuntut.

Aku diam, tetap diam di detik selanjutnya. Entah mengapa, rasanya seperti ada rantai besar dengan gembok seberat batu beton yang melilit tubuhku. Mengekang ragaku, menahannya untuk tak bergerak, bahkan menahanku untuk masuk kedalam pelukan Rio. Ah, sialan! Kenapa ini? Padahal aku ingin mencicipi kehangatan yang dijanjikan Rio tadi. Aku cukup lelah untuk memanggul semuanya sendiri.

“jangan sok tegar dihadapanku, karna aku juga rapuh tanpanya” aku cukup tau, kalo kata “nya” itu dimaksudkan pada Alvin.

“aa..ak..aku,..butuh..ka..kamu..” benarkah bahwa mulutku berbicara seperti itu? Akhirnya, bibir manis ini bisa meninggalkan kata munafik, jujur akan keadaan hatiku lebih baik sepertinya.

Rio menatapku dengan berbinar. Matanya teduh, membuatku terlena saat melihatnya. Entah detik keberapa, tubuhnya sudah melilit di tubuhku. Aku bagaikan bayi kelinci yang membutuhkan kehangatan besar. Ah, rio.. ternyata dia tidak bohong! Dia benar-benar mengalirkan semua kehangatan yang dimilikinya untuk tubuhku. Sambil dia membelai lembut kepalaku, dia berkata,

“aku sayang kamu”



**

24 April 2011..


Sepertinya aku sudah pernah mendeskripsikan suasana ini dengan detail dan rinci. Sepertinya aku sudah pernah menceritakan semua rasaku saat mendengar suara-suara dari mereka. Sepertinya aku sudah pernah mengatakan bahwa mereka hanya mengeluarkan tangisan palsu hingga bosan. Sepertinya.. sepertinya.. sepertinya aku sudah pernah mengalami ini. Dan kini.. MENGAPA TERULANG?

Aku ingat, masih sangat ingat benar kejadian seperti ini saat 2 bulan lalu. Saat dimana sang langit dengan sifat menawannya rela menyusahkan orang lain dengan hujannya, untuk sekedar menunjukan rasa belasungkawanya padaku. Saat dimana manusia-manusia berseragam hitam meraung kencang, hingga menimbulkan titik air yang terus mengalir. Saat mereka—manusia manusia berseragam hitam—menepuk halus pundakku, menggenggam lembut jemariku, menarikku dalam pelukannya lalu berceramah panjang lebar yang hanya berisi tentang kata-kata menghibur.

Dan kini.. dan kini? Ya! Kini semuanya terulang lagi, dan hanya memberikan jarak dua bulan untuk kepulihanku dalam kesedihan lampau. Sudah berapa kali aku memohon untuk menghentikan penderitaan ini, karna aku bukan golongan manusia-manusia yang dengan sabar dan tabahnya menghadapi semua dengan senyuman manis—meskipun terlihat parau—.

Sungguh! Aku ini hanya seenggok manusia biasa. Yang selalu menangis jika merasa sedih dan tentunya yang selalu tertawa jika merasa senang. Mana mungkin aku bisa tertawa ketika seseorang tersayangku telah dikurung dalam peti mengkilat berbau cendana yang menusuk? Mana mungkin aku bisa tertawa ketika seseorang tersayangku itu ditimbun oleh pasir-pasir hitam yang penuh dengan cacing belatung atau sejenisnya?

Itu hal konyol yang dengan tidak mungkinnya aku lakukan! Aku masih punya sedikit kadar kewarasan untuk berpikir dan melakukan hal normal. Kalau saja menyalahkan Tuhan itu tidak menambah kantung dosaku, maka aku akan melakukannya. Aku masih sadar, bahwa aku hanya hamba Tuhan yang harus menerima takdir apapun yang diberikan padaku. Entah takdir buruk ataupun takdir baik, aku hanya bisa menerima dengan pasrah. Tanpa perlawanan, karna itu akan sangat sia-sia. Hanya membuang tenaga dan waktu.

“ify, maafkan aku.. aku tak bisa menjaga Rio dengan baik, aku gak bisa ngelarang dia pergi waktu itu. Oh, sungguh aku merasa bersalah padamu”

tiba-tiba saja, seorang perempuan yang lebih dewasa dariku datang dengan tangisan kencang yang memekakan. Ia bersimpuh di ujung kakiku, memeluk lututku dengan kencang, seolah-olah aku akan berlari kencang dan meninggalkannya. Aku bergeming. Tak melirik barang sedikitpun. Tak perlu melihat wajahnya yang berurai air mata, dari suara seraknya saja aku sudah bisa menduga siapa itu. Setidaknya aku pernah bertemu-mengobrol-berpesan padanya—sebelum kematian ini ada—.

Sivia Stevanata Haling, atau akrabnya disebut Via. Gadis berkulit putih dengan wajah yang sungguh manis. Bukan hanya fisiknya yang mampu membuat orang terbuai, bahkan dalam hatinya juga mampu membuat orang terlena. Dalam tubuhnya mengalir darah kedua orang tua Rio. Ya! Dia kakak kandung dari Mario Stevano Haling. Oh, tidak tidak. Seharusnya sekarang Rio menyandang gelar baru pada namanya. RIP, Almarhum. Atau semacamnya lah. Haha, sungguh bagus sekali gelar yang disandangnya kini, hatiku malah terbesit untuk ingin mendapatkan gelar itu juga.

“entah mengapa, pada saat itu aku merasakan hal beda. Tak sedikitpun aku mengeluarkan kata-kata untuk melarangnya pergi. Dia malah datang padaku, memeluk lembut tubuhku, bersalaman, dan dia juga mencium keningku. Bahkan, dia mengucapkan selamat tinggal ify.. oh, tuhan! Tapi aku tak bisa berbuat apapun, mungkin beginilah takdirnya”

tanpa diminta dan diperintah, Sivia mengeluarkan suara. Bercerita tentang saat terakhir dirinya bertemu Rio. Hah! Apa-apaan ini? Dia sengaja berkata begitu untuk membuatku iri? Bercerita tentang kemesraan mereka—Rio dan Sivia—sebelum Rio meninggal? Aku tidak butuh. Sungguh! Sama sekali tidak butuh. Biarkan saja, biarkan aku tak sempat mendapat pelukan hangat dan ciuman dari rio. Setidaknya aku tau selama ini dia selalu berkorban dan menyayangiku dengan tulus.

“ayolah fy bicara.. aku juga merasa sedih sepertimu, dia adikku! Adik tersayangku. Maafkanlah aku fy, katakanlah sesuatu kalau kau mau memaafkanku”

aku muak! Bosan dengan segala penuturan kata yang diucapkan gadis ini. Berbicara dengan nada dan intonasi yang biasa saja tak bisakah? Apa harus perlu berkata dengan suara lirih dan juga nada menyedihkan? Oh, berlebihan sekali gadis ini. Dan aku? Sungguh tak menyukainya. Setidaknya untuk saat-saat ini, karena sebenarnya dia gadis yang baik dan penyayang.

Aku masih tetap berdiri di kejauhan..
masih memandang peti berbau cendana dan timbunan pasir hitam..
akan terus begini sampai titik-titik hujan mulai menipis..
hanya meninggalkan embun lembut di pucuk dedaunan..


**


4 Desember 2011..


Roh-roh yang ditiupkan lampau telah disedot kembali..
melewati hal-hal menyakitkan hingga sampai dipuncaknya..
masa dunianya telah ditentukan waktu..
dan kini telah habis, mereka mulai tiadaa..
meninggalkan sosokku terpuruk sendiri..
mengemban keperihan tak tertahan..
hingga aku juga ikut lelah, kemudian layu dan mati..

oh, Tuhan! Sungguh kejamnyaa dunia ini. Lengkap sudah semua paket derita yang tersaji di depanku. Komplit, tak ada lagi yang tersisa. Ini rasanya seperti kiamat dadakan, yang hanya dialami oleh diriku. Diluar sana semua orang tengah merayakan pesta meriah dengan hingar bingar dan lampu gemerlap, atau bermalam minggu bersama kekasih di bawah pohon beringin dengan tangan menggengam dan juga pelukan-pelukan hangat.

Intinya mereka semua sedang bersenang-senang, menikmati keindahan duniawi yang menyegarkan hati. Sedangkan aku? Coba kalian tebak apa yang sedang kulakukan sekarang? Duduk dengan kedua lutut ditekuk, tepat di pojok ruangan dengan lampu remang yang menyinari. Dan sekali lagi tebaakk!! tebak apa yang aku pegang? Memang bukan golok besar, atau pistol dengan puluhan peluru menakutkan nyali. Hanya benda kecil, mengkilat dan berkilauan di bawah sinar lampu.

Yaa, hanya sebuah pisau lipat dengan pucuk tajam yang dapat membelah atau menusuk apapun. Entah kenapaa, aku sungguh tidak tau dan tak mengerti. Tolong jangan tanya atau salahkan aku. Tolong jangan katakan apapun tentang bercak merah diujung pisau, atau muka pucatku yang sudah benar-benar pasi ini. Otakku seperti terkena amnesia mendadak, aku tak ingat apa yang telah terjadi dan kesalahan fatal apa yang telah aku lakukan.

Sungguh aku tak mengerti. Kakiku serasa bergerak dan melangkah sendiri, dan entah kenapa pisau itu ada di kantong piyamaku. Aku bergidik ngeri, berusaha menghentikan kendali raga yang sudah tak terkendali. Semuanya.. semuanya terlihat menyeramkan. Aku bingung, kalut dan gelisah. Tapi sebenarnya aku juga membiarkan dan pasrah raga ini mau berbuat apapun. Dan sesuatu itupun terjadi.. begitu cepat.. begitu menyeramkan..

lihatlah, coba kalian tengok ke atas kasur tebal berselimut mawar merah. Seorang wanita paruh baya, tergeletak lemas, diam, terus diam, dan tak bernafas. Denyut nadinya sudah berhenti, detak jantungnya juga sudah tak terdengar. Wajah cantiknya terlihat damai, tenang dan pasrah. Meskipun.. meskipun sebuah lobang merah di perut berlapis kemeja putihnya. Dia mamaku.. dan aku telah membunuhnya..

benar-benar anak yang berbhakti. Ah. Jangan salahkan aku, jangan tanya apapun padaku. Aku tak mengerti.. sungguh!! mungkin lebih baik dia—mamaku—pergi lebih cepat agar aku tak bisa menyusahkannya. Agar aku tak perlu bersusah payah untuk membahagiakannya, karena kini hidupku tak berarti lagi. Terima kasihlah mama padaku, karena sekarang mama menyandang gelar baru pada awal namanya. Seperti Rio dan Alvin.

Baiklah, semuanya telah pergi dan lenyap. Mereka bertiga—mama, Rio dan Alvin—pasti sedang tertawa keras di alam sana. Menertawakan aku yang masih betah duduk gemetar di pojok ruangan. Aku bisa melihat mereka berbahagia, aku bisa mendengar tawa ejekan mereka. Dan aku? Takan membiarkan semuanya berlalu tanpaku. Lihat saja mama, Rio dan Alvin.. aku juga akan tertawa bersama kalian. Dan untuk Alvin? Kita bisa merayakan pesta pernikahan meriah disana. Dan untuk Rio kumohon jangan cemburu. Haha.

Terimakasih kalian mau membaca catatan hidupku ini. Ini adalah sebuah hidup dengan jutaan gelegar tawa dan tetesan tangis. Jangan lakukan apa yang kulakukan, karena aku ini manusia bodoh. Terlalu indah untuk bisa hidup di dunia ini. Aku terlalu rapuh dan lemah, tak punya pegangan selain cinta. Padahal cinta itu tak abadi, hanya bunga mimpi duniawi. Dan saat kita bangun untuk kehidupan kekal, cinta itu sudah lebur dan hilang entah kemana. Dan kini.. aku sudah punya jalan hidup sendiri.. aku lebih memilih mengakhiri hidup. Jadi selamat tinggal.

Setiap tetesan hujan terakhir, itulah cerita hidupku, menjadi saksi atas kelenyapan rohku malam ini. Semua adalah cerita hidupku, dengan adegan setiap usainya hujan.



**