Seorang gadis cantik tengah duduk manis diatas kursi roda yang selalu setia menemaninya, di atas rerumputan hijau, di taman salah satu rumah sakit jiwa yang terletak di kota jogja. Gadis itu terdiam, mematung, dan membisu. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, tak ada satu gerakanpun yang diisyaratkan oleh tubuhnya, ia seperti gadis bisu yang terkena penyakit struk, meskipun sebenarnya tidak. Bola matanya yang berwarna kecoklatan itu menatap lekat kearah dedaunan yang satu persatu gugur dari rantingnya, perlahan jatuh melayang ke atas tanah coklat.
Hembusan nafasnya terdengar berat dan tertahan, meskipun tetap mengeluarkan irama indah. Kelopak matanya membiru, sembab dan terkadang mengeluarkan butiran hangat. Butiran hangat yang selalu memberi isyarat bahwa hatinya sedang sakit dan perih, bahwa jiwanya sedang terguncang, bahwa pikirannya sedang galau dan takut.
Namun makhluk-makhluk tuhan yang berada di sekitarnya itu sungguh egois, tak ada satupun orang yang memperhatikannya ataupun sekedar menghiburnya. Semua orang malah menjauhinya dan menganggapnya gila !
Dia -gadis itu- sama sekali tak punya gangguan jiwa atau semacamnya, dia tidak gila ! sama sekali tidak. Dia hanya sedang kalut, sedih, kesepian dan merasa kosong. Atau lebih tepatnya dia sedang frustasi dan depresi. Masa lalu yang buruk itu sudah membuat hatinya merasakan kehilangan yang sangat mendalam. Kehilangan sosok anak adam yang sangat dicintainya, melebihi cintanya pada dirinya sendiri.
‘’mba ify, kita makan dulu ya’’ bujuk salah satu suster -nova-
‘’…..’’ ify -nama gadis itu- tetap terdiam
‘’ayo mba, dari semalam mba belum makan. Nanti mba sakit’’ rayu nova lagi
‘’…..’’ ify masih dalam posisi membisu
‘’nih mba, buka mulutnya ya. Biar mba tidak lapar’’ kata nova se,bari menyuapkan sesendok nasi
Ppllaakk ..
Tangan ify menepis kasar tangan nova, membuat nova terpelonjak kaget dan menjatuhkan sendok beserta piringnya. Bola mata ify beralih menatap nova dengan tajam dan geram, namun juga disertai dengan titik-titik air yang perlahan keluar dari kelopak mata ify.
‘’aku Cuma mau RIO!’’ kata ify dengan nada lirih dan lembut tapi juga tegas.
‘’nanti mas Rionya datang kok mba,tapi mba harus makan dulu ya’’ bujuk nova sambil tersenyum manis
‘’ga ! rio jahat, dia udah dua tahun ninggalin aku’’ kata ify lagi
‘’pergi, pergi, pergi !’’ teriak ify sambil sedikit mengamuk
Nova hanya bisa pasrah melihat kelakuan ify yang selalu begitu, hanya melamun dan termenung setiap saat. Semuanya terjadi karena satu nama, karena satu lelaki, dan karena satu cinta, Rio ! yya.. rio adalah lelaki yang sudah tega meninggalkan ify, pergi menjauh untuk selamanya. Membawa cinta dan hati ify ikut terbang bersamanya, bukan hanya sekeping, sepotong atau setengah cinta ify ! tapi semuanya, seutuhnya telah dibawa oleh rio.
Rio memang bukan malaikat atau dewa, ia juga bukan seseorang yang sempurna. Namun cinta kasih dan sifat tulus yang dimiliki Rio mampu mengurung ify dalam pelukannya. Membuat ify menjadi tergila-gila dan rela menyerahkan apapun hanya untuk rio seorang. Rio memang sangat beruntung bisa mendapatkan ify, gadis yang memiliki wajah cantik dan hati yang baik. Mereka berdua memang serasi dan sangat cocok.
Tiba-tiba seorang gadis yang berpenampilan acak-acakan dan tengah menggendong boneka bayi, datang kearah ify. Berbicara dan terus berbicara, membuat ify terpaksa membuyarkan lamunanya, dan mengembalikan jiwanya ke alam nyata.
‘’ipy ipy, liat deh. Anak aku lucu kan, ihh.. gemes banget’’ kata agni -gadis tadi- yang mempunyai gangguan jiwa akibat kehilangan anak dan suaminya.
‘’ipy, coba denger deh. Anak aku bisa ngomong loh. Hihhii dia cakep deh kaya papanya’’ kata agni –lagi- sembari bertingkah aneh dan tertawa sendiri.
‘’ipy mau gendong ? nih aku kasi, aku titip dulu ya, soalnya aku mau jemput suami aku di surga sana’’ kata agni smabil meletakan boneka bayi itu di pangkuan ify
Ify menunduk menatap lekat kearah boneka bayi itu, biarpun hanya sebuah boneka. Tapi kelihatan seperti bayi betulan, dan benar saja tampan dan lucu. Pikiran ify kembali melayang jauh, merayap mendaki masa lalu yang buruk itu. Seandainya saja kejadian itu tak menimpa dirinya pasti sekarang ia dan rio menjadi sepasang orang tua, yang mmepunyai bayi cantik ataupun tampan. ya.. seandainya sajaa !
‘’surga’’ kata ify lirih dan pelan, agni yang masih berdiri disitu berjongkok dan menatap wajah ify.
‘’ipy tau ya surga itu dimna ? kasih tau aku dong, soalnya kasian suami aku ntar capek nungguin’’ Tanya agni dengan muka berharap namun tetap cengar-cengir sendiri. Ify menggeleng lemah.
‘’ipy juga gak tau ya, huuhh.. emang ipy ga mau jemput suaminya apah? Ihh.. ipy gak punya suami ya. Huuu..’’ agni bersorak-sorak sambil tertawa dan loncat-loncat sendiri.
‘’ipy jelek sih, mangkanya ga punya suami. Liat agni donk badannya montok, cantik lagi’’ kata agni sambil bersolek ria di depan ify, jemari lentiknya sibuk memelintir helaian rambut hitamnya.
‘’aku punya suami, aku punya rio. AKU PUNYA RIO!’’ ify berteriak di depan agni, emosinya sudah tak tertahankan lagi. Seandainya saja agni tau bagaiman perasaan ify ketika ditinggal rio. Agni yang melihat ify teriak-teriak malah tertawa.
‘’hihhii.. ipy gila, ipy gilaa ! ihh, aku jijik deket-deket ipy, kan ipy gila. Hhuu.. ipy gilaa, ipy gilaa’’ sorak agni dengan tawa garing yang dikeluarkannya.
‘’aarrgghh.. pergi, peergii, pergi kamuu!’’ ify berteriak keras sambil mengacak-acak rambutnya.
Dua suster -nova-dea- yang mendengangar teriakan ify, langsung berlari mendekat kearah ify dan agni. Suster dea segera membawa pergi agni menjauh dari tempat ify, sedangkan suster nova yang memang dekat dengan ify, berusaha menenangkan ify.
*
Waktu demi waktu berlalu, sang mentari mulai merangkak kembali ke peraduannya. Langit biru mulai menampakan warna merah oranye, dan perlahan berevolusi menjadi warna kehitaman. Satu persatu titik-titik bintang mulai bermunculan, sang pangeran kegelapanpun sudah menampakan dirinya ke atas bumi. Mereka –bulan-bintang- mulai mengerahkan tenaganya untuk mengeluarkan siluet cahaya, menerangi malam gelap sekaligus menghiasi langit malam.
Ify masih setia dengan kursi rodanya, duduk di depan jendela kamar. Menatap lekat ke arah langit. Jari lentiknya menunjuk sebuah bintang terang yang berkelap-kelip indah di atas sana. Tatapan matanya memancarkan guratan kesedihan dan kerinduan yang terasa amat sangat. Bintang itu bagaikan rio, yang sudah tenang di surga sana. Tapi seketika kepala ify terasa agak pusing saat siluet bayangan buruk itu melintasi benaknya.
Bayangan dimana saat rio pergi meninggalkannya, tepat dua tahun lalu. Setelah pesta pernikahanya yang digelar besar-besaran dan sangat meriah. Saat beberapa jam setelah janji suci itu diucapkan dan terikrar, hanya sebuah JANJI MANIS ! yang mungkin tak pernah bisa jadi kenyataan. Karena rio, sudah tenang di alam sana. Dan tak mungkin bisa lagi menjaga, merawat, melindungi ataupun membahagiakaan ify. Mungkin ini semua sudah takdir mereka berdua.
* FlashBack On *
Di daerah Jakarta Selatan, pukul 10.00
Di sebuah gedung putih yang besar dan megah, banyak orang-orang berlalu lalang lalu masuk kedalamnya. Deretan kursi kayu yang dibalut dengan helaian kain putih bersih berjejer rapi di gedung itu, juga karpet merah panjang yang digelar di antara kelompok kursi-kursi tersebut. Tanda salip dan berbagai macam foto tuhan jesus terpampang jelas di tembok atasnya.
Banyak orang yang sudah duduk manis di kursi-kursi tersebut, mereka semua tampak cantik dan tampan. Kebanyakan memakai dress dan kemeja yang dibalut berbagai warna jas. Yya.. di hari dan saat ini akan diadakan sebuah acara sakral atau pernikahan, acara sakral untuk mengikat satu pasangan yang saling mencintai agar dapat hidup bersama selamanya. Seorang pendeta suci berdiri tegak di depan sana, menunggu kehadiran sang pengantin yang tak kunjung muncul.
Seorang wanita cantik tengah berdiri di sebuah cermin besar yang memantulkan gambar tubuh dan wajahnya yang rupawan. Gaun pengantin berwarna putih, dan pita besar di pinggangnya menyelimuti tubuh gadis itu. Rambut yang digulung rapi dan diberi sedikit pernak-pernik dan juga sedikit polesan make up menambah aura kecantikannya. Senyum manis selalu dipamerkannya, memperlihatkan jejeran gigi putih dan juga kawat giginya yang berwarna bening.
Ify –gadis itu- terus saja berjalan bolak-balik ke kanan dan ke kiri, telapak tangannya sudah dibanjiri keringat dingin. Terlihat sekali bahwa ia tengah grogi dan gugup. Maklumlah namanya juga calon pengantin. Tiba tiba seorang lelaki paruh baya menghampirinya, membuatnya terpelonjak kaget.
‘’kenapa ? kok gugup begitu, seharusnya kamu seneng donk’’ kata lelaki itu
‘’hmm.. ii..iyya sih pi, tapi aku kan ify grogi banget’’ jawab ify
‘’papi ga nyangka, ternyata sekarang putri kecil papi udah jadi gadis cantik yang tumbuh dewasa. Bahkan sekarang mau menikah’’ kata papi ify sembari tersenyum kecil
‘’ihh, papi. Ify jadi tambah grogi nih’’ sahut anaknya sambil memanyunkan bibirnya
‘’hari ini adalah hari bahagia kamu, jalani dengan sebaik mungkin ya. Kasih senyuman termanis kamu buat rio. Papi udah percaya sama rio, papi udah rela nyerahin putri kecil papi ke rio, itu artinya dia memang yang terbaik untuk kamu’’ jawab papi ify sambil terkekeh kecil
‘’makasih pi, selama ini udah jadi papi yang paling baik buat ify dan mami’’ kata ify sembari memeluk papinya
‘’iya saying, udah ya sekarang kamu siap-siap sebentar acaranya mulai’’ kata papi ify sambil membalas pelukan buah hatinya.
*
Acara pernikahan Alyssa Saufika Umari & Mario Stevano Aditya Haling sudah dimulai. Rio berdiri tegap di samping pastur, menunggu kedatangan calon nona halingnya.
Tap tap tap ..
Ketukan nada dari higheels putih kepunyaan ify berirama menggema di sudut gereja. Ify berjalan dengan anggun dan senyum manisnya, berjalan berdampingan dengan papi tercinta. Cantik, satu kata itu cukup mewakili berbagai ragam pujian yang dilontarkan untuknya. Mereke berdua –rio-ify- bertatapan lekat, saling memandangi ketampanan dan kecantikan pasangan mereka hari ini.
Ify sangat bahagia, melihat calon suaminya yang tampan itu. Kini rio berdiri dengan tubuh yang dibalut kemeja dan jas putih, bunga mawar merah kecil terselip di saku jasnya, rambutnya ditata agak rapi daripada biasanya. Siapapun yang melihatnya pasti langsung jatuh pingsan, apalagi saat rio melontarkan senyum manisnya itu.
Penonton berdecak kagum melihat sepasang kekasih itu berdiri berdampingan untuk mengucap janji suci. Sebelum memulai mereka menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan, sambil mencuri kesempatan untuk saling menatap bola mata. Ify menatap bola mata rio dengan tajam, disana ada guratan kebahagiaan dan sedikit guratan sedih, atau mungkin takut !
Kenapa ? kenapa, mesti ada guratan kesedihan dan ketakutan dari pancaran mata rio. Bukankah seharusnya ia senang dan bahagia ? ahh.. mungkin itu hanya sekedar perasaan ify saja. Yya.. semoga saja.
‘’Apakah kau bersedia menikah dengan mempelai wanita ?’’ Tanya pastur sambil menatap rio. Rio menghembuskan nafas panjang, lalu dengan yakin menjawab lantang
‘’yaa, saya bersedia’’ jawab rio
‘’apakah kau bersedia menikah dengan mempelai pria ?’’ Tanya pastur sambil menatap ify. Dengan senyum gembiran dan grogi ify menjawab diiringi anggukan kepala.
‘’yaa, saya bersedia’’ jawab ify
‘’Mario Stevano Aditya Haling, apakah kau bersedia mendampingi dia dalam suka dan duka ? menjadi suami dan ayah yang baik dan berbakti ? merawat dan menjaganya saat ia tengah sakit dan menderita ? selalu mencintai dan hidup bersama sampai ajal menjemput ?’’ Tanya pastur
‘’yaa, saya berjanji akan selalu mendampingi dia, menjadi suami yang baik dan akan mencintainya seumur hidup’’ kata rio sambil mengangkat tangan kanannya.
‘’Alyssa Saufika Umari, apakah kau bersedia mendampingi dia dalam suka dan duka ? menjadi suami dan ayah yang baik dan berbakti ? merawat dan menjaganya saat ia tengah sakit dan menderita ? selalu mencintai dan hidup bersama sampai ajal menjemput ?’’ Tanya pastur
‘’yaa, saya berjanji akan selalu mendampingi dia, menjadi istri yang berbakti pada suami dan akan mencintainya seumur hidup’’ kata ify sambil juga mengangkat tangannya.
Acara pernikahan itu berlangsung dengan lancar dan hitmat. Riuh tepuk tangan dan senyuman kebahagiaan memenuhi gereja itu. Kini Rio dan Ify sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Jemari mereka saling bertaut dengan erat, menggenggam satu dan lainnya.
*
Tik tik tik ..
Suara dentingan jam dan suara rintikan hujan saling bersautan. Jarum pendek di sebuah jam dinding berbentuk kotak polos itu menunjukan pukul 01.00. seharusnya jam segini adalah waktu bagi sang mentari untuk memancarkan sinarnya secara penuh. Membagikan kilauan terik cahaya gratis untuk seluruh makhluk di bumi ini. Membuat buliran air keringat jatuh menetes di pelipis, membuat orang jatuh tak sadarkan diri jika berdiri di bawahnya, membuat orang menjadi malas untuk keluar dan menikmati cahayanya.
Tapi ternyata tidak, posisi sang mentari sebagai leader langit kini telah digantikan oleh awan hitam yang menggulung, mengeluarkan beribu ribu tetesan air yang akan membanjiri bumi. Sedangkan sang mentari tengah asik bersembunyi di belakang sana, takut jika akan terkena kilatan tajam dan cambukan petir dasyat dari awan hitam itu.
Gereja besar tadi sudah kosong, tak ada lagi seorang pun disana. Acara pernikahan ify dan rio sudah selesai dan berakhir. Kini pasangan itu sedang menikmati detik-detik kebersamaan dan kemesraan setelah status hubungan mereka berganti. Dari yang pertamanya –pacaran-tunangan- dan kini mereka sudah –menikah-. Tak terasa mereka sudah dewasa dan akan membina rumah tangga sendiri. Pasti mereka akan menjadi keluarga harmonis yang selalu hidup dipenuhi cinta kasih, ya.. begitulah prinsip mereka.
Rio dan Ify kini tengah duduk manis di dalam sebuah mobil Mercedes hitam yang di atasnya di beri pita putih, untuk menandakan mereka baru selesai menikah. Mereka saling mengumbar senyuman manis, sama-sama memamerkan daya tarik mereka dan perhatian mereka. Tangan ify menggantung erat di lengan rio. Kepalanya ia senderkan di pundak rio, sesekali mereka berdua saling curi-curi pandang dan menjadi salting sendiri.
Namun entah mengapa, perasaan ify menjadi tidak enak. Ada sesuatu hal yang membuatnya gelisah dan menjadi galau. Membuat sifatnya berubah menjadi sangat manja kepada rio, seperti tadi saat masuk ke mobil ia meminta rio untuk menggendongnya, jemarinya selalu bertaut dengan jemari rio, sangat erat. Seperti enggan untuk melepasnya, seperti rio akan meninggalkannya.
‘’aku seneng banget yo, hari ini’’ kata ify membuka topik pembicaraan
‘’iya fy, aku juga. Ga nyangka ya, ternyata hubungan kita bisa sampai di pernikahan’’ jawab rio
‘’hmm.. semoga aja aku selalu bisa sama-sama kamu ya yo’’ kata ify dengan nada seperti memohon atau lebih tepatnya berharap.
‘’pasti donk fy, aku akan selalu ada disamping kamu’’ kata rio sambil sedikit mengusap pundak kepala ify.
Dua sejoli itu tengah terlarut dalam kebahagiaan asmara yang baru saja terikat kuat. Membayangkan kehidupan nanti yang akan mereka tempuh bersama-sama. Mata mereka sama-sama memancarkan sebuah keinginan kuat untuk selalu bersama, menempuh kehidupan baru. Namun seketika, semua lamunan itu buyar dan hancur menjadi potongan kecil yang tak mungkin bisa disatukan lagi.
Mercedes hitam yang ditumpangi rio dan ify oleng dan berbelok tak jelas kian kesana dan kemari. Pak dave, supir yang mengendarai Mercedes hitam itu tak dapat mengendalikannya ke jalur sempurna. Aspal basah akibat terkena rintikan hujan semakin membuat jalanan menjadi licin dan mempersulit keadaan mobil itu. Sepatu hitam mengkilat yang menyelimuti jemari kaki pak dave menginjak keras pedal rem, namun hasilnya nihil.
‘’pak dave, mobilnya kenapa?’’ Tanya rio panic
‘’saya juga ga tau tuan, remnya blonk’’ jawab pak dave bingung
‘’terus gimana ? kok bisa sih’’ ify ikutan menyahut
‘’berdoa saja sama tuhan nonya agar kita semua selamat’’ jawab pak dave
Jawaban pak dave semakin membuat ketebalan selimut gelisah di hati ify menjadi bertambah. Panic, kacau dan bingung terpancar jelas dari bola mata mereka. Kenapa semua harus seperti ini ? lantunan doa suci terbentuk indah dari bibir ketiganya, berharap tuhan masih mempunyai belas kasihan agar mereka dapat selamat. Tak terasa, cambukan petir yang tercipta itu semakin keras mendera jiwa, lolongannya terdengar memekakan telinga. Buliran air mendemo untuk keluar di ujung pelupuk mata ify, terantai kuat menjadi satu dan berbaris tertib saat keluar menuruni pipi lembutnya.
Siluet cahaya dari lampu jazz putih di depan Mercedes hitam rio bersinar terang, membuat semua mata terpejam dan tak tau kejadian selanjutnya. Kedua mobil itu saling menggesek keras dan membenturkan diri, jazz putih itu melayang lalu menghantam perbatasan jalan tol, sedangkan Mercedes hitamnya terlihat sangat mengerikan, berputar keras lalu menghantam sebuah pohon besar yang rindang.
Teriakan dan jeritan ketakutan terdengar nyaring bersamaan saat keduanya terbentur di daerah masing-masing. Bisa dipastikan tak ada yang selamat, termasuk rio dan ify. Cairan merah segar terkamuflase oleh rintikan air hujan, mengalir dan membentuk aliran sungai yang deras. Tubuh rio terkapar tak berdaya dengan kepala yang dilumuri darah, irama nafasnya sudah tak terdengar sama sekali, dentingan indah denyut nadinya sudah berhenti bernada.
Sedangkan tubuh ify tak jauh beda dengan rio, kepalanya terbentur dan mengeluarkan darah yang banyak, kedua kakinya terhimpit oleh pintu mobil yang ringsek dan amblas akibat gesekan keras tadi. Tapi ify lebih beruntung, detak jantungnya masih berirama dengan indah, hidung mancungnya masih menghembuskan nafas lirih. Perlahan tapi pasti, bibir merahnya yang tersiram darah terbuka dan membentuk sebuah nama.
‘’rrr....iioo’’ nama itu terdengar lirih dan pelan seperti bisikan maut.
Ify membuka dan mengerjapkan matanya, bola matanya yang bercahaya kecoklatan berusaha menangkap sosok rio yang sudah tak bernyawa lagi. Suara keras dari kilat tajam yang menusuk itu membuat hatinya bertambah hancur menjadi kepingan sampah yang tak berguna lagi. Di hadapannya, suami tercintanya meninggal akibat kecelakaan maut tadi. Dengan tergesa-gesa ify mengumpulkan seluruh tenaganya lalu perlahan bangkit mendekati rio. Tapi kedua kakinya terjepit keras dan tercekam perih yang menyakitkan.
Tak bisa ia melangkah lebih jauh dan memeluk jasad rio untuk terakhir kalinya. Sosok rio kini hanya dapat dipandang sedih dengan guratan kehancuran, air mata ify dan air hujan kini telah menyatu erat. Erangan sakit dari bibir ify dan cambukan petir juga telah terikat kuat. Mungkin inilah jalan takdirnya dnegan rio, terpisahkan oleh maut !
* FlashBack On *
Kejadian mengenaskan itu sudah terjadi 2 tahun lalu, biarpun sudah lama namun lukanya kan tetap terkenang dan membekas. Membuat kesengsaraan dan keperihan hati menyatu jadi satu. Kejadian itu telah membuat suami tercinta ify pergi jauh dan melayang tinggi, dan juga membuat kedua kaki ify menjadi tak berfungsi lagi, hanya sebuah pajangan untuk mengkamuflase semuanya. Ify bersuara pelan menyanyikan sebuah lagu indah yang dulu sering dinyanyikan rio untuknya. Kuingin Selamanya !
*Cinta adalah misteri dalam hidupku yang tak pernah kutau akhirnya namun tak seperti cintaku pada dirimu yang harus tergenapi dalam kisah hidupku.
Kuingin selamanya mencintai dirimu sampai saat ku akan menutup mata dan hidupku kuingin selamanya ada di sampingmu menyayangi dirimu sampai waktu kan memanggilku
Ku berharap abadi dalam hidupku mencintamu bahagia untuk ku karena kasihku hanya untuk dirimu selamanya kan tetap milikmu
Kuingin selamanya mencintai dirimu sampai saat ku akan menutup mata dan hidupu ku ingin selamanya mencintai ada disampingmu menyayangi dirimu sampai waktu kan memanggilku
dirimu sukmamu kubelai langkah seluruh cintaku dihembus nafas mu abadikan seluruh kasih dan sayangku *
ify menggeret pelan kursi rodanya ke sebuah tempat gelap yang mengerikan dan menciptakan hawa mencekam. Disana, diatasnya sebuah tali panjang yang terikat kuat terulur panjang ke bawah. Ify mendekati tali itu lalu mengalungkannya di lehernya.
‘’rio sayang, tunggu aku ya disana. Sebentar lagi aku akan nyusul kamu terus hidup bahagia sama kamu disana’’ ucap ify sambil tersenyum kecut.
Sosok ify juga telah pergi jauh ke atas sana, rohnya tengah menanti janji rio yang akan mencintainya untuk selamanya. Menanti semua janji manis yang sudah tertempel lekat di benaknya, mungkin memang begini akhirnya. Berakhir dengan duka dan keperihan, juga keputus asaan. Yaa.. ify sudah putus asa menghadapi kejamnya dunia ini sendirian, berdiri tegap di tengah ombak deras dan udara kencang yang menyapu semuanya. Untuk apa hidup kalau setengah hati dan segenap jiwa kita telah membeku dan mati rasa ?
Sudah saatnya semua tinta hitam tumpah mengotori lembaran kertas putih yang sudah kusam. Sudah saatnya semua keperihan itu berakhir dengan terangkatnya jiwa suci yang lelah kian tersakiti. Sudah saatnya rio dan ify bersatu dalam cinta abadi mereka di surga sana. Biarkanlah raga mereka memucat dan membeku mati, tetapi jiwa mereka bahagia dan terikat disana. Dan sudah saatnya kitab hidup mereka ditutup dan digembok rapat selamanya. selamanyaa ..
The End :)
*
I Grieve
1 minggu yang lalu





0 komentar:
Posting Komentar