Lagi-lagi aku menangis. Menangis tanpa sebab yang jelas tapi nyatanya membuat hatiku perih. Aku tersudut di pojok ruangan sambil memeluk boneka beruang berwarna cream. Ditemani suara isakan yang terus keluar dari bibir merahku. Aku membiarkan air mata ini terjatuh, tak berniat untuk berusaha menghentikannya. Biar saja butiran air mata ini menjadi saksi atas kesedihanku, ketakukanku, kekecewaanku, dan kesakitanku. Aku tak pernah mengerti cara Tuhan mengatur jalan hidupku dalam jalur asmara. Takdir ini seolah-olah mempermainkan aku seperti sebuah boneka kecil yang tak berdaya. Yang hanya bisa diam mengikuti kehendak tuannya meskipun ingin melawan tapi tak mungkin bisa.
Bulan July ini seharusnya dari awal hingga akhirnya akan penuh suka cita. Saat aku bersamanya tengah dalam kebahagiaan cinta yang meletup dasyat. Bulan keenam dari awal dimulainya hubungan kami. Aku mengira semuanya akan terus berjalan sesuai perkiraanku. Aku dan dia akan terus bersama diliputi senyum bahagia dengan mata penuh cinta. Rasanya sungguh indah saat kita berjalan bersama lalu dia menggenggam jemariku dan mengusapnya lembut penuh kasih. Aku senang menatapnya dalam diam, memperhatikan setiap jengkal wajahnya yang sering tak berekspresi. Air mukanya datar, dia lebih banyak diam daripada mengatakan sesuatu yang tak penting. Setiap hari aku tersenyum karena memikirkannya. Bersamanya hidupku menjadi lebih berwarna.
Lalu aku tersadar, hidup ini tak bisa terus berjalan sesuai dengan kemauanku. Takdir yang lebih sering dominan untuk mengatur kisah hidup. Dan sekarang takdir itu menentang kemauanku, menghancurkan segala impian bersamamu menjadi uap yang ketika detik berikutnya hilang ditelan angin. Aku tak tau. Takdirkah yang salah atau memang dirimu yang tak pantas bersamaku? Ketika aku telah melambung bersama perasaan bahagia karena cinta tiba-tiba saja aku dihempas jatuh ke sudut paling mengerikan. Merasakan kekecewaan yang menorehkan luka di hati. Patah hati itu memang biasa, tapi sakitnya juga memang luar biasa. Warna-warni ceria dalam hidupku seolah terhapus tanpa jejak. Yang tersisa hanya abu kelam juga hitam gelap. Aku terkurung dalam sunyi dengan sepi yang membelai. Dan aku hanya bisa menangis. Bukan menangis karena cengeng. Tapi menangis karena tak kuat menahan sakit yang terlalu memilukan. Menangis karena kecewa pada takdir dan pada dirinya. Aku mengerti. Aku tau memang setelah kita bahagia akan ada kesedihan. Tapi tak bisakah membiarkan aku bahagia sedikit lebih lama lagi? Aku. Hanya. Ingin. Bersamanya.
Waktu berlalu, dan perasaan ini masih belum bisa berlalu. Aku rindu pesan manis yang dikirimkannya sebelum aku terlelap tidur. Aku rindu genggaman tangannya yang halus. Aku rindu bercerita bersamanya. Aku rindu dirinya yang sederhana. Aku rindu berjalan di bawah hujan bersama dirinya. Tapi karna takdir menolak aku bersamanya yang aku lakukan hanya menitipkan salam rindu pada setiap debu yang berdansa dibawah terik matahari untuknya. Untuk dirinya yang terkasih.
0 komentar:
Posting Komentar