Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Agustus 2011

Inilah Takdir Tuhan

Inilah Takdir Tuhan.


Semuanya hancur dalam gelap, lebur dan hilang dalam sekejap. Berakhir saat guncangan itu bergetar dasyat dan menelannya dengan kalap. Raungan itu tak berarti sudah, semakin lama tertelan deburan ombak. Hanya seberkas cahaya yang dapat terpantul oleh bola bening mataku. Penyesalan belaka terus berputar jelas, tak kunjung henti dan tak kunjung hilang.

*
Hhmm..
Aku menarik nafas panjang untuk menghirup udara segar ini. Udara sejuk yang dingin dan menyegarkan. Sungguh lega hatiku, saat telapak kakiku menginjak sebuah kampung di pinggir pantai ini. Sebuah kampung dimana sosok yang kucintai menempatinya. Kalau dihitung, sudah sekitar empat tahun aku tak pernah kesini.
Yaa.. pasti ! pasti rasa rindu dan kangen sudah bergejolak keras di hatiku. Bergelombang tinggi menerjang semua rasa. Aku tak sabar untuk melihat wajah tampannya yang dulu selalu mengisi hari-hariku, mendengar suara lembutnya yang dulu selalu menyanyi untukku, dan merasakan lembut usapan kasihnya yang dulu selalu membelaiku dengan kasih sayang.
Dengar ! detakan jantungku berdetak keras dan berirama indah. Lihat ! Kedipan mataku semakin sayu merasakan rindu yang semakin dalam. Dan Rasakan ! sentuhan tanganku mengeluarkan keringat dingin yang menandakan aku grogi bertemu dengannya. Oh tidak mungkin, mana mungkin aku bisa grogi mau bertemu dengannya ? padahal dulu setiap detik aku selalu bersamanya, yaahh… meskipun dulu tapi tetap teringat dan terkenang.
Mataku menyusuri keindahan kampung ini dengan teliti. Tak ada satupun yang terlewat. Pantai yang sejuk dengan pohon-pohon rindang yang mengelilinginya, tebing-tebing curam dan mengerikan namun tetap mengeluarkan kesan indah pada setiap bentuknya yang beraneka ragam, dan tentunya deburan ombak cantik yang menerjang semuanya dan menghempas. Sungguh indah pemandangan alam yang terbentang di hadapanku.
Mataku sedikit terbelalak saat melihat rumah yang jaraknya tak begitu jauh dari tempatku berdiri sekarang. Rumah kecil namun indah dan rapi, menyimpan beribu kenangan manis yang tak kunjung terlupakan. Disana, di rumah itu pangeran hatiku berada. Oh tuhan, sungguh senangnya hatiku kini dapat berjumpa dengannya. Degupan jantung dan detakan hatiku sudah tak karuan lagi, sangat cepat seperti terkena sengatan listrik.

‘’ini ify kan ?’’ Tanya seorang gadis dengan senyuman manisnya. Memoriku langsung berputar, berusaha mengingat siapa sosok gadis di depanku ini ?
‘’iya, aku ify. Maaf, kamu teh siapa ? aku agak lupa’’ jawabku diiringi senyuman manis, oh ternyata logat sundaku keluar juga.
‘’iya tidak apa-apa kok. Memang sudah lama kita tak bertemu, aku agni’’ katanya tetap dengan senyuman manis.
‘’oh ini agni ? apa kabar ni ? maaf yah, kamu sudah banyak berubah jadinya aku tidak ingat’’ jawabku dengan derai tawa kecil.
‘’ah tidak, malah kamu yang berubah sekarang. Lebih cantik dan tentunya lebih sempurna ify’’ katanya memujiku. Aku hanya tersenyum sebagai tanda terimakasih atas pujiannya yang mungkin terlalu berlebihan.
‘’aku kangen, sudah lama sekali tak melihatmu ify. Pasti kamu kesini mau mencari mas rio kan ?’’ lanjutnya lagi, tapi dengan satu tebakan yang sangat benar !
‘’iya agni, aku sudah tak sabar bertemu dengannya’’ jawabku cepat, disertai semburat merah di wajah manisku.
‘’ayo aku antarkan ke tempatnya, soalnya sekarang ia sedang di pinggir pantai’’ tawar agni, tanpa basa-basi aku langsung menganggukan kepala.

Kami berdua berjalan beriringan layaknya seperti sepasang sahabat dulu. Agni memang sungguh baik, wajahnya pun cantik dan manis. Cinta sucinya yang begitu tulus terhadap rio mampu membuatku meneteskan air mata haru biru ketika dulu. Dia sungguh gadis yang sangat baik, hatinya penuh dengan ketulusan dan pengertian. Namun sayang, rio menyia-nyiakan gadis sesempurna ini dan lebih memilihku. Memang ! cinta tak mungkin bisa dipaksakan. Dengan rela dan ikhlasnya dia yang menyatukan aku dengan rio, menyatukan cinta yang penuh kebahagiaan kini.

*

Kami berdua menghentikan derap langkah yang terus berbunyi sedari tadi. Di depan sebuah pantai indah dengan lautan biru yang luas. Tak lupa, deburan ombak, karang, dan perahu-perahu kecil yang berjejer indah di pinggirannya. Sejenak kami sempat terpaku disitu, memandang lekat semuanya sambil merasakan hembusan angin kencang yang menerpa tubuh.
Tapi, agni lalu menggandengan tanganku dan menarikku kearah sekumpulan orang yang tengah duduk sambil bercanda ria, dan sepertinya mereka sedang membakar ikan. Uhh, bau sedapnya langsung hinggap di hidungku.
‘’itu yang pake kaos putih, mas rio’’ tunjuknya dengan berbisik pelan. Mataku dengan cepat mengarah ke orang yang dimaksud agni. Entah kenapa, detak jantungku menjadi bertambah kecepatannya. Mataku langsung berbinar-binar dan rasanya ingin menangis saking senangnya.
‘’sana gih, samperin’’ senggol agni sambil tersenyum untuk mendukungku.
aku berusaha menenangkan diri, lalu dengan langkah pelan mendekati sosoknya. Ide jahil lewat di otakku. Aku tersenyum bangga, kedua tanganku menutup kedua kelopak matanya dan mendengarkan celotehannya.

‘’aduuhh, kok gelap sih. Ini siapa ? main tutup ajah’’ katanya kaget.
‘’buka dong, gelap nih. Siapa sih ini ?’’ namun semua celotehannya berhenti, saat jemari tangannya menyentuh dan mengusap halus punggung tanganku. Aku merasa ada rasa hangat disana, saat belaian itu hinggap di kulit tubuhku.
‘’rriiooo’’ bisiku di telinga kanannya dan melepas tutupan tangan di matanya.
Rio terdiam, mematung tepatnya bahkan sama sekali tak berkedip dengan mulut yang terbuka lebar saking kagetnya. Tangannya langsung mengusap kasar kedua kelopak mata indahnya itu, lalu dengan hati dag-dig-dug wajahnya mengarah tepat ke arah wajahku. Manic matanya menatap tepat di manic mataku, tatapannya begitu teduh dan membuatku spechlees.
‘’hey, kalian berdua jangan bengong ajah dong’’ sorak agni yang membuat rio sedikit menjadi salah tingkah, dan juga membuat semburat merah kembali muncul di wajahku.
‘’ify ? ini ify kan ? ini bener-bener ify ? Alyssa saufika umari ?’’ tanyanya cepat sambil mengguncang tubuhku dengan sedikit kasar, aku tertawa renyah melihat sejuta senyum bahagia di wajah tampannya.
‘’iya, aku ify. Alyssa saufika umari, pacar kamu yo’’ kataku meyakinkannya.
Dengan cepat, secepat kilat tubuh mungilku yang jenjang dan tinggi ini direngkuhnya kedalam pelukan yang begitu hangat. ia memeluk tubuhku dengan erat bahkan sangat erat, hingga tak ada secenti jarakpun yang terbentang diantara kami berdua.
‘’rio, udah dong aku kan gak bisa nafas nih’’ protesku dengan senyum tertahan.
‘’aku kan masih kangen sama kamu fy’’ jawabnya dengan nada manja. Tapi tubuhku tetap dilepaskannya dari rengkuhan kehangatan itu. Kedua bola matanya yang bening dan indah menatapku dengan lekat, tepat di maniknya.

*

Kini aku dan rio tengah asik melangkah di atas ribuan pasir putih yang halus. Merasakan rasa geli saat kulit telapak kakiku terkena butirannya. Hmm, tuhan memang maha pencipta, ciptaannya begitu sempurna dan takan tertandingi. Membuatku tak pernah melepaskan pandangan dari semua keindahan yang tersuguhkan ini. Apalagi kini di sebelahku sudah ada dia, dia manusia yang selalu membuatku merasakan debaran jantung liar dan detakan tak tentu yang berorasi cepat.
Lensa mataku seolah enggan berpaling dari wajah tampannya, senyuman indah terpancar jelas di sudut bibir merahnya. Aku rindu! Rindu masa-masa yang membuat pipiku merona merah menahan malu, membuat debaran jantungku seakan berdetak lebih-lebih-lebih dan terus berdetak cepat. Dan kini momen itu kembali hadir menghampiriku dengan sejuta rasa tak beraturan.
''kamu kesini kok gak bilang aku fy ?'' tanya rio tetap berjalan santai di sampingku.
''buat apa ? Aku kan mau ngasih surprise'' jawabku sambil terkekeh. Dia tersenyum. Senyuman manis itu lagi.
''oh?'' jawabnya singkat dengan kespresi datar. Aku terdiam dan dia juga diam.
''aaaa...rriiooo lepasiinn akuu'' aku berteriak kencang sambil tertawa bahagia, saat tangan kokohnya merengkuh tubuh kurusku dan mengangkatnya layak putri raja.
''haha, kamu gak pernah berenang kan fy ? Nah sekarang kita berenang aja'' katanya dengan tawa menyeringai. Bahkan sudah ada tanduk devil di atas kepalanya. Huuhh, bagaimana mau berenang ? Aku kan gak bisa berenang. Ckck.
''aa rioo, plise deh yo jangan gitu. Aku beneran takut'' aku langsung memasang tampang memelas dan memohon kepadanya.
''kenapa takut ? Kan ada aku, ayolah fy'' pertanda buruk!
''riioo, jahat deh ya! Kamu tau kan aku gak bisa berenang?'' aku mencibir kesal seperti anak kecil yang ingin membeli ice cream namun tak dibelikan.
''kamu gak bisa berenang ? Masa sih ? Alah, paling juga bohong kan'' rio berhenti melangkah. Sedikit berpikir lalu berkata seperti itu. Dia tertawa lebar.
''ahh rio, teganya deh! Ayo turunin aku dong. Yayaya ? Rio baik, yang cakep, manis imut, kurus, item, jelek, bau turunin aku yak ?'' ify menaik turunkan alisnya sambil cengir gak jelas. Itu muji atau ngolok sih ? Muji kok gak niat.
''heh, kaga pake ngolok ya. Muji, muji aja, yang jelek kaga usah ikut'' sungut rio sambil mencibir.

Mereka, sepasang anak hawa dan adam yang tengah asik bercanda gurau. Menampilkan tawa lebar, cengiran lucu, dan senyum indah. Lengkap! Kebahagiaan alami terpeta jelas di setiap sudut wajah mereka. Mengeluarkan pancaran sejuk dan semburat rona merah menahan malu. Pasangan aneh! Tetapi serasi dan sehati.

''lets go iffyyyy'' teriak rio sambil berlari ke arah gulungan ombak yang sedikit keras dan tinggi. Perasaan ify sudah mulai tak enak kini. Pasti dirinya akan.. akaannn....
bbyyuuurrrr
gulungan ombak yang sedari tadi berbaris rapi untuk pergi ke pinggir pantai pecah di tengah jalan saat tubuh ify terhempas ke atasnya. Dengan santainya, rio melepas kedua tangannya yang menggendong ify, dengan cepat bahkan sangat cepat ify terjungkal ke bawah dan masuk ke dalam gulungan ombak.
Rio tertawa keras, saat ify berteriak menyebut namanya. Tak kunjung sadar dari tawanya tadi, ify berjuang mati-matian agar tak terseret arus ombak yang cukup kuat menariknya. Sedikitpun, ify tak mempunyai keahlian untuk berenang biasanya dia kan hanya berendam saja. Tapi sekarang ? Nafasnya sudah tersengga-senggal dadanya terasa sesak dan sempit sekali. Tak ada udara yang mengisi dan tak udara yang dapat ia hirup.
Andai saja ify punya kemampuan magic untuk terbang keluar dari air dan mleyang tinggi. Atau andai ify keturunan putri duyung yang dapat berenang lincah dan pastinya bernafas di dalam air. Tapi kenyataannya memang begini, ify hanya manusia gak punya sihir dan dia juga bukan keturunan putri duyung, manusia tulen loh!
Sampai semuanya berakhir, tak terdengar lagi raungan keras ify yang meminta tolong, tak terdengar lagi deru nafas ify yang memburu cepat dan terputus-putus. Semuanya hilang ditelan keserakahan ombak, tubuh kecilnya terasa lelah dan lunglai, jatuh tak berdaya menyentuh pasir putih dibawah air. Ify ? Bagaimana dengan dia ? Apa dia hanya lelah bernafas dan pingsan untuk sementara ? Atau mungkin, tergeletak lemah tak berdaya dan terlelap untuk selamanya ? Mungkinkah ? Uhm..
Rio ? Lelaki itu baru sadar dari gelak tawanya yang membahana, baru teringat dan baru berteriak keras setelah beberapa menit lalu kekasihnya meminta tolong memanggil namanya. Rio terdiam, membisu tanpa bergerak sedikitpun. Mengingat ingat sesuatu, yaa! Dia baru sadar IFY BENER-BENER GAK BISA RENANG. Oh god! Tamatlah riwayatmu rio.
Dengan sigap dan tergesa gesa, rio meneriakan nama ify berulang kali. Ikut masuk memecah gulungan ombak dan menyelam mencari sosok gadisnya. Air mukanya memancarkan kecemasaan dan khekawatiran, bola bening matanya terlihat perih seperti siap mengeluarkan tetesan bening.

*
semuanya terlambat sudah, ide jahil atau lelucon kasar itu membawa bencana bagi dirinya sendiri. Sedari tadi, rio selalu merutuki dirinya sendiri, kenapa dia menjadi begitu idiot dan hampir membunuh ify ? Sekarang saja, di dalam gendongan rio ify sudah tak sadarkan diri. Wajah cantik ify lebih merona, mengkilap terkena basuhan air. Membuat rio mau-tidak-mau meskipun dalam keadaan cemas tetap mengeluarkan guratan senyum yang membingkai indah wajah tampannya,
Rio sempat khawatir saat menemukan ify tergeletak lemas diatas ribuan pasir putih yang halus. Dengan cepat dan sigap, tubuh ify dibaringkan di bawah pohon kelapa yang menjadi tameng dari sinar mentari. Rio mencoba menepun pipi dan pundak ify. Namun tak ada respon.
“fy..ify”
“iffyy, ayo dong bangun”
“iffyy, plise bangun fy”
“fy maafin aku, aku cuma main-main tadi. Bangun donk”
satu satunya jalan yang melintas di otak rio adalah, memberikan nafas buatan. Yaa, meskipun berat hati tapi demi ify tak apalah. Akhirnya, perlahan rio menghembuskan nafas berat yang tertahan. Namun dengan perlahan, wajahnya semakin dekat dengan wajah ify yang sayu itu. Semakin lama, semakin dekat dan ..
“huahhahahahahaaaa” ify tertawa kencang sambil memegang perutnya, menahan tawa. Ify yang tertawa bahagia karena sukses megerjai rio, sambil terkikik nakal. Sedangkan rio ? Melongo, cengo, ngangak, diem mematung. Ini yang gila siapa ? Perasaan tadi ify pingsan, trus kenapa tiba-tiba ketawa kenceng gitu. Emang dasar otaknya rio agak lambat, jadinya gak sadar kalo dikerjain ify.

“haha, rio rioo. kamu odong banget sih” ify mencoba menahan tawanya yang sudah tak terkendali itu. Ditambah dengan muka polos rio yang sukses bikin dia ngakak abis.
“fy kok ketawa ? Perasaan tadi kamu pingsan deh fy ?” pertanyaan rio yang sangat konyol.
“aku gak pingsan dan aku gak tenggelem” tawa ify kembali meledak.
“ohh, jadi kamu ngerjain aku kan ?” rio bersungut sebal sambil memasang wajah curiga yang bikin ketawa ngeliatnya.
“aku gak pernah bilang gitu” ify menjulurkan lidahnya lalu berlari menjauhi rio.
“awas yaa kamu fy. Bakal aku kerjain lagi” rio berteriak mengancam sambil mengangkat tangan, seperti seorang ksatria yang ingin membalaskan dendam.
Mereka berdua, di tengah kedamaian pantai. Ombak ria berkejar-kejaran, di gelanggang biru bertepi langit. Dengan tebing curam ditantang diserah, dialasi pasir rata berulang dikecup. Dalam berlomba bersama mega.
“rio geli banget, udah deh” ify memegangi perutnya yang sakit menahan tawa.
“gantian dong sekarang aku ngerjain kamu lagi, adi skor kita 2-1. haha” rio tertawa bahagia sambil memeluk pinggang ify dari belakang, dan menggelitiknya hingga membuat ify mengeluarkan air mata.

*
seandainya semua terpeta sesuai harapan. Pasti mereka tau akan ada apa setelah ini. Suatu moment menyakitkan akan berbekas sepanjang masa, tak terperi dalam labirin otak sedikitpun...

*
tak terasa, kini waktu mulai bergulir lebih cepat. Gulungan langit oranye berkejaran menutupi langit biru yang sudah berevolusi kini. Awan putih, perlahan lenyap ditelah kegelapan. Namun masih menyisakan setitik terang di atas sana.Ify dan rio, baru selesai bermain di pantai, saat menatap sunset indah bersama-sama. Ditemani cinta damai, kasih tulus dan sebuah senyuman hangat menjadikan moment itu tampak berarti. Keduanya, melangkah pasti untuk kembali pulang.
Rio menggenggam jemari ify dengan erat, seperti tak mau kehilanganya atau takut ify tersesat dan tak bisa kembali pulang. Langkah rio semakin cepat, ia menarik tangan ify untuk ikut bergerak lebih cepat. Karena melihat langit hitam yang tak berpihak, dan selanjutnya memang benar.Perlahan dahan bergoyang sambut-menyambut, menjatuhkan setitik embu jernih berwarna. Menimpa bumi beruap dan lembut tentunya. Gemuruh demi gemuruh saling bersahut, bertangkai hujan diarah awan, menghambur daun entah kemana. Semakin menakut hati dan menggoyangkan batin.
Ify sedikit bergidik melihat penampakan langit yang cukup menyeramkan, membuat hatinya kalut dan batinnya resah. Menurut pendapat sok tahunya mungkin akan ada badai besar yang menghantam, tapi.. semoga saja tidak. Memang tak bisa dipungkiri pikiran negative dan perasaan tak enak kerap muncul dan mengudara di benak ify. Namun dengan cepat ditepis, menghamburkan asap udara yang terpecah belah. Ini hanya sekedar perasaan... mungkin!
“ify, kita harus cepat pulang. Sebentar lagi akan hujan deras, dan mungkin akan ada badai” selesai rio mengucapkan kalimat itu, suara petir menggelegar keras. Batinnya semakin resah dan kalut.
“iya rio, ayo kita lebih cepat. Aku..aku mulai takut rio” ify sedikit gemetar berbicara. Mungkin karena cuaca sangat dingin dan gerimis yang mulai turun atau mungkin rasa takutnya sudah memuncak kini.
“iyaa ayoo” rio semakin mengeratkan genggamannya. Menarik ify lebih kuat.
“jangan dilepas yo, jangan dilepas” ify berteriak sekuat tenaga. Berusaha mengalahkan suara sambaran petir agar rio dapat mendengarnya.
“gak bakal, aku selalu di samping kamu. Selalu menggenggam jemari kamu” rio menghadap ify sebentar, menghantarkan sebuah sneyuman manis dan tulus.
Degghh..
sungguh kali ini, ify merindukan senyum itu. Biarpun tadi senyum itu sudah terlihat, namun kali ini beda. Senyuman itu lebih berarti, lebih tulus, lebih indah tentunya. Namun.. yaa, ada guratan lain disana. Ingin rasanya ify memeluk rio kali ini, menghapuskan semua jarak yang terbentang lebar.
Tanpa sadar, ify merutuki dirinya sendiri. Membuat sumpah serapah palsu, dan doa-doa tulus. Bahkan pikiran buruk itu semakin mengudara di benaknya. Sekali lagi, ekor mata ify melirik ke atas langit. Oh god! Langit itu semakin terlihat menyeramkan kini, lebih mengerikan dan lebih gelap. Tak ada pancaran sinar bahagia lagi, sudah lenyap. Tertelan awan hitam pekat yang serakah.
Seketika, tubuh ify terdiam. Tak bisa bergerak, dan tak mau bergerak. Otomatis genggamannya dari rio terlepas, bahkan anehnya butiran hangat tak berdosa itu turun dengan mulus di kedua belah pipi ify. Apa ini ? Apa yang terjadi ? Kenapa tiba-tiba ify diam mematung lalu menangis keras ?
Rio yang merasakan genggamannya terlepas, segera membalikan badan. Ia berdecak kesal, lalu mundur untuk menghampiri ify. Cukup kaget, melihat ify menangis sesenggukan tanpa alasan yang jelas. Rio membelai bingkai wajah ify, lalu merengkuhnya dalam pelukan hangat.

“kenapa nangis sayang ? Ayo kita pulang, hujannya bakal makin deres” mungkin hanya perasaan ify saja, tapi suara rio memang terdengar lebih lembut. Usapan tangan rio di puncak kepalanya begitu hangat.
“aku..aku mau ki..kitaa diam disini” ify berbicara dengan nada bergetar menahan tangis.
“ngapain ? Kita harus cepet pul...” jari telunjuk ify mendrat di bibir merah rio, membuat rio terdiam dan menatap ify dengan tatapan -kenapa-

tanpa sebab dan tanpa apapun, seketika ify menarik rio mendekat ke arahnya. Menghapus bentang jarak yang tak tersisa kini. Rengkuhan hangat, pelukan manis, dan belaian kasih, mampu membuat segala seakan milik mereka berdua. Sudah terlupakan rintikan hujan, dan gelegar petir dasyat yang meraung keras. Yang sempat menggoyahkan batin.
Mata mereka terpejam, merasakan kehangatan yang begitu lama dirindukan. Mematung, mereka berdiam dalam posisi itu untuk beberapa menit. Sampai air bening ify turun dengan deras lagi. Mereka berdua saling mendekap dan membagi kehangatan, batinnya merasa terkoyak merasakan hawa buruk yang sebentar lagi datang.

“aku sayang, dan cinta kamu selamanya” ify mengucapkan dengan lancar dan tegas. Diiringi senyuman hangat dan manis. Rio tersenyum. Senyum kecut yang parau kini. Entah kenapa ?!
“aku juga sayang dan cinta sama kamu selamanya, meskipun nanti... jesus berkata lain” rio sedikit tercekat dengan ucapannya barusan. Apa yang baru dikatannya ? Tak masuk akal.
“jangan, sampai kapanpun kamu milik aku dan selalu sama aku. Hanya aku seorang, hanya kita berdua. Aku dan kamu. biarpun nanti jesus tak memberkati, tapi cobalah. Kita akan bersama” ucapan konyol. Kenapa tiba-tiba jadi membicarakan sesuatu yang tak masuk akal ? Bahkan sampai menyertai nama Jesus! astagaa..
“aa..kkuu..aku..hanyaa milik kamu ify. Hanyaa aku dan kamu” ify mengangkat jari kelingkingnya, biarpun tersirat rasa lain. Cukup dia hanya memberikan senyuman manis untuk gadisnya. Dan biarpun janji itu hanya kepalsuan, biakan dia yang menanggung semuanya.

Mereka, dua insan yang sedang membuat janji tak tertulis. Tak perlu matrai, tinta hitam, tanda tangan resmi ataupun sebagainya. Janji yang hanya bermodal hati dan keyakinan. Meskipun sebagian keyakinan itu tak sepenuhnya teryakini, tapi cukup menangkan hati. Semuanya juga akan kembali pada hak Tuhan. Semua sesuai kehendak dan kemauannya. Tapi cukup berdoa bahwa kehendaknya itu, setidaknya cukup memberikan titik kebahagiaan. Meskipun siratan perasaan buruk menyiksa, tapi sepertinya sudah takdir!

*
petir itu, masih meraung dengan keras bahkan sangat keras. Cambukan kilat dengan siluet cahaya mengerikan terus terpantul. Gelegar tangis alam, membanjiri semuanya. Sapuan angin kencang, membelai dengan lembut namun terasa menyeramkan. Tubuhku menggigil, bergetar hebat dalam alunan nyata.
Semuanya, bertambah mengerikan saat nelayan dan seluruh pengunjung pantai berhambur keluar. Mereka, berlomba dan berlomba untuk secepatnya keluar dari daerah pantai itu. Ditambah dengan genderang tangis yang terdengar perih, teriakan histeris yang terus terulang memekakan telinga.
Mereka semua seperti orang yang habis melihat kuntilanak. Hah ? Kuntilanak ? Zaman udah 2011 masa sih masih jaman sama kuntilanak. Yang pasti ini lebih mengerikan. Lihat, lihat mereka sampai nangis tersedu sambil berlari sekencang mungkin. Berusaha menghindari suatu bencana yang akan menjemput ajal mereka, mungkin.
Yaa, suara deburan ombak dasyat terdengar keras menghantam dan pecah menjadi kepingan tak berarti. Busa putih menggelayut manja dan menempel indah pada butiran pasir. Tapi kali ini ombaknya lebih dasyat. Ditambah dengan getaran, yaa getaran hebat yang biasa disebut GEMPA dan TSUNAMI!
Oh tuhan, berkatilah mereka semua! Ify dan rio malah asik mematung sambil terlamun melihat keadaan sekitar yang seketika menjadi hancur. Semua kacau, semua berantakan. Tak terpikirkan bahwa mereka seharusnya ikut berlari menghindari kejaran maut itu.
“rio..rioo..aku takut yoo, ini kenapa? Aku taaakuutt” ify berteriak kencang sambil menangis terisak. Batinnya cukup parah terkoyak kini!
“aku..akuu..aku gak tau fy. Aku jugaa takut” rio menjawab dengan nada bergetar, ditambah bibirnya yang sudah memutih.
“hey nak, ayoo cepaat lari ini tsunaamii” seorang bapak tua yang memegang jaring berhenti, memperingatkan rio dan ify untuk ikut berlari, bukan malah terdiam dan nanti menyesali smeuanya.
Angin dingin semakin kencang menerjang, semua benda terangkat ke atas. Ombak tinggi terus naik naik dan naik menelan semuanya. Getaran hebat membuat semuanya menggigil, mereka bagaikan mayat yang terjatuh dan terjatuh berulang kali. Jerit tangis dan helaan nafas pasrah terus terngiang jelas. Apa ini akhir hidup mereka ?
“ify ayo larii, ayoo kitaa lariii” rio menggenggam erat jemari ify, menariknya untuk ikut berlari kencang. Namun nihil, ify malah terdiam dan tersenyum pasrah. Tatapan sayunya terlihat menyedihkan.
“iffyy jangan diam. Aku hanya mau kita selamat, ayoo ifyy” tak sadar setetes air mata ketakutan turun dengan mulus dari kelopak mata rio. Sebuah tetes air mata yang mewakilinya resahnya.

Ify mencoba untuk ikut berlari kencang, ia tak ingin mati konyol di telan ombak. Masih punya setitik harapan untuk menempuh hidup bersama rio. Tapi sayang, entah kenapa kakinya seperti digandoli berton-ton beton dan besi yang mampu membuat kakinya hanya diam. Tak tahu harus berbuat apa, genggaman tangan rio membuat dirinya berdesir.

“kaki aku gak bisa gerak yo, kaki aku sakit” ify berteriak histeris, menahan tetesan air mata yang terus mengalir.

Terlambat! Seketika ombak menerjang dasyat, mengalahkan kecepatan kilat. Mengalahkan keganasan cambukan petir yang tak kunjung henti. Tangisan alam, deru teriakan, terus bermunculan dimanapun. Air ombak yang cukup –bahkan sangat- deras menyapu orang-orang yang tengah berlarian. Termasuk ify dan rio. Kedua jemari mereka bertaut erat, meskipun keduanya mulai terpisah oleh ombak. Nafas tersenggal yang hampir mencapai batas klimaks. Kini, hanya doa yang punya andil besar, menentukan hidup, mati mereka.
Finally! Mereka beruda sudah tak terlihat. Banyak rimbunan daun dan pohon yang tumbang, menutupi semuanya. Ribuan sampah dan juga benda lainnya berhambur kacau. Pemandangan yang sangat me-nye-ram-kan. Getaran dasyat deburan ombak maut tadi, menjadikan pantai indah ini seperti sarang mayat. Disana, orang-orang tak berdosa menanggung derita. Tubuh lemah, bibir membiru, dan kulit putih tanpa nyawa.

“rrii..rii..rioo” bisikan sendu yang terucap lirih, keluar dari bibir manis ify. Gadis itu mencoba bertahan, menahan semua letih yang mendera!

Ify selamat. Ternyata tuhan belum menginginkannya. Ify mencoba berdiri, berdiri tegak untuk berlari mencari sosok rio, yang entah ada dimana sekarang. Mungkin masih hidup dengan nafas berirama, tapi mungkin sudah terkulai lemah dengan hembusan nafas akhir menjadi penutup hidup selama ini.
Dan benar! Dengan seketika lututnya melemas. Melihat sebuah pemandangan tak terlupakan. Rio, lelaki tercintanya terbaring dengan wajah tampan yang kini terlihat lelah. Hanya raga, jiwanya telah pergi menembus gumpalan awan putih. Dengan sekejap dunia ini terasa suram dan hitam. Bagi ify.
Tak ada secuil perasaan dan secercah harapan kini. Semuanya sudah selesai. Cukup sampai disini. Terhapus sudah semua mimpi menempuh hidup bersama rio, mempunyai buah hati cantik dan hidup harmonis. Tragisnya semua mimpi belum tentu bisa jadi kenyataan. Hanya sebuah mimpi dan selalu menjadi mimpi.
Bulir air mata. Genggaman tangan perih. Dada sesak dan nafas tercekat. Menjadi satu di dalam raga ify, entah mungkin jiwanya sudah melayang mengikuti rio atau malah mencari jalannya sendiri. Seandainya saja ia membeli kantong ajaib doraemon, mungkin semuanya takan begini. Atau mungkin seandainya ia seperti thumbellina, pasti semua akan jadi gampang.
Sekarang. Hanya waktu dan detik kini. Kulit halus wajah rio, dapat dirasakannya untuk terakhir kali. Mata sayu rio yang terpejam tenang, sungguh terlihat damai. Tak ada beban disina. Hanya guratan letih yang tersirna. Ini adalah takdir. Mungkin ini semua sudah menjadi rentetan kehidupan ify. Setiap cerita, pasti akan ada buliran tangis dan goresan luka tajam.
Dan untuk terakhir kali ify berbaring di sebelah rio. Menggelayut manja di lengan kananya, seperti dulu. Memandang wajah rio yang tak bernyawa dengan sebuah senyuman manis, senyuman tulus yang semoga bisa dilihat rio dari atas sana, itu sebuah senyum special dari ify. Ify sedikit mendekap rio, berusaha merasakan kehangatan yang kini sudah berhenti dialirkan oleh rio.
Ify ikut terpejam. Merasakan hembusan nafasnya yang tak teratur. Merasakan rasa lelahnya yang terus menyiksa batin. Merasakan nyeri di setiap goresan luka di kulit putihnya, maupun luka di sudut hatinya. Dan yang terpenting ify ingin merasakan, bahwa saat ia membuka mata nantinya ?! Berharap semua ini hanya mimpi buruk yang menemani malamnya. Hanya sebuah bunga tidur yang tak sengaja terselip ke dalam mimpinya.

*

ketika waktu telah terpekur, semuanya berakhir dengan irama perih. Meninggalkan bercak ingatan yang tak mungkin terlupakan. Sang dewa hati telah mati nyawa dan mati rasa disana. Meninggalkan dewi cintanya dengan remukan hati tak berguna...

*

@_valeryals
Valery Axelle Lova

Adegan Usai Hujan

Adegan Usai Hujan





6 February 2011..


Hari ini langit sangat tak bersahabat. Gelegar guntur dan petir menyambar keras. Gulungan awan hitam berdatangan dari berbagai arah, lalu menyerbu hingga menimbulkan gemericik air. Dibawah rinai hujan, dengan atap langitu hitam kelam dan backsound petir yang menggema, seenggok manusia tanpa nafas telah bersembunyi dalam butiran pasir coklat.

Ternyata sang langit sungguh menawan, hingga rela menyusahkan orang lain dengan hujannya, hanya untuk ikut berduka cita. Naungan pepohonan lebat, tak mampu menahan guyuran hujan, dahannya malah tergoyang keras dengan dedaunan yang melayang lalu jatuh tak terarah.


Raungan tangis terus menggema tanpa ampun. Teriakan-teriakan kecil hingga teriakan histeris selalu terdengar miris. Entah sudah berapa ribu tetes mata yang jatuh, dan sekejap hilang saat tanah hitam dengan rakusnya meresapi mereka. Padahal tetes-tetes air mata itu sangat berarti, akan menunjukan pengakuan bahwa mereka telah turut berbela sungkawa.

Kepalaku benar-benar terasa pening. Raungan tangis, teriakan miris, hingga ucapan menghibur yang tak berarti itu telah memenuhi dan mendesak benakku. Daun telingaku hampir robek karna tak kuat menampung suara-suara menyakitkan tersebut. Apalagi kini, langit seolah ikut prihatin terhadap nasibku. Aku tak butuh rasa iba dan kasihan!

Uh, aku bosan melihat air mata palsu yang terus meluncur deras. Jangan sok menderita di depanku, karna aku bahkan sangat menderita daripada kalian. Dan aku, masih harus mendengar suara-suara parau mereka, yang malah membuatku sesak. Tak bisakah kalian untuk diam sejenak, mengunci mulut hingga rapat dan menyimpan lelehan tangis untuk nanti saja ? Aku butuh ketenangan. Dan aku butuh suasana hening.

“kamu yang sabar ya, jangan sungkan buat nangis di depan aku. Aku bakal selalu ada buat kamu, aku bakal minjemin bahu untuk kamu nanti” seorang gadis dengan pakaian serba hitam, sambil memegang payung hitam mengelus pundaku. Berusaha berbicara lembut untuk menengankan perasaanku.

“aku tau kamu menderita dan sedih banget fy, jangan kayak gitu! Kamu gak perlu berpura-pura tegar dan menyembunyikan tangisan itu. Aku bisa menemanimu menangis sepanjang hari disini” seorang wanita lainnya, dengan pakaian yang serba hitam juga, berusaha merengkuh aku ke dalam peluknya.

Sungguh! Aku tak butuh kata-kata hiburan yang akan membuatku sesak saja. Apa-apaan kalian, dengan seenaknya menuduh aku 'berpura-pura tegar'. Aku tak butuh dan tak akan pernah butuh kepura-puraan. Kalian tak akan tahu, bahwa aku bukan menyembunyikan raungan tangis itu. Aku tak pernah melarang mereka untuk keluar dan membuat aliran sungai kecil.

Aku tak pernah memarahi atau membentak mereka jika ingin keluar! Hanya saja air mataku telah habis. Sudah benar-benar habis, lalu apa yang akan aku keluarkan saat menangis ? Apa kalian ingin melihat aku mengeluarkan darah, sehingga kalian bisa benar-benar tau bahwa aku sangat menderita ?

Aku terlalu lelah, terlalu rapuh, dan terlalu kalut. Haruskah aku berteriak sekeras mungkin sampai tenggorokanku tercekat, dan haruskah aku menangis sesenggukan sampai mati kehausan, agar kau bisa hidup lagi ?

Sebutkan semua dukun yang mampu menghidupkan nyawa yang telah mati, sebutkan semua orang-orang yang mengaku dirinya nabi dan bisa menghidupkan nyawa yang telah mati. Aku rela memberi kalian bilion harta berlimpah, aku rela memberi kalian tumbal tubuhku sendiri. Ayo! Carikan aku.

Orang-orang pasti heran melihatku yang diam tak bersuara dan tanpa sebercak air mata. Orang-orang pasti heran melihatku yang tak mengeluarkan ekspresi sedih kehilangan. Orang-orang pasti heran melihatku yang tak bergerak sedikitpun. Dan orang-orang pasti heran melihatku yang seperti patung tak berseni.

Ya! Sejak melihatnya terkapar terkena kecelakaan parah dengan lelehan darah merah, sejak melihatnya terpejam menahan sakit sayatan pisau saat operasi, sejak melihatnya terpejam dengan tenang lalu menghembuskan nafas terakhir, sejak melihatnya tertidur damai dengan setelan jas hitam-putih di dalam peti kematian, dan sejak melihatnya tenggelam dalam lautan pasir hitam. Aku hanya diam.

Seperti yang kubilang tadi, air mataku telah habis hingga tak meninggalkan bekas sedikitpun. Rasa sakit dan sedih kehilangan, terlalu memuncak hingga mencapai batas klimaks. Aku terlalu rapuh, hingga hanya mampu memandangnya di bawah naungan pohon yang jaraknya cukup jauh. Aku tak mau kalau mataku nantinya terjatuh mencelos saat melihat senyum dingin di wajahnya.

Semuanya benar-benar instan. Seingatku, baru kemarin dia membelikanku liontin gelang berbentuk kunci yang sangat lucu. Baru kemarin, dia memamerkan tawa lepas dan senyuman manis. Oh, tuhan. Ini sangat tidak adil. Apalagi yang harus kulakukan sekarang ? Apa yang harus aku perbuat ? Tidak ada. Ya! Tidak ada.


Aku hanya bisa diam..
Aku hanya bisa berdoa meminta keajaiban..


**


Sejak dua jam yang lalu. Aku hanya diam mematung, duduk bersimpuh di sebelah sebuah makam yang aroma kematiannya masih tercium hangat. Sendirian. Saat semua orang dengan baju serba hitamnya pulang—termasuk aku yang dari bawah, hingga atas menggunakan hitam—tak lupa membekaliku dengan hiburan kecil, senyuman getir, dan juga belaian halus di pundakku.

Inilah suasana yang sangat aku butuhkan. Dimana tak ada lagi raungan tangis, teriakan histeris, dan kata lembut 'sok menghibur', aku sangat bosan mendengarnya. Dalam keheningan yang mencekam ini aku terus mematung. Tetap duduk bersimpuh di atas tanah hitam kotor, dengan pandangan yang tak pernah beralih dari makam di depanku. Sebuah nisan dengan bertuliskan namanya: Alvin Jonathan Sindunata, seorang lelaki yang seumur hidupku diisi dengan bersamanya.

Dia sosok lelaki idaman semua wanita. Sosok lelaki yang mampu melindungiku dari mara bahaya, mampu membuat aku mengeluarkan gelak tawa meskipun dalam sedih yang mendera. Sayangnya, ini bukan kisah cinta yang suci. Bukan kotor karna perbuatan fisik, bukan ternodai karna nafsu syahwat manusia, tetapi ternodai dan kotor karna darahku dan darahnya yang bercampur, memperlihatkan seutas ikatan tali persaudaraan yang tak terlihat oleh mata.

Dia, Alvin, seorang kakak yang dengan baik telah membahagiakan aku sebagai adiknya. Tapi disisi lain, dia, Alvin, seorang kekasih yang dengan baik telah membahagiakan aku sebagai kekasihnya. Kami merangkap, menciptakan ruang baru yang telah susah payah kami bangun sendiri. Dengan ketidaksengajaan, rasa cinta yang selayaknya dirasakan oleh anak adam dan hawa tumbuh dengan subur.

Cinta sebagai sepasang kekasih yang sudah lima tahun kami jalani. Cukup untuk memenuhi kotak kenanganku dengan berbagai kenangan indah tak terlupakan. Rasanya, aku tak cukup mampu untuk menata deretan kenangan tersebut, lalu menjejalkannya ke dalam kotak biru yang akan aku gembok rapat. Membuangnya kedalam ruangan tak bercahaya dengan suara cicitan tikus nakal.

Di sisi lain, aku bukan hanya kehabisan air mata. Tapi aku juga terlalu tidak percaya, bahwa disana! Dibawah tumpukan butiran pasir hitam, didalam kurungan peti kayu coklat sosoknya telah tergolek lemas. Sosok yang selama 17 tahun telah menemaniku. Menemaniku sebagai kakak yang sangat aku sayang, dan sebagai kekasih yang sangat aku cintai.

Ah, alvin alvin alvin! Aku mohon bangunlah, buka matamu lalu dekap aku dalam pelukmu walau hanya semenit. Ayo, aku masih disini, selalu disini, dan selamanya disini. Selalu berharap seketika makam di depanku bergoyang keras, lalu kau keluar dengan senyuman manis. Aku janji akan membelikanmu berkardus-kardus berisi yupi, dan segala makanan yang berbau yupi. Kau senang bukan ? Itu kesukaanmu! Jadi ayolah bangun.

“alvin”

akhirnya mulutku masih bisa berfungsi, masih bisa menyebut namamu. Aku teringat, dulu kau selalu membuat janji dan itupun selalu kau penuhi. Kau pernah bilang “panggil aku tiga kali, lalu cium liontin kalung kita. Aku janji, akan berusaha ada dan tersenyum manis di depanmu” sungguh! Janji yang begitu manis. Dan benar-benar manis ketika kau datang saat sebentar lagi aku menyebut namamu. Kau harus datang. Kau punya janji, alvin.

“Alvin, Alvin, ALVIN”

aku sudah berteriak, berteriak memanggil namamu tiga kali. Dan lihat, lihat ini. Aku juga sudah, mengusap pelan bahkan mencium mesra liontin kita. Oh, tuhan! Aku mohon demi apapun alvin bisa hidup lagi. Aku sudah cukup kehilangan sosok kakak lelaki yang sungguh baik sepertinya. Dan kini ? Aku juga telah kehilangan sosok kekasih yang dengan tulusnya aku cintai.

“ify”

itu namaku, ya.. ify adalah namaku. Lalu siapa yang barusan memanggilku dengan intonasi lembut ? Dan oh! Siapa juga yang menepuk pundakku dengan mesra ini. Siapa sih yang telah berani merusak damainya keheninganku ? Tak tahukan dia bahwa aku tengah dirundung kesedihan.

“ify, ini aku rio”

damn! Ternyata dia, buat apa dia datang saat ini. Sungguh saat-saat yang tepat. Meskipun sebenarnya aku membutuhkan bahu untuk meredam kesedihan, tapi dia bisa datang nanti kan. Aku terlalu kacau untuk dilihatnya sekarang. Dan aku janji, kalau saja dia mengeluarkan sepatah kalimat yang berintonasi lembut dan berbau 'kata hiburan', aku akan menendangnya jauh-jauh.


“bolehkan aku menemanimu disini, untuk sekedar menatap nisannya ?” aku merasakan rio ikut duduk bersimpuh di sebelahku.

“alvin jahat banget deh, dia gak tau apa kalo kita sedih banget disini. Dia penghianat, dengan seenaknya ninggalin kita dan janji-janji itu” ternyata dia malah ikut berkeluh-kesah bersamaku. Baguslah, jadinya aku tak perlu membuang tenaga untuk menendangnya.

“aku pasti bakal kangen banget sama dia, kangen leluconnya, kangen tawa lepasnya, kangen sikap jahil dan semuanya” sungguh, aku merasakan setetes air mata jatuh di tangannya yang kini digenggamnya dengan erat. Itu air mata tulus kehilangan, bukan air mata pura-pura kehilangan.

“aku tau kamu masih pingin nemenin alvin disini, aku tau kamu masih gak percaya dengan kepergiannya. Tapi aku mohon, demi dia kamu pulang. Mama kamu gak kuat sendirian dirumah” jemarinya menyentuh hangat kepalaku. Mama ? Ah, aku lupa kalau aku punya mama dirumah.

“gu..gue..gue..gak..ma..mau..pergi” seperti yang aku bilang tadi, untuk saat ini aku hanya butuh ketenangan. Aku juga gak sanggup liat mama nangis nantinya.

“baiklah, aku akan menemanimu duduk disini, selalu disini, dan selalu bersamamu” aku hanya membalas dengan senyum dingin.


Aku dan rio duduk bersimpuh menemani alvin yang tengah sendirian di dalam sana. Rio, sahabat kecilku dan alvin. Kita selalu bertiga, selalu bersama-sama setiap saat. Membuat moment-moment indah tak terlupakan. Rio, sosok lelaki manis dengan tubuh tinggi yang menawan. Sikap lembut dan hangatnya membuatku nyaman berada di dekatnya.

Dia sungguh pengertian dan perhatian kepadaku. Dia juga telah berbaik hati ikut merahasiakan hubungan terlarangku dengan alvin. Karna dia sahabat, yang dengan setulus hati ingin melindungiku dan alvin. Meskipun—entah benar atau tidak—seringkali aku merasakan dirinya kesal bahkan tubuhnya bergetar saat melihat kami—aku dan alvin—saling merajuk manja dan membelai mesra.

Aku juga sayang padanya. Sayang yang dulunya pernah terartikan sebagai perasaan lelaki kepada wanita. Tetapi perlahan pupus saat alvin mulai memasuki celahnya. Perasaan sayang itu tengah berevolusi dan terartikan sebagai perasaan adik ke kakaknya. Dia kakak kedua bagiku.

Sudah beribu-ribu detik aku duduk disini bersama rio. Disebelah alvin, dan dibawah naungan rinai hujan. Badanku telah bergetar hebat, meskipun tak melihatnya tapi aku tau bahwa bibirku sudah berwarna keputihan. Kulit jari-jariku saja sudah mengkerut tak tahan dengan dinginnya. Belum lagi suara cambukan petir dan guntur yang serasa mengguncang dunia, dan bahkan hampir membuatku tuli.

Tak apalah, berkorban begini untuk alvin tak ada harganya bagiku. Yang penting alvin tau, bahwa aku masih disini untukknya. Masih menunggunya untuk bangun dari tidur panjang yang akan dihadapinya. Ingin sekali aku menggali kuburan ini, tapi tak mungkin. Jangan-jangan alvin malah murka kepadaku.

Tapi aku sudah tak kuat. Benar-benar tak kuat. Tubuhku terasa sangat menggigil, aku saja sudah melihat kalau wajah rio juga memucat. Entah, detik keberapa aku mulai limbung dan tak sadarkan diri. Yang aku tahu, aku masih berada disisi alvin untuk menemaninya. Aku malah berharap, kalau mataku takan terbuka lagi. Agar aku bisa bertemu alvin disana. Semoga!


**

Senja sudah tiba, perlahan langit mulai berevolusi menjadi warna jingga kemerahan bercampur dengan putih vanilla. Tak ada suara kicau burung untuk menyambut rembulan dan para bintang seperti biasanya. Semuanya hening, mendekam dalam sarangnya untuk berlindung. Yang ada hanya suara rinai hujan

oh, ternyata sang langit masih saja terkurung dalam lingkup prihatin. Masih saja sibuk berpura-pura untuk turut berduka cita. Dari aku terlelap dalam kegelapan, hingga aku mampu membuka mata dan duduk tenang di atas kasur biru kepunyaan alvin, orang-orang masih saja sanggup berpura-pura.

Aku kira setelah aku tak sadarkan diri dan memejamkan mata tadi, aku akan bertemu alvin dan hidup dalam rengkuhannya. Ternyata tidak, mataku masih bisa terbuka, dan aku masih bisa melihat dunia. ah. Padahal aku akan sangat berterimakasih pada tuhan kalau saja dia mau mengambil nyawaku sekarang.

Sekarang apa yang harus aku lakukan? Entah sudah berapa lama aku duduk mematung di dalam kamar alvin. Kamar bercat putih dengan ukiran bunga cantik, selalu tertata rapi, dan harum tentunya. Sesekali aku menghirup udara sebanyak mungkin, berusaha memenuhi rongga dada dengan harum kamar ini.

Mataku saja rasanya tak bisa lepas memandang baju basket berwarna merah dengan nomor punggung 9, yang digantung rapi di sebelah cermin besar. Baju itu, mengingatkanku pada adegan-adegan bahagia, bersama alvin. Aku masih benar-benar ingat saat alvin menyuruhku memakai baju basketnya, lalu bermain basket bersamanya.

Saat alvin membentakku dengan kasar, mendiamkan aku menganggapku sebagai angin selama 3 hari, hanya karna aku mengotori dan merobek baju basket itu. Tapi kemudian, dengan bersusah payah aku belajar menjahit di sekolah, memperbaiki bajunya, lalu memakaikannya saat dia sudah memaafkan aku. Ah, terlalu banyak kenangan, hingga aku tak mampu.. tak mampu untuk menghapus sedikit saja kenangan itu. Jangankan menghapus, menyentuhnya saja aku tak mampu. Aku takut, jika aku menyentuhnya kenangan itu akan pudar lalu menghilang dan lenyap..

“ify” suara ketukan pintu, dan juga panggilan lembut namaku terdengar nyaring. Uh, sungguh menganggu saja.

Tiba-tiba sebuah kepala tersembul dari balik pintu coklat dengan sebuah poster Cristhian Ronaldo yang tertempel erat. Sebuah manusia lalu menampakan dirinya, memperlihatkan wajah ramah sampai senyuman manisnya padaku. Tapi sayangnya aku sama sekali tak tertarik dengan senyuman manis itu, karna aku masih punya simpanan senyum yang lebih manis darinya.

“ayo makan, kamu pasti lapar. Aku sudah buatkan sandwich kesukaanmu, ayolah” barusan dia mengajaku makan? Astaga aku juga tak ingat kapan terakhir kali aku makan. Mungkin kemarin sore?

Aku hanya mengarahkan lirikan kepadanya. Dia berdiri mendekat kepadaku, menampakan wajah ramah yang mampu membuat orang-orang terbuai. Tapi aku tak bergerak. Tak bersuara. Hanya diam, sambil melirik.

“ayo makanlah bersamaku, aku janji akan menyuapimu hingga habis” janji yang sungguh manis, tapi aku benar-benar tidak tertarik. Perutku saja tak berasa apapun. Aku telah mati rasa.

“please fy, ayo makan. Jangan begini, kamu tidak kasihan melihat mama yang menangis di luar melihatmu begini, jangan tambah penderitaannya. Dia juga sedih kehilangan alvin” rio, mengiba padaku. Dengan wajah memohon yang hampir membuatku luluh.

Astaga, aku lupa jika aku masih mempunyai seorang mama yang juga sedang terpuruk dalam kesedihan. Ah, aku tak tahu bagaimana perasaan mamaku yang kehilangan sosok alvin, anak yang paling dibanggakannya kini sudah tiada. Oh tuhan, kenapa bukan aku saja yang mati dan terbang ke atas menyusulmu? Kenapa harus alvin? Sungguh tidak adil.

“jangan hanya memikirkan dirimu sendiri ify, lihat dan pikirkan mama, cobalah sedikit kuatkan hatimu. Kalau kamu memang merasa rapuh, ayo.. disini masih ada aku, aku masih sanggup memberikan kehangatan dalam dekapan kasih sayang untukmu!” rio melebarkan tangannya, mengajak aku untuk masuk ke dalam rengkuhannya. Aku mengalihkan pandangan. Memalingkan muka dari mata dan hadapannya. Karna tatapan matanya sungguh tajam, seperti.. menuntut.

Aku diam, tetap diam di detik selanjutnya. Entah mengapa, rasanya seperti ada rantai besar dengan gembok seberat batu beton yang melilit tubuhku. Mengekang ragaku, menahannya untuk tak bergerak, bahkan menahanku untuk masuk kedalam pelukan Rio. Ah, sialan! Kenapa ini? Padahal aku ingin mencicipi kehangatan yang dijanjikan Rio tadi. Aku cukup lelah untuk memanggul semuanya sendiri.

“jangan sok tegar dihadapanku, karna aku juga rapuh tanpanya” aku cukup tau, kalo kata “nya” itu dimaksudkan pada Alvin.

“aa..ak..aku,..butuh..ka..kamu..” benarkah bahwa mulutku berbicara seperti itu? Akhirnya, bibir manis ini bisa meninggalkan kata munafik, jujur akan keadaan hatiku lebih baik sepertinya.

Rio menatapku dengan berbinar. Matanya teduh, membuatku terlena saat melihatnya. Entah detik keberapa, tubuhnya sudah melilit di tubuhku. Aku bagaikan bayi kelinci yang membutuhkan kehangatan besar. Ah, rio.. ternyata dia tidak bohong! Dia benar-benar mengalirkan semua kehangatan yang dimilikinya untuk tubuhku. Sambil dia membelai lembut kepalaku, dia berkata,

“aku sayang kamu”



**

24 April 2011..


Sepertinya aku sudah pernah mendeskripsikan suasana ini dengan detail dan rinci. Sepertinya aku sudah pernah menceritakan semua rasaku saat mendengar suara-suara dari mereka. Sepertinya aku sudah pernah mengatakan bahwa mereka hanya mengeluarkan tangisan palsu hingga bosan. Sepertinya.. sepertinya.. sepertinya aku sudah pernah mengalami ini. Dan kini.. MENGAPA TERULANG?

Aku ingat, masih sangat ingat benar kejadian seperti ini saat 2 bulan lalu. Saat dimana sang langit dengan sifat menawannya rela menyusahkan orang lain dengan hujannya, untuk sekedar menunjukan rasa belasungkawanya padaku. Saat dimana manusia-manusia berseragam hitam meraung kencang, hingga menimbulkan titik air yang terus mengalir. Saat mereka—manusia manusia berseragam hitam—menepuk halus pundakku, menggenggam lembut jemariku, menarikku dalam pelukannya lalu berceramah panjang lebar yang hanya berisi tentang kata-kata menghibur.

Dan kini.. dan kini? Ya! Kini semuanya terulang lagi, dan hanya memberikan jarak dua bulan untuk kepulihanku dalam kesedihan lampau. Sudah berapa kali aku memohon untuk menghentikan penderitaan ini, karna aku bukan golongan manusia-manusia yang dengan sabar dan tabahnya menghadapi semua dengan senyuman manis—meskipun terlihat parau—.

Sungguh! Aku ini hanya seenggok manusia biasa. Yang selalu menangis jika merasa sedih dan tentunya yang selalu tertawa jika merasa senang. Mana mungkin aku bisa tertawa ketika seseorang tersayangku telah dikurung dalam peti mengkilat berbau cendana yang menusuk? Mana mungkin aku bisa tertawa ketika seseorang tersayangku itu ditimbun oleh pasir-pasir hitam yang penuh dengan cacing belatung atau sejenisnya?

Itu hal konyol yang dengan tidak mungkinnya aku lakukan! Aku masih punya sedikit kadar kewarasan untuk berpikir dan melakukan hal normal. Kalau saja menyalahkan Tuhan itu tidak menambah kantung dosaku, maka aku akan melakukannya. Aku masih sadar, bahwa aku hanya hamba Tuhan yang harus menerima takdir apapun yang diberikan padaku. Entah takdir buruk ataupun takdir baik, aku hanya bisa menerima dengan pasrah. Tanpa perlawanan, karna itu akan sangat sia-sia. Hanya membuang tenaga dan waktu.

“ify, maafkan aku.. aku tak bisa menjaga Rio dengan baik, aku gak bisa ngelarang dia pergi waktu itu. Oh, sungguh aku merasa bersalah padamu”

tiba-tiba saja, seorang perempuan yang lebih dewasa dariku datang dengan tangisan kencang yang memekakan. Ia bersimpuh di ujung kakiku, memeluk lututku dengan kencang, seolah-olah aku akan berlari kencang dan meninggalkannya. Aku bergeming. Tak melirik barang sedikitpun. Tak perlu melihat wajahnya yang berurai air mata, dari suara seraknya saja aku sudah bisa menduga siapa itu. Setidaknya aku pernah bertemu-mengobrol-berpesan padanya—sebelum kematian ini ada—.

Sivia Stevanata Haling, atau akrabnya disebut Via. Gadis berkulit putih dengan wajah yang sungguh manis. Bukan hanya fisiknya yang mampu membuat orang terbuai, bahkan dalam hatinya juga mampu membuat orang terlena. Dalam tubuhnya mengalir darah kedua orang tua Rio. Ya! Dia kakak kandung dari Mario Stevano Haling. Oh, tidak tidak. Seharusnya sekarang Rio menyandang gelar baru pada namanya. RIP, Almarhum. Atau semacamnya lah. Haha, sungguh bagus sekali gelar yang disandangnya kini, hatiku malah terbesit untuk ingin mendapatkan gelar itu juga.

“entah mengapa, pada saat itu aku merasakan hal beda. Tak sedikitpun aku mengeluarkan kata-kata untuk melarangnya pergi. Dia malah datang padaku, memeluk lembut tubuhku, bersalaman, dan dia juga mencium keningku. Bahkan, dia mengucapkan selamat tinggal ify.. oh, tuhan! Tapi aku tak bisa berbuat apapun, mungkin beginilah takdirnya”

tanpa diminta dan diperintah, Sivia mengeluarkan suara. Bercerita tentang saat terakhir dirinya bertemu Rio. Hah! Apa-apaan ini? Dia sengaja berkata begitu untuk membuatku iri? Bercerita tentang kemesraan mereka—Rio dan Sivia—sebelum Rio meninggal? Aku tidak butuh. Sungguh! Sama sekali tidak butuh. Biarkan saja, biarkan aku tak sempat mendapat pelukan hangat dan ciuman dari rio. Setidaknya aku tau selama ini dia selalu berkorban dan menyayangiku dengan tulus.

“ayolah fy bicara.. aku juga merasa sedih sepertimu, dia adikku! Adik tersayangku. Maafkanlah aku fy, katakanlah sesuatu kalau kau mau memaafkanku”

aku muak! Bosan dengan segala penuturan kata yang diucapkan gadis ini. Berbicara dengan nada dan intonasi yang biasa saja tak bisakah? Apa harus perlu berkata dengan suara lirih dan juga nada menyedihkan? Oh, berlebihan sekali gadis ini. Dan aku? Sungguh tak menyukainya. Setidaknya untuk saat-saat ini, karena sebenarnya dia gadis yang baik dan penyayang.

Aku masih tetap berdiri di kejauhan..
masih memandang peti berbau cendana dan timbunan pasir hitam..
akan terus begini sampai titik-titik hujan mulai menipis..
hanya meninggalkan embun lembut di pucuk dedaunan..


**


4 Desember 2011..


Roh-roh yang ditiupkan lampau telah disedot kembali..
melewati hal-hal menyakitkan hingga sampai dipuncaknya..
masa dunianya telah ditentukan waktu..
dan kini telah habis, mereka mulai tiadaa..
meninggalkan sosokku terpuruk sendiri..
mengemban keperihan tak tertahan..
hingga aku juga ikut lelah, kemudian layu dan mati..

oh, Tuhan! Sungguh kejamnyaa dunia ini. Lengkap sudah semua paket derita yang tersaji di depanku. Komplit, tak ada lagi yang tersisa. Ini rasanya seperti kiamat dadakan, yang hanya dialami oleh diriku. Diluar sana semua orang tengah merayakan pesta meriah dengan hingar bingar dan lampu gemerlap, atau bermalam minggu bersama kekasih di bawah pohon beringin dengan tangan menggengam dan juga pelukan-pelukan hangat.

Intinya mereka semua sedang bersenang-senang, menikmati keindahan duniawi yang menyegarkan hati. Sedangkan aku? Coba kalian tebak apa yang sedang kulakukan sekarang? Duduk dengan kedua lutut ditekuk, tepat di pojok ruangan dengan lampu remang yang menyinari. Dan sekali lagi tebaakk!! tebak apa yang aku pegang? Memang bukan golok besar, atau pistol dengan puluhan peluru menakutkan nyali. Hanya benda kecil, mengkilat dan berkilauan di bawah sinar lampu.

Yaa, hanya sebuah pisau lipat dengan pucuk tajam yang dapat membelah atau menusuk apapun. Entah kenapaa, aku sungguh tidak tau dan tak mengerti. Tolong jangan tanya atau salahkan aku. Tolong jangan katakan apapun tentang bercak merah diujung pisau, atau muka pucatku yang sudah benar-benar pasi ini. Otakku seperti terkena amnesia mendadak, aku tak ingat apa yang telah terjadi dan kesalahan fatal apa yang telah aku lakukan.

Sungguh aku tak mengerti. Kakiku serasa bergerak dan melangkah sendiri, dan entah kenapa pisau itu ada di kantong piyamaku. Aku bergidik ngeri, berusaha menghentikan kendali raga yang sudah tak terkendali. Semuanya.. semuanya terlihat menyeramkan. Aku bingung, kalut dan gelisah. Tapi sebenarnya aku juga membiarkan dan pasrah raga ini mau berbuat apapun. Dan sesuatu itupun terjadi.. begitu cepat.. begitu menyeramkan..

lihatlah, coba kalian tengok ke atas kasur tebal berselimut mawar merah. Seorang wanita paruh baya, tergeletak lemas, diam, terus diam, dan tak bernafas. Denyut nadinya sudah berhenti, detak jantungnya juga sudah tak terdengar. Wajah cantiknya terlihat damai, tenang dan pasrah. Meskipun.. meskipun sebuah lobang merah di perut berlapis kemeja putihnya. Dia mamaku.. dan aku telah membunuhnya..

benar-benar anak yang berbhakti. Ah. Jangan salahkan aku, jangan tanya apapun padaku. Aku tak mengerti.. sungguh!! mungkin lebih baik dia—mamaku—pergi lebih cepat agar aku tak bisa menyusahkannya. Agar aku tak perlu bersusah payah untuk membahagiakannya, karena kini hidupku tak berarti lagi. Terima kasihlah mama padaku, karena sekarang mama menyandang gelar baru pada awal namanya. Seperti Rio dan Alvin.

Baiklah, semuanya telah pergi dan lenyap. Mereka bertiga—mama, Rio dan Alvin—pasti sedang tertawa keras di alam sana. Menertawakan aku yang masih betah duduk gemetar di pojok ruangan. Aku bisa melihat mereka berbahagia, aku bisa mendengar tawa ejekan mereka. Dan aku? Takan membiarkan semuanya berlalu tanpaku. Lihat saja mama, Rio dan Alvin.. aku juga akan tertawa bersama kalian. Dan untuk Alvin? Kita bisa merayakan pesta pernikahan meriah disana. Dan untuk Rio kumohon jangan cemburu. Haha.

Terimakasih kalian mau membaca catatan hidupku ini. Ini adalah sebuah hidup dengan jutaan gelegar tawa dan tetesan tangis. Jangan lakukan apa yang kulakukan, karena aku ini manusia bodoh. Terlalu indah untuk bisa hidup di dunia ini. Aku terlalu rapuh dan lemah, tak punya pegangan selain cinta. Padahal cinta itu tak abadi, hanya bunga mimpi duniawi. Dan saat kita bangun untuk kehidupan kekal, cinta itu sudah lebur dan hilang entah kemana. Dan kini.. aku sudah punya jalan hidup sendiri.. aku lebih memilih mengakhiri hidup. Jadi selamat tinggal.

Setiap tetesan hujan terakhir, itulah cerita hidupku, menjadi saksi atas kelenyapan rohku malam ini. Semua adalah cerita hidupku, dengan adegan setiap usainya hujan.



**

Minggu, 19 Juni 2011

Keajaiban Natal

sebenernya cerpen ini udah gue terbitin waktu Cristmash Day, tapi itu dijadiin 3 bagian ..

nah, kalo yang ini langsung semuanya dijadiin satu ..

jadi bagi yang udah baca, baca ulang gpp kali yah :D

dan sory kalau ga nyambung !







*









Special RiFy







*





langit malam terlihat sangat indah dengan taburan berbagai bintang terang dan sebuah bulan kuning yang berkilau bak intan permata. aku duduk termenung sambil menopang dagu di tengah hamparan hijaunya rumput yang basah tertempel embun.

aku menatap lekat ke arah langit melihat setitik bintang yang berkilau sangat terang, indah berkelap kelip di atas sana. pikiranku menerawang jauh berandai andai seakan bintang itu bisa menunjukan sebuah keajaiban untukku. keajaiban yang aku tunggu selama ini.





aku melirik jam digital berwarna hitam mengkilat yang terpasang di tanganku. sudah menunjukan pukul 10.15 pantas saja udara dingin membelai lembut tubuhku, perlahan masuk menusuk tulan belulang.

aku sedikit merapatkan tubuh, memeluk lututku agar terasa sedikit hangat. namun udaranya terlalu dingin sehingga mampu merobohkan kehangatan yang aku ciptakan. aku memutuskan kembali ke dalam rumah yaa daripada aku menjadi beku terkena angin dingin, gk lucu kan !





aku duduk di sebuah kursi yang berada di dekat api unggun yang tengah berkobar riang di tengah malam sunyi, memancarkan cahaya merah dah menyebarkan setitik kehangatan untuku. sesekali aku menggosokan tangan lalu meniupnya, merasakan lembut kehangatan yang membelai telapak tanganku.

aku mengambil secangkir kopi hangat yang tergeletak di atas meja, asapnya melambung tinggi ke atas lalu dalam sekejap hilang diterpa angin. ku mendekatkan ke arah mulutku lalu menyeruputnya, hingga tenggorokanku terasa sangat hangat setelah meneguk kopi itu.





+





Pukul 06.00





fajar menyingsing. cahaya masuk melalui celah tirai kamarku. aku mengerjapkan mata beberapa kali, tanganku berusaha menepis cahaya mentari yang menyilaukan.

aku berjalan gontai keluar rumah, masih dengan piyama berwarna biru yang aku kenakan semalam untuk tidur. aku merentangkan tangan, meregangkan otot-otot yang terasa lemas dan kaku.

ku tarik nafas panjang menghirup udara yang sejuk lalu menghembuskannya perlahan.







aku tinggal di sebuah kota kecil yang berada di kawasan paris.

kota yang terletak di belakang pegunungan membuat udara menjadi bersih dan sejuk, apalagi penduduknya tidak begitu ramai hanya beberapa saja.

udaranya memang dingin namun lebih dingin lagi saat musim salju datang. seketika aku teringat kepada kekasihku, aku menyunggingkan senyum manis di sudut bibir. sebentar lagi dia akan datang untuk pulang kesini.

sungguh aku rindu sekali dengan senyum manisnya, dengan kata kata kocak yang bisa membuatku tetawa dan sejenak lupa akan penyakit ini. aku sangat rindu dengannya, aku ingin membelai lembut wajah cantiknya, aku ingin mendekapnya dalam pelukan hangatku. tapi sekarang dy berada jauh, bahkan sangat jauh.







yya..! sekarang dy sedang berada di indonesia, negara yang memiliki lambang garuda dan bendera merah putih. negara yang indah dan yang dipenuhi dengan rasa kesatuan dan kebersamaan.

dia pergi kesana untk menyelesaikan suatu masalah, entah apa itu aku tak berminat untuk mengetahuinya. yang penting bagiku adalah dy kembali dengan selamat dan keaadaan yang utuh.





aku beranjak kembali ke dalam rumah, untuk bergegas mandi dan merapikan diri agar saat dy datang aku terlihat menawan di depannya.

namun tiba tiba kepalaku terasa sangat pusing dan berat, bahkan darah segar yang berwarna kemerahan keluar menetes deras dari hidungku. kucaoba menutup hidungku agar darah itu berhenti namun sia sia saja darah itu semakin menambah aliran kecepatannya. aku berusaha melangkahkan kaki ini memasuki rumah tapi seketika semuanya menjadi buram dan gelap.





+





Pukul 11.00





aku melihat cahaya putih itu datang ke arahku. menyambarku dengan cepat secepat kilat.

aku berusaha membuka mata. dan aku melihat lampu benderang di atasku, sangat silau sehingga membuat pandanganku menjadi tidak jelas. tapi tunggu... aku melihat sesosok gadis tengah duduk di sofa.

ia menutup wajahnya sambil bergumam pelan. aku mengerutkan dahi. lalu aku melirik sebuah jam berbentuk bundar yang tertempel di dinding. aku melihat sudah pukul sebelas, berarti aku sudah pingsan selama enam jam.

ahh.. tapi tak apalah jugaan ini sudah sering terjadi.





gadis itu menoleh ke arahku lalu berjalan mendekati diriku. senyum senang terukir indah di wajahnya, aku terlihat bingung saat melihatnya namun di detik kemudian aku teringat siapa dy.





"ifyy.." gumamku pelan



"sayang kamu udah sadar, aku panggil dokter dulu ya" katanya seraya pergi





aku menggangguk kecil sambil tersenyum melihatnya. akhirnya dy kembali orang yang aku cintai selama ini ada untku sekarang.

yya.. namanya alyssa saufika umari atau biasa disapa ify. dy adalah bidadari yang selalu mewarnai hidupku, yang selalu membuatku tersenyum manis meski rasa sakit itu kerap menyiksa. aku bahagia bahkan sangat, sangat bahagia bisa memilikinya. tapi ada satu hal yang menjadi penghalang cinta kami yaitu AGAMA !







dy menganut agama islam sedangkan aku menganut agama kristen. sehingga dulu kami sempat berpisah selama 3bulanan dkarenakan orang tuanya tak menyetujui hubungan kami. aku sudah berusaha memperjuangkan cinta kami mati matian, tapi apa ? tetap tak ada restu dari mereka, bahkan orang tua ify berencana untk menjodohkan ify dengan lelaki yang bernama Cakka Kawekas Nuraga.

saat itu aku hanya bisa pasrah, mungkin kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama. aku mencoba memutuskan hubungan dengannya, menjauh dari hidupnya agar dy bisa hidup bahagia dengan cakka. aku pergi ke paris meninggalkan indonesia. karna aku tak kuat jika harus melihat ify bersanding dengan pria lain.





tapi ternyata dy datang menyusulku, bahkan dy rela untuk tinggal di paris brsamaku selamanya meningglkan keluarga, karir dan semuanya. itulah bukti cinta dan kasihnya kepada ku. cintanya begitu kuat dan tak terpisahkan.





+





Pukul 16.00





aku dan ify tengah duduk di tengah taman rumah sakit. angin sejuk membelai rambut panjangnya yang tergerai indah. aku dan ify sama sama terdiam karena masih sibuk bergelut dengan pikiran yang menjalar entah kemana. sesekali aku melirik ke arah ify yang sedang melamun sambil menatap lurus ke depan, melihat satu persatu daun daun berguguran dan jatuh melayang tertiup angin.

ku perhatikan lekuk wajahnya, tdak brubah masih tetap cantik seperti dulu. aku berinisiatif membuka topik pembicaraan, karena aku bosan dengan situasi sepperti ini.





"fy, i miss you" kata ku



"i miss you too mario" jawabnya tulus



"fy, besok temenin aku ke panti yah" pintaku



"tapi yo..." aku sudah tau apa yang akan ia katakan, aku menempelkan jari telunjuku di depan bibirnya.



"plisee" kataku memohon



"yaudahlah, aku gk bisa ngelarang kmu lagi" katanya pasrah



"makasih ify sayang" jawb ku





panti asuhan, yyaa aku sendiri yang membangunnya, aku memberi nama 'Panti Asuhan Miracle'. aku sedih ketika melihat anak anak kecil yang harus bekerja keras untuk mendapat sesuap nasi, mereka harus berdiri di bawah teriknya matahari sambil mengadahkan tangan meminta sekeping koin. hatiku iba melihat itu semua, oleh karena itu aku membangun panti asuhan ini untk mengurangi sdikit beban hidup mereka. untuk berbagi kebahagiaan kepada mreka sbelum tuhan mengangkat nyawaku.





+





20 Desember 2010





pagi ini aku meminta izin kepada dokter alvin untuk pulang. sebenarnya dokter alvin tidak mengizinkan, tapi jangan panggl aku rio kalo aku gk bisa mengatasi hal itu. aku turun ke lobby menggunakan sebuah lift. aku menghampiri seorang gadis sdang berdiri menungguku.



"ify" kataku



"udah?" tanyanya



"udah, ayok" ajaku





+





aku tiba di sebuah bangunin berukuran lumayan besar yang berwarna putih. di depannya ada palang bertuliskan 'Panti Asuhan Miracle' aku tersenyum, lalu menggandeng tangan ify masuk ke dalam sana.





"hay semua, hay bunda ira" sapaku



"papa rio" semua berseru kearhku lalu memeluku.



"papa kok bru dateng sih kan keke sama oik kangen sama papa" katanya manja.



"maafin papa ya ke, ik. nih papa bawain jajan, bagi bagi ya sama yang lain" kata ku sambil memberik kresek putih besar





aku menghampiri wanita separuh baya yang berdiri seraya tersenyum ke arahku. dy adalah bunda ira, dyalah yang mengasuh semua anak panti ini. akupun sudah menganggapnya sebagai bunda kandungku sendri.





"bunda" kataku sambl memeluknya



"rio, sini ikut bunda" kata bunda ira.





aku pergi ke taman yang terletak di disamping panti asuhan bersma bunda ira, sedangkan ify menemani anak panti.





"bagaimana keadaanmu yo?" tanya bunda



"baik bun, udalah gk usah pikirin rio, rio pasti baik baik aja kok" jwbku meyakinkan



"iya, jaga diri baik baik yah" pesan bunda





aku mengangguk kecil. aku mengalihkan pandanganku dari bunda ke arah ify yang tengah asik bermain. kulihat senyumannya yang begitu lepas, kulihat anak anak itu sedang tertawa bahagia.

ahh ...

aku ingin slalu melihat itu semua, tapi apa aku bisa ?





+





21 Desember 2010





aku memandang wajahku di depan cermin. aku melihat bayangan diriku dengan wajah pucat, bibir berwarna putih pasi dan rambut yang semakin menipis. aku tersenyum kecut melihatnya.





hari ini aku akan pergi ke panti asuhan lagi, untuk menyiapkan persiapan hari natal. aku dan ify membawa pohon natal dan berbagai pernak pernik lainnya, tidak lupa dengan berbagai jenis kado untk dtaruh dbawah pohon natal.





"yyee mama ify sama papa rio dateng lagi" kata oik bersorak riang



"ia oik, nih papa bawa pohon natal sama pernak pernik lainnya" kataku



"wahh, kita bakal buat pohon natal donk" kata oik





aku dan ify mengambil pohon natal yang berada di mobil, lalu membawanya masuk ke dalam panti asuhan.

aku dan semua anak panti mulai menghias pohon natal itu dengan berbagai macam pernak pernik. seperti boneka, klonceng, bintang dan lainnya. kami tertawa dan bercanda sesama, sungguh nyaman hatiku saat berada di dkat mereka.





"papa rio, nanti bintang emasnya ditaruh pas malem natal aja yah" kata oik sambl menunjukan bintang besar berwarna keemasana yang akan ditaruh di pucuk pohon natal.



"iya oik" jawabku sambl mencubit pipinya yang imut



"ntar papa bisa make a wish juga lho, mungkin meminta suatu keajaiban, yakan pa?" kata oik lagi





aku terdiam mendengar celotehan oik. 'yya semoga keajaiban itu akan datang' batinku. aku termenung menatap lurus ke depan sambil menopang dagu.

tteess...

suara tetesan darah yang mengalir deras dari hidungku. kepalaku terasa sangat pusing, pandanganku menjadi buram dan berbayang. sakit ini lebih sakit daripada yang sbelumnya. aku terduduk lemas di lantai yang berceceran darah.



"mama ify, mama ifyy tolongin papa" teriak oik sambil menangis



"oik, sini sama bunda" kata bunda sambl menggendong oik





dengan cepat ify menelpon ambulance untk membwaku kerumah sakit. hatinya sangat kalut dan cemas, bahkan sungai kecil sudah mengalir deras di pipinya.







++++



22 Desember 2010





aku masih tak sadarkan diri. tergeletak lemah di ranjang rumah sakit ini. ify masih setia menemaniku meskipun kata dokter alvin penyakitku sudah sangat parah dan hidupku tinggal beberapa hari lagi, mungkin gk sampe tiga hari. mendengar pernyataan seperti itu membuat hati ify bak disambar petir.

tentu sangat perih dah pedih rasanya jika mengetahui orang yang kita cintai akan pergi sebentar lagi.





aku tersadar dari pingsanku, perlahan kumembuka mata berharap aku langsung menatap mata bening ify, berharap aku langsung melihat lekat wajah manis ify.

tapi apa .. ?

semuanya gelap, gelap, dan sangat gelap. semuanya berwarna hitam tak terlihat apapun. kucoba mengerjapkan mata beberapa kali, mungkin saja aku sedan bermimpi. tapi ternya tidak ! semuanya tetap gelap dan hitam. aku menangis dan menjerit ketakutan sambil berlari entah kemana. namun disini gk ada orang sama sekali.







aku bingung ..

aku takut ..

aku sendiri ..

hanya sendiri disini !





tangisanku meledak, aku berusaha menjerit dan berteriak sekuat tenaga berharap ada seseorang yang datang menghampiriku dan menunjukan jalan keluar dari sini. namun aku sudah tak kuat, badanku terasa sakit dan tulangku terasa remuk semua. kakiku tak kuat lagi menopang tubuh lemasku. aku terduduk letih sambil menjerit minta tolong.







ahh ..

akhirnya aku melihat setitik cahaya terang yang menyilaukan di ujung sana. hatiku berlonjak senang, pasti disana ada seseorang yang bisa membantuku. aku menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan, berusaha mengumpulkan sedikit energi yang masih kumiliki.

aku mencoba mengubah posisi menjadi berdiri, ku langkahkan kaki ini selangkah demi selangkah. ku tangkis semua rasa lelah dan letih, ku tepis semua tetesan keringat dingin yang mengucur deras di pelipisku. sesekali aku terjatuh dan terhempas karena kelelahan.





aku memandang cahaya putih itu. hatiku terlonjak kaget ketika mataku menangkap seorang lelaki yang tengah tergeletak tak berdaya di sebuah ruangan rumah sakit. aku mengucek mataku beberapa kali, kucubit pelan lengan kananku hingga aku meringis kesakitan. namun penglihatanku tak kunjung berubah.

aku kembali menatap lekat cahaya itu, lelaki disana adalah aku, aku yang sedang terbaring lemah disana, dengan berbagai peralatan medis yang menempel lekat di kulit tubuhku. aku kembali menangis sejadi jadinya, tak kuasa membendung air mata yang menerobos keluar dari pelupuk mataku.





aku sangat terharu ketik melihat ify menggenggam erat jemariku, ketika ify meneteskan air ketulusan dari kelopak matanya,

ketik ify terus mengucapkan untaian doa untuku, ketika ify bersujud lalu mengadahkan tangannya meminta kepada tuhannya agar aku bisa terbangun. sekarang aku ingin mendekapny dalam pelukan hangat ku, aku ingin melihat senyumnya lagi. senyum yang selalu terpancar indah di wajahnya, yang bisa membuatku lulth.





+





23 Desember 2010





aku masih tetap tergeletak tak berdaya di ranjang rumah sakit yang empuk itu. masih tetap dengan alat bantu pernapasan, selang infus, dan berbagai alat medis lainnya. aku ingin segera terbangun dari semua mimpi buruk ini, aku ingin segera merobek lembaran kertas putih yang udah kotor terkena tinta hitam !

aku ingin melakukan semua itu !







aku baru teringat kalau besok adalah malam natal, aku ingin merayakannya bersama semua anak panti, bunda ira dan tentunya ify. aku ingin menghiar pohon natal bersama mereka, aku ingin mengatakan happy cristmas kepada semua orang. aku juga ingin berdoa di malam natal nanti pada tuhan agar memberikan sebuah keajaiban. aku ingin meminta di malam natal nanti pada santa claus agar semua derita hidupku hilang, agar tak ada lagi tetes air mata yang terbung.

yya .. !!

itu semua adalah angan angan dan keinginanku ..





+





24 Desember 2010





hari ini adalah hari jumat, tepatnya tanggal 24 desember, dan artinya tengah malam nanti adalah malam natal.

namun apa ?

aku masih seperti mayat hidup yang tak berdaya sedikitpun, terbaring lemah sambil terdiam mematung dan tak bergeming sedikitpun. sepertinya harapanku untuk hidup sudah pupus. dokter alvin saja sudah tak dapat berkata apapun tentang penyakitku ini. penyakit yang sudah tiga tahun aku derita dan rasakan. penyakit yang membuatku jatuh dan terpuruk di jurang kegelapan dan kesakitan. penyakit yang mungkin bisa membuatku meninggalkan dunia yang indah ini.





kanker otak !

begitulah orang menyebunya, saat pertama kali mendengar nama itu aku bergidik ketakutan. tapi sekarang aku sendiri yang mengidap penyakit itu, bahkan sudah tiga tahun lamanya dan aku tak kunjung sembuh. aku sudah tak kuat menahan rasa sakit yang terkadang datang tanpa permisi lalu dengan seenaknya menyiksa tubuh lemahku ini.

aku sudah capek pergi bolak-bolik kerumah sakit hanya untuk sekedar chek up. aku sudah bosan mencium aroma obat obatan yang baunya menusuk dan pekat. aku sudah malas mengecap lidahku merasakan pahitnya obat obatan itu.





+





Pukul 16.00





cclekk ..

suara decitan pintu terdengar jelas, sesosok gadis manis muncul dari belakang pintu dengan senyum kecut yang menandakan keperihan hatinya. ify membawa keranjang yang berisi berbagai macam buah dan sebuket bunga mawar merah yang menyebarkan aroma keharuman.

ia berjalan mendekatiku, membelai lembut rambutku dan mengecup pelan bibir manisku. aku melihat bayangan diriku dengan air mata yang deras. tapi seketika aku tersenyum senang ketika melihat jemari tanganku bergerak pelan.





kuusap semua aliran air mata itu. aku menengok kebelakang kulihat cahaya putih itu menyambarku lagi. aku berteriak sekuatnya namun seketika semuanya kembali gelap dan aku tak merasakan apapun lagi.



"rio sayang, kamu udah sadar" kata ify girang



samar samar aku mendengar suara ify. aku membuka mata sambil mengusapnya beberapa kali agar pandanganku menjadi jelas. ternyata aku sudah sadar, aku kira aku akan tertidur selamanya. ohh tuhan, kau memang maha kuasa. aku tersenyum simpul tapi dalam hati aku sangat senang karena aku bisa mendengar suaranya lagi. semoga ini semua bisa bertahan lama dan bukan hanya sebentar.

ternyata keajaiban itu muncul di malam natal ini, keajaiban atas perwujudan doa yang aku pinta selama ini.





+





Pukul 19.00





"ayo yo sekali lagi" rajuk ify sambil menyuapi bubur kemulutku



"udah fy" kataku sambil menggeleng pelan



"sekali lagi aja" kata ify



"gk mau pkoknya" tolaku sambil menutup mulut



"kalo gk mau yaudah" pasrah ify sambl manyun, aku terkikir melihatnya cemberut. lucu !



"ih ify mah ngambekan, yaudah tpi sekali lgi aja yak" kataku



"gitu donk" kata ify senang



"nanti jam sembilan ke panti yah fy" rajuku manja



"hhmm" ify nampak berpikir



"sekali ini aja fy" kataku meyakinkan



"hmm..okedeh" setuju ify





aku senang karena nanti aku akan merayakan natal bersama semua anak panti, dan mungkin ini akan menjadi hari natal terakhir untuku tapi ya semoga saja tidak. aku teringat akan cerita mami dan papiku dulu kala umurku masih berumur 6 tahun. mreka bercerita tentang malam natal yang dirayakan dengan pohon natal, kado dan juga kue. tapi yang terpenting adalah dengan cinta dan kasih yang tulus.

mereka juga bercerita tentang seorang lelaki tua dengan jenggot tebal berwarna putih dan perut gendut yang lucu. yyaapp...!! dy adalah sinterklaus atau santa claus, setiap malam natal sinterklaus turun dari langit lalu pergi mendatangi rumah penduduk satu persatu dengan menggunakan kereta yang dibawa oleh kijang besar. ia memberikan sebuah kado kado lucu kepada setiap anak. sungguh senang dong jika kita dapat hadiah gratis ?

namun sampai detik ini aku belum pernah melihat sinterklaus dengan mata kepalaku sendiri.





+





Pukul 21.00





aku sedang berada di dalam mobil bersama ify. kami akan pergi ke panti asuhan miracle. namun di tengah jalan turun salju yang lumayan lebat. menyelimuti kota paris dengan kristal kristal putih. membuat tubuhku terasa menggigil. bibirku bergetar pelan ify menengok ke arahku mendapati diriku yang sedang melamu sambil kedinginan. ify memberikanku syal putih, dan mantel tebal yang hangat.





salju itu membuat jalanan menjadi agak macet, sehingga kami -aku dan ify- harus menunggu beberapa menit. tapi aku tak merasa bosan atau jenuh sedikitpun, karena di setiap pinggir jalan kami disuguhkan dengan pemandangan indah nan menarik. banyak pohon natal yang berjejer dengan pernak pernik yang bergelantungan ditambah juga bintang emas besar yang berdiri kokoh di pucuknya, lampu berwarna warni yang berkelap kelip indah turut membingkai pohon natal tersebut.

apalagi sekarang hampir semua orang mengenakan topi sinterklaus yang berwarna merah putih, bahkan di setiap depan toko pasti ada saja orang yang menirukan penampilan sinterklaus untuk sekedar merayakan natal dan menarik pengunjung datang ketokonya.





aku tersenyum saat melihat seorang gadis kecil yang kira kira berumur lima tahun tengah mengenakan topi sinterklaus sambil berjalan menyusuri kota melihat indahnya pemandangan di malam natal bersama kedua orang tuanya. aku tersenyum ketika melihat tawa gadis kecil itu yang sungguh tulus dan lepas.



"mary cristmas and happy new year" kata seseorang sambil memberikan topi sinterklaus kepadaku.



"thengs, mary cristmas and happy new year too" jawabku seraya tersenyum.





+





Pukul 22.53





setelah sekitar hampir satu jam kemacetan dapat teratasi. semua mobil dan motor kembali melajukan kendaraannya dengan normal. ify menghentikan laju mobilnya di sebuah bangunan besar. aku turun lalu masuk ke dalam sambil menggandeng erat jemari ify.





"hay semua, mary cristmas" sapaku



"mary cristmas too papa" jawab semuanya serentak.





semua anak panti berlari memelukku. ify membagikan topi sinterklaus yang tadi kami beli. aku, ify dan semua anak panti mengobrol ria, terkadang ada kata kata kocak yang kulontarkan untuk sekedar mendinginkan suasana. aku melirik jam digital berwarna hitam yang terpasang ditanganku. sudah pukul 23.50 berarti sebentar lagi malam natal tiba. aku pergi kebelakang dengan mengendap ngendap.





"lohh rionya mana?" tanya ify



"bukannya tadi ada disamping mama ify ya" kata keke



"ihh, papa rio hebat bisa ngilang" kata kiki



"hhussh, orang hilang kok hebat sih" sahut ify.





ify mengajak semua anak panti untuk mencariku di taman semuanya menggangguk setuju. ify dan semua anak panti pun menyebar mencari keberadaanku. aku terkikik sendiri melihat mereka resah krna aku hilang scara tiba tiba, pdahal aku tengah sembunyi. aku ingin membuat surprise kepada anak panti dengan berpakaian ala santa claus, memakai janggut tebal yg berwrna putihl, baju dan topi yg berwarna merah putih, dan bantal besar yg ditaruh di perutku. aku terlihat gendut sekali, sungguh lucu. aku juga mengenggam sekarung kado untuk dibagikan kepada mreka nanti.



aku melihat mereka sudah kelelahan mencariku. aku berjalan keluar dengan mengendap ngendap.





‘’halo anak anak’’ sapaku dengan suara yg dibuat mirip dengan santa claus



‘’hahhahhaahhaa’’ semua anak tertawa melihatku. apalagi ify ia terkikik smbil menggelengkan kepala.



‘’ada yangg mau kado?’’ tanyaku



‘’mauu’’ teriak smuanya.



‘’kita kedalam aja, ya’’ kata ify





ku lirikan bola mataku yang berwarna coklat mengkilat ke arah jam digital berwarna hitam. sudah menunjukan 24.00. aku mengembangkan senyum manis, inilah saatnya malam natal tiba. aku berdiri di dekat pohon natal lalu menancapkan bintang emas berukuran besar di pucuk pohon natal. ku menutup mata lalu berdoa kepada tuhan dan berkata





‘terimakasih atas keajaibanmu’





semua anak bersorak gembira menyambut malam natal ini, tawa lepas dan pancaran senyum keindahan melekat di wajah polos mereka. aku mengajak anak panti menyanyikan lagu yang diriringi oleh nada nada indah yang diciptakan dari setiap tekanan tuts piano ify.



‘’we wish you mary cristmash and happy new year’’





aku membagikan sebuah kado kepada masing masing anak. mreka terlihat sangat senang menerima kado tersebut. aku menggenggam erat jemari ify membawanya berjalan ke arah taman.





‘’kamu lucu deh yo, pake janggut begitu’’ tawa ify



‘’ahh ify mah ngeledekin terus’’ kataku purapura ngambek



‘’kan aku Cuma becanda rio sayang’’ katanya smbil mencubit pipiku





ify.. bagaimna bisa aku rela menggantikan tawa itu dengan butiran air mata. bagaimmna bisa aku meninggalkan dy sndiri di bumi yg penuh derita ini. bagaimana bisa aku melepas belaian hangatnya yg selalu setia menyentuh lembut kulit tubuhku.



aku dan ify duduk di atas hamparan rumput yg sudah tertutupi butiran salju yg berwarna putih bersih. kami menatap ke arah langit, melihat beribu ribu tetes salju turun dari langit, aku mengadahkan tangan menyentuh setetes salju yg trasa dingin dan basah. hawa dingin masuk menusuk tulang belulangku, membuat kulit tubuhku terasa membeku.



aku tdurkan kepalaku di atas kaki ify, merapatkan tubuhku dengan tubuhnya. ify membelai rambutku dengan lembut. aku menatap lekat lekuk wajahnya yg sangat cantik. senyum indah terus terukir di wajahnya. senyum yg bisa membuat hatiku luluh. ahh .. tiba tiba aku mrasakan kpalaku terasa sakit yg begitu hebat, badanku serasa kaku. aku mencoba menahan rasa sakit ini demi ify.





‘’ify..’’ panggilku



‘’iyya yo’’ jwabnya



‘’i love you forever’’ bisiku



‘’i love you too rio’’ jwabnya.





aku sudah tak kuat menahan rasa sakit ini. kepalaku bagai tertusuk beribu jarum tajam, badanku bergetar pelan, tenggorokanku rasanya tercekat, tak mampu mengucapan sepatah katapun. hanya erangan kecil yang terdengar dari bibir manisku.



‘’arrgghh’’ aku mengerang pelan berusha agar ify tak mndengarnya. ternyata aku salah.



‘’yo..kmu knapa?’’ tanyanya dengan raut wajah yg terlihat sangat cemas



‘’sakit fy’’ jwabku pelan



‘’aku tlpon dkter alvin yah? atau aku panggil ambulane? tunggu bntar yya yo, kmu yg sabar ya’’ kata ify khawatir. aku

meletakan jari telunjuku di depan bibir merahnya.



‘’aku hanya butuh kmu’’ kataku





ify memeluku dengan hangat. air matanya sudah pecah tak dpat ia tahan lagi. mungkin ini adlah pelukan trakhirnya untuku. aku mengatur nafasku yg sudah tersenggal senggal. aku tak kuasa lagi menahan semuanya. mungkin keajaiban natal hanya sampai detik ini bukan untuk selamanya. tapi aku berterimkasih krna aku bisa mrasakan malam natal yangg trakhir kali dhidupku bersma dengan orang orang yg kucintai. saat ini aku hanya bisa pasrah terhadap keputusan tuhan.





‘’fy..ii...loo...vvee..yyo....yoouu..’’ kataku terputus putus dan terbata bata.





ify memegang tanganku, meyentuh denyut nadiku yg sudah tak berfungsi lagi. menekan dadaku yg sudah tak berdetak lagi, merasakan hembusan nafasku yg sudah tak berhembus lagi. ia menangis dan menjerit sejadi jadinya. ia memeluku lagi, mengusap pelan rambutku, dan mengecup lembut bibir pucatku. semua anak panti dan bunda ira juga turut mengeluarkan air mata, menghantar kepergianku ke atas sana.



+





25 Desember 2010





hari ini seharusnya adlah hari kebahagianku, hari ini seharusnya adlah perayaan natal yg sesunguhnya di seluruh belahan dunia, hari ini seharusnya aku berdiri tegak di gereja mengahadap tuhan yesus yang maha kuasa sambil melantunkan lagu suci untuknya, hari ini seharusnya aku mengembangkan senyum indah untuk semua orang yang kusayang, hari ini seharusnya aku berkumpul bersama anak panti merayakan natal.





tapi beginilah akhir kisah hidup seorang Mario Stevano Aditya Haling. berakhir di sebuah peti hitam yg mengkilat, aku tertidur pulas bukan untuk sementara tapi untuk selama lamanya, untuk seumur hidup. yya.. aku sudah pergi terbang ke atas sana berlari menuju ajalku, meninggalkan mreka semua yg aku sayangi. diiringi dengan deraian air mata ketidakrelaan dan lantunan doa suci yg begitu tulus terucap.





dari atas sini aku bisa melihat gadis yg kucintai sedang terluka, ia sedang bersedih disana krena kpergianku. ia sedang menangis tersedu di depan ragaku yg sudah tak bernyawa. aku berdiri di sebelahnya smbil tersenyum manis. kucoba membelai rambut indahnya dan mengecup lembut keningnya, berusaha menenangkannya. tapi apakah dy bisa melihat senyumanku ? apakah dy bisa merasakan lembut belaian kasihku ? apakah dy bisa merasakan hangat indahnya kecupanku ?





ahh.. pasti dy tidak merasakan apapun, aku lupa kini aku sudah berbeda dunia dengannya, aku bukan lagi seorang manusia yang memiliki wajah tampan, aku bukan lagi seorang manusia yang memiliki raga dan jiwa. aku harus merelakannya. tpi apa aku bisa tenang pergi ke atas sana dan melihatnya berderai air mata ? tapi biar bagaimanapun aku harus tetap pergi krena inilah takdirku. ini sudah jalan hidupku, aku tak bisa melanggarnya. semakin lamaku berdiri disini semakin sakit hati ini.




‘selamat tinggal iify, i still love you forever’


+

Dia dan Hujan (repost)

“Hatchiii…..hhhh……Hatchiiiii…..”

Srrrrrttttt…..

“Hatchiiii…..”

Srrrrrttt…..

“Lo pasti ujan-ujanan lagi ya?”

Fay masih terus mengusap-usapkan tisu ke hidungnya yang entah sudah habis berapa lembar untuk menghapus ingus yang ga mau berhenti keluar dari hidungnya.

“hehe….”
Fay cuma nyengir sambil melirik sedikit pada Alvin yang duduk di sampingnya.

Alvin geleng-geleng kepala melihat hidung sahabatnya yang memerah karena terus-terusan diusap.

“Kayak anak kecil aja sih lo kerjaannya ujan-ujanan. Udah SMP gini masa masih suka lari-larian di tengah hujan.”

Fay hanya tersenyum masih dengan menggosok-gosok hidung melernya dengan tisu.

Jam kosong adalah saat yang paling menyenangkan. Mereka bebas dari tugas dan pelajaran yang membosankan. Alvin dan Fay duduk di bangku semen di bawah pohon beringin depan kelas mereka.

Alvin dan Fay sudah bersahabat dari kelas 1 SD. Mereka tetanggaan dan dulu satu SD. Dan karena jumlah muridnya yang hanya 17 orang tiap tingkat, walhasil tidak ada pengacakan kelas di setiap pergantian tahun pelajaran. Jadi Alvin dan Fay selama 6 tahun sudah sekelas. Sedangkan di SMP, entah itu keajaiban atau jodoh, yang pasti mereka satu kelas lagi.

Alvin paham betul seperti apa sifat Fay. Begitu juga sebaliknya. Fay yang tomboy dan Alvin yang super duper cool.

Fay masih konsentrasi dengan hidungnya yang benar-benar menyiksa. Biasanya dia tidak pernah flu kalau habis hujan-hujanan. Tapi mungkin kali ini daya tahan tubuhnya sedang turun.

“Fay!!!!!”

Fay yang sedang berkonsentrasi tiba-tiba dikagetkan dengan bentakan Alvin dan tangan Alvin yang tiba-tiba memegang lutut Fay.

Alvin menyatukan kedua lutut Fay yang tadi sempat ngangkang padahal dia pakai rok.

“Lo tu duduk yang bener dong!!!”

“Sory Vin sory….”
Srrrrttt….
Fay hanya menengok sebentar pada Alvin lalu meneruskan kembali aktivitas mengelap ingusnya.

“Ah elo….jadi cewek duduk yang rapet nape sih…ngga enak banget tau diliatnya. Di depan sono tuh rame tau ngga.”
Alvin masih melotot pada Fay yang sekarang sudah merapatkan duduknya.

“Iye iye Vin….bawel deh…”

“Iissshhh…kebiasaan…” Alvin menoyor pelan kepala Fay.

“Eh…eh..eh…..gue usapin ingus lo…” Fay mendekatkan tisu bekas ingusnya pada Alvin yang langsung duduk menjauh dengan wajah jijik.

“Ihh….Fay….jijik tau….”

“Hahaha…”
Fay malah ketawa cekikikan liat muka Alvin yang bergidik sambil liatin tisu yang dia acung-acungkan.

Fay membuang tisunya ke tempat sampah di dekat kakinya dan mengambil tisu baru yang langsung dia usapkan lagi ke hidungnya.

“Lo tu kenapa sih suka banget sama ujan? Orang cuma aer kayak gitu doang girang banget sih lo liatnya?”

“Hmmmm…..”
Srrrtttt…..
“Hatchiiiii…..”

“Tapi perasaan tiap kali ada ujan lo juga ga selalu ujan-ujanan….Belakangan ini ujan terus tapi baru kemaren lo keliatan lari-larian di bawah ujan…”

“Hmmm….”

“Heh….elo ditanyain jawabnya ham hem ham hem mulu.”
Alvin manyun pada Fay yang sama sekali tak meliriknya.

“Lo ngga liat gue lagi sibuk ngelap ingus? Nyiksa banget nih. Elo sebagai sahabat gue dari kecil harusnya lo ngerti dong. Gue butuh pengertian Vin. Kalau lo terus-terusan maksa gue, gue ngga bisa. Gue capek dengan semua ini Vin….” Fay bicara dengan nada mendayu-dayu dan mimik memelas. Ia mengatupkan telapak tangan kanannya di jidat sementara tangan kirinya memegang tisu yang ia tutupkan ke hidung.

“Lebay…lebay ah….” Alvin menoyor pipi Fay lumayan keras.

“Hahaha….”
Fay makin cekikikan liat muka Alvin yang sebel sebel gemes ke dia.

“Eh, Fay…lo udah gapapa kan karena masalah kemaren? Mmmm….sory gue ga bisa bantu apa-apa. Gue telat sih datengnya. gue ngga nyangka Cakka bakal tega nampar lo cuma gara-gara lo ngalangin jalannya dia.”

“Hmmm….”

“Lo boleh tomboy, tapi kalau ada apa-apa lo tetep musti crita ke gue. Bagi tu beban lo sama gue. Jangan sok kuat. Jangan-jangan lo sok tegar tapi ternyata lo nyampe rumah nangis. Hahaha….”
Alvin bicara dengan nada meledek pada Fay.

“Yeee…..cewek kaya’ gue ngga gampang nangis tau…”
Fay melakukan pembelaan.

“Iya iya….tapi bukan berarti cewek tomboy ngga boleh nangis. Lo kan cewek. Yang namanya cewek tu perasaannya peka. Dan lo pasti butuh sandaran kalau lagi ada masalah. Dan gue siap jadi tempat curhat lo. Kita kan sahabat.”

“Apaan sih lo Vin….menye-menye banget lo. Kayak ngga tau gue aja. Gue ini mau lahir cowok kagak jadi. Lo tau bener kan sifat gue dari kecil kayak gimana? Pantang gue menye-menye kaya gitu.”

“lo tu ka….”

“Vin masuk yuk….dingin nih berasanya disini. Gue kan lagi flu. Ngga boleh kena udara luar sembarangan.”
Fay langsung beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kelas.

“Woe Fay….gue ngajak lo ngomong. Kok malah ngeloyor sih?”
Alvin menyusul Fay yang sudah berjalan duluan.

>>>>>>>>>>

Rabu, 23 Juni pukul 16.15

“Mantab Fay.”
Mulut Alvin penuh dengan kue lapis buatan mama Fay yang masih hangat.

“Mau gue bungkusin buat lo bawa pulang?”
Fay juga asik mengunyah gorengan dan cabai yang terasa nikmat dimakan saat suasana mendung begini.

Sore ini Alvin dan Fay mengabiskan waktu dengan nongkrong santai di teras rumah Fay setelah mereka berdua mengerjakan PR Kimia bersama. Setiap kali ada PR Kimia Fay selalu minta tolong pada Alvin untuk mengajarinya karena memang pelajaran itulah yang paling memusingkan buat Fay dan paling menyenangkan untuk Alvin.

Tik….
Tik…
Tik….

“yah ujan….” Alvin menghentikan kegiatan mengunyahnya dan berdiri menuju tepian teras. Ia menengadahkan tangannya ke atas dan benar saja, Setetes demi setetes air jatuh membasahi telapak tangan Alvin.

Diawali dengan titik-titik air, gerimis, dan akhirnya hujan turun lumayan deras.

“wah…..kesenengan lo nih Fay…..”
Alvin kembali duduk di samping Fay yang masih asik mengunyah Bakwan.

“Lo ngga beraksi?” Alvin memandang Fay yang tak beranjak sedikitpun dari duduknya.

“Hah?” Fay menoleh pada Alvin sambil menggigit cabai untuk menambah nikmat bakwan hangatnya.

“Lo ngga maen ujan kayak biasanya?”
Alvin mengulangi kembali pertanyaannya.

“Ngga ah…”

Alvin mengernyitkan dahi karena heran tumben Fay tak tertarik main hujan-hujanan.

“Kenapa? Bukannya lo suka banget sama hujan?”

“hmmm…..”
Fay hanya menyahut dengan gumaman pelan. Matanya menatap titik-titik air yang menetes dari ujung-ujung lekukan atap rumahnya.

Alvin yang melihat Fay benar-benar tidak berhasrat untuk hujan-hujanan akhirnya kembali mencomot kue lapis yang tinggal 4 potong di piring. Mereka kembali tenggelam dalam diam diiringi suara tumbukan air hujan dengan atap yang menambah syahdunya sore itu.

>>>>>>>>>>

Rabu,30 Juni pukul 09.00

“Buset dah….Alvin ngilang kemana sih? Giliran gue lagi butuh banget aja dia ngilang. Lo dimana sih Vin?”
Fay menggumam sendiri di sepanjang jalannya menyusuri lorong sekolah mencari-cari sosok Alvin yang tak juga ditemukannya.

Sudah hampir 10 menit Fay jalan kesana kemari celingak celinguk nyariin Alvin yang tadi pamitnya mau ke toilet bentar tapi ga balik-balik juga sampai sekarang.

Fay berjalan di sepanjang deretan kelas VIII dan celingak-celinguk kalau-kalau Alvin nyasar ke ruangan kakak kelas. Segalanya mungkin saja terjadi kan?

Tapi langkah Fay terhenti saat matanya tertumpu pada sosok yang sedang berdiri mengendap-ngendap di depan pintu ruang kesenian.

Sosok itu sembunyi di balik pintu dan mengintip ke dalam melalui kaca persegi kecil di tengah-tengah pintu.

“Alvin?”
Fay berjalan menghampiri Alvin yang entah sedang apa di depan ruang musik.

“Vin lo ngapain?”
Bukannya menoleh, Alvin malah mengacungkan telapak tangan kirinya pada Fay yang sudah berdiri di belakangnya sementara dia sendiri masih tetap fokus mengamati sesuatu melalui kaca kecil itu.

“Lo liat apaan sih Vin?”
Fay menepuk pundak Alvin yang tak juga berpaling padanya.

Tapi Alvin justru melambaikan tangan kirinya mengisyaratkan agar Fay ikut mengintip.

Fay pun mendekat dan ikut-ikutan melongok melalui kaca kecil di pintu.

Fay mencoba menemukan apa yang sedang dipandangi Alvin. Matanya mengitari seisi ruangan yang kosong tak ada seorangpun, kecuali…..

“Ify?”

“sssstttt….” Alvin mendekatkan telunjuk kiri ke mulutnya menyuruh Fay diam.

“Lo liat? Gila…..keren banget ngga sih main pianonya? Asli tuh anak…udah cantik, baik, pinter maen piano pula. “ Alvin masih fokus memandangi Ify sampai tiba-tiba sebuah jitakan mendarat di kepalanya.

“Wooooo….dasar lo tu ya….Kalo Ify aja lo puji-puji. Giliran gue aja lo omel-omelin.” Fay manyun di samping Alvin yang sama sekali tak menggubrisnya.

“Beda Fay….Ify tuh cewek banget….tipe gue banget dah….”
Alvin bicara masih dengan tatapan fokus pada Ify.

Ctakkk!!!!
Satu jitakan mendarat lagi di kepala Alvin. Kali ini cukup keras dan sukses membuat Alvin akhirnya menoleh pada Fay.

“Aduh….sakit Fay…” alvin melotot pada Fay yang masih manyun.

“dasar ngga gentle lo. Kalau lo suka terus ngapain lo ngendap-ngendap kayak kucing mau nyolong ikan gini? Masuk aja kali. Terus lo tepuk tangan. Lo puji deh tu permainan pianonya. Dia bakal klepek-klepek sama pujian lo, terus….”

“Terus gue tembak dia. Jadian deh gue sama Ify….”

Pletakkkk!!!!
Jitakan ketiga kembali mendarat di kepala Alvin.

“Dasar lo tu ya. Ga mutu… Omong doang… Talk less do more Bro…”
Fay berkacak pinggang di depan Alvin yang masih mengusap-usap kepalanya bekas dijitak Fay.

“Eh….“
Fay berekspresi seolah teringat sesuatu.
“gue tu butuh lo Vin. Gue nyariin lo kemana-mana taunya lo nangkring disini. Gue butuh bantuan lo nih. PR Fisika gue kurang 2 nomer. Bantuiiiinnnn…..”
Fay menarik tangan Alvin menjauh dari ruang kesenian.

“Eh eh eh…gue masih pengen liat Ify maen…”
Alvin mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Fay.

“Halah…..ntar klo PR gue udah selesai lo balik lagi aja kesini. Cepetan ayo….”
Fay menarik Alvin dengan lebih kuat dan akhirnya membuat Alvin terpaksa menurut dan meninggalkan Ify yang masih menekan tuts-tuts pianonya dengan anggun.

>>>>>>>>>>

Pukul 17.00

Hujan baru saja turun beberapa menit yang lalu. Bau tanah yang terguyur air masih menyisakan kesejukan di hati warga komplek Joglo sore itu.

Alvin duduk menghadap jendela yang langsung mengarah ke jalanan. Ia memangku gitarnya dan sesekali mencoba memetik senar-senar sesuai kunci yang tertulis di kertas yang baru saja ia Print. Dari komputer.

Alvin berkali-kali mengulang petikan gitarnya karena merasa bunyi yang dihasilkan kurang pas. Wajahnya penuh konsentrasi berusaha memperoleh nada yang pas untuk memainkan lagu Favorite Girl nya Justin Bieber.

Pandangannya yang terfokus pada senar gitar tiba-tiba saja teralih karena ia menangkap sosok Fay yang sedang berjalan keluar dari pintu rumahnya.

Fay berhenti sejenak di depan pintu. Sesaat kemudian ia melangkah menuju halaman depan dan keluar di tengah hujan yang cukup deras.

Fay berdiri di tengah-tengah halaman rumahnya dengan wajah menengadah ke atas dan mata terpejam menantang hujan.

Alvin mengamati Fay dengan dahi berkerut. Ia masih belum mengerti kenapa sahabatnya itu sangat menyukai hujan.

Wajah Fay sudah tak lagi menengadah ke atas. Sekarang pandangan matanya lurus menatap jalanan depan rumahnya.

“Fay!!!!!”
Alvin meletakkan gitarnya dan mendekat ke arah jendela lalu memanggil Fay.
Fay tampak kaget dengan teriakan Alvin.

Fay sontak menoleh. Setelah berusaha menajamkan penglihatannya yang agak buram karena air hujan, akhirnya dia bisa menangkap sosok Alvin yang berdiri di balik jendela sambil memandangnya. Fay melempar senyum pada Alvin.

“Hay!!!!”
Fay melambaikan tangannya pada Alvin. Alvin balas melambaikan tangan.

“Awas sakit lagi!!!!” Alvin kembali berteriak.

Fay hanya membalasnya dengan senyuman. Fay melambaikan tangan pada Alvin dan dia kembali menengadahkan wajahnya ke atas sambil merentangkan tangan dengan mata terpejam. Beberapa detik Fay tetap bertahan dalam posisinya dan sesaat kemudian dia mulai berdiri mematung menatap jalanan di depannya. Sejenak kemudian ia mulai berlari kesana-kemari sambil tersenyum-senyum sendiri. Terkadang mulutnya komat-kamit seolah melantunkan sesuatu.

Alvin tersenyum dari balik jendela mengamati tingkah sahabatnya itu.

>>>>>>>>>>

Selasa, 10 Agustus pukul 13.45

Fay dan Alvin menyusuri jalanan dari sekolah menuju rumah mereka. Hari ini susah sekali mendapatkan angkot untuk pulang karena para supir angkot berdemo kenaikan harga BBM. Saat-saat seperti ini memang paling menyebalkan bagi pelajar seperti mereka. Mereka harus berjalan dulu ke terminal baru bisa menemukan kendaraan untuk pulang. Itupun mereka harus naik bis yang tarifnya sedikit lebih mahal daripada angkot.

“Ah elah….pake demo segala nih angkot. Bikin ribet aja sih….”
Alvin berjalan dengan muka ditekuk tujuh sambil menendang-nendang botol plastik yang ditemuinya di jalan.

“Tau nih…..”
Fay ikut-ikutan mengeluh sambil mengusap keringat yang tetap saja mengucur walaupun hari tidak sedang panas. Tentu saja Fay berkeringat. Mereka berjalan hampir 1 kilometer. Langit memang sedang mendung tapi energi yang digunakan untuk berjalan lumayan membuat mereka ngos-ngosan.

“Aduh……”

“Kenapa Vin?” Fay sontak menoleh pada Alvin yang sedang menengadahkan tangannya ke atas.

“Mau ujan Fay….”

“Waduh….ayo cepetan ntar keburu deres.”
Fay berlari kecil diikuti dengan Alvin.

“Biasanya lo girang banget klo ada ujan?”

Fay terus berlari tanpa mempedulikan pertanyaan Alvin. Dan benar saja, baru beberapa meter mereka berlari, hujan turun dengan derasnya.

“Waaaaaaa!!!! Neduh dulu disana ya Vin….” Fay terus berlari sambil menunjuk sebuah toko tutup yang di depannya cukup nyaman untuk berteduh.

“Ho’oh…”
Alvin mengikuti Fay dari belakang.

Akhirnya mereka sampai di depan toko yang mereka tuju. Fay langsung melepas tasnya dan mengibas-ngibaskan sedikit roknya yang basah.

“Tumben lo ada ujan lari? Biasanya malah mainan….”

“Basah nih baju gue….capek tau ngga nyucinya. Lagi males nyuci gue.”

“Yah…” Alvin ikut meletakkan tas. Ia melepas baju atasannya karena memang dia selalu pakai rangkapan kaos kalau ke sekolah.

“Eh Vin, ada angkot !!!! Buseet…..satu-satunya nih Vin!!!!”
Fay berteriak heboh sambil menunjuk angkot kuning yang mendekat beberapa meter di depan mereka.

Fay melambai-lambaikan tangannya dengan gaya tomboinya pada supir angkot yang semakin mendekat.

Tapi na’as angkot yang mereka stop malah bablas tanpa berhenti sdikitpun untuk mereka.

“Woiiiiii…..angkot woiiii!!!! Woiii!!!! Ah..rese lo!!!! Woeee!!!! Ah…gue hajar juga lo!!!!”
Fay mengacung-acungkan kepalan tangannya pada supir angkot yang mungkin sama sekali tak mendengar umpatan Fay sedikitpun.

“Udahlah Fay. Udah jauh juga.”

“Lo gimana sih Vin? Itu angkot satu-satunya. Lo malah santai-santai aja.”
Fay masih melongok-longok ke arah angkot itu pergi.

“Ya elonya juga. Kalau mau nyetop angkot tu agak majuan dikit sono di pinggir jalan. Disini mana keliatan. “

“Males ah gue ujan deres gini.” Fay kembali memeras-meras roknya yang basah. “Ah…dasar elo Vin. Mending gue ada usaha daripada elo…”

“lagian tumben-tumbenan banget sih lo males kena air hujan?”

“Terus kita pulang gimana dong? Terminalnya masih jauh. Gue ngga bawa payung.”

“Yaudah kita tunggu aja nyampe reda kalau lo ngga mau nekat.”
Alvin mengibas-ngibaskan seragam sekolahnya yang lumayan basah.

“Ah…..rese emang tuh angkot.”
Akhirnya Fay duduk bersandar pada pintu toko itu. Merekapun akhirnya menunggu sampai hujan reda.

>>>>>>>>>>

Sabtu, 21 Augustus pukul 16.00

Alvin : “Fay….gue ke rumah lo ya sekarang….”
Fay : “ngapain?”
Alvin : “ada deh. Ntar gue ceritain…ya ya ya….”
Fay : “oke gue tunggu…”
Alvin : “Oke…dah Fay…”

Tut…tut…tut….
Telepon ditutup dari seberang. Fay mengerutkan kening karena bingung dengan Alvin yang tak biasa-biasanya girang banget.

Fay berjalan menuju teras rumahnya dan duduk menunggu Alvin. Langit tampak mendung. Sepertinya akan turun hujan.

Tapi hampir 10 menit Alvin tak juga datang.

“Tuh anak berangkat dari mana sih? Orang rumah cuma di depan ini.”
Fay melongok menatap rumah Alvin di kejauhan. Tak tampak Alvin keluar dari pintu rumahnya.

“Fay!!!”
Fay sontak menengok ke sumber suara. Tampak Alvin dengan motornya memasuki halaman rumah Fay.

“Lo dari mana Vin rapi amat? Gue pikir lo dari rumah.”

Alvin tak menjawab. Dia memarkir motornya sembarangan di halaman rumah Fay dan bergegas menghampiri Fay. Wajahnya tampak berseri sekali. Senyumnya tak lepas dari bibirnya. Baru saja dia sampai di hadapan Fay tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.

“Yah ujan….”
Alvin balik badan dan kembali ke motornya. Ia memindahkan motor kesayangannya ke garasi rumah Fay lalu kembali ke hadapan Fay masih dengan senyum terkembang.

“Lo kenapa Vin? Kayak dapet duit sekarung.”

Alvin masih tetap melempar senyum pada sahabatnya yang menatapnya dengan heran.

“Coba tebak….”
Alvin semakin membuat Fay penasaran dengan wajah jahilnya.

“Apa sih Vin? Cepetan deh…. Gua tonjok juga lo bikin gue penasaran.”

“Hahaha…..”
Alvin malah tertawa mendengar gertakan Fay. Wajah Alvin benar2 tampak merekah hari ini. Jarang-jarang Fay melihat Alvin seheboh ini.

“ehm…ehmmm….”
Alvin sok ngambil nada dasar seperti pejabat yang akan pidato.
kemudian dia diam dengan wajah serius dan perlahan mulai bicara…

“gue……“

“gue…..“

“gue……”

Pletakkkk!!!!
Belum sempat Alvin ngomong, Fay sudah menjitaknya dengan lumayan keras.

“gua gue gua gue….apa sih?”

Alvin menggosok-gosok kepalanya yang lumayan puyeng dijitak sama Fay.

“Gue jadian sama Ify!!!!!!!!”
Alvin melonjak-lonjak kegirangan di depan Fay sambil mengacung-acungkan kepalan tangannya ke udara tanda kemenangan yang sudah lama dia nanti-nantikan.

Fay menatap Alvin yang masih terus menari-nari kegirangan di depannya.

“Tau ngga sih Fay…gue tadi ke toko buku dan gue ketemu Ify. emang jodoh tuh kita. Kita berdua ngobrol, ngobrol dan ngobrol dan entah gue kerasukan setan apa tiba-tiba gue nembak dia. Dan lo tau Fay…..dia langsung nerima gue…..gila Fay….gila…..”

Alvin berputar-putar dengan girangnya di depan Fay yang masih menatapnya.

“Gue seneng Fay….gue seneng….”
Alvin menggenggam tangan Fay dan mengajaknya menari-nari tapi Fay hanya diam memperhatikan Alvin yang sepertinya benar-benar tidak bisa mengendalikan luapan kebahagiaannya. Alvin berlari kesana kemari di teras rumah Fay. Mata Fay mengekor kemanapun Alvin melangkah.

Tiba-tiba Fay berjalan ke arah halaman.

“Kemana Fay?”
Alvin yang melihat Fay sontak menghentikan loncatannya dan menatap Fay dengan dahi berkerut.

Fay terus berjalan keluar teras. Fay menuju halaman menantang hujan. Sekarang Fay berdiri di tengah-tengah halaman dengan guyuran hujan yang cukup deras sambil menghadap ke arah Alvin yang masih memandangnya dari teras.

Fay tersenyum.

“Selamat ya Viiiiinn!!!!!” Fay berteriak pada Alvin dari halaman mengalahkan suara hujan.

“Sini!!!!! Kita rayain disini!!!”
Fay melambaikan tangannya pada Alvin yang masih berdiri terpaku di teras.

Alvin yang sedari tadi bengong akhirnya tersenyum.

“Gue disini aja Fay…gue ngga suka ujan….gue nari dari sini aja ya!!!!”

Fay tersenyum pada Alvin. Perlahan Fay mulai menengadahkan wajahnya dan merentangkan tangan. Lalu dia mulai berputar-putar dan berlari mengelilingi halamannya.

Alvin yang melihat tingkah Fay pun akhirnya kembali meloncat-loncat kegirangan dan kembali menari-nari di teras rumah Fay. Walaupun mereka berjauhan tapi mereka seolah menari bersama.

Fay mengikuti gerakan Alvin yang melompat-lompat sambil berputar-putar.

Mata Fay menatap senyum sahabatnya yang terkembang.

Alvin terus menari. Namun, perlahan Fay berhenti berlari. Ia menari di tempat dan perlahan gerakannya semakin pelan. Fay menghentikan gerakan kakinya. Dia hanya menggerak-gerakkan tangannya sampai akhirnya dia berhenti menari. Dia hanya tersenyum menatap Alvin yang masih menari-nari. Fay terpaku dengan matanya terus menatap senyum sahabatnya. Ia menatap wajah bahagia sahabatnya. Fay tersenyum menatap Alvin.

Hujan…..

Aku suka hujan….

Karena….

Hanya dibawah hujan lah….

Air mataku takkan tampak…..







By: Fay

Aku hanya bisa menangis dibawah hujan.
Aku hanya akan menari bersama hujan jika aku ingin menangis.
Karena hanya di bawah hujanlah air mataku takkan tampak….
Dengan begitu aku tak perlu menunjukkan diriku yang lemah
Hujan akan membawa air mataku bersama alirannya.
Tapi sayang…
Ia tak bisa membawa masalahku juga….

Aku akan menari bersama hujan jika hatiku merasa tersakiti
Aku akan menari bersama hujan jika aku merasa gundah dan sedih
Aku akan menari bersama hujan….Jika kau menyebut namanya.
Andai hujan mampu membawa perasaan cintaku ikut pergi bersama alirannya….


Minggu 13 Juni

Aku benci hari ini. Sakit hati aku, Di. Kok Cakka tega banget sih nampar aku. Aku ngga nyangka Cuma gara-gara satu kalimatku itu Cakka bakal marah besar sama aku. Coba tadi Alvin dateng lebih cepet, pasti dia bakal ngebelain aku. Ngga kaya anak-anak laen yang malah ngejadiin aku tontonan gratis.
Asli sakit banget ati aku, Di. Tapi gapapa lah. Aku udah puas nangis hari ini. Ya seperti biasa, rain is the best way to cry.


Rabu, 30 Juni

Aku ga tau mesti bersikap gimana di depan Alvin. Aku terlalu takut untuk mengatakan perasaanku yang sebenarnya. Aku hanya pengen liat dia senyum. Liat dia bahagia.
Kapan ya kira-kira aku bisa jujur sama Alvin. Ga Cuma sok senyum bahagia waktu dia muji Ify di depanku.ngga tahan banget aku, Di, pengen nangis.Tapi bodoh ya aku. Malah cengengesan di depan Alvin. Munafik emang aku ini.
Andaikan dia bisa ngliat air mataku sore tadi. Ahh…bahkan saat menangispun aku akan tetap tersenyum jika dia melihatku.
Apa dia ngga ngrasain apapun saat liat aku ujan-ujanan tadi. Apa dia ngga ngrasain tatapan sakit hatiku ke dia.
Vin…Vin….kayaknya emang sampai kapanpun kamu ngga akan tau alasan kenapa aku suka hujan. Kalau kamu tau, mungkin semuanya ngga akan sesulit ini.