Adegan Usai Hujan
6 February 2011..
Hari ini langit sangat tak bersahabat. Gelegar guntur dan petir menyambar keras. Gulungan awan hitam berdatangan dari berbagai arah, lalu menyerbu hingga menimbulkan gemericik air. Dibawah rinai hujan, dengan atap langitu hitam kelam dan backsound petir yang menggema, seenggok manusia tanpa nafas telah bersembunyi dalam butiran pasir coklat.
Ternyata sang langit sungguh menawan, hingga rela menyusahkan orang lain dengan hujannya, hanya untuk ikut berduka cita. Naungan pepohonan lebat, tak mampu menahan guyuran hujan, dahannya malah tergoyang keras dengan dedaunan yang melayang lalu jatuh tak terarah.
Raungan tangis terus menggema tanpa ampun. Teriakan-teriakan kecil hingga teriakan histeris selalu terdengar miris. Entah sudah berapa ribu tetes mata yang jatuh, dan sekejap hilang saat tanah hitam dengan rakusnya meresapi mereka. Padahal tetes-tetes air mata itu sangat berarti, akan menunjukan pengakuan bahwa mereka telah turut berbela sungkawa.
Kepalaku benar-benar terasa pening. Raungan tangis, teriakan miris, hingga ucapan menghibur yang tak berarti itu telah memenuhi dan mendesak benakku. Daun telingaku hampir robek karna tak kuat menampung suara-suara menyakitkan tersebut. Apalagi kini, langit seolah ikut prihatin terhadap nasibku. Aku tak butuh rasa iba dan kasihan!
Uh, aku bosan melihat air mata palsu yang terus meluncur deras. Jangan sok menderita di depanku, karna aku bahkan sangat menderita daripada kalian. Dan aku, masih harus mendengar suara-suara parau mereka, yang malah membuatku sesak. Tak bisakah kalian untuk diam sejenak, mengunci mulut hingga rapat dan menyimpan lelehan tangis untuk nanti saja ? Aku butuh ketenangan. Dan aku butuh suasana hening.
“kamu yang sabar ya, jangan sungkan buat nangis di depan aku. Aku bakal selalu ada buat kamu, aku bakal minjemin bahu untuk kamu nanti” seorang gadis dengan pakaian serba hitam, sambil memegang payung hitam mengelus pundaku. Berusaha berbicara lembut untuk menengankan perasaanku.
“aku tau kamu menderita dan sedih banget fy, jangan kayak gitu! Kamu gak perlu berpura-pura tegar dan menyembunyikan tangisan itu. Aku bisa menemanimu menangis sepanjang hari disini” seorang wanita lainnya, dengan pakaian yang serba hitam juga, berusaha merengkuh aku ke dalam peluknya.
Sungguh! Aku tak butuh kata-kata hiburan yang akan membuatku sesak saja. Apa-apaan kalian, dengan seenaknya menuduh aku 'berpura-pura tegar'. Aku tak butuh dan tak akan pernah butuh kepura-puraan. Kalian tak akan tahu, bahwa aku bukan menyembunyikan raungan tangis itu. Aku tak pernah melarang mereka untuk keluar dan membuat aliran sungai kecil.
Aku tak pernah memarahi atau membentak mereka jika ingin keluar! Hanya saja air mataku telah habis. Sudah benar-benar habis, lalu apa yang akan aku keluarkan saat menangis ? Apa kalian ingin melihat aku mengeluarkan darah, sehingga kalian bisa benar-benar tau bahwa aku sangat menderita ?
Aku terlalu lelah, terlalu rapuh, dan terlalu kalut. Haruskah aku berteriak sekeras mungkin sampai tenggorokanku tercekat, dan haruskah aku menangis sesenggukan sampai mati kehausan, agar kau bisa hidup lagi ?
Sebutkan semua dukun yang mampu menghidupkan nyawa yang telah mati, sebutkan semua orang-orang yang mengaku dirinya nabi dan bisa menghidupkan nyawa yang telah mati. Aku rela memberi kalian bilion harta berlimpah, aku rela memberi kalian tumbal tubuhku sendiri. Ayo! Carikan aku.
Orang-orang pasti heran melihatku yang diam tak bersuara dan tanpa sebercak air mata. Orang-orang pasti heran melihatku yang tak mengeluarkan ekspresi sedih kehilangan. Orang-orang pasti heran melihatku yang tak bergerak sedikitpun. Dan orang-orang pasti heran melihatku yang seperti patung tak berseni.
Ya! Sejak melihatnya terkapar terkena kecelakaan parah dengan lelehan darah merah, sejak melihatnya terpejam menahan sakit sayatan pisau saat operasi, sejak melihatnya terpejam dengan tenang lalu menghembuskan nafas terakhir, sejak melihatnya tertidur damai dengan setelan jas hitam-putih di dalam peti kematian, dan sejak melihatnya tenggelam dalam lautan pasir hitam. Aku hanya diam.
Seperti yang kubilang tadi, air mataku telah habis hingga tak meninggalkan bekas sedikitpun. Rasa sakit dan sedih kehilangan, terlalu memuncak hingga mencapai batas klimaks. Aku terlalu rapuh, hingga hanya mampu memandangnya di bawah naungan pohon yang jaraknya cukup jauh. Aku tak mau kalau mataku nantinya terjatuh mencelos saat melihat senyum dingin di wajahnya.
Semuanya benar-benar instan. Seingatku, baru kemarin dia membelikanku liontin gelang berbentuk kunci yang sangat lucu. Baru kemarin, dia memamerkan tawa lepas dan senyuman manis. Oh, tuhan. Ini sangat tidak adil. Apalagi yang harus kulakukan sekarang ? Apa yang harus aku perbuat ? Tidak ada. Ya! Tidak ada.
Aku hanya bisa diam..
Aku hanya bisa berdoa meminta keajaiban..
**
Sejak dua jam yang lalu. Aku hanya diam mematung, duduk bersimpuh di sebelah sebuah makam yang aroma kematiannya masih tercium hangat. Sendirian. Saat semua orang dengan baju serba hitamnya pulang—termasuk aku yang dari bawah, hingga atas menggunakan hitam—tak lupa membekaliku dengan hiburan kecil, senyuman getir, dan juga belaian halus di pundakku.
Inilah suasana yang sangat aku butuhkan. Dimana tak ada lagi raungan tangis, teriakan histeris, dan kata lembut 'sok menghibur', aku sangat bosan mendengarnya. Dalam keheningan yang mencekam ini aku terus mematung. Tetap duduk bersimpuh di atas tanah hitam kotor, dengan pandangan yang tak pernah beralih dari makam di depanku. Sebuah nisan dengan bertuliskan namanya: Alvin Jonathan Sindunata, seorang lelaki yang seumur hidupku diisi dengan bersamanya.
Dia sosok lelaki idaman semua wanita. Sosok lelaki yang mampu melindungiku dari mara bahaya, mampu membuat aku mengeluarkan gelak tawa meskipun dalam sedih yang mendera. Sayangnya, ini bukan kisah cinta yang suci. Bukan kotor karna perbuatan fisik, bukan ternodai karna nafsu syahwat manusia, tetapi ternodai dan kotor karna darahku dan darahnya yang bercampur, memperlihatkan seutas ikatan tali persaudaraan yang tak terlihat oleh mata.
Dia, Alvin, seorang kakak yang dengan baik telah membahagiakan aku sebagai adiknya. Tapi disisi lain, dia, Alvin, seorang kekasih yang dengan baik telah membahagiakan aku sebagai kekasihnya. Kami merangkap, menciptakan ruang baru yang telah susah payah kami bangun sendiri. Dengan ketidaksengajaan, rasa cinta yang selayaknya dirasakan oleh anak adam dan hawa tumbuh dengan subur.
Cinta sebagai sepasang kekasih yang sudah lima tahun kami jalani. Cukup untuk memenuhi kotak kenanganku dengan berbagai kenangan indah tak terlupakan. Rasanya, aku tak cukup mampu untuk menata deretan kenangan tersebut, lalu menjejalkannya ke dalam kotak biru yang akan aku gembok rapat. Membuangnya kedalam ruangan tak bercahaya dengan suara cicitan tikus nakal.
Di sisi lain, aku bukan hanya kehabisan air mata. Tapi aku juga terlalu tidak percaya, bahwa disana! Dibawah tumpukan butiran pasir hitam, didalam kurungan peti kayu coklat sosoknya telah tergolek lemas. Sosok yang selama 17 tahun telah menemaniku. Menemaniku sebagai kakak yang sangat aku sayang, dan sebagai kekasih yang sangat aku cintai.
Ah, alvin alvin alvin! Aku mohon bangunlah, buka matamu lalu dekap aku dalam pelukmu walau hanya semenit. Ayo, aku masih disini, selalu disini, dan selamanya disini. Selalu berharap seketika makam di depanku bergoyang keras, lalu kau keluar dengan senyuman manis. Aku janji akan membelikanmu berkardus-kardus berisi yupi, dan segala makanan yang berbau yupi. Kau senang bukan ? Itu kesukaanmu! Jadi ayolah bangun.
“alvin”
akhirnya mulutku masih bisa berfungsi, masih bisa menyebut namamu. Aku teringat, dulu kau selalu membuat janji dan itupun selalu kau penuhi. Kau pernah bilang “panggil aku tiga kali, lalu cium liontin kalung kita. Aku janji, akan berusaha ada dan tersenyum manis di depanmu” sungguh! Janji yang begitu manis. Dan benar-benar manis ketika kau datang saat sebentar lagi aku menyebut namamu. Kau harus datang. Kau punya janji, alvin.
“Alvin, Alvin, ALVIN”
aku sudah berteriak, berteriak memanggil namamu tiga kali. Dan lihat, lihat ini. Aku juga sudah, mengusap pelan bahkan mencium mesra liontin kita. Oh, tuhan! Aku mohon demi apapun alvin bisa hidup lagi. Aku sudah cukup kehilangan sosok kakak lelaki yang sungguh baik sepertinya. Dan kini ? Aku juga telah kehilangan sosok kekasih yang dengan tulusnya aku cintai.
“ify”
itu namaku, ya.. ify adalah namaku. Lalu siapa yang barusan memanggilku dengan intonasi lembut ? Dan oh! Siapa juga yang menepuk pundakku dengan mesra ini. Siapa sih yang telah berani merusak damainya keheninganku ? Tak tahukan dia bahwa aku tengah dirundung kesedihan.
“ify, ini aku rio”
damn! Ternyata dia, buat apa dia datang saat ini. Sungguh saat-saat yang tepat. Meskipun sebenarnya aku membutuhkan bahu untuk meredam kesedihan, tapi dia bisa datang nanti kan. Aku terlalu kacau untuk dilihatnya sekarang. Dan aku janji, kalau saja dia mengeluarkan sepatah kalimat yang berintonasi lembut dan berbau 'kata hiburan', aku akan menendangnya jauh-jauh.
“bolehkan aku menemanimu disini, untuk sekedar menatap nisannya ?” aku merasakan rio ikut duduk bersimpuh di sebelahku.
“alvin jahat banget deh, dia gak tau apa kalo kita sedih banget disini. Dia penghianat, dengan seenaknya ninggalin kita dan janji-janji itu” ternyata dia malah ikut berkeluh-kesah bersamaku. Baguslah, jadinya aku tak perlu membuang tenaga untuk menendangnya.
“aku pasti bakal kangen banget sama dia, kangen leluconnya, kangen tawa lepasnya, kangen sikap jahil dan semuanya” sungguh, aku merasakan setetes air mata jatuh di tangannya yang kini digenggamnya dengan erat. Itu air mata tulus kehilangan, bukan air mata pura-pura kehilangan.
“aku tau kamu masih pingin nemenin alvin disini, aku tau kamu masih gak percaya dengan kepergiannya. Tapi aku mohon, demi dia kamu pulang. Mama kamu gak kuat sendirian dirumah” jemarinya menyentuh hangat kepalaku. Mama ? Ah, aku lupa kalau aku punya mama dirumah.
“gu..gue..gue..gak..ma..mau..pergi” seperti yang aku bilang tadi, untuk saat ini aku hanya butuh ketenangan. Aku juga gak sanggup liat mama nangis nantinya.
“baiklah, aku akan menemanimu duduk disini, selalu disini, dan selalu bersamamu” aku hanya membalas dengan senyum dingin.
Aku dan rio duduk bersimpuh menemani alvin yang tengah sendirian di dalam sana. Rio, sahabat kecilku dan alvin. Kita selalu bertiga, selalu bersama-sama setiap saat. Membuat moment-moment indah tak terlupakan. Rio, sosok lelaki manis dengan tubuh tinggi yang menawan. Sikap lembut dan hangatnya membuatku nyaman berada di dekatnya.
Dia sungguh pengertian dan perhatian kepadaku. Dia juga telah berbaik hati ikut merahasiakan hubungan terlarangku dengan alvin. Karna dia sahabat, yang dengan setulus hati ingin melindungiku dan alvin. Meskipun—entah benar atau tidak—seringkali aku merasakan dirinya kesal bahkan tubuhnya bergetar saat melihat kami—aku dan alvin—saling merajuk manja dan membelai mesra.
Aku juga sayang padanya. Sayang yang dulunya pernah terartikan sebagai perasaan lelaki kepada wanita. Tetapi perlahan pupus saat alvin mulai memasuki celahnya. Perasaan sayang itu tengah berevolusi dan terartikan sebagai perasaan adik ke kakaknya. Dia kakak kedua bagiku.
Sudah beribu-ribu detik aku duduk disini bersama rio. Disebelah alvin, dan dibawah naungan rinai hujan. Badanku telah bergetar hebat, meskipun tak melihatnya tapi aku tau bahwa bibirku sudah berwarna keputihan. Kulit jari-jariku saja sudah mengkerut tak tahan dengan dinginnya. Belum lagi suara cambukan petir dan guntur yang serasa mengguncang dunia, dan bahkan hampir membuatku tuli.
Tak apalah, berkorban begini untuk alvin tak ada harganya bagiku. Yang penting alvin tau, bahwa aku masih disini untukknya. Masih menunggunya untuk bangun dari tidur panjang yang akan dihadapinya. Ingin sekali aku menggali kuburan ini, tapi tak mungkin. Jangan-jangan alvin malah murka kepadaku.
Tapi aku sudah tak kuat. Benar-benar tak kuat. Tubuhku terasa sangat menggigil, aku saja sudah melihat kalau wajah rio juga memucat. Entah, detik keberapa aku mulai limbung dan tak sadarkan diri. Yang aku tahu, aku masih berada disisi alvin untuk menemaninya. Aku malah berharap, kalau mataku takan terbuka lagi. Agar aku bisa bertemu alvin disana. Semoga!
**
Senja sudah tiba, perlahan langit mulai berevolusi menjadi warna jingga kemerahan bercampur dengan putih vanilla. Tak ada suara kicau burung untuk menyambut rembulan dan para bintang seperti biasanya. Semuanya hening, mendekam dalam sarangnya untuk berlindung. Yang ada hanya suara rinai hujan
oh, ternyata sang langit masih saja terkurung dalam lingkup prihatin. Masih saja sibuk berpura-pura untuk turut berduka cita. Dari aku terlelap dalam kegelapan, hingga aku mampu membuka mata dan duduk tenang di atas kasur biru kepunyaan alvin, orang-orang masih saja sanggup berpura-pura.
Aku kira setelah aku tak sadarkan diri dan memejamkan mata tadi, aku akan bertemu alvin dan hidup dalam rengkuhannya. Ternyata tidak, mataku masih bisa terbuka, dan aku masih bisa melihat dunia. ah. Padahal aku akan sangat berterimakasih pada tuhan kalau saja dia mau mengambil nyawaku sekarang.
Sekarang apa yang harus aku lakukan? Entah sudah berapa lama aku duduk mematung di dalam kamar alvin. Kamar bercat putih dengan ukiran bunga cantik, selalu tertata rapi, dan harum tentunya. Sesekali aku menghirup udara sebanyak mungkin, berusaha memenuhi rongga dada dengan harum kamar ini.
Mataku saja rasanya tak bisa lepas memandang baju basket berwarna merah dengan nomor punggung 9, yang digantung rapi di sebelah cermin besar. Baju itu, mengingatkanku pada adegan-adegan bahagia, bersama alvin. Aku masih benar-benar ingat saat alvin menyuruhku memakai baju basketnya, lalu bermain basket bersamanya.
Saat alvin membentakku dengan kasar, mendiamkan aku menganggapku sebagai angin selama 3 hari, hanya karna aku mengotori dan merobek baju basket itu. Tapi kemudian, dengan bersusah payah aku belajar menjahit di sekolah, memperbaiki bajunya, lalu memakaikannya saat dia sudah memaafkan aku. Ah, terlalu banyak kenangan, hingga aku tak mampu.. tak mampu untuk menghapus sedikit saja kenangan itu. Jangankan menghapus, menyentuhnya saja aku tak mampu. Aku takut, jika aku menyentuhnya kenangan itu akan pudar lalu menghilang dan lenyap..
“ify” suara ketukan pintu, dan juga panggilan lembut namaku terdengar nyaring. Uh, sungguh menganggu saja.
Tiba-tiba sebuah kepala tersembul dari balik pintu coklat dengan sebuah poster Cristhian Ronaldo yang tertempel erat. Sebuah manusia lalu menampakan dirinya, memperlihatkan wajah ramah sampai senyuman manisnya padaku. Tapi sayangnya aku sama sekali tak tertarik dengan senyuman manis itu, karna aku masih punya simpanan senyum yang lebih manis darinya.
“ayo makan, kamu pasti lapar. Aku sudah buatkan sandwich kesukaanmu, ayolah” barusan dia mengajaku makan? Astaga aku juga tak ingat kapan terakhir kali aku makan. Mungkin kemarin sore?
Aku hanya mengarahkan lirikan kepadanya. Dia berdiri mendekat kepadaku, menampakan wajah ramah yang mampu membuat orang-orang terbuai. Tapi aku tak bergerak. Tak bersuara. Hanya diam, sambil melirik.
“ayo makanlah bersamaku, aku janji akan menyuapimu hingga habis” janji yang sungguh manis, tapi aku benar-benar tidak tertarik. Perutku saja tak berasa apapun. Aku telah mati rasa.
“please fy, ayo makan. Jangan begini, kamu tidak kasihan melihat mama yang menangis di luar melihatmu begini, jangan tambah penderitaannya. Dia juga sedih kehilangan alvin” rio, mengiba padaku. Dengan wajah memohon yang hampir membuatku luluh.
Astaga, aku lupa jika aku masih mempunyai seorang mama yang juga sedang terpuruk dalam kesedihan. Ah, aku tak tahu bagaimana perasaan mamaku yang kehilangan sosok alvin, anak yang paling dibanggakannya kini sudah tiada. Oh tuhan, kenapa bukan aku saja yang mati dan terbang ke atas menyusulmu? Kenapa harus alvin? Sungguh tidak adil.
“jangan hanya memikirkan dirimu sendiri ify, lihat dan pikirkan mama, cobalah sedikit kuatkan hatimu. Kalau kamu memang merasa rapuh, ayo.. disini masih ada aku, aku masih sanggup memberikan kehangatan dalam dekapan kasih sayang untukmu!” rio melebarkan tangannya, mengajak aku untuk masuk ke dalam rengkuhannya. Aku mengalihkan pandangan. Memalingkan muka dari mata dan hadapannya. Karna tatapan matanya sungguh tajam, seperti.. menuntut.
Aku diam, tetap diam di detik selanjutnya. Entah mengapa, rasanya seperti ada rantai besar dengan gembok seberat batu beton yang melilit tubuhku. Mengekang ragaku, menahannya untuk tak bergerak, bahkan menahanku untuk masuk kedalam pelukan Rio. Ah, sialan! Kenapa ini? Padahal aku ingin mencicipi kehangatan yang dijanjikan Rio tadi. Aku cukup lelah untuk memanggul semuanya sendiri.
“jangan sok tegar dihadapanku, karna aku juga rapuh tanpanya” aku cukup tau, kalo kata “nya” itu dimaksudkan pada Alvin.
“aa..ak..aku,..butuh..ka..kamu..” benarkah bahwa mulutku berbicara seperti itu? Akhirnya, bibir manis ini bisa meninggalkan kata munafik, jujur akan keadaan hatiku lebih baik sepertinya.
Rio menatapku dengan berbinar. Matanya teduh, membuatku terlena saat melihatnya. Entah detik keberapa, tubuhnya sudah melilit di tubuhku. Aku bagaikan bayi kelinci yang membutuhkan kehangatan besar. Ah, rio.. ternyata dia tidak bohong! Dia benar-benar mengalirkan semua kehangatan yang dimilikinya untuk tubuhku. Sambil dia membelai lembut kepalaku, dia berkata,
“aku sayang kamu”
**
24 April 2011..
Sepertinya aku sudah pernah mendeskripsikan suasana ini dengan detail dan rinci. Sepertinya aku sudah pernah menceritakan semua rasaku saat mendengar suara-suara dari mereka. Sepertinya aku sudah pernah mengatakan bahwa mereka hanya mengeluarkan tangisan palsu hingga bosan. Sepertinya.. sepertinya.. sepertinya aku sudah pernah mengalami ini. Dan kini.. MENGAPA TERULANG?
Aku ingat, masih sangat ingat benar kejadian seperti ini saat 2 bulan lalu. Saat dimana sang langit dengan sifat menawannya rela menyusahkan orang lain dengan hujannya, untuk sekedar menunjukan rasa belasungkawanya padaku. Saat dimana manusia-manusia berseragam hitam meraung kencang, hingga menimbulkan titik air yang terus mengalir. Saat mereka—manusia manusia berseragam hitam—menepuk halus pundakku, menggenggam lembut jemariku, menarikku dalam pelukannya lalu berceramah panjang lebar yang hanya berisi tentang kata-kata menghibur.
Dan kini.. dan kini? Ya! Kini semuanya terulang lagi, dan hanya memberikan jarak dua bulan untuk kepulihanku dalam kesedihan lampau. Sudah berapa kali aku memohon untuk menghentikan penderitaan ini, karna aku bukan golongan manusia-manusia yang dengan sabar dan tabahnya menghadapi semua dengan senyuman manis—meskipun terlihat parau—.
Sungguh! Aku ini hanya seenggok manusia biasa. Yang selalu menangis jika merasa sedih dan tentunya yang selalu tertawa jika merasa senang. Mana mungkin aku bisa tertawa ketika seseorang tersayangku telah dikurung dalam peti mengkilat berbau cendana yang menusuk? Mana mungkin aku bisa tertawa ketika seseorang tersayangku itu ditimbun oleh pasir-pasir hitam yang penuh dengan cacing belatung atau sejenisnya?
Itu hal konyol yang dengan tidak mungkinnya aku lakukan! Aku masih punya sedikit kadar kewarasan untuk berpikir dan melakukan hal normal. Kalau saja menyalahkan Tuhan itu tidak menambah kantung dosaku, maka aku akan melakukannya. Aku masih sadar, bahwa aku hanya hamba Tuhan yang harus menerima takdir apapun yang diberikan padaku. Entah takdir buruk ataupun takdir baik, aku hanya bisa menerima dengan pasrah. Tanpa perlawanan, karna itu akan sangat sia-sia. Hanya membuang tenaga dan waktu.
“ify, maafkan aku.. aku tak bisa menjaga Rio dengan baik, aku gak bisa ngelarang dia pergi waktu itu. Oh, sungguh aku merasa bersalah padamu”
tiba-tiba saja, seorang perempuan yang lebih dewasa dariku datang dengan tangisan kencang yang memekakan. Ia bersimpuh di ujung kakiku, memeluk lututku dengan kencang, seolah-olah aku akan berlari kencang dan meninggalkannya. Aku bergeming. Tak melirik barang sedikitpun. Tak perlu melihat wajahnya yang berurai air mata, dari suara seraknya saja aku sudah bisa menduga siapa itu. Setidaknya aku pernah bertemu-mengobrol-berpesan padanya—sebelum kematian ini ada—.
Sivia Stevanata Haling, atau akrabnya disebut Via. Gadis berkulit putih dengan wajah yang sungguh manis. Bukan hanya fisiknya yang mampu membuat orang terbuai, bahkan dalam hatinya juga mampu membuat orang terlena. Dalam tubuhnya mengalir darah kedua orang tua Rio. Ya! Dia kakak kandung dari Mario Stevano Haling. Oh, tidak tidak. Seharusnya sekarang Rio menyandang gelar baru pada namanya. RIP, Almarhum. Atau semacamnya lah. Haha, sungguh bagus sekali gelar yang disandangnya kini, hatiku malah terbesit untuk ingin mendapatkan gelar itu juga.
“entah mengapa, pada saat itu aku merasakan hal beda. Tak sedikitpun aku mengeluarkan kata-kata untuk melarangnya pergi. Dia malah datang padaku, memeluk lembut tubuhku, bersalaman, dan dia juga mencium keningku. Bahkan, dia mengucapkan selamat tinggal ify.. oh, tuhan! Tapi aku tak bisa berbuat apapun, mungkin beginilah takdirnya”
tanpa diminta dan diperintah, Sivia mengeluarkan suara. Bercerita tentang saat terakhir dirinya bertemu Rio. Hah! Apa-apaan ini? Dia sengaja berkata begitu untuk membuatku iri? Bercerita tentang kemesraan mereka—Rio dan Sivia—sebelum Rio meninggal? Aku tidak butuh. Sungguh! Sama sekali tidak butuh. Biarkan saja, biarkan aku tak sempat mendapat pelukan hangat dan ciuman dari rio. Setidaknya aku tau selama ini dia selalu berkorban dan menyayangiku dengan tulus.
“ayolah fy bicara.. aku juga merasa sedih sepertimu, dia adikku! Adik tersayangku. Maafkanlah aku fy, katakanlah sesuatu kalau kau mau memaafkanku”
aku muak! Bosan dengan segala penuturan kata yang diucapkan gadis ini. Berbicara dengan nada dan intonasi yang biasa saja tak bisakah? Apa harus perlu berkata dengan suara lirih dan juga nada menyedihkan? Oh, berlebihan sekali gadis ini. Dan aku? Sungguh tak menyukainya. Setidaknya untuk saat-saat ini, karena sebenarnya dia gadis yang baik dan penyayang.
Aku masih tetap berdiri di kejauhan..
masih memandang peti berbau cendana dan timbunan pasir hitam..
akan terus begini sampai titik-titik hujan mulai menipis..
hanya meninggalkan embun lembut di pucuk dedaunan..
**
4 Desember 2011..
Roh-roh yang ditiupkan lampau telah disedot kembali..
melewati hal-hal menyakitkan hingga sampai dipuncaknya..
masa dunianya telah ditentukan waktu..
dan kini telah habis, mereka mulai tiadaa..
meninggalkan sosokku terpuruk sendiri..
mengemban keperihan tak tertahan..
hingga aku juga ikut lelah, kemudian layu dan mati..
oh, Tuhan! Sungguh kejamnyaa dunia ini. Lengkap sudah semua paket derita yang tersaji di depanku. Komplit, tak ada lagi yang tersisa. Ini rasanya seperti kiamat dadakan, yang hanya dialami oleh diriku. Diluar sana semua orang tengah merayakan pesta meriah dengan hingar bingar dan lampu gemerlap, atau bermalam minggu bersama kekasih di bawah pohon beringin dengan tangan menggengam dan juga pelukan-pelukan hangat.
Intinya mereka semua sedang bersenang-senang, menikmati keindahan duniawi yang menyegarkan hati. Sedangkan aku? Coba kalian tebak apa yang sedang kulakukan sekarang? Duduk dengan kedua lutut ditekuk, tepat di pojok ruangan dengan lampu remang yang menyinari. Dan sekali lagi tebaakk!! tebak apa yang aku pegang? Memang bukan golok besar, atau pistol dengan puluhan peluru menakutkan nyali. Hanya benda kecil, mengkilat dan berkilauan di bawah sinar lampu.
Yaa, hanya sebuah pisau lipat dengan pucuk tajam yang dapat membelah atau menusuk apapun. Entah kenapaa, aku sungguh tidak tau dan tak mengerti. Tolong jangan tanya atau salahkan aku. Tolong jangan katakan apapun tentang bercak merah diujung pisau, atau muka pucatku yang sudah benar-benar pasi ini. Otakku seperti terkena amnesia mendadak, aku tak ingat apa yang telah terjadi dan kesalahan fatal apa yang telah aku lakukan.
Sungguh aku tak mengerti. Kakiku serasa bergerak dan melangkah sendiri, dan entah kenapa pisau itu ada di kantong piyamaku. Aku bergidik ngeri, berusaha menghentikan kendali raga yang sudah tak terkendali. Semuanya.. semuanya terlihat menyeramkan. Aku bingung, kalut dan gelisah. Tapi sebenarnya aku juga membiarkan dan pasrah raga ini mau berbuat apapun. Dan sesuatu itupun terjadi.. begitu cepat.. begitu menyeramkan..
lihatlah, coba kalian tengok ke atas kasur tebal berselimut mawar merah. Seorang wanita paruh baya, tergeletak lemas, diam, terus diam, dan tak bernafas. Denyut nadinya sudah berhenti, detak jantungnya juga sudah tak terdengar. Wajah cantiknya terlihat damai, tenang dan pasrah. Meskipun.. meskipun sebuah lobang merah di perut berlapis kemeja putihnya. Dia mamaku.. dan aku telah membunuhnya..
benar-benar anak yang berbhakti. Ah. Jangan salahkan aku, jangan tanya apapun padaku. Aku tak mengerti.. sungguh!! mungkin lebih baik dia—mamaku—pergi lebih cepat agar aku tak bisa menyusahkannya. Agar aku tak perlu bersusah payah untuk membahagiakannya, karena kini hidupku tak berarti lagi. Terima kasihlah mama padaku, karena sekarang mama menyandang gelar baru pada awal namanya. Seperti Rio dan Alvin.
Baiklah, semuanya telah pergi dan lenyap. Mereka bertiga—mama, Rio dan Alvin—pasti sedang tertawa keras di alam sana. Menertawakan aku yang masih betah duduk gemetar di pojok ruangan. Aku bisa melihat mereka berbahagia, aku bisa mendengar tawa ejekan mereka. Dan aku? Takan membiarkan semuanya berlalu tanpaku. Lihat saja mama, Rio dan Alvin.. aku juga akan tertawa bersama kalian. Dan untuk Alvin? Kita bisa merayakan pesta pernikahan meriah disana. Dan untuk Rio kumohon jangan cemburu. Haha.
Terimakasih kalian mau membaca catatan hidupku ini. Ini adalah sebuah hidup dengan jutaan gelegar tawa dan tetesan tangis. Jangan lakukan apa yang kulakukan, karena aku ini manusia bodoh. Terlalu indah untuk bisa hidup di dunia ini. Aku terlalu rapuh dan lemah, tak punya pegangan selain cinta. Padahal cinta itu tak abadi, hanya bunga mimpi duniawi. Dan saat kita bangun untuk kehidupan kekal, cinta itu sudah lebur dan hilang entah kemana. Dan kini.. aku sudah punya jalan hidup sendiri.. aku lebih memilih mengakhiri hidup. Jadi selamat tinggal.
Setiap tetesan hujan terakhir, itulah cerita hidupku, menjadi saksi atas kelenyapan rohku malam ini. Semua adalah cerita hidupku, dengan adegan setiap usainya hujan.
**
I Grieve
1 minggu yang lalu





0 komentar:
Posting Komentar