Entah sudah keberapa kalinya aku menulis tentangmu. tentang rasaku dan hidupku bersamamu. maaf, bila mengusik. tapi aku akan tetap menulis tentangmu.
Dear kakak,
Hari ini cerah meskipun matahari tersembunyi di balik gumpalan-gumpalan awan memenuhi hampir seluruh langit. Angin mengantarkan rasa hangat dan menyentuh kulit dengan lembut. Ah, terlalu naif jika aku berharap angin hangat sama bertiup juga di tempatmu berpijak sekarang. Terlalu jauh dan rumit perjalanan yang harus ditempuhnya. Dan, di bumi yang semakin gersang angin semakin sulit berbisik. Dahulu, ia bisa menyampaikan salam sepasang kekasih yang terpisah jarak lewat bisikannya dengan bunga dan deadaunan. Namun, kini ia hanya bisa berdansa dengan debu dan udara panas.
Kakak,
Apakah kau bahagia hari ini? Dengan kecukupan udara untuk membantumu bernafas, dengan kesempurnaan tubuh dan bakat yang kau miliki, dengan orang-orang di sampingmu yang menyayangi tanpa pamrih, dengan lindungan Tuhan yang menjaga langkahmu setiap hari. Apakah kau bahagia? Aku tau kau bahagia, karena sebenarnya kebahagiaan itu begitu sederhana. Tapi, apakah kau bahagia meskipun juga tanpaku? …..mungkin, karena tak ada lagi yang membuatku sebal kan.
Setiap aku memandang senyum di fotomu, aku melihat kebebasan terpancar di sinar matamu. Bebas, tak terikat, kau menjelajah sesuka hati, melakukan apapun yang membuatmu senang tanpa larangan. Satu persatu teman dan sahabat, atau para gadis yang menggemarimu menambatkan perahu mereka dan berhenti bertualang, sementara kau masih bermain dengan tanah, ombak, dan matahari. Tak terpikirkanlah olehmu, bahwa seseorang (aku) telah merindumu, menunggumu berlabuh? Tak adakah keinginan untuk melalui semua petualangan itu dengan seseorang special di sampingmu? Mungkin aku. Ya aku.
Kakak, sedang dimanakah kau saat ini?
Apakah kau tenggelam di balik kaca gedung tinggi di belantara ibu kota? Apakah kau tengah duduk manis bersama para teman menunggu dosen tercinta berjumpa? Ataukah pasir pantai yang lembut sedang menggoda ujung-ujung kakimu yang telanjang? Ataukah rimbunan dedaunan dan binatang hutan sedang menyanyikan lagu-lagu peri di sekitarmu? Atau bahkan mungkin kau sedang tertawa manis dengan para gadis yang ingin menarik hatimu? Dimanapun kau saat ini, aku berharap itu tempat yang terbaik untukmu. Dan aku selalu berdoa, agar Tuhan memberkatimu setiap dentang waktu.
Terkadang, aku begitu ingin menghubungimu. Menekan angka demi angka kepunyaanmu di keypad, yang bahkan tiga angka terakhirnya berwujud sama, yaa aku tau itu angka kesukaanmu. Dan angka kesukaanku dua kali lipat dari angkamu itu. Kemudian saat tau, kau mengejekku. Mengatakan bahwa angka cantikku berlambang setan-kematian-iblis. Lalu menekan tombol “Call”. Menekan huruf demi huruf menjadi rangkaian kata dan kalimat, lalu mengklik button “Send”. Tapi rasa takutku begitu besar, kau sudah tahu bukan kalau aku selalu takut mengirimu pesan singkat. Dan kau selalu berkilah dan berkata; kenapa harus takut? Silahkan saja mengirimiku sebuah pesan singkat. Aku menjawab; aku takut jika sebuah rangkaian kata dalam pesan singkat itu mengganggumu, bukankah kau orang yang sangat sibuk?. Dan itu benar, setelah kemarin aku mencoba mengirimu pesan singkat, kau malah mengusirku… dengan halus dan menusuk. Masih ingat bahwa saat itu kau mengatakan secara tidak langsung bahwa aku menjadi pengganggu di hidupmu. Apa aku begitu menyebalkan? Tak apa, aku mungkin benalu bagimu. Dan sekarang… sudahkan kau tenang saat aku tak muncul lagi di hidupmu?
Ah, kakak….
Terkadang, aku menyesal. Bagaimana mungkin itik kecil yang baru saja menetas dari telurnya berani sekali mencintai burung jantan yang sudah ahli berterbangan kian kemari sepertimu. Aku merasa bersalah. Tak pantas mencintaimu yang hampir melampaui kata sempurna. Tapi ingatlah aku ini hanya gadis biasa, yang akan terpesona jika menatap mata sepertimu, yang akan luluh rapuh karena perhatian darimu, yang akan rela bersembunyi di balik takdir… menyembunyikan tangis saat melihatmu bahagia bersama yang lain. Aku egois. Kau sudah tahu bukan? Bahkan kau sering berbicara panjang lebar untuk menjadikanku sosok gadis yang dewasa, yang tak egois lagi. Maafkan aku belum bisa menjadi seperti yang kau mau.
Kakak,
Waktu di setiap hari terus berjalan, hingga senja dating menyapa. Tak terasa, aku tak pernah melihat senyummu selama 2 bulan lebih. Sungguh, itu bukan waktu yang singkat bagiku. Tapi selama hari-hari itu berjalan meski tanpa senyummu (atau bahkan tanpamu) mereka tetap menghakimiku. Tak sedikitpun memberikan aku waktu untuk jengah memikirkanmu, untuk lelah bermimpi tentangmu, untuk bosan menanyakan kabarmu pada setiap helai dedaunan yang gugur lalu terbang menari bersama angin. Ah, jika saja aku bisa berbisik pada Tuhan. Aku akan memohon… biarkan aku berhenti saja mencintaimu. Aku terlalu letih, hingga terlalu rapuh untuk menjaga rasa ini sendirian.
Aku berusaha, berlatih untuk tidak terlalu memikirkan rasa ini lagi. Move on. Lihat kakak, sedikit dari usahaku ternyata menghasilkan sesuatu. Aku sudah bisa menyayangi sosok lain, yang mungkin juga menyayangiku. Menjalani hari bersamanya, cukup indah meskipun tak seindah bersamamu. Aku senang menatapnya dari kejauhan, memperhatikan setiap geraknya. Dia memang tak sesempurna dirimu, tak sebaik dirimu, tapi mungkin senyumnya lebih manis darimu, kakak. Aku menulis tentangmu bukan untuk mengusik hidupmu, bukan untuk menyalahkan mu atas setiap tangisku. Maafkan aku, maaf jika setiap kata dalam kalimat di tulisanku menjadi pengusik. Aku hanya senang menulis tentangmu, karena kau begitu istimewa. Menggambarkan betapa sempurnanya dirimu, melukiskan betapa aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Bosankah kau mendengarnya? Maaf.
Kakak cumiku tercinta,
Berhentilah berdansa bersama kasih di setiap jejak pikiranku. Kau terlalu semangat berlari, menuntutku untuk selalu memimpikan tentangmu. Beri aku waktu untuk sedikit melegakan hati. dimensi otakku semakin mengecil, memorinya hampir habis termakan tangis. Tak kasiankah kau melihatku? Yang selalu menatap bintang di langit malam, berbisik mesra untuk membujuknya agar mau menyampaikan salam selamat malam padamu. Yang selalu menyentuh embun di ujung rumput hijau, membelainya lembut mengucap selamat dating pada pagi yang telah tiba. Dan… yang selalu memimpikan gadis bernama tinkerbell dating padaku, memberikan sekantung serbuk ajaib untuk menyulap kisah hidupku.
Maafkan aku yang terlalu menyebalkan. Masih maukah menganggapku sebagai adik perempuanmu satu-satunya? Aku harap kakak juga masih mau menemaniku melihat tetesan hujan, lalu menari bersama dibawah rintiknya. Suatu saat nanti…
Dari, adikmu yang tak dianggap
Aku.
A Daughter's Pain
2 bulan yang lalu





0 komentar:
Posting Komentar