December Song…
05:43. Aku terbangun. Menyambut langkah matahari yang berjalan keluar dengan pelan. Tanpa suara bising. Hanya dengan bisik kokok ayam jago dan gesekan daun. Pemandangan yang indah, kalau saja bisa seindah kisahku. Aku senang mengangkat telapak tangan lalu menyentuh setiap tetes embun yang berdansa mesra bersama udara. Memperhatikannya dengan tawa senang… lalu berujar “sampaikan salam pagiku padanya yaa” entahlah, semoga saja embun cantik itu benar-benar mau menyampaikan pesan singkatku. Meskipun dengan malu-malu.
Aku lupa sudah berapa kali menyaksikan matahari itu terbit, melihatnya tersenyum padaku, lalu menyapanya dengan riang. Hingga sadar, ternyata waktu melompat dengan cepat. Aku risau, memikirkan laju waktu yang telah mengalahkan kisahku. Ohh, jarum panjang itu sungguh licik. Dengan santainya ia asik melangkah dengan wajah tegak, melewati aku yang malah duduk terpuruk dengan wajah ditekuk. Aku baru sadar, dialah tokoh anatagonis dalam kisahku ini. Meskipun berjalan lambat, meskipun waktu tak padat, tapi cerita kisahku tetap jahat.
Matahari terus terbit, lalu terbenam dengan sisa sinarnya. Burung terus berkicau, lalu berterbangan menyapa langit. Awan terus merangkak, lalu sesekali mengeluarkan tangisan anugerah. Begitu banyak waktu, tapi aku tak kunjung bangkit dari kegalauan. Sebenarnya banyak detik berarti yang sanggup mewarnai kisahku. Menjadi semanis merah muda, secerah biru tua, atau seunik ungu pear. Tapi aku enggan melangkah, kakiku. Membuat aku menjadi enggokan sampah di pojok kegelapan. Aku bosan mengingat semua alur kisah itu dari awal indah hingga akhir kesakitan. Kisahnya tak berubah, terulang dengan tokoh dan kenangan yang lebih membekas.
Aku semakin rapuh. Bahkan hampir hancur menjadi debu kotor. dan waktu makin cepat melangkah, menyeretku untuk masuk ke masa kalender baru. Ke dalam sebuah bulan kasih penuh berkat. Membuatku semakin merasa bahwa-aku-benar-dikalahkan-waktu. Aku lelah menjadi sepotong sampah kotor, ditonton oleh berbagai tikus busuk, hingga diusik serangga berbulu menjijikan. Aku akan lemah kalau terus begitu. Lalu entah mengapa pagi ini terasa begitu berbeda. Sesuatu menghentakku, seakan membangunkan jiwaku dari tidur kelam yang panjang. Membuatku merasa masih banyak kisah biasa-indah-kelam lainnya yang akan aku lewati. Dan aku tak mungkin bertahan dalam keterpurukkan jika setiap kisah kelam menyapa ramah.
Dan sebentar lagi—tanpa terasa—sebuah masa baru akan datang. Seharusnya aku bisa merubah kisah ini menjadi suatu kisah yang bisa dikenang dengan senyuman nantinya. Yang menyakitkan memang ada, lalu untuk apa diingat kalo bikin sedih? Entahlah yaaaa, aku Cuma bisa berdoa setidaknya masa baru akan membawa kisah baru. Dan untuk kisah lamaku, selalu diingat untuk jadi pelajaran. Mwehee…
Terimakasih untuk semua orang yang menjadi peran antagonis-protagonis dalam kisah hidupku selama setahun berharga ini. Terimakasih atas senyum tulusnya, tangisan harunya, dan pelukan hangatnya. Maafkan aku yang selalu menyebalkan ini. Maafkan juga karena selalu salah. aku bukan gadis bersayap emas dengan tongkat ajaib yang berwujud sempurna. Ilovyusomuch until my life will end!
A Daughter's Pain
2 bulan yang lalu





0 komentar:
Posting Komentar