Selasa, 15 November 2011

Surat kecil kepada lelaki yang mengajariku untuk bersikap dewasa.

Surat,
Kepada lelaki yang mengajariku bersikap dewasa.

Untuknya, kakak cumi tersayang. (Yang pernah menyebutku gembel-_-)

Ini kali pertama akhirnya aku bisa mengatakan apa yang sekian lama kurahasiakan tentang perasaanku yang semakin mendalam. Hanya dua kata yang mampu kuucapkan. Aku mencintaimu. Apakah itu cukup membuatmu mengerti? Kamu berpikir itu sangat sederhana sehingga aku mampu mengucapkannya kan?

Sebenarnya, aku sendiri masih belum memahaminya. Kakak. Aku mencintaimu. Hanya itu. Aku tak punya kata lain yang cukup berarti lagi. Dan hanya karena itukah Tuhan bilang aku berdosa? Kenapa? Aku selalu bertanya. Hingga lelah. Tapi, Tuhan tak pernah menjawab apapun.

Jika besok kutemukan Tuhan, aku pasti akan menanyakan; apa salahku mencintaimu, kakak?
Bukankah setiap orang berhak mencintai?

Bagiku, kau seperti silir udara yang menghantar buih ombak ke dalam pelukan pasir putih—hanya untuk menyampaikan pesan yang begitu tergesa—lalu membawanya kembali ke tengah lautan dengan penuh kesetiaan. Dan, kau juga, seperti tirai-tirai hujan yang menari lentik dalam pacuan detak jantungku saat aku melangkah lirih di atas rerumputan pada suatu malam hening penuh rintih kesakitan; bahkan aku masih ingat, senyumanmu sering kupakai untuk menghapus air mata sakit hati atau kekecewaan sebabmu.

Tanpa kau sadari, kau ajarkan aku bagaimana caranya menggores tinta dengan bijaksana diatas secarik kertas usang agar dia bisa tetap abadi. Meluluhkan perasaan angin dan hujan, lalu berubah menjadi burung kecil bersayap putih yang telah bersiap terbang mengejar matahari. Kau juga mengajariku cara menetskan dengan amat sangat perlahan hingga hanya kedua malaikat di bahuku yang mampu mendengarnya. Lalu kau ajak kedua kelopak bibirku bergerak, mengucapkan kata yang akhir-akhir ini malah kubenci; doa dan harapan.

Kau katakan padaku; kamu lebih cantik daripada kakakmu, kamu masih terlihat polos dan aku senang melihatnya (message 01/Aug/2011 23:45 PM). Kau katakan lagi; setiap malam aku meminta pada Tuhan agar bisa semakin dekat dan menjadi jodohmu kelak nanti (message 09/Sep/2011 19:28 PM). Kau juga mengatakan; akus udah berkomitmen tidak akan meninggalkan kamu (message 19/Sep/2011 16:16 PM). Dan, terakhir kau katakan lebih lembut lagi; lakukanlah semua yang membuatmu senang, tapi jangan pernah menangis lagi (message 06/Nov/2011 14:20 PM). Apakah kau masih mengingatnya, kakak? Mungkin bagimu ini hanya kata bualan sampah, tapi bagiku ini termasuk rangkaian kenangan darimu. Dan tolong, berikan wujud nyata dari semua kata dan janjimu.

Pertemuan denganmu begitu manis sekaligus pahit. Kau menyelam kedalam hatiku seperti matahari terbit. Saat bersamamu, aku mampu merasakan kebahagiaan yang sempurna sekaligus kepedihan yang dalam; kutemukan kegelisahan yang panjang sekaliggus kenikmatan naluriah; keheningan yang begitu damai sekaligus kenangan yang amat pahit. Maaf. Mungkin aku terlalu menyebalkan bagimu, tapi bagiku Tuhan lebih menyebalkan. Apa Tuhan tidak punya hati? bukankah keinginanku sangat sederhana. Aku hanya ingin kau miliki. Terlalu hinakah harapan ini?

Aku sendiri kini; di tepi pantai sepi tempat kita dulu pernah saling melukis mimpi, menyulam bait-bait cerita kehidupan yang pernah dialami, meneriakkan kesakitan, dan bertanya-tanya tentang Tuhan. Tempat kali pertama kita bertemu, kau ingat? Di depan taman berkolam kecil yang dikelilingi pura-pura berukir indah, disebelah bangunan greja megah kebesaran Tuhanmu. Apa kau ingat? Kau juga sempat tertarik dengan pias wajah cantik saudaraku yang sering tersenyum manis, dan itu sempat membuatku terikat cemburu.

Kau tau, siang ini, di tempat keempat dari enam kali pertemuan kita; dengan sebungkus lays rumput laut (aku tau, ini makanan kesukaanmu juga) dengan sekaleng fanta merah, aku mulai menulis tentangmu. Tentang senyummu yang membelai waktu dan pikiranku. Tentang ciumanmu yang begitu hening, begitu hangat melemahkan rasa sakitku. Tentang jari-jarimu yang halus selembut kabut, yang sering kaugunakan untuk membelai lembut bibir merahku atau mengusap air di pelupuk mataku. Tentang bahumu yang kokoh, yang mampu menjadi sandaran kelemahanku, juga bongkah dadamu yang kuat, begitu wangi. Semua ini membuatku menjadi gadis cengeng yang rapuh.

Masihkah cinta dapat dipercaya, seperti juga Tuhan? Cinta. Satu kata yang kupakai untuk melukiskan betapa aku ingin kau miliki. betapa aku ingin menjadi perempuanmu. Yang akan memberimu seluruh hidupnya, yang akan setia mengangkat payung setiap hujan menyapa, yang akan melahirkan malaikat-malaikat kecil, untuk menghapus kesepianmu. Hanya ini yang ingin aku sampaikan padamu, kakak dan juga pada Tuhan. Hanya demikian.

Tapi karena Tuhan bukan manusia, Dia tak pernah bisa merasakan kesakitanku, merasakan kekecewaanku terhadapmu.. terhadap-Nya. Dia hanya membisikan ke telingaku bahwa mencintaimu adalah dosa. Jadi, jika besok kutemukan Tuhan, kakak, aku pasti akan menanyakan; apa salahnya mencintaimu? Kenapa aku tak boleh mencintaimu? Mengapa cinta tiba-tiba menjadi dosa? Mungkin aku tahu. Mungkin Tuhan akan menjawab bahwa dosa mencintaimu semua karena tentang-Nya. Tentang perbedaan antara Tuhanmu dan Tuhanku. Aku tidak pernah tau bahwa perbedaan sara ini ternyata akan menjadi penghalang rasa cintaku untukmu. Biarkanlah jika mencintaimu menghasilkan puing dosa aku tetap kan melakukannya. Dan kakak, jika kelak nanti kau dapat melihatku ada… tengoklah kebelakang. Aku kan selalu setia menunggumu dengan sepercik harapan usang.

Juga, maafkan aku karena tlah berani mencintaimu.

Gadis kecil yang akan mencintaimu dalam diam.
Aku.


untukku my big brother yang dimaksudkan dalam surat ini, maafkan aku jika terlalu menyebalkan dan... mungkin aku mengganggu hidupmu. terimakasih karena sudah mengajariku untuk bersikap lebih dewasa dan tak egois. terimakasih juga karena memberiku pemahaman tentang cinta yang sebenarnya. jika memang rasa ini hanya sebagai adik-kakak, anggaplah aku sebagai adikmu... jangan anggap aku sebagai orang lain :)

(Ins: Teenlit Kepada Cinta (True Love Keep No secret)
(tittle real: Kepada Lelaki Yang Mengajariku Menggores Tinta (Febry Nur Ramahmi))

Jumat, 04 November 2011

Barbie? I wanne be it

Judul postingan blog gue kali ini, asli deh konyol banget. Nyata banget kaliya kalo bukan Cuma gue aja yang pingin menyerupai sosok ‘barbie’ mungkin semua cewek yang lagi bernafas sekarang juga pingin banget yaa jadi Barbie. Gak munafik. ini nyatanya kan.

Apa sih kelebihannya Barbie?

Pertanyaan ini asli gak penting. Terlalu jelas deh keliatannya kalo Barbie itu emang lebih-lebih-lebih banget. Bukan Cuma punya kelebihan, tapi yaa emang Barbie itu sempurna banget. Kalo ada kalimat -no body’s perfect- kalimat ini gak berlaku bagi Barbie, Barbie kan bukan manusia jadi yaa dia bisadong jadi sempurna. Detailnya deh, pertama Barbie itu punya kulit mulus semulus papan tulis di sekolah gue. Dan catat: di kulitnya gak pake bintik-bintik merah hitam bernoda atau tonjolan-tonjolan menyebalkan yang bikin stress-_-dan jelas cantiknya gak ada yang ngalahin. Pesonapun terlalu kuat ampe bikin mulut berbusa kalo ngeliat 

Kedua, Barbie itu mukanya senyum terus, ini nih yg gue iriin. Liat deh, kapan sih ada Barbie yang rupa mulutnya manyun-manyun? Atau yang lagi nangis? Lagi galau? Lagi marah? Gak ada man!! Nah itu yang paling gue iriin sama si Barbie, dia selalu tersenyum manis meskipun waktu dia diinjek-injek, atau waktu rambutnya dijambakin ampe botak, atau waktu dia lagi ditelanjangin bulat di depan khalayak dia juga tetep senyum kan-_-ha ha banget ini. Seandainya.. muka gue kaya Barbie ini kan enak, walaupun gue lagi nangis termehek-mehek gue bakal bisa nutupin dengan senyum manis itu. Dan tentunya gak ada orang yang sok kasian sama gue 

Ketiga, Barbie itu gak punya hati dan perasaan. Okee! Disini gue yang bodoh, yaa jelaslah Barbie gak punya hati, dia kan Cuma terbuat dari bahan-bahan yang gak jelas dan guepun gak tau apa namanya. Tapi coba aja kalo gue juga gak punya hati, pasti gue gak bakalan ngerasain yang namanya suka-jatuh cinta-patah hati. Gue gak bakalan deh senyum-senyum mirip orang gila saat lagi jatuh cinta, dan gue juga gak bakalan nangis-nangis ngesot sampe mau mati saat lagi patah hati. and then.. hidup gue bakal tentram, aman, damai dan tentunya sejahtera. Dijamin bahagia dunia akhirat deh gue.

Ini khayalan gue, apa khayalan lo? ;)

Sabtu, 22 Oktober 2011

Aku Hanya Wanita Biasa (repost)

Aku Hanya Wanita Biasa

Aku tak seperti Cinderella
Yang bisa dengan mudah kau temukan
Asal cocok dengan sepatu kaca
Aku hanya wanita biasa
Hidup di antara wanita biasa lainnya
Tak perlu melarikan diri dari apapun pada pukul 12 malam

Aku tak secantik Cleopatra
Yang dengan mudah memikat pria
Dengan pesona dan kecantikan luar biasa
Aku hanya wanita biasa
Dengan wajah pas-pasan tanpa pesona

Aku bukan seperti putri salju atau putri tidur lainnya
Yang dengan mudah kau bangunkan lewat satu kecupan manis
Aku hanya wanita biasa
Tak butuh ciuman seperti itu..

Aku wanita biasa..
Inginkan kebahagiaan tanpa cela
Yang ingin dicintai dan mencintaimu
Harap kau menerimaku..
Apa adanya diriku

Senin, 17 Oktober 2011

Galau? Who is that?

Galauw .
Who is that?

Penyakit rutin yang selalu datang tnpa permisi, lalu bersemayam seenaknya di otak dan tubuh gue .
Mengendap, lalu menguap menjadi titik air hingga menjadi asap yang membumbung tinggi, tentunya tak kasatmata .
Entah kenapa otak gue dipenuhin sama impian konyol yang dengan nyatanya mustahil banget buat terwujud .
Apalagi dibumbuin sama angan-angan yang terlalu tinggi untuk gue raih, terlalu jauh untuk gue capai, dan terlalu kuat untuk gue genggam .
Gue juga bingung, entah gue yang kelewatan atau emang begini adanga .
mereka padahal orang-orang yang gue sayang .
Gue ngejauhin kalian karena kalian yang maksa gue untuk nutup diri, membuat deretan dosa yang udah kalian lakuin sama gue .
Merenungi semuanya, memutar memori akan kejadian menyakitkan dimasa lalu .
Semakin membuat gue yakin bahwa kalian orang-orang yang harus segera gue depak jauh-jauh dari hidup gue .
Mempersilahkan diri untuk memisahkan ikatan pertemanan .
Kalian -sebenarnya- bukan temen gue, kalian hanya pembantu hidup gue .
Membuat susah tak terlalu berarti dalam hidup, kalian juga hanya pajangan di masa lalu .
Yang cukup disimpan dalam kefokusan jiwa, dan ditangkap dalam hembusan angin .

Sabtu, 15 Oktober 2011

penggalauan!

gue-masih-berharap.

selama ini harapan gue tetep tumbuh subur, rasa sayang gue makin dalem dan berubah jadi ke tingkat yg lebih serius. saat lo mulai nyuekin gue, saat lo mulai jauhin gue, gue bener-bener ngedrop terus. gue selalu inget, dan selamanya inget tentang kenangan indah sama lo. dimana gue selalu bisa tersenyum manis, dimana gue bisa ngerasain cinta lagi untuk kedua kalinya, dimana gue selalu ngerasa jadi cewek yg paling bahagia.
dan selama ini harapan gue tetep berada. lo masih jadi orang special di hati gue. gue pacaran sama mereka, hanya untuk mengisi kekosongan. berharap bakal ada seseorang yang lebih baik daripada lo. tapi ternyata gue salah, menurut hati gue lo tetep yang paling all. cuma lo, kakak.. yang bisa ngobatin luka hati gue dimasa lalu.
terus sekarang?
saat berbagai sosok penghalang itu udah musnah, apa kita bakal tetep gini? gue mau lebih :( gue mau selalu jadi yg paling special di hati lo. sekali ini aja.. coba lo buka mata dan lihat gue yang selalu nunggu elo dengan setia disini. bayangin, setelah lo nyuekin gue, setelah lo ngejauhin gue, gue tetep perhatiin lo :')
gue udah terlalu banyak ngorbanin hati dan semua ini karena lo.
sekali ini aja, jangan minta gue berkorban lagi. yang gue mau cuma lo! CUMA LO KAKAK!!

Kamis, 13 Oktober 2011

Pelangi Sehabis Hujan :)

Pelangi Sehabis Hujan :)

Jalan hidupku tak selalu..
Tanpa kabut yang pekat..
Namun kasih-Mu nyata padaku..
Pada waktu-Mu yang tepat..

Seperti pelangi sehabis hujan..
Itulah janji setiamu Tuhan..
Di balik dukaku tlah menanti..
Harta yang tak ternilai dan abadi..

Mungkin langit pun tak terlihat..
Tertutup awan tebal..
Namun hatiku kan tetap kuat..
Oleh janji-Mu yang kekal..

Kamis, 22 September 2011

Gue ini hanyaa..?

Gue ini hanya gadis kecil .
Yang berharap buat punya kisah cinta menggoda hati .
Mendapat pangeran setampan dongeng cinderella .
Atau sesempurnanya makhluk Tuhan .

Gue ini hanya gadis kesepian .
Yang berharap punya seseorang special buat ngeramein hidup gue .
Mendapat teman yang bisa tertawa manis bersama gue .
Atau sahabat yang rela menoreh kisah seru .

Gue ini hanya gadis manja .
Yang berharap untuk punya orang tua terkasih sebagai sandaran hidup .
Mendapat elusan hangat di puncak kepala sebelum bermimpi .
Atau kecupan lembut menghiasi hari .

Gue ini hanya gadis biasa .
Yang akan menangis tersedu jika tersakiti .
Yang akan tersenyum cantik jika berbahagia .
Yang akan mengeluh kesah jika mendapat takdir buruk .
Dan akan berbunga hatinya jika takdir berbaik hati sama gue .

Gue ini hanya gadis bodoh .
Yang dengan gampangnya menyerah pada hidup .
Yang dengan mudahnya ingin mengakhiri hidup .
Karena terlalu banyak menggantung harapan .
lalu kemudian terusak oleh cinta .
Dan terbunuh oleh rasa .

Minggu, 18 September 2011

no title!

Gue cuma bisa terpaku saat tau kalo pangeran hati gue udah memilih ratu hati yang lain .
bukan gue .
gue cuma diam membisu dan berharap bahwa semuanya palsu .
tapi gue salah .
seberapa banyak gue pejemin mata lalu ngebukanya? semua ini tetap terjadi .

detik itu juga gue sadar kalo harapan gue sia-sia .
padahal gue udah terlanjur ngebanggain lo di depan Tuhan .
bercerita kepada kepada semua hawa betapa sempurnanya lo .
memimpikan gambaran indah kita di masa depan .

setelah sekian lama menutup hati, gue baru bisa ngerasain 'sesuatu' itu lagi .
sama orang yang gue kira berhak buat menduduki hati gue .
dulu gue emang biasa aja, ga respect sama elo .
tapi setelah elo menoreh harapan di hati gue .
menuliskan janji-janji manis yang meluluhkan hati .
dan saatnya gue udah kejebak cinta gila, semuanya hilang .

gue makin gak punya motivasi buat hidup .
doa-doa gue yang terucap tanpa sengaja makin menyeramkan .
otak gue yang uda gila malah tambah gila dan berpikir kelewatan .
terlalu nekat . bahkan terlalu berani .

karena buat apa gue hidup tanpa punya arah?
tanpa tujuan .
tanpa semangat .
dan tanpa orang yang gue sayangin .

Jumat, 16 September 2011

Fotography .

Teknik Dasar Fotography
Yang sering menjadi kendala utama fotografer pemula adalah kendala teknis. Banyak yang tidak mengetahui dasar dan tidak mengenal kameranya dengan baik. Saya pikir ini penting sekali untuk diatasi sebelum melangkah lebih jauh. Dengan menguasai aspek teknis, kita bisa membuat foto yang kita inginkan.

EXPOSURE / PENCAHAYAAN

Inti fotografi adalah pencahayaan, maka itu sangat penting kita memahami hal ini. Ada tiga faktor utama yang menentukan pencahayaan yaitu bukaan (aperture), kecepatan pemantik (shutter speed) dan sensitivitas sensor (ISO).
Jenis mode kamera yang bisa dipilih

Jenis mode kamera yang bisa dipilih

Berkaitan erat dengan pencahayaan, pertanyaan yang sangat sering saya dapatkan adalah mode kamera apa yang saya harus pakai. Bagi yang memahami prinsip pencahayaan, tentunya lebih cenderung memakai Manual (M), Aperture Priority (A/Av) atau Shutter Priority (S/Tv).

Lalu bagaimana dengan Auto mode, atau Program (P) mode atau scene modes seperti landscape mode (yang gambarnya seperti gunung) atau portrait mode (yang gambar wajah orang dari samping)? Apakah boleh memakai mode itu? Boleh saja kalau belum memahami pencahayaan, tapi bila telah memahami, otomatis kita tidak butuh lagi mode-mode tersebut.

Saya sendiri menyukai Aperture Priority, karena saya bisa fokus dalam mengendalikan berapa kabur latar belakang foto.

Mempelajari pencahayaan ibaratnya seperti belajar mobil manual, berenang atau belajar naik sepeda. Pertama-tama rasanya susah sekali, tapi kalau sudah memahami dan disertai praktek yang teratur, segalanya akan menjadi lancar. Setelah memahami hal ini, hasil hasil foto-foto Anda akan lebih konsisten.

EXPOSURE COMPENSATION / KOMPENSASI
Histogram: Kalau kurva berwarna hitamnya banyak menumpuk di sebelah kanan seperti ilustrasi di atas. Ini menandakan pencahayaannya terlalu berlebihan

Histogram: Kalau kurva berwarna hitamnya banyak menumpuk di sebelah kanan seperti ilustrasi di atas. Ini menandakan pencahayaannya terlalu berlebihan

Masih berkaitan dengan pencahayaan, hal yang perlu diperhatikan terutama fotografi digital adalah menghindari pencahayaan berlebih sehingga foto menjadi terlalu terang karena akan banyak detail yang hilang dan tidak bisa dimunculkan kembali. Untuk mengecek apakah foto kita terlalu terang, kita bisa lihat di layar LCD atau histogram.

Selain itu seringkali bila pemandangan di depan kita lebih banyak warna gelapnya daripada terangnya, kamera sering salah menafsirkan, sehingga foto menjadi lebih terang. Untuk itu, kita bisa mengakalinya dengan mengunakan fungsi kompensasi pencahayaan.

Nilai kompensasi tergantung pemandangan, jenis pengukur cahaya /metering yang aktif dan jenis kamera. Saran saya coba-coba saja sampai menemukan pencahayaan yang optimal.
Dalam foto ini, kompensasi pencahayaan diperlukan karena sebagian besar area di dalam foto berwarna gelap. Bila tidak, wajah akan terlalu terang dan jubah akan berwarna abu-abu. Data Teknis: Av mode, 200mm, f/4, 1/320 detik, ISO 200, EC -1

Dalam foto ini, kompensasi pencahayaan diperlukan karena sebagian besar area di dalam foto berwarna gelap. Bila tidak, wajah akan terlalu terang dan jubah akan berwarna abu-abu. Data Teknis: Av mode, f/4, 1/320 detik, ISO 200, EC -1

MENCEGAH FOTO KABUR / GOYANG

Dua faktor foto kabur atau goyang adalah salah fokus atau shutter speed kurang tinggi. Untuk masalah auto fokus, jangan mengandalkan setting automatic focus, tapi pilihlah titik fokus tertentu. Bila subjek bergerak, maka gunakanlah continuous AF sehingga auto focus bisa mengikuti subjek.

Untuk memastikan fokusnya benar-benar telah terkunci, bisa dari suara “beep” atau lihat konfirmasi AF yang biasanya berbentuk bulatan atau kotak hijau di dalam jendela bidik / viewfinder.

Berkenaan dengan masalah shutter speed, untuk foto subjek yang bergerak, butuh shutter speed yang cukup tinggi. Contoh: minimal 1/125 untuk foto orang berjalan. Kalau lebih rendah, foto akan kabur. Di kondisi cahaya yang kurang baik, triknya adalah menaikkan nilai ISO, sehingga shutter speed tinggi bisa dicapai.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Inilah Takdir Tuhan

Inilah Takdir Tuhan.


Semuanya hancur dalam gelap, lebur dan hilang dalam sekejap. Berakhir saat guncangan itu bergetar dasyat dan menelannya dengan kalap. Raungan itu tak berarti sudah, semakin lama tertelan deburan ombak. Hanya seberkas cahaya yang dapat terpantul oleh bola bening mataku. Penyesalan belaka terus berputar jelas, tak kunjung henti dan tak kunjung hilang.

*
Hhmm..
Aku menarik nafas panjang untuk menghirup udara segar ini. Udara sejuk yang dingin dan menyegarkan. Sungguh lega hatiku, saat telapak kakiku menginjak sebuah kampung di pinggir pantai ini. Sebuah kampung dimana sosok yang kucintai menempatinya. Kalau dihitung, sudah sekitar empat tahun aku tak pernah kesini.
Yaa.. pasti ! pasti rasa rindu dan kangen sudah bergejolak keras di hatiku. Bergelombang tinggi menerjang semua rasa. Aku tak sabar untuk melihat wajah tampannya yang dulu selalu mengisi hari-hariku, mendengar suara lembutnya yang dulu selalu menyanyi untukku, dan merasakan lembut usapan kasihnya yang dulu selalu membelaiku dengan kasih sayang.
Dengar ! detakan jantungku berdetak keras dan berirama indah. Lihat ! Kedipan mataku semakin sayu merasakan rindu yang semakin dalam. Dan Rasakan ! sentuhan tanganku mengeluarkan keringat dingin yang menandakan aku grogi bertemu dengannya. Oh tidak mungkin, mana mungkin aku bisa grogi mau bertemu dengannya ? padahal dulu setiap detik aku selalu bersamanya, yaahh… meskipun dulu tapi tetap teringat dan terkenang.
Mataku menyusuri keindahan kampung ini dengan teliti. Tak ada satupun yang terlewat. Pantai yang sejuk dengan pohon-pohon rindang yang mengelilinginya, tebing-tebing curam dan mengerikan namun tetap mengeluarkan kesan indah pada setiap bentuknya yang beraneka ragam, dan tentunya deburan ombak cantik yang menerjang semuanya dan menghempas. Sungguh indah pemandangan alam yang terbentang di hadapanku.
Mataku sedikit terbelalak saat melihat rumah yang jaraknya tak begitu jauh dari tempatku berdiri sekarang. Rumah kecil namun indah dan rapi, menyimpan beribu kenangan manis yang tak kunjung terlupakan. Disana, di rumah itu pangeran hatiku berada. Oh tuhan, sungguh senangnya hatiku kini dapat berjumpa dengannya. Degupan jantung dan detakan hatiku sudah tak karuan lagi, sangat cepat seperti terkena sengatan listrik.

‘’ini ify kan ?’’ Tanya seorang gadis dengan senyuman manisnya. Memoriku langsung berputar, berusaha mengingat siapa sosok gadis di depanku ini ?
‘’iya, aku ify. Maaf, kamu teh siapa ? aku agak lupa’’ jawabku diiringi senyuman manis, oh ternyata logat sundaku keluar juga.
‘’iya tidak apa-apa kok. Memang sudah lama kita tak bertemu, aku agni’’ katanya tetap dengan senyuman manis.
‘’oh ini agni ? apa kabar ni ? maaf yah, kamu sudah banyak berubah jadinya aku tidak ingat’’ jawabku dengan derai tawa kecil.
‘’ah tidak, malah kamu yang berubah sekarang. Lebih cantik dan tentunya lebih sempurna ify’’ katanya memujiku. Aku hanya tersenyum sebagai tanda terimakasih atas pujiannya yang mungkin terlalu berlebihan.
‘’aku kangen, sudah lama sekali tak melihatmu ify. Pasti kamu kesini mau mencari mas rio kan ?’’ lanjutnya lagi, tapi dengan satu tebakan yang sangat benar !
‘’iya agni, aku sudah tak sabar bertemu dengannya’’ jawabku cepat, disertai semburat merah di wajah manisku.
‘’ayo aku antarkan ke tempatnya, soalnya sekarang ia sedang di pinggir pantai’’ tawar agni, tanpa basa-basi aku langsung menganggukan kepala.

Kami berdua berjalan beriringan layaknya seperti sepasang sahabat dulu. Agni memang sungguh baik, wajahnya pun cantik dan manis. Cinta sucinya yang begitu tulus terhadap rio mampu membuatku meneteskan air mata haru biru ketika dulu. Dia sungguh gadis yang sangat baik, hatinya penuh dengan ketulusan dan pengertian. Namun sayang, rio menyia-nyiakan gadis sesempurna ini dan lebih memilihku. Memang ! cinta tak mungkin bisa dipaksakan. Dengan rela dan ikhlasnya dia yang menyatukan aku dengan rio, menyatukan cinta yang penuh kebahagiaan kini.

*

Kami berdua menghentikan derap langkah yang terus berbunyi sedari tadi. Di depan sebuah pantai indah dengan lautan biru yang luas. Tak lupa, deburan ombak, karang, dan perahu-perahu kecil yang berjejer indah di pinggirannya. Sejenak kami sempat terpaku disitu, memandang lekat semuanya sambil merasakan hembusan angin kencang yang menerpa tubuh.
Tapi, agni lalu menggandengan tanganku dan menarikku kearah sekumpulan orang yang tengah duduk sambil bercanda ria, dan sepertinya mereka sedang membakar ikan. Uhh, bau sedapnya langsung hinggap di hidungku.
‘’itu yang pake kaos putih, mas rio’’ tunjuknya dengan berbisik pelan. Mataku dengan cepat mengarah ke orang yang dimaksud agni. Entah kenapa, detak jantungku menjadi bertambah kecepatannya. Mataku langsung berbinar-binar dan rasanya ingin menangis saking senangnya.
‘’sana gih, samperin’’ senggol agni sambil tersenyum untuk mendukungku.
aku berusaha menenangkan diri, lalu dengan langkah pelan mendekati sosoknya. Ide jahil lewat di otakku. Aku tersenyum bangga, kedua tanganku menutup kedua kelopak matanya dan mendengarkan celotehannya.

‘’aduuhh, kok gelap sih. Ini siapa ? main tutup ajah’’ katanya kaget.
‘’buka dong, gelap nih. Siapa sih ini ?’’ namun semua celotehannya berhenti, saat jemari tangannya menyentuh dan mengusap halus punggung tanganku. Aku merasa ada rasa hangat disana, saat belaian itu hinggap di kulit tubuhku.
‘’rriiooo’’ bisiku di telinga kanannya dan melepas tutupan tangan di matanya.
Rio terdiam, mematung tepatnya bahkan sama sekali tak berkedip dengan mulut yang terbuka lebar saking kagetnya. Tangannya langsung mengusap kasar kedua kelopak mata indahnya itu, lalu dengan hati dag-dig-dug wajahnya mengarah tepat ke arah wajahku. Manic matanya menatap tepat di manic mataku, tatapannya begitu teduh dan membuatku spechlees.
‘’hey, kalian berdua jangan bengong ajah dong’’ sorak agni yang membuat rio sedikit menjadi salah tingkah, dan juga membuat semburat merah kembali muncul di wajahku.
‘’ify ? ini ify kan ? ini bener-bener ify ? Alyssa saufika umari ?’’ tanyanya cepat sambil mengguncang tubuhku dengan sedikit kasar, aku tertawa renyah melihat sejuta senyum bahagia di wajah tampannya.
‘’iya, aku ify. Alyssa saufika umari, pacar kamu yo’’ kataku meyakinkannya.
Dengan cepat, secepat kilat tubuh mungilku yang jenjang dan tinggi ini direngkuhnya kedalam pelukan yang begitu hangat. ia memeluk tubuhku dengan erat bahkan sangat erat, hingga tak ada secenti jarakpun yang terbentang diantara kami berdua.
‘’rio, udah dong aku kan gak bisa nafas nih’’ protesku dengan senyum tertahan.
‘’aku kan masih kangen sama kamu fy’’ jawabnya dengan nada manja. Tapi tubuhku tetap dilepaskannya dari rengkuhan kehangatan itu. Kedua bola matanya yang bening dan indah menatapku dengan lekat, tepat di maniknya.

*

Kini aku dan rio tengah asik melangkah di atas ribuan pasir putih yang halus. Merasakan rasa geli saat kulit telapak kakiku terkena butirannya. Hmm, tuhan memang maha pencipta, ciptaannya begitu sempurna dan takan tertandingi. Membuatku tak pernah melepaskan pandangan dari semua keindahan yang tersuguhkan ini. Apalagi kini di sebelahku sudah ada dia, dia manusia yang selalu membuatku merasakan debaran jantung liar dan detakan tak tentu yang berorasi cepat.
Lensa mataku seolah enggan berpaling dari wajah tampannya, senyuman indah terpancar jelas di sudut bibir merahnya. Aku rindu! Rindu masa-masa yang membuat pipiku merona merah menahan malu, membuat debaran jantungku seakan berdetak lebih-lebih-lebih dan terus berdetak cepat. Dan kini momen itu kembali hadir menghampiriku dengan sejuta rasa tak beraturan.
''kamu kesini kok gak bilang aku fy ?'' tanya rio tetap berjalan santai di sampingku.
''buat apa ? Aku kan mau ngasih surprise'' jawabku sambil terkekeh. Dia tersenyum. Senyuman manis itu lagi.
''oh?'' jawabnya singkat dengan kespresi datar. Aku terdiam dan dia juga diam.
''aaaa...rriiooo lepasiinn akuu'' aku berteriak kencang sambil tertawa bahagia, saat tangan kokohnya merengkuh tubuh kurusku dan mengangkatnya layak putri raja.
''haha, kamu gak pernah berenang kan fy ? Nah sekarang kita berenang aja'' katanya dengan tawa menyeringai. Bahkan sudah ada tanduk devil di atas kepalanya. Huuhh, bagaimana mau berenang ? Aku kan gak bisa berenang. Ckck.
''aa rioo, plise deh yo jangan gitu. Aku beneran takut'' aku langsung memasang tampang memelas dan memohon kepadanya.
''kenapa takut ? Kan ada aku, ayolah fy'' pertanda buruk!
''riioo, jahat deh ya! Kamu tau kan aku gak bisa berenang?'' aku mencibir kesal seperti anak kecil yang ingin membeli ice cream namun tak dibelikan.
''kamu gak bisa berenang ? Masa sih ? Alah, paling juga bohong kan'' rio berhenti melangkah. Sedikit berpikir lalu berkata seperti itu. Dia tertawa lebar.
''ahh rio, teganya deh! Ayo turunin aku dong. Yayaya ? Rio baik, yang cakep, manis imut, kurus, item, jelek, bau turunin aku yak ?'' ify menaik turunkan alisnya sambil cengir gak jelas. Itu muji atau ngolok sih ? Muji kok gak niat.
''heh, kaga pake ngolok ya. Muji, muji aja, yang jelek kaga usah ikut'' sungut rio sambil mencibir.

Mereka, sepasang anak hawa dan adam yang tengah asik bercanda gurau. Menampilkan tawa lebar, cengiran lucu, dan senyum indah. Lengkap! Kebahagiaan alami terpeta jelas di setiap sudut wajah mereka. Mengeluarkan pancaran sejuk dan semburat rona merah menahan malu. Pasangan aneh! Tetapi serasi dan sehati.

''lets go iffyyyy'' teriak rio sambil berlari ke arah gulungan ombak yang sedikit keras dan tinggi. Perasaan ify sudah mulai tak enak kini. Pasti dirinya akan.. akaannn....
bbyyuuurrrr
gulungan ombak yang sedari tadi berbaris rapi untuk pergi ke pinggir pantai pecah di tengah jalan saat tubuh ify terhempas ke atasnya. Dengan santainya, rio melepas kedua tangannya yang menggendong ify, dengan cepat bahkan sangat cepat ify terjungkal ke bawah dan masuk ke dalam gulungan ombak.
Rio tertawa keras, saat ify berteriak menyebut namanya. Tak kunjung sadar dari tawanya tadi, ify berjuang mati-matian agar tak terseret arus ombak yang cukup kuat menariknya. Sedikitpun, ify tak mempunyai keahlian untuk berenang biasanya dia kan hanya berendam saja. Tapi sekarang ? Nafasnya sudah tersengga-senggal dadanya terasa sesak dan sempit sekali. Tak ada udara yang mengisi dan tak udara yang dapat ia hirup.
Andai saja ify punya kemampuan magic untuk terbang keluar dari air dan mleyang tinggi. Atau andai ify keturunan putri duyung yang dapat berenang lincah dan pastinya bernafas di dalam air. Tapi kenyataannya memang begini, ify hanya manusia gak punya sihir dan dia juga bukan keturunan putri duyung, manusia tulen loh!
Sampai semuanya berakhir, tak terdengar lagi raungan keras ify yang meminta tolong, tak terdengar lagi deru nafas ify yang memburu cepat dan terputus-putus. Semuanya hilang ditelan keserakahan ombak, tubuh kecilnya terasa lelah dan lunglai, jatuh tak berdaya menyentuh pasir putih dibawah air. Ify ? Bagaimana dengan dia ? Apa dia hanya lelah bernafas dan pingsan untuk sementara ? Atau mungkin, tergeletak lemah tak berdaya dan terlelap untuk selamanya ? Mungkinkah ? Uhm..
Rio ? Lelaki itu baru sadar dari gelak tawanya yang membahana, baru teringat dan baru berteriak keras setelah beberapa menit lalu kekasihnya meminta tolong memanggil namanya. Rio terdiam, membisu tanpa bergerak sedikitpun. Mengingat ingat sesuatu, yaa! Dia baru sadar IFY BENER-BENER GAK BISA RENANG. Oh god! Tamatlah riwayatmu rio.
Dengan sigap dan tergesa gesa, rio meneriakan nama ify berulang kali. Ikut masuk memecah gulungan ombak dan menyelam mencari sosok gadisnya. Air mukanya memancarkan kecemasaan dan khekawatiran, bola bening matanya terlihat perih seperti siap mengeluarkan tetesan bening.

*
semuanya terlambat sudah, ide jahil atau lelucon kasar itu membawa bencana bagi dirinya sendiri. Sedari tadi, rio selalu merutuki dirinya sendiri, kenapa dia menjadi begitu idiot dan hampir membunuh ify ? Sekarang saja, di dalam gendongan rio ify sudah tak sadarkan diri. Wajah cantik ify lebih merona, mengkilap terkena basuhan air. Membuat rio mau-tidak-mau meskipun dalam keadaan cemas tetap mengeluarkan guratan senyum yang membingkai indah wajah tampannya,
Rio sempat khawatir saat menemukan ify tergeletak lemas diatas ribuan pasir putih yang halus. Dengan cepat dan sigap, tubuh ify dibaringkan di bawah pohon kelapa yang menjadi tameng dari sinar mentari. Rio mencoba menepun pipi dan pundak ify. Namun tak ada respon.
“fy..ify”
“iffyy, ayo dong bangun”
“iffyy, plise bangun fy”
“fy maafin aku, aku cuma main-main tadi. Bangun donk”
satu satunya jalan yang melintas di otak rio adalah, memberikan nafas buatan. Yaa, meskipun berat hati tapi demi ify tak apalah. Akhirnya, perlahan rio menghembuskan nafas berat yang tertahan. Namun dengan perlahan, wajahnya semakin dekat dengan wajah ify yang sayu itu. Semakin lama, semakin dekat dan ..
“huahhahahahahaaaa” ify tertawa kencang sambil memegang perutnya, menahan tawa. Ify yang tertawa bahagia karena sukses megerjai rio, sambil terkikik nakal. Sedangkan rio ? Melongo, cengo, ngangak, diem mematung. Ini yang gila siapa ? Perasaan tadi ify pingsan, trus kenapa tiba-tiba ketawa kenceng gitu. Emang dasar otaknya rio agak lambat, jadinya gak sadar kalo dikerjain ify.

“haha, rio rioo. kamu odong banget sih” ify mencoba menahan tawanya yang sudah tak terkendali itu. Ditambah dengan muka polos rio yang sukses bikin dia ngakak abis.
“fy kok ketawa ? Perasaan tadi kamu pingsan deh fy ?” pertanyaan rio yang sangat konyol.
“aku gak pingsan dan aku gak tenggelem” tawa ify kembali meledak.
“ohh, jadi kamu ngerjain aku kan ?” rio bersungut sebal sambil memasang wajah curiga yang bikin ketawa ngeliatnya.
“aku gak pernah bilang gitu” ify menjulurkan lidahnya lalu berlari menjauhi rio.
“awas yaa kamu fy. Bakal aku kerjain lagi” rio berteriak mengancam sambil mengangkat tangan, seperti seorang ksatria yang ingin membalaskan dendam.
Mereka berdua, di tengah kedamaian pantai. Ombak ria berkejar-kejaran, di gelanggang biru bertepi langit. Dengan tebing curam ditantang diserah, dialasi pasir rata berulang dikecup. Dalam berlomba bersama mega.
“rio geli banget, udah deh” ify memegangi perutnya yang sakit menahan tawa.
“gantian dong sekarang aku ngerjain kamu lagi, adi skor kita 2-1. haha” rio tertawa bahagia sambil memeluk pinggang ify dari belakang, dan menggelitiknya hingga membuat ify mengeluarkan air mata.

*
seandainya semua terpeta sesuai harapan. Pasti mereka tau akan ada apa setelah ini. Suatu moment menyakitkan akan berbekas sepanjang masa, tak terperi dalam labirin otak sedikitpun...

*
tak terasa, kini waktu mulai bergulir lebih cepat. Gulungan langit oranye berkejaran menutupi langit biru yang sudah berevolusi kini. Awan putih, perlahan lenyap ditelah kegelapan. Namun masih menyisakan setitik terang di atas sana.Ify dan rio, baru selesai bermain di pantai, saat menatap sunset indah bersama-sama. Ditemani cinta damai, kasih tulus dan sebuah senyuman hangat menjadikan moment itu tampak berarti. Keduanya, melangkah pasti untuk kembali pulang.
Rio menggenggam jemari ify dengan erat, seperti tak mau kehilanganya atau takut ify tersesat dan tak bisa kembali pulang. Langkah rio semakin cepat, ia menarik tangan ify untuk ikut bergerak lebih cepat. Karena melihat langit hitam yang tak berpihak, dan selanjutnya memang benar.Perlahan dahan bergoyang sambut-menyambut, menjatuhkan setitik embu jernih berwarna. Menimpa bumi beruap dan lembut tentunya. Gemuruh demi gemuruh saling bersahut, bertangkai hujan diarah awan, menghambur daun entah kemana. Semakin menakut hati dan menggoyangkan batin.
Ify sedikit bergidik melihat penampakan langit yang cukup menyeramkan, membuat hatinya kalut dan batinnya resah. Menurut pendapat sok tahunya mungkin akan ada badai besar yang menghantam, tapi.. semoga saja tidak. Memang tak bisa dipungkiri pikiran negative dan perasaan tak enak kerap muncul dan mengudara di benak ify. Namun dengan cepat ditepis, menghamburkan asap udara yang terpecah belah. Ini hanya sekedar perasaan... mungkin!
“ify, kita harus cepat pulang. Sebentar lagi akan hujan deras, dan mungkin akan ada badai” selesai rio mengucapkan kalimat itu, suara petir menggelegar keras. Batinnya semakin resah dan kalut.
“iya rio, ayo kita lebih cepat. Aku..aku mulai takut rio” ify sedikit gemetar berbicara. Mungkin karena cuaca sangat dingin dan gerimis yang mulai turun atau mungkin rasa takutnya sudah memuncak kini.
“iyaa ayoo” rio semakin mengeratkan genggamannya. Menarik ify lebih kuat.
“jangan dilepas yo, jangan dilepas” ify berteriak sekuat tenaga. Berusaha mengalahkan suara sambaran petir agar rio dapat mendengarnya.
“gak bakal, aku selalu di samping kamu. Selalu menggenggam jemari kamu” rio menghadap ify sebentar, menghantarkan sebuah sneyuman manis dan tulus.
Degghh..
sungguh kali ini, ify merindukan senyum itu. Biarpun tadi senyum itu sudah terlihat, namun kali ini beda. Senyuman itu lebih berarti, lebih tulus, lebih indah tentunya. Namun.. yaa, ada guratan lain disana. Ingin rasanya ify memeluk rio kali ini, menghapuskan semua jarak yang terbentang lebar.
Tanpa sadar, ify merutuki dirinya sendiri. Membuat sumpah serapah palsu, dan doa-doa tulus. Bahkan pikiran buruk itu semakin mengudara di benaknya. Sekali lagi, ekor mata ify melirik ke atas langit. Oh god! Langit itu semakin terlihat menyeramkan kini, lebih mengerikan dan lebih gelap. Tak ada pancaran sinar bahagia lagi, sudah lenyap. Tertelan awan hitam pekat yang serakah.
Seketika, tubuh ify terdiam. Tak bisa bergerak, dan tak mau bergerak. Otomatis genggamannya dari rio terlepas, bahkan anehnya butiran hangat tak berdosa itu turun dengan mulus di kedua belah pipi ify. Apa ini ? Apa yang terjadi ? Kenapa tiba-tiba ify diam mematung lalu menangis keras ?
Rio yang merasakan genggamannya terlepas, segera membalikan badan. Ia berdecak kesal, lalu mundur untuk menghampiri ify. Cukup kaget, melihat ify menangis sesenggukan tanpa alasan yang jelas. Rio membelai bingkai wajah ify, lalu merengkuhnya dalam pelukan hangat.

“kenapa nangis sayang ? Ayo kita pulang, hujannya bakal makin deres” mungkin hanya perasaan ify saja, tapi suara rio memang terdengar lebih lembut. Usapan tangan rio di puncak kepalanya begitu hangat.
“aku..aku mau ki..kitaa diam disini” ify berbicara dengan nada bergetar menahan tangis.
“ngapain ? Kita harus cepet pul...” jari telunjuk ify mendrat di bibir merah rio, membuat rio terdiam dan menatap ify dengan tatapan -kenapa-

tanpa sebab dan tanpa apapun, seketika ify menarik rio mendekat ke arahnya. Menghapus bentang jarak yang tak tersisa kini. Rengkuhan hangat, pelukan manis, dan belaian kasih, mampu membuat segala seakan milik mereka berdua. Sudah terlupakan rintikan hujan, dan gelegar petir dasyat yang meraung keras. Yang sempat menggoyahkan batin.
Mata mereka terpejam, merasakan kehangatan yang begitu lama dirindukan. Mematung, mereka berdiam dalam posisi itu untuk beberapa menit. Sampai air bening ify turun dengan deras lagi. Mereka berdua saling mendekap dan membagi kehangatan, batinnya merasa terkoyak merasakan hawa buruk yang sebentar lagi datang.

“aku sayang, dan cinta kamu selamanya” ify mengucapkan dengan lancar dan tegas. Diiringi senyuman hangat dan manis. Rio tersenyum. Senyum kecut yang parau kini. Entah kenapa ?!
“aku juga sayang dan cinta sama kamu selamanya, meskipun nanti... jesus berkata lain” rio sedikit tercekat dengan ucapannya barusan. Apa yang baru dikatannya ? Tak masuk akal.
“jangan, sampai kapanpun kamu milik aku dan selalu sama aku. Hanya aku seorang, hanya kita berdua. Aku dan kamu. biarpun nanti jesus tak memberkati, tapi cobalah. Kita akan bersama” ucapan konyol. Kenapa tiba-tiba jadi membicarakan sesuatu yang tak masuk akal ? Bahkan sampai menyertai nama Jesus! astagaa..
“aa..kkuu..aku..hanyaa milik kamu ify. Hanyaa aku dan kamu” ify mengangkat jari kelingkingnya, biarpun tersirat rasa lain. Cukup dia hanya memberikan senyuman manis untuk gadisnya. Dan biarpun janji itu hanya kepalsuan, biakan dia yang menanggung semuanya.

Mereka, dua insan yang sedang membuat janji tak tertulis. Tak perlu matrai, tinta hitam, tanda tangan resmi ataupun sebagainya. Janji yang hanya bermodal hati dan keyakinan. Meskipun sebagian keyakinan itu tak sepenuhnya teryakini, tapi cukup menangkan hati. Semuanya juga akan kembali pada hak Tuhan. Semua sesuai kehendak dan kemauannya. Tapi cukup berdoa bahwa kehendaknya itu, setidaknya cukup memberikan titik kebahagiaan. Meskipun siratan perasaan buruk menyiksa, tapi sepertinya sudah takdir!

*
petir itu, masih meraung dengan keras bahkan sangat keras. Cambukan kilat dengan siluet cahaya mengerikan terus terpantul. Gelegar tangis alam, membanjiri semuanya. Sapuan angin kencang, membelai dengan lembut namun terasa menyeramkan. Tubuhku menggigil, bergetar hebat dalam alunan nyata.
Semuanya, bertambah mengerikan saat nelayan dan seluruh pengunjung pantai berhambur keluar. Mereka, berlomba dan berlomba untuk secepatnya keluar dari daerah pantai itu. Ditambah dengan genderang tangis yang terdengar perih, teriakan histeris yang terus terulang memekakan telinga.
Mereka semua seperti orang yang habis melihat kuntilanak. Hah ? Kuntilanak ? Zaman udah 2011 masa sih masih jaman sama kuntilanak. Yang pasti ini lebih mengerikan. Lihat, lihat mereka sampai nangis tersedu sambil berlari sekencang mungkin. Berusaha menghindari suatu bencana yang akan menjemput ajal mereka, mungkin.
Yaa, suara deburan ombak dasyat terdengar keras menghantam dan pecah menjadi kepingan tak berarti. Busa putih menggelayut manja dan menempel indah pada butiran pasir. Tapi kali ini ombaknya lebih dasyat. Ditambah dengan getaran, yaa getaran hebat yang biasa disebut GEMPA dan TSUNAMI!
Oh tuhan, berkatilah mereka semua! Ify dan rio malah asik mematung sambil terlamun melihat keadaan sekitar yang seketika menjadi hancur. Semua kacau, semua berantakan. Tak terpikirkan bahwa mereka seharusnya ikut berlari menghindari kejaran maut itu.
“rio..rioo..aku takut yoo, ini kenapa? Aku taaakuutt” ify berteriak kencang sambil menangis terisak. Batinnya cukup parah terkoyak kini!
“aku..akuu..aku gak tau fy. Aku jugaa takut” rio menjawab dengan nada bergetar, ditambah bibirnya yang sudah memutih.
“hey nak, ayoo cepaat lari ini tsunaamii” seorang bapak tua yang memegang jaring berhenti, memperingatkan rio dan ify untuk ikut berlari, bukan malah terdiam dan nanti menyesali smeuanya.
Angin dingin semakin kencang menerjang, semua benda terangkat ke atas. Ombak tinggi terus naik naik dan naik menelan semuanya. Getaran hebat membuat semuanya menggigil, mereka bagaikan mayat yang terjatuh dan terjatuh berulang kali. Jerit tangis dan helaan nafas pasrah terus terngiang jelas. Apa ini akhir hidup mereka ?
“ify ayo larii, ayoo kitaa lariii” rio menggenggam erat jemari ify, menariknya untuk ikut berlari kencang. Namun nihil, ify malah terdiam dan tersenyum pasrah. Tatapan sayunya terlihat menyedihkan.
“iffyy jangan diam. Aku hanya mau kita selamat, ayoo ifyy” tak sadar setetes air mata ketakutan turun dengan mulus dari kelopak mata rio. Sebuah tetes air mata yang mewakilinya resahnya.

Ify mencoba untuk ikut berlari kencang, ia tak ingin mati konyol di telan ombak. Masih punya setitik harapan untuk menempuh hidup bersama rio. Tapi sayang, entah kenapa kakinya seperti digandoli berton-ton beton dan besi yang mampu membuat kakinya hanya diam. Tak tahu harus berbuat apa, genggaman tangan rio membuat dirinya berdesir.

“kaki aku gak bisa gerak yo, kaki aku sakit” ify berteriak histeris, menahan tetesan air mata yang terus mengalir.

Terlambat! Seketika ombak menerjang dasyat, mengalahkan kecepatan kilat. Mengalahkan keganasan cambukan petir yang tak kunjung henti. Tangisan alam, deru teriakan, terus bermunculan dimanapun. Air ombak yang cukup –bahkan sangat- deras menyapu orang-orang yang tengah berlarian. Termasuk ify dan rio. Kedua jemari mereka bertaut erat, meskipun keduanya mulai terpisah oleh ombak. Nafas tersenggal yang hampir mencapai batas klimaks. Kini, hanya doa yang punya andil besar, menentukan hidup, mati mereka.
Finally! Mereka beruda sudah tak terlihat. Banyak rimbunan daun dan pohon yang tumbang, menutupi semuanya. Ribuan sampah dan juga benda lainnya berhambur kacau. Pemandangan yang sangat me-nye-ram-kan. Getaran dasyat deburan ombak maut tadi, menjadikan pantai indah ini seperti sarang mayat. Disana, orang-orang tak berdosa menanggung derita. Tubuh lemah, bibir membiru, dan kulit putih tanpa nyawa.

“rrii..rii..rioo” bisikan sendu yang terucap lirih, keluar dari bibir manis ify. Gadis itu mencoba bertahan, menahan semua letih yang mendera!

Ify selamat. Ternyata tuhan belum menginginkannya. Ify mencoba berdiri, berdiri tegak untuk berlari mencari sosok rio, yang entah ada dimana sekarang. Mungkin masih hidup dengan nafas berirama, tapi mungkin sudah terkulai lemah dengan hembusan nafas akhir menjadi penutup hidup selama ini.
Dan benar! Dengan seketika lututnya melemas. Melihat sebuah pemandangan tak terlupakan. Rio, lelaki tercintanya terbaring dengan wajah tampan yang kini terlihat lelah. Hanya raga, jiwanya telah pergi menembus gumpalan awan putih. Dengan sekejap dunia ini terasa suram dan hitam. Bagi ify.
Tak ada secuil perasaan dan secercah harapan kini. Semuanya sudah selesai. Cukup sampai disini. Terhapus sudah semua mimpi menempuh hidup bersama rio, mempunyai buah hati cantik dan hidup harmonis. Tragisnya semua mimpi belum tentu bisa jadi kenyataan. Hanya sebuah mimpi dan selalu menjadi mimpi.
Bulir air mata. Genggaman tangan perih. Dada sesak dan nafas tercekat. Menjadi satu di dalam raga ify, entah mungkin jiwanya sudah melayang mengikuti rio atau malah mencari jalannya sendiri. Seandainya saja ia membeli kantong ajaib doraemon, mungkin semuanya takan begini. Atau mungkin seandainya ia seperti thumbellina, pasti semua akan jadi gampang.
Sekarang. Hanya waktu dan detik kini. Kulit halus wajah rio, dapat dirasakannya untuk terakhir kali. Mata sayu rio yang terpejam tenang, sungguh terlihat damai. Tak ada beban disina. Hanya guratan letih yang tersirna. Ini adalah takdir. Mungkin ini semua sudah menjadi rentetan kehidupan ify. Setiap cerita, pasti akan ada buliran tangis dan goresan luka tajam.
Dan untuk terakhir kali ify berbaring di sebelah rio. Menggelayut manja di lengan kananya, seperti dulu. Memandang wajah rio yang tak bernyawa dengan sebuah senyuman manis, senyuman tulus yang semoga bisa dilihat rio dari atas sana, itu sebuah senyum special dari ify. Ify sedikit mendekap rio, berusaha merasakan kehangatan yang kini sudah berhenti dialirkan oleh rio.
Ify ikut terpejam. Merasakan hembusan nafasnya yang tak teratur. Merasakan rasa lelahnya yang terus menyiksa batin. Merasakan nyeri di setiap goresan luka di kulit putihnya, maupun luka di sudut hatinya. Dan yang terpenting ify ingin merasakan, bahwa saat ia membuka mata nantinya ?! Berharap semua ini hanya mimpi buruk yang menemani malamnya. Hanya sebuah bunga tidur yang tak sengaja terselip ke dalam mimpinya.

*

ketika waktu telah terpekur, semuanya berakhir dengan irama perih. Meninggalkan bercak ingatan yang tak mungkin terlupakan. Sang dewa hati telah mati nyawa dan mati rasa disana. Meninggalkan dewi cintanya dengan remukan hati tak berguna...

*

@_valeryals
Valery Axelle Lova